Son Of God

Son Of God
Hari libur


__ADS_3

Sabtu, pagi hari


Karena akademi diliburkan, seperti biasa Ren sedang bermalas-malasan dengan membaca buku di ruang tengah.


Beserta dua pelayannya yang sedang berdiri menunggu Ren. Jika Ren membutuhkan sesuatu, Maria dan Ririka bisa membantunya dengan cepat.


Rei, kakaknya datang dengan mood yang buruk. Wajahnya yang cantik kini terlihat suram. Ren bisa menebak alasan kakaknya seperti itu. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan Ren karena itu bukan salahnya.


"Kenapa kau malah bermalas-malasan dan tidak pergi ke suatu tempat?"


"Hari ini cuaca sedang sangat panas. Itu menyebalkan jika aku harus keluar rumah."


Jawab adiknya benar-benar membuatnya kesal namun ia tahu bahwa adiknya sangat tidak menyukai cahaya matahari yang panas. Tapi ada yang membuatnya penasaran, sesuatu yang tidak biasa bagi Rei.


"Dimana Yukari?"


"Dia baru saja pergi bersama teman barunya dan dia akan kembali nanti siang atau sore."


Ren terus fokus pada bukunya dan menjawab pertanyaan kakaknya tanpa melihat matanya. Rei menghela nafas pasrah. Biasanya dia harus mengurus dokumen yang banyak di kantornya namun hari ini dia sedang cuti sehingga memiliki waktu luang yang banyak.


Meskipun demikian ia tadinya berniat untuk bermain bersama adiknya itu namun ia hanya berfokus pada bukunya. Rei duduk di sofa sambil memikirkan bagaimana cara menghabiskan waktu luangnya. Namun tanpa pemberitahuan adiknya seperti bisa membaca pikirannya dengan baik.


"Kenapa tidak pergi jalan-jalan bersama Alson?"


"Dia sibuk mengajar anak-anak di panti asuhan."


"Baiklah, kita pergi."


Ren segera menutup bukunya dan menyimpannya di atas meja. Rei memiringkan kepalanya karena bingung namun adiknya segera menjawab kebingungan kakaknya itu.


"Bukankah kakak bosan? Kita pergi jalan-jalan berdua mungkin akan seru."


Rei terkejut tidak percaya. Untuk pertama kalinya adiknya mau meninggalkan bukunya dan pergi bersamanya. Bagi Rei ini adalah hal yang sangat langka dan tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.


Keduanya segera bersiap dan mengganti pakaian mereka dengan yang lebih casual dan pergi keluar.

__ADS_1


Seperti biasanya kota sangat ramai dan dipenuhi oleh lautan manusia. Banyak sekali orang yang sedang melintas, ada yang sedang berbelanja, dan ada yang sedang mengobrol dengan teman mereka.


Kakak beradik itu memasuki pasar yang menjual berbagai macam jenis barang dan alat. Setiap melewati toko sang pemilik toko selalu berusaha menawarkan barang mereka tapi Ren berhasil membuat sang pemilik toko pergi dengan memanipulasi otaknya.


Rei terus menatap toko aksesoris. Ren yang sadar dengan itu segera mendekati toko dan mencari aksesoris yang cocok untuk kakaknya.


"Apa kakak lebih suka jepit rambut daripada gelang?"


"Tunggu? Kau mau membelikan kakak?"


"Kenapa tidak? Atau kakak lebih suka kalung?"


Rei bingung dengan pilihannya karena banyak sekali aksesoris yang cantik dan imut namun dia tidak yakin apa yang cocok untuknya sendiri. Matanya tertuju pada anting yang dipakai adiknya. Anting berbentuk bintang dengan warna hitam pekat sehingga sulit melihat bentuknya dari kejauhan. Anting yang dipakainya sangat cocok seolah itu menggambarkan adiknya, lalu ia melihat anting berbentuk bulan sabit berwarna biru laut. Itu seperti bulan yang terbentuk dari kumpulan air laut.


"Ini berapa?"


"Oh! Pilihan yang bagus tuan. Itu adalah bulan yang melambangkan ketenangan, seperti air laut di malam hari. Tidak ada suara apapun kecuali rasa tenang. Untuk tuan saya akan memberikan promo sehingga hanya 2 perak dan 6 tembaga saja."


"Kalau begitu aku beli."


Rei senang, rasanya adiknya bisa membaca pikirannya atau karena mereka adalah adik kakak sehingga bisa mendengar suara hati mereka satu sama lain. Tanpa mempedulikan harganya Ren membayarnya dan memberikannya kepada Rei.


"Kau baik sekali tapi kenapa kau memilih ini?"


"Entahlah. Aku pikir itu sangat cocok dengan kakak, jadi aku membelinya. Apa mungkin kakak tidak menyukainya?"


Rei terkejut mendengar ucapan Ren. Bukan hanya imut tapi juga ia begitu baik dan perhatian pada dirinya. Mengingat beberapa hari yang lalu ia terjatuh dari lantai atas dan bertarung melawan orang aneh yang mengendalikan monster, ia benar-benar anak yang polos.


Sejak kejadian itu, Rei bersumpah pada dirinya sendiri untuk menjadi lebih kuat dan melindungi adiknya dengan seluruh kemampuannya.


"Kakak?"


Rei meneteskan air mata sehingga membasahi pipinya. Wajahnya yang cantik kini basah oleh air mata.


"Apa kakak sebegitu tidak sukanya dengan anting itu? Kalau begitu..."

__ADS_1


Ren segera berhenti bicara, Rei menggelengkan kepalanya lalu tersenyum pada adiknya.


"Bukan, kakak hanya senang."


Rei segera menghapus air matanya dengan tangannya lalu memukul pipinya agar tetap tegar.


"Baiklah, Kemana lagi kita harus pergi?"


Ren tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan kakaknya tapi satu hal yang ia ketahui bahwa kakaknya sudah kembali ke ceria dan tidak murung lagi.


Di belakang istana, pukul 15.00


"Sudah lama kita tidak berkumpul dan menikmati teh sambil menunggu matahari terbenam seperti ini."


Saat ini ada enam putri yang sedang duduk sambil menikmati teh dan beberapa cemilan. Keenam putri ini meskipun sudah lama tidak bertemu tapi mereka tetap terlihat sangat akrab.


"Teh ini sungguh enak." Puji Eleonore, sambil meminum tehnya dengan nikmat.


"Tentu saja. Karena itu terbuat dari daun dari kerajaanku." Tegas Ariana.


Teh yang mereka santap menjadi topik pembicaraan para tuan putri ini namun topik mereka seketika berubah oleh Luna yang membuka pembicaraan.


"Apa pendapat kalian tentang Noir?"


"Noir?" Luciana bingung. Meskipun ini adalah acara ngobrol antar putri namun pembahasannya mengenai sosok yang akhir-akhir sedang menjadi berita hangat.


"Aku bisa mengatakan bahwa dia sangat berbahaya." Ucap Dorothy.


"Ya, mengingat kejadian enam tahun yang lalu saat insiden sihir merah. Aku yakin sekali kalau itu ulah Noir." Jawab Almira dengan menikmati kue di depannya.


Pelayan yang berdiri di belakang Luna menyadari cangkir tuannya kosong dan segera ia isi kembali. Luna segera melanjutkan pembicaraan yang sedang dibahas oleh teman-temannya ini.


"Aku percaya kalau Noir bukanlah orang jahat."


"Kenapa kau berpikir begitu, yang lebih penting lagi kenapa tiba-tiba kita jadi membahas tentang Noir?" Ucap Ariana.

__ADS_1


Ariana merasa bahwa Luna sepertinya tertarik dengan Noir yang sedang diperbincangkan namun seketika udara di sekitar terasa agak mencekam sehingga mereka semua berhenti berbincang dan waspada dengan sekitarnya.


Biasanya udara di istana selalu terasa sejuk dan menyenangkan namun sekarang udara terasa menakutkan. Seolah udara mengatakan bahwa mereka dalam bahaya.


__ADS_2