
Gedung besar dengan penuh hiasan indah itu telah dihuni oleh manusia dari kartu emas, dengan pakaian yang bukan sembarang kain dan juga kilauan pada diri mereka. Tampak semuanya duduk menunggu acara yang akan segera berlangsung itu.
Ditengah gabungan lantai yang tampak tinggi dari yang lainnya, itulah yang akan menjadi panggung bagi sepasang yang menjadi bintang hari ini.
Dimulai dengan kedatangan pria dengan wajah tampan yang telah dikenal oleh orang-orang dengan tuxedo abu-abu yang melekat di tubuhnya membuat dirinya semakin mempesona. Di dampingi dengan kedua orang tuanya yang merupakan pasangan kelas atas menjadi semakin menarik untuk dilihat dan diberitakan. Ditambah dengan sang kakek yang merupakan kalangan yang disegani.
Tak lama dari arah berhadapan, tampak pria paruh baya yang mendampingi sosok cantik dengan dress putih susu yang bermodel tertutup dengan bahu yang dihiasi dengan manik-manik dan berlengan pendek. Ditambah rambut yang dipastikan dari sang wanita di gulung dan ditambah hiasan mutiara yang senada dengan warna dress-nya.
"Kau tidak mengatakan apapun, apa segitu terpesonanya?"
"Sepertinya begitu, dia memilih yang terbaik... Tanpa campur tangan kita." Kedua orang tua Morgan tampak berbisik-bisik di telinga putranya yang matanya sejak tadi menatap Flora berjalan menuju dirinya.
Manik Flora juga dapat melihat dengan jelas, sosok Morgan di depannya.
'Tampan, terlihat lebih sangat berbeda saat ini.' Wanita manapun tentu akan berbinar-binar melihat sosok tampan seperti itu.
"Baiklah, kita bisa mulai saja. Hal baik harus disegerakan." Ujar Omar yang sejak tadi menjadi penonton bagi keduanya yang hanya memainkan mata mereka.
Antoni yang mendampingi putrinya, tampak sedikit bergeser untuk memberikan ruang acara tukar cincin itu.
Tampak Zoya membawa kotak cincin untuk pertunangan putranya, perhiasan kecil yang hanya muat di jari itu. Harganya tidak sekecil ruang yang digunakan, selain harga yang fantastis, modelnya juga dibuat khusus dengan ukiran nama Morgan dan Flora di dalamnya.
Tidak ada yang tau, tetapi mungkin mereka bisa menebak akan perasaan yang bertunangan saat ini. Perlahan Morgan mengambil cincin dan Flora menjulurkan tangannya bersiap menerima cincin itu.
'Jangan berbunyi terlalu keras, jangan....'
'Ini hanya sebentar, tidak lama. Aku bisa!' Keduanya hanya bisa berbicara sendiri dalam diri mereka.
Morgan tampak menyemangati dirinya sendiri bahwa ia hanya membutuhkan waktu sebentar memasangkan cincin itu pada jari Flora.
"Ayo Morgan..." Zoya tampak mengintruksikan kepada putranya agar segera memulai dan dengan kepercayaan dirinya, Morgan langsung meluncurkan cincin itu pada jari Flora hingga mentok ke ujung.
Semuanya bertepuk tangan melihat cincin yang telah melingkar di jari sang wanita. Sekarang giliran Flora yang mengambil cincin dan bersiap memasangkannya. Meksipun detak jantung nya berdetak tak karuan saat ini meksipun tanpa ia minta.
Tetap saja, Flora juga meyakinkan dirinya bahwa pemasangan cincin ini akan cepat. Jari manis Morgan terulur di depannya dan dengan segera Flora memasangkannya disaksikan banyak mata dan tak lama suara tepuk tangan kembali terdengar.
"Ayo, kita ambil gambar bersama!" Flora dan Morgan yang masih bertatapan berdiri berdekatan untuk sesi foto bersama. Kilauan cahaya dari kamera membuat semuanya tersenyum, begitu juga dengan Antoni yang mendampingi putrinya.
"Ok, bagus!" Baru saja Flora dan Morgan membuat jarak, keduanya kembali memutus jarak.
"Mau kemana? Kalian harus foto berdua. Ayo...."
"Anggap saja seperti foto saat kita launching, kau tidak lupa kan?" Bisik Morgan di telinga Flora yang membuat keduanya tampak mesra di mata yang lain.
"Tentu, aku bisa!"
Morgan cukup kaget dengan aksi Flora yang bergaya sehingga jarak diantara mereka tampak tak ada. "Lihat aku!" Ujar Flora membuat Morgan menatap wajah cantik itu dan keduanya bertatapan.
"Tunjukkan jari nya." Morgan menatap sekilas yang Flora lakukan. Dan ia juga turut melakukannya tak lupa dengan senyuman.
"Mereka serasi bukan?" Ujar Zoya pada suaminya.
"Hmmmm.... Ya." Tapi tampaknya Papa Morgan memiliki pemikirannya sendiri melihat keduanya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Baru saja dirinya duduk setelah acara yang cukup lama, kaki itu kembali berdiri ketika melihat kedatangan seseorang menuju kamarnya. "Papa?" Tanya Morgan yang cukup kaget dengan kehadiran Papa nya.
"Apa Papa menganggu? Papa harap tidak!" Dengan santainya, pria itu duduk di sebelah putranya yang masih berdiri.
__ADS_1
"Ada apa Pa?"
"Duduklah, Papa tau kau lelah." Morgan akhirnya mendudukkan tubuhnya kembali yang kakinya sudah terasa kebas.
"Papa ingin bicara apa?" Tanya Morgan yang terlihat dari raut wajah Papa nya ada sesuatu.
"Kau yakin dengan pernikahan ini?" Pertanyaan Papa nya tentu membuat alis Morgan tampak mengerut.
"Tentu pa, bukankah ini sudah kita bahas?"
"Kenapa kau yakin dengan Flora?"
"Kenapa Papa yakin dengan Mama?"
"Kau tidak menjawab pertanyaan Papa."
"Aku menjawabnya, Papa sudah tau jawabannya."
"Baiklah, kalau begitu.... Papa berharap kau mampu menjalani kehidupan bersama nya, jika papa lihat, ada beberapa hal yang mungkin belum kalian katakan satu sama lainnya. Papa tidak ingin ada sesuatu di dalamnya."
"Maksud papa apa?"
"Kau tidak membuat sesuatu untuk pernikahan ini bukan? Seperti dalam bisnis?" Morgan sedikit tersentak, tetapi ia mengendalikannya.
"Aku jamin."
"Dengar Morgan, keputusan yang kau ambil Papa hargai. Dan jangan merusaknya, apapun yang terjadi nantinya, papa berharap kau bisa mengatasinya."
"Akan aku lakukan yang terbaik."
"Kau akan mengerti tingkah wanita saat kalian tinggal bersama, dan itulah yang akan kau hadapi. Dengan landasan beberapa material di dalamnya." Setelah mengatakan itu, Morgan kembali sendiri sambil memikirkan kata-kata papa nya.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
"Belum, dan putri Papa sendiri?"
"Aku ingin makan eskrim." Jawab Flora dengan kotak eskrim di tangannya.
Antoni memberikan kode agar Flora duduk bersamanya, dan Flora menurutinya. "Papa mau?" Antoni menggeleng.
"Tidak, karena rasanya bukan vanilla." Flora baru sadar eskrim di tangannya adalah rasa matcha.
"Aku lupa."
"Flora."
"Ya, papa?"
"Apa yang membuat mu menerima Morgan? Lupakan dulu kejadian itu. Papa bertanya padamu, kenapa kau menerima nya?" Eskrim yang tadinya langsung di hap oleh Flora tampak terkena lampu merah.
"Karena papa mengizinkannya." Jawab Flora membuat Antoni tak percaya.
"Kau memiliki perasaan padanya?"
"Perasaan seperti apa? Apakah kesal? Suka? Kagum? Atau tidak suka?" Antoni mengacak rambut putrinya.
"Perasaan yang ada disini." Antoni memegangi dadanya membuat Flora tanpa sadar ikut memegangi dadanya juga.
"Dia baik, meksipun terkadang menyebalkan. Kadang banyak bicara, kadang diam seperti patung. Dia juga tampan."
__ADS_1
"Apa semuanya sudah memenuhi kriteria penilaian mu?"
"Ada yang belum."
"Apa itu?"
"Aku ingin dia seperti kakek. Setia, lembut dan tegas. Apa itu menyakiti hati Papa?" Antoni tidak menyangka jawaban itu keluar dari mulut putrinya.
"Tidak, Papa tau alasan mu. Apa sekarang kau masih benci papa?"
"Tidak, tetapi semuanya tidak seratus lagi. Aku butuh waktu untuk mengembalikan nya."
"Papa yang akan mengisi nya hingga menjadi seratus lagi. Maaf kan Papa sayang, Papa tau..... Mungkin Mama mu juga akan seperti mu."
Memeluk tubuh putrinya, Antoni mengalirkan air matanya. Meskipun sedikit, tetapi segera di hentikan nya. 'Karena itu Papa akan memastikan kebahagiaan mu.'
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Pagi ini ada yang tampak berbeda dari ponsel Morgan, ada pesan yang tidak ia kira menghampiri ponselnya. "Kau mau kemana?" Tanya Omar kepada cucu nya.
"Aku mau keluar sebentar kek. Tidak lama, setengah jam. Aku akan kembali."
"Morgan kemana yah?" Zoya yang datang dengan teh di tangannya tampak bertanya-tanya mengenai kepergian putranya.
"Dia akan kembali, jangan khawatir."
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Setelah memastikan mobil terparkir dengan baik, Morgan segera masuk ke restoran tempat janjian nya dengan seseorang.
"Kau cepat juga."
"Selamat sore paman."
"Aku harap kau tidak keberatan kemari."
"Tidak, aku senggang."
"Langsung saja, aku ingin bicara empat mata dengan mu, Morgan. Apa kau mencintai putri ku, atau hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan padanya?"
"Keduanya, aku tidak tau kapan aku mulai jatuh cinta padanya. Tetapi malam itu, aku merasa sangat berbeda ketika bersamanya. Aku hanya ingin dia yang menjadi bagian dari hidupku. Dia berbeda dari wanita lain, pandangannya, sikapnya dan juga cara bicaranya membuat ku jatuh cinta padanya. Meksipun...."
"Jika putriku tidak memiliki perasaan seperti mu?"
"Mungkin sekarang tidak, tetapi dia aku memiliki perasaan padaku. Seiring berjalannya waktu kami bersama. Aku tidak bisa menjamin aku akan selalu di sampingnya, tetapi aku akan memastikan dia aman, bahagia dan tidak akan menangis saat bersamaku."
"Mungkin kau akan ingat dengan perkataan mu padaku, tetapi siapa yang tau seiring berjalannya waktu, kau mungkin saja lupa dengan ini? Bila putriku tidak sesuai dengan keinginan mu, kau mungkin saja akan mengesampingkan nya."
"Kalau itu terjadi, aku akan mengembalikannya padamu dengan baik. Tetapi aku akan berusaha agar itu tidak terjadi."
"Benar, Flora tidak seperti wanita kebanyakan. Dan mengenai itu kau harus siap dengan hal yang mungkin terjadi nantinya. Putriku tidak akan mengalah jika dia tidak bersalah, meskipun dari pandangan mu dia tampak salah. Aku hanya tidak ingin, kau menjadi seperti ku suatu hari nanti. Aku tidak bisa melihat air mata putriku, meksipun aku pernah melakukan nya."
"Aku berjanji."
"Aku pegang kata-kata mu. Aku akan tetap hidup, hingga aku yakin putriku bahagia."
Bersambung ...
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.
__ADS_1