
Mimik wajah Morgan dan nada bicara pria itu sudah berubah seperti seorang guru. Tapi sepertinya, sang murid yang dimarahi tampak tidak mengerti dan menunjukkan ekspresi kepolosannya.
"Kita pulang!"
"Aku tidak mau! Apa kau tidak lihat? Aku sedang sangat bahagia! Aku ingin menari dulu. Kau tidak tau bagaimana rasanya rantai untuk mengikat tubuhku ini sudah lepas! Tidak.... Maksudnya aku dan satunya.. jadi jangan menggangguku!" Morgan tentu menarik tangan Flora agar wanita itu tetap disisinya.
"Entah apa yang ia bicarakan!" Morgan tidak ambil pusing ucapan Flora, setidaknya mereka harus segera pergi dari sini. Terutama dirinya yang harus mengantarkan Flora kembali.
"Kita pulang!"
"Lepas! Ahhh!" Meskipun Flora memberontak, nyatanya tenaganya yang sudah bercampur dengan kepusingan membuat dirinya kalah. Dengan entengnya Morgan membawa Flora seperti karung beras.
"Lepas! Penganggu!" Pukulan Flora yang tidak seberapa itu tak membuat langkah Morgan lamaban.
Dengan tatapannya ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatap aksinya. Itu hal yang wajar, lagipula semuanya mengira mereka adalah pasangan.
"Lepas!" Tubuh Flora langsung masuk ke dalam mobil yang langsung saja di tancap gas oleh Morgan.
"Aku tidak mau pulang! Semuanya jahat! Aku tidak suka! Mama.... Semuanya jahat padaku..." Meskipun manik Morgan menatap jalanan, tapi pendengarannya berfungsi membuat telinganya mendengarkan ocehan Flora dibelakang.
"Dia sudah tidur?" Dari kaca yang terpasang, Morgan mencoba melirik Flora yang sudah terdiam seolah kehilangan baterai nya.
"Baguslah..." Jalanan yang cukup sepi tak membuat Morgan menerobos lampu merah. Tapi ditengah ketenangannya, nyatanya sebuah badai kembali bangkit dan membuat dirinya kaget.
"Aku ingin melihat wajah malu itu! Aku datang!"
"Flora!" Dengan rasa kaget yang belum dinetralisir, Morgan berebutan dengan Flora merebut stir mobil.
"Aku ingin melihat rasa malunya! Aku menang!"
"Flora!" Suara tabrakan membuat Flora terjerembab ke belakang dan Morgan mengambil alih kembali.
Tapi sayangnya, ulah rebutan itu membuat mobil mewahnya menabrak pohon yang dipastikan mesin mobil tidak menyala.
"**1*!" Dengan kesal, Morgan melihat tempat yang ia tapaki sekarang.
"Fuccc!k! Ponsel Morgan yang seharusnya menjadi pertolongan justru mati kehabisan daya dan jika dilihat ponsel Flora. Ponselnya terkunci sehingga akan menjadi tugas baru yang semakin melelahkan bagi Morgan.
"Jangankan kata sandi, nama saja dia tidak tau!" Sambil melihat Flora yang kembali berulah membuat Morgan terpaksa menuju hotel yang tak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Aku ingin merayakan kemenangan ku...." Setelah memastikan barang-barang mereka terbawa rapi, Morgan kembali menggendong Flora menuju hotel.
Sepanjang perjalanan, Flora tampak tertawa cekikikan dan terkadang sedih membuat Morgan yang rasanya frustasi dan ingin melemparnya, hanya pasrah.
"Kau tau....."
"Apa?"
"Aku menang!" Bagaimana cara menepuk keningnya sekarang, tampaknya ia menjadi ikutan b0d0h dengan membalas ucapan Flora.
"Aku tidak pungkiri kau tetap cantik di segala kondisi."
"Aku menang!" Beberapa kali menyandarkan dan menenggelamkan kepalanya ke dalam dekapan Morgan.
Justru membuat Morgan semakin frustasi.
"Aku bisa gila!" Tapi melihat bangunan yang ditujunya sudah dekat, membuat Morgan tak patah semangat.
"Selamat datang Tuan." Morgan tidak peduli dengan tatapan beberapa orang ketika ia masuk, sambil menggendong Flora yang nyaman di gendongannya membuat Morgan berinteraksi seperti itu.
"Ya, aku ingin memesan....."
"Aku ingin pesan dua kamar!" Resepsionis itu tampak mengerti dan melihat kamar yang tersedia.
"Maaf Tuan, tapi hanya ada satu kamar saja. Kebetulan karena acara pertemuan membuat kamar sudah penuh, hanya tersisa satu karena beberapa jam yang lalu ada yang keluar." Ujar resepsionis yang membuat Morgan ingin berteriak.
"Jadi bagaimana tuan?" Tanya resepsionis.
"Daddy aku ingin tidur!" Sungguh Morgan ingin menyumpal bibir Flora saat ini.
"Hotel terdekat lainnya apa ada?"
"Ini yang terakhir di area sini tuan, jika dari atas tadi maka sangat banyak. Tapi setelah ini, tidak ada lagi... Hanya ada restoran dan juga toko-toko. Jika Tuan mau, itu bisa memakan waktu." Dengan pemikiran yang matang, akhirnya Morgan memilih hotel ini.
Lagipula juga beresiko melanjutkan perjalanan.
"Baik, aku pesan yang itu!"
"Baik tuan, mari." Mengikuti langkah pelayan hotel, Morgan hanya bisa memarahi Flora yang akan mengerti apapun.
__ADS_1
"Aku ingin ranjang ku!" Ujar Flora yang mengiringi perjalanan mereka menuju kamar.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Apa?" Tanya resepsionis kepada rekan kerjanya yang datang seperti hantu.
"Itu tadi....."
"Tentu saja tamu, siapa lagi? Apa kau kenal?" Tanya resepsionis.
"Astaga! Makanya kalau punya ponsel itu digunakan cari informasi juga! Jangan suami saja!"
"Memang kenapa? Apa maksudnya?"
"Dia itu adalah tuan Morgan. Dia adalah putra seorang pengusaha dan juga cucu konglomerat. Kau tidak tau, perhiasan yang baru saja launching dan menjadi primadona itu adalah miliknya! Kau ini!" Dengan gaya wanita seperti fans garis keras membuat wanita itu bicara seperti rel kereta api.
"Sungguh?" Tanya resepsionis dengan tak percaya.
"Iya, b0d0h!" Sambil menunjukkan ponselnya, wanita itu membuat sang resepsionis kaget.
"Astaga benar!"
"Makanya kau ini!"
"Dia datang dengan gadis cantik. Apa itu kekasihnya?"
"Mungkin, tapi aku tidak asing dengan wajahnya. " Tampak ada adegan mengingat dan tak lama salah seorang diantaranya berteriak membuat salah satunya langsung membekap.
"Kau mau dipecat?"
"Wajah cantik itu adalah modelnya! Aku baru ingat!"
"Wah! Ini berita panas! Merasa berkencan!"
"Kau mau apa?"
"Lihat saja! Kita akan ikut terkenal!" Dengan ponselnya wanita itu tampak mengetik sesuatu.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.