
Manik Flora yang awalnya berseri-seri langsung berubah ketika melihat rupa sosok di hadapannya. Bukan hanya dia, tapi pria yang bermata tajam itu juga seperti dirinya.
"Tuan Morgan dia adalah Flora, dia lulus seleksi dan...."
"Apa tidak salah? Dia...."
"Tidak tuan, ini sudah benar. Tuan juga melihatnya."
'Rupanya dia ingin mengerjai ku.'
"Aku dengar perusahaan ini sangat selektif dalam memilih. Jika ada kesalahan, maka itu menjadi sebuah pertanyaan bukan begitu? Aku tidak masalah jika bukan aku yang terpilih." Dengan percaya diri serta lugasnya Flora bicara dan dengan frekuensi suara seperti itu, semuanya tentu mendengar dengan jelas.
Flora bahkan tidak ragu menatap sosok di depannya. 'Apa yang akan kau lakukan setelah ini?' Sungguh Flora tidak peduli meskipun dirinya akan diterjang badai setelah ini.
"Kalau begitu, ini adalah model nya. Segera beri tahu dia, untuk pekerjaan yang akan datang, bukan.... besok!" Setelah menekankan bagian katanya, Morgan segera berlalu meninggalkan Flora .
Flora masih menatap sosok arogan yang perlahan menjauh darinya. "Baik Flora, aku akan menjadi rekan kerja dan mengarahkan dirimu." Seorang pria kemayu mengajak Flora bicara.
"Ah ya, tentu. Senang bertemu denganmu." Keduanya tersenyum dan berjabat tangan, tapi sepertinya ala kemayu tetap diperlihatkan pria kemayu itu.
"Aku Sely." Dia memperkenalkan dirinya dengan gayanya sendiri.
"Kau bisa memanggilku Flo."
"Kalau dilihat.... kau sepertinya bukan orang lokal. Atau kau sudah menetap disini?"
"Tebakan mu benar. Aku bukan dari sini."
"Kau sangat cantik, bahkan sinar kecantikan mu itu begitu memancar dari pintu masuk. Kau memiliki ciri khas yang tidak dimiliki orang lain. Kau campuran ya?"
"Es campur?" Ujar Flora yang membuat Sely tertawa.
"Kau bisa bercanda juga. Sebelumnya matamu mengajak perang kepada boss ku."
__ADS_1
"Boss?" Keduanya masih asyik berbincang-bincang dan duduk di kursi yang telah disediakan.
"Ya, pria tampan nan menjadi incaran itu adalah boss kami. Kau tidak mungkin tidak tau? Tapi sepertinya begitu, melihat tatapan dan reaksi mu. Dia adalah generasi ketiga keluarga Madush, Morgan Daneil Madush." Dengan sangat jelas Flora mendengar ucapan pria kemayu itu.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Tuan mau pulang?" Tanya Bry yang tengah melajukan mobil.
"Beraninya dia bicara dan menatap ku seperti itu." Bukannya menjawab pertanyaan kaki tangan nya, Morgan justru bicara sendiri.
"Tuan?"
"Apa? Kau tidak bisa menyetir saja? Ada masalah?" Entah apa yang membuat pria bermanik tajam itu kesal.
"Bukan Tuan, tapi Tuan mau pulang? Atau bagaimana?"
"Pulang, kepala ku sakit sekali!" Setelah mendengar ucapan itu, Bry tidak bertanya lagi dan membelah jalanan menuju kediaman cabang di negara ini.
Gerbang besar itu sudah menyambut kedatangan mobil silver yang begitu mengkilap itu. Setelah dipastikan masuk, gerbang langsung ditutup dan pintu mobil terbuka memperlihatkan sosok yang kesal entah karena apa.
Morgan terus melanjutkan langkahnya dan ketika melewati ruang makan, langkah kaki nya berhenti. "Bagaimana? Kakek dengar sudah didapatkan."
Tampak Morgan mengambil napas nya sejenak sebelum membahas hal ini. Seharusnya dia tau, kalau kakek nya ada di rumah.
"Iya kek, sudah."
"Namanya?" .
"Ayolah kek, aku yakin Kakek sudah tau seluk beluk bukan hanya nama. Aku mau istirahat kek, badan dan kepala ku tidak enak." Eluh Morgan sambil memegangi kepalanya.
"Kau belum juga berubah. Ini yang kakek tidak suka. Kau sudah besar, tapi masih saja berulah. Kakek pusing melihat tingkah mu, pantas saja Papa mu angkat tangan."
"Aku bukan aktor dalam film kek, atau manusia super. Aku sudah melakukan semuanya, harapan kalian yang mana yang belum aku berikan?" Tanya Morgan.
__ADS_1
"Banyak. Kau mau dengar? Sikap mu ini, kau mungkin bisa menggunakannya untuk mengintimidasi lawan kita, tapi tidak ke semua orang Morgan. Mereka tidak mengerti dirimu...."
"Aku tidak perlu dimengerti oleh orang lain. Kenapa harus memikirkan nya?"
"Tentu saja harus, kau sudah besar. Kepala mu hampir tiga, tapi satupun wanita belum ada. Tidak tau bagaimana kriteria cucu ku ini. Kalau begini terus, kakek bisa mati!" Kepala Morgan yang berdenyut sekarang semakin mendenyut.
Morgan memutar kaki nya dan sudah berada di hadapan kakeknya itu. "Kakek, kepala tiga nya masih belum muncul. Aku ini masih muda, lagipula kakek tidak akan tiada." Tapi pria tua itu hanya diam membisu membuat Morgan harus mengeluarkan tenaga ekstra nya.
"Baiklah, setelah launching kalung perusahaan kita,aku akan menerima pilihan kalian."
"Benar?" Akhirnya usaha Morgan tidak sia-sia.
"Iya, aku janji." Pria yang telah memiliki keriput itu langsung tersenyum cerah karena dia tau cucu nya tidak akan mudah membuat janji.
"Aku seperti menghirup ramuan umur panjang."
"Sekarang aku boleh tidur?" Tanya Morgan yang benar-benar sudah lelah.
"Ya, tidurlah. Kita akan segera launching. Kau butuh istirahat. Kakek akan menghubungi papa dan mama mu." Morgan mengangguk saja dan kembali melangkah menuju kamarnya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Bagaimana Flora?"
"Bapak sungguh tidak tau?" Tanya Flora yang membuat dialog pak Surya jadi sia-sia.
"Tetapi aku lebih suka jawaban yang keluar langsung dari orang nya."
"Aku berterima kasih kepada bapak, aku lulus! Aku akan mulai dalam waktu dekat ini " wajah bahagia Flora tak tersembunyikan lagi, dan pak Surya juga ikut bahagia.
"Aku tau kau berhasil." Ditengah rasa bahagia itu, pak Surya menodongkan sebuah surat di depan Flora yang membuat dirinya bertanya-tanya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.