
Setelah keluar dari dungeon kami dikelilingi oleh monster. Dengan sangat cepat mereka bertujuh menghilang dan dalam sekejap para monster mati dengan darah hijau yang berceceran di tanah.
Mereka semakin kuat saja, itu membuat saya senang.
“Sepertinya para monster menjadi mengamuk karena pria yang aku bunuh tadi.”
Semuanya menoleh ke arah saya, dan Olivia melihat ke bawah sambil memegang dagunya.
“Maksud tuan... Pria itu menyebarkan energi sihir saat akan mati lalu membuat para monster mengamuk, begitu?” (Gisella)
“Benar. Karena itu aku ingin kalian pergi dan hentikan mereka sebelum mereka menyerang desa.”
“Siap!”
Ketujuh gadis menghilang dari pandangan saya dengan sangat cepat.
Tiba-tiba otak saya mengatakan bahwa ada sesuatu yang berbahaya di sekitar sini. Saya segera pergi ke selatan, tempat dimana saya merasakan bahaya.
Dengan mengumpulkan energi sihir di kaki dan petir mengelilingi sepatu saya membuat kecepatan lari saya meningkat 2 kali lipat dari lari biasa.
...----------------...
Rei, Bella dan Shiori berdiri dengan posisi bertahan, mereka menahan luka mereka yang di sebabkan oleh orc.
Awalnya luka mereka cukup parah namun berkat sihir penyembuhan milik Bella, luka mereka dapat diminimalisir namun tidak menyembuhkannya secara menyeluruh karena keterbatasan energi sihir.
Saat orc mulai mengarahkan tinju besarnya, dengan cepat mereka bertiga menghindarinya.
Tubuh mereka sudah kelelahan dan sulit bergerak bebas. Rei mungkin bisa mengalahkan orc besar ini dengan serangannya namun karena dia masih belum bisa mengendalikan kekuatannya, ia takut mengenai seseorang yang ada di sekitarnya.
Dalam sekejap tiba-tiba kilat hitam bergerak dengan kecepatan yang luar biasa hingga tidak bisa diikuti oleh mata telanjang.
Kilat hitam itu menabrak orc besar hingga membuat lubang besar di perutnya dan kepalanya terpotong dari lehernya.
Ketiga gadis itu sangat terkejut melihat pemandangan itu dan sosok berjubah hitam berdiri di atas tubuh orc lalu melihat ke tiga gadis itu lewat bahunya.
“Saat ini hutan sedang marah, sebaiknya kalian segera pergi dari sini.”
Setelah mengatakan itu, sosok hitam itu menghilang begitu saja seolah apa yang mereka lihat sebelumnya adalah seperti mimpi.
“Apa apaan itu?” (Rei)
__ADS_1
“Yang benar saja.” (Shiori)
“Yang tadi itu apa? (Bella)
Ketiga gadis itu benar benar kebingungan bahkan mereka tidak bisa mengeluarkan suara mereka saat dihadapan sosok hitam.
“Yang lebih penting kita harus segera pergi dari sini.” (Rei)
Saat mereka berbalik hanya ada kereta yang sudah hampir hancur dan kuda mereka yang seharusnya menarik kereta menghilang karena lari ketakutan saat kemunculan orc.
“Bagaimana kita pergi sekarang?” (Bella)
“Kita berjalan kaki dari sini, aku tahu jalan pintas di sekitar sini.” (Rei)
“Kau benar, itu adalah pilihan terbaik untuk saat ini karena langit sudah hampir gelap juga.” (Shiori)
...****************...
Di rumah Orion
Matahari mulai terbenam. Mio dan Nia sedang mempersiapkan makan malam seperti biasanya.
Dan Clovis sedang menikmati teh panas sambil menunggu makan malam tiba.
Namun, yang ada di balik pintu bukanlah anaknya Ren melainkan tiga gadis cantik. Salah satu dari ketiga gadis itu sangat dikenal oleh Clovis. Itu adalah putrinya yang sudah lama tidak ia lihat, Rei Orion.
“Rei?”
“Aku pulang, ayah.”
Clovis menahan tangisannya karena bisa melihat putrinya lagi setelah sekian lama.
Namun, Rei segera memeluk ayahnya. Pertemuan antara ayah dan putrinya adalah momen yang paling indah.
Kedua gadis yang berdiri di belakang Rei menatap mereka dengan senyum senang.
Clovis membiarkan mereka masuk dan duduk di meja makan.
Kedua temannya juga ikut duduk dengan sopan. Sesaat kemudian, Mio dan Nia datang dengan menyiapkan makanan di atas meja.
Saat mata Mio dan Rei bertemu, Mio sangat terkejut dengan itu.
__ADS_1
“Tunggu? Rei? Kau sudah pulang?”
Rei berdiri dan segera memeluk ibunya karena tidak bertemu dalam waktu yang lama.
“Aku pulang, Bu. Senang melihat ibu baik-baik saja.”
Mio membalas pelukan putrinya dan mulai menangis senang.
“Syukurlah kau sehat sehat saja. Bagaimana dengan sekolahmu?”
“Aku melakukan yang terbaik di sana.”
“Begitu ya, syukurlah.”
Kemudian kedua temannya berdiri dan membungkuk untuk memperkenalkan diri mereka.
“Senang bertemu dengan anda, ibu Rei. Namaku Shiori.”
“N-Namaku Bella, senang bertemu dengan anda.”
Mio membalas salam mereka dengan membungkuk juga.
“Senang bertemu dengan kalian, kalian bisa memanggilku ibu jika kalian mau.”
““Tentu.”” Mereka menjawab dengan serempak.
Nia membungkuk kepada mereka bertiga dengan sopan dan mereka membalasnya dengan senyum ramah.
Rei tahu kalau orang tuanya memiliki seorang pelayan akan tetapi dia tidak mengenal Nia karena dia belum bekerja untuk orang tuanya saat dia masih di rumah.
Tapi yang membuat Rei bingung adalah suasana yang terasa aneh baginya.
Ayah dan ibunya tersenyum seperti biasanya namun entah mengapa rasanya seperti mereka merasa cemas akan sesuatu. Tidak hanya kedua orang tuanya tetapi pelayannya juga terlihat sangat cemas.
“Apa terjadi sesuatu di sini?”
Itu adalah Shiori yang memecahkan suasana aneh itu. Mata mereka melihat ke arah lain seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu hal.
Mata Mio melihat ke bawah dengan ekspresi wajah yang tidak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Itu adalah ekspresi murung.
“Sebenarnya...”
__ADS_1
Dengan rasa khawatir akan putranya, Mio dan Clovis menjelaskan tentang adiknya Rei yang kabur dari rumah.