
Setelah kekehan Sely, malam itu membuat Flora merasa janggal. Dia menjadi tidak dapat tidur dengan nyenyak, jangankan tidur, menutup mata saja terasa sulit. "Ada apa dengan ku?" Flora hanya bisa marah pada dirinya sendiri karena tidak ada siapapun di sana.
"Lagipula itu bukan salahku, kenapa dia tidak bilang? Siapapun di posisi ku juga menduga hal yang sama." Dengan lampu yang masih menyala, Flora berbicara sendiri dengan bayangannya sendiri menjadi teman bicara.
Sungguh wanita itu berguling-guling dengan pemikiran nya sendiri yang terbagi dua, dimana dia mendapatkan satu pikiran mengucapkan maaf, dan yang satunya diam seolah tidak tau apapun.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Lain lagi di malam yang sama, sepasang mata itu masih terbuka memikirkan kejadian yang sama. "Dia bilang apa? Terimakasih lalu kurang ajar?" Pria dengan manik tajam dan tubuh berkeringat yang membuat tubuhnya mengkilap ditambah postur dada yang menggoda bagi mata wanita manapun juga.
"Entah bagaimana, tapi dia sangat berbeda. Kita lihat, bagaimana ekspresi nya besok ketika ia tau siapa yang salah." Sungguh Morgan seperti mendapatkan sebuah tantangan yang menyenangkan baginya dan tentunya sepadan.
Meskipun ia sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, tetap saja senyum yang jarang di tunjukkan nya itu terus terkembang meksipun dengan pemandangan langit-langit yang beberapa tahun ini menemani nya.
"Flora....."
Setelah menyebutkan nama itu, ketukan pintu terdengar dan membuat dirinya menjadi terganggu. "Ya?"
"Kau belum tidur? Wah ada apa dengan cucu ku ini, sehingga pagi masih terlihat baginya." Omar masuk ke kamar cucu nya dengan nada ejekan yang membuat Morgan hanya pasrah saja.
"Ayolah kek, aku belum mengantuk." Jawab Morgan sambil memperbaiki selimutnya.
__ADS_1
"Begitu? Biasanya jam ini kau sudah tidur dan tidak akan membiarkan siapapun menganggu mu, tapi lihat sekarang.... Pintu tertutup dan pemiliknya masih membuka mata."
"Kakek sudah minum obat?" Pembicaraan main-main tadi berubah menjadi serius.
"Sudah, lagipula aku harus hidup lebih lama untuk mengatur mu menjadi lebih baik."
"Kakek akan hidup lebih lama, aku jamin itu. Jangan membicarakan hal seperti itu lagi." Morgan bangkit dari selimut yang menghangatkan tubuh nya dan mendekat pada pria yang sudah menjalani hidup yang panjang itu.
"Kalau begitu, segeralah menikah. Kakek ingin menggendong cicit, setidaknya sebelum aku pergi." Morgan ingin bicara, tapi Omar sudah beranjak pergi.
"Tidurlah segera, besok adalah peluncuran perhiasan kita. Dan juga.... Ada undangan untuk menghadiri pertemuan seperti biasa." Setelah selesai mengatakan apa yang ingin disampaikannya, Omar menutup pintu dan meninggalkan cucunya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Bena bersama Jessi menuruni tangga dimana terlihat Antoni yang sudah duduk dengan tatapan datar nya. "Duduk!" Sebelum keduanya bicara, Antoni meminta keduanya duduk untuk bicara yang sangat penting.
"Aku tidak ingin mendengar apapun, kau tau benar Bena, aku tidak terima sebuah pengkhianatan disini. Aku tidak peduli dengan alasan mu atau yang lainnya, aku tidak menerima itu. Tidak perlu tangisan atau permohonan maaf, aku tidak memerlukannya."
"Antoni aku...." Tangan kanan itu langsung terangkat dan membuat Bena menjadi diam.
"Bena, apa yang kau lakukan sudah mencoreng wajah ku. Kau tidak tau betapa panasnya telinga ku, karena hal ini. Aku juga mengalami kerugian karena video itu. Aku mencabut fasilitas yang aku berikan padamu dan kau hanya akan duduk menghabiskan waktu di rumah! Aku tidak menerima kesalahan lagi dan jangan harap jika ada toleransi lagi, aku akan menceraikan mu jika kali ini ada pelanggaran!" Mata Bena membola mendengar penuturan Antoni yang sungguh marah bukan main.
__ADS_1
"Daddy....."
"Dan untukmu Jessy, jangan lakukan hal selain kuliah mu! Aku bisa melakukan hal yang sama denganmu juga!" Antoni langsung pergi meninggalkan ibu dan anak itu.
"Mommy...." Panggilan Jessy tidak memberikan pengaruh apapun pada Bena.
"Aku tidak terima...."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Jam yang menunjukkan pukul 4 pagi membuat manik indah itu terbuka. Sambil mengambil minum karena merasa haus, tapi maniknya juga menangkap notifikasi di ponselnya. 'Nona, Tuan Antoni menarik fasilitas.' Mata yang masih merasa kantuk itu mendapatkan energi dari pesan itu.
"Bagus, itu yang aku inginkan. Kau harus rasakan juga bagaimana amarah yang membuat mu terbakar!"
'Nona, sepertinya tuan akan pergi karena mendapatkan undangan untuk pertemuan."
"Pertemuan? Apa itu pertemuan yang biasanya Papa datangi?" Tak lama pesan muncul berupa foto yang membuat Flora segera membuka nya.
'Ini daftar nama yang hadir nona, pertemuan ini adalah pertemuan khusus. Tidak semua para pengusaha bisa memiliki akses Nona.' Manik Flora membaca satu persatu nama disana, selain nama Papa nya ada satu nama yang membuat dirinya terdiam sejenak.
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1