Son Of God

Son Of God
Keluarga Orion


__ADS_3

Setelah kembali dari pasar, saya masuk ke dalam kamar saya bersama Maria dan Ririka.


Saya meminta mereka menutup tirai dan jendela bahkan pintu, lampu tetap dibiarkan menyala agar menerangi kamar ini.


Saat keduanya bertanya mengapa saya melakukan ini, saya hanya melihat mereka sebentar tanpa mengatakan apapun.


Saya mengambil jarak dari mereka dan berbalik saat duduk di kursi. Saya menatap mereka dengan ekspresi serius.


“Sekarang, aku ingin bertanya kepada kalian.”


Keduanya saling menatap kebingungan.


“Apa yang kalian ketahui tentang orang tuaku?”


Saya bertanya kepada mereka apa maksud dari 'Holy sword' 'Sword saint' dan 'Master'. Jika Saya bertanya kepada mereka langsung, saya tidak yakin mereka akan menjawabnya dengan serius.


“Apakah anda ingin mengetahui tentang kisah mereka?”


“Ya, ceritakan padaku.”


Saya menunggu dan mereka mulai menceritakan tentang orang tua saya. Dari cerita mereka. Ayahku, dulunya adalah tangan kanan raja dan ksatria paling kuat pada masanya. Saat kerajaan diserang, ayah berhasil melindungi kerajaan dan dia mendapatkan gelar 'Holy sword'.


Lalu ibuku. Dia pandai dalam menggunakan sihir namun dia tidak bisa menggunakan sihirnya sebagai sihir serangan dan ibu memanfaatkan kemampuan sihirnya untuk membuat alat-alat yang bisa digunakan sehari-hari, salah satu karyanya adalah lampu yang digunakan di jalan dan senter.


Itu adalah dua karya ibu yang sangat populer dan karena ibu mendapatkan gelar 'master' untuk menghormati ibu.


Ini adalah cerita yang sungguh mengejutkan. Saya tidak pernah menyangkal kalau ayah dan ibu sangat dihormati namun saya belum mengerti kenapa mereka yang mendapatkan gelar, kekuatan, koneksi dan kekayaan malah tinggal di desa terpencil.


Saat saya menanyakan pada mereka, mereka tidak mengetahui alasannya namun saya punya pendapat tentang itu.


Sepertinya ayah dan ibu tidak terbiasa dengan hal mewah dan mereka memutuskan untuk hidup sederhana di desa terpencil yang jauh.

__ADS_1


“Lalu, tentang kakakku?”


Cerita tentang kakakku dimulai. Ayah dan ibu saling jatuh cinta dan akhirnya mereka memutuskan untuk menikah dan setahun kemudian, mereka dianugerahi seorang anak perempuan dan itu adalah kakakku. Kakak yang mulai dewasa tinggal dan bersekolah di ibukota dan dia berkerja keras hingga berprestasi dan dia mendapatkan gelar sword saint karena mampu menggunakan pedang suci dan kemampuan pedangnya diakui oleh kerajaan.


Setelah mendengarkan cerita yang cukup lama, tanpa sadar sudah tengah hari. Kami keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Kami menuju ruang makan dan disana sudah ada ayah, ibu dan Kakak. Mereka akhirnya sudah kembali.


Saya sudah mengetahui identitas mereka yang selama ini mereka sembunyikan dari saya. Mungkin, menggoda mereka sedikit tidak masalah.


Saya duduk di sebelah kakak yang sedang dalam mood bagus. Saya tidak tahu apa yang membuatnya senang tapi kakak terlihat lucu saat seperti ini.


Kami menyantap makanan kami dan hari ini juga Yukari yang duduk di sebelah saya terlihat manja, seperti dia meminta saya menyuapinya dan membersihkan mulutnya.


Semua terlihat tenang dan nyaman dan disitulah saya mengeluarkan suara.


“Apakah sangat menyenangkan meninggalkan putranya?”


“Apa yang kau bicarakan? Ibu tidak sejahat itu, tahu.”


Mereka membuat alasan. Memangnya seburuk apa jika saya ikut mereka? Tapi, ya sudah berlalu. Lagipula saya tidak mempermasalahkan hal itu.


Kupikir mereka akan memberi tahu identitas asli mereka tapi sepertinya mereka masih mencoba menutupinya.


“Baiklah, aku mengerti. Lalu, kenapa kakak tersenyum sendiri sedari tadi? Apakah otak kakak sudah mulai rusak?”


Kakak langsung sadar dari lamunannya dan berteriak “Apa katamu?!” dengan melotot kepada saya.


“Kakak, makanan dimulut keluar dan mengenai wajahku. Bisakah kau memilih antara makan dan berbicara? Itu menjijikan.”


Kakak membersihkan mulutnya dengan sapu tangan dan kembali melihat saya. Makanan yang ada di wajah saya dibersihkan oleh Ririka. Dia begitu gesit saat melihat wajah saya kotor.

__ADS_1


“Ah, maafkan aku. Bukan sesuatu yang penting, kau tidak perlu mengetahui apapun.”


Dari wajahnya saya bisa menebak apa yang terjadi. Saya menggunakan mata sihir untuk melihat sedikit ingatannya dan memastikan tebakan saya.


Jadi begitu, saya mengerti.


“Aku turut senang, perlukah aku bantu untuk kencan besok?”


Saat saya mengatakan itu, kedua orang tua saya menjatuhkan sendok mereka karena terlalu terkejut dengan yang saya ucapkan.


Kakak membeku sejenak lalu menjadi panik.


“A-Apa yang kau katakan?!”


“Eh? Aku salah? Tapi aku sangat yakin itu terlihat jelas di wajah kakak.”


“Ara, ternyata Rei sedang masa muda ya.”


“Jadi begitu, ayah tidak melarangmu pergi. Tapi, ayah terkejut kalau adikmu bisa menebaknya dengan benar.”


Ayah dan ibu membantu saya menggoda Kakakku yang sedang jatuh cinta. Tapi saya penasaran akan sesuatu.


“Aku! Uhh... Ya aku ada kencan besok.”


Kakak pasrah dan duduk kembali dengan ekspresi murung.


“Kakak, aku ingin bertanya.”


“Apa?” Kakak sangat malu dan dia hanya menjawab saya dengan acuh.


“Cinta itu apa?”

__ADS_1


Ini penting. Karena saya tidak mengerti apa itu cinta, saya bertanya. Dalam buku dongeng atau cerita karangan ada kata cinta. Saya selalu mencari dan mencari maksud dari cinta itu.


Seisi ruangan menjadi sunyi, atmosfer disekitar berubah dalam sekejap mata. Kakak melihat saya dengan bingung, saya rasa bukan hanya kakak tapi ayah, ibu dan pelayan yang ada.


__ADS_2