
"Nak, kami sedang rapat disini jadi jangan mengganggu untuk sementara waktu."
Ucap seorang wanita dengan rambut biru pendek, dia memancarkan aura dewasa yang menjadikannya daya tariknya. Dia adalah Yumi, ketua divisi 1.
"Bocah, tidak peduli mau kau adiknya Rei atau bukan yang pasti kau itu sudah menganggu disini."
Seorang wanita di sebelah Yumi tampak kesal dengan Ren. Dia tampak seperti gadis yang tegas, rambutnya yang diikat membuatnya terlihat cantik serta giginya yang dipenuhi taring terkesan menakutkan. Dia ketua divisi 3, Rinon.
"Sungguh tidak sopan. Mengatakan bahwa rapat penting kami tidak penting, apa kau ingin mati, nak?"
Selanjutnya yang berbicara adalah Nina. Dia memiliki tubuh yang kecil seperti anak-anak namun dia adalah orang yang lebih tua dibandingkan dengan yang lainnya. Ketua divisi 4.
"Apa kau punya sesuatu yang ingin dikatakan? Kuharap penjelasanmu bisa menjadi alasan yang logis untuk mengganggu kami."
Di sebelahnya seorang wanita dengan rambut panjang serta poni yang menutupi satu matanya. Dia memiliki kesan seperti wanita penggoda. Ketua divisi 5, Fubuki.
"Aku tidak percaya akan ada laki-laki disini."
Yang terakhir adalah seorang perempuan yang seumuran dengan Ren. Ekspresinya sangat dingin dan dia berbicara dengan suara yang agak pelan. Rambutnya yang berwarna perak membuatnya terlihat cantik. Ketua divisi 6, Minerva.
Ren sama sekali tidak gemetar di hadapan para ksatria suci. Meskipun mereka terpilih karena kemampuan mereka yang diakui oleh beberapa kerajaan. Namun, tidak peduli seperti apa kasta atau kehebatan mereka yang pasti situasi sekarang ini lebih gawat.
"Saat ini pasukan vampir sedang menuju kemari! Karena itu, aku butuh bantuan untuk segera mengevakuasikan warga. Mereka akan sampai salam beberapa menit lagi."
Mata mereka membelalak. Seketika sorot mata Kyoka menyipit lalu mendekatkan wajahnya pada Ren.
"Bagaimana kau tahu mereka sedang kemari?"
"Karena aku tidak sengaja melihat mereka sedang kemari saat aku sedang berjalan-jalan."
Kyoka tidak melihat kebohongan dalam mata Ren namun dalam dirinya masih mengatakan kalau dia menyembunyikan sesuatu. Kyoka mundur lalu berbalik dengan tatapan penuh ambisi.
"Segera evakuasikan penduduk! Hindari pertarungan sebelum semua penduduk sudah diamankan!"
"Siap!" Jawab para ketua divisi dengan serempak lalu bergegas pergi ke luar.
Kyoka berbalik untuk melihat Ren namun anak laki-laki itu tidak ada di sana. Dia sudah menghilang dari tempatnya, walaupun ia hanya memalingkan wajahnya sebentar namun anak itu menghilang dalam sekejap, rasa penasaran dalam hatinya membuatnya ingin tahu tentang anak itu.
__ADS_1
...****************...
Aku berhasil pergi dari sana dan sepertinya tugasku sudah selesai di sini. Mungkin lebih baik aku serahkan segalanya pada ksatria suci.
Meskipun aku baru pertama kali bertemu dengan mereka tapi aku bisa tahu dengan baik kalau mereka bukan orang sembarang yang mendapatkan posisi itu. Tadinya aku ingin muncul di hadapan mereka sebagai Noir lalu bertarung dengan mereka tapi kondisi sekarang sepertinya tidak memungkinkan untuk itu.
Aku segera pergi ke tempat Gisella dan yang lainnya berada. Dengan kecepatan kilatku aku segera berlari dengan sangat cepat.
"Hah... hah... Sepertinya aku terlalu memaksakan diri."
Seorang vampir melepaskan bola api yang besar ke arah Victoria yang kelelahan. Namun, serangan itu tidak mengenai Victoria. Victoria mengintip dan menemukan Gisella sedang menahan bola api itu.
"Nona Gisella!"
"Victoria. Sepertinya kau baik-baik saja."
Bola api itu dipantulkan dan meledak. Gisella berbalik lalu memeluk Victoria, air membasahi pipi Gisella. Rasa senangnya tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata dan melihat Victoria baik-baik saja membuat hatinya merasa lega.
"Baik, kita pergi dari sini selagi bisa."
Gisella melepaskan beberapa bola api ke pasukan vampir sehingga mereka tidak bisa mengejar dan menghalangi pandangan mereka. Gisella segera menarik tangan Victoria dan segera pergi dari sana.
...****************...
Aku membuat clone diriku sendiri dari sihir kegelapan dan menyuruhnya melindungi ayah, ibu, Yukari, dan seluruh pelayan yang ada di rumah.
Sementara aku yang asli berhasil menemukan Gisella dan Victoria di dekat gerbang. Dengan mata sihirku aku bisa mengetahui kalau Victoria memaksakan dirinya. Energi sihir di dalam tubuhnya hampir kosong dan dia juga sangat kelelahan.
"Victoria, apa kau tahu kesalahanmu?"
"Ya, tuanku. Mohon maafkan saya karena sudah bertindak sesuka saya."
"Selama kau mengerti maka tidak apa-apa."
Aku berbalik dan melihat ke atas. Seorang wanita cantik sedang menghancurkan kota dengan berbagai serangan. Tapi masih ada yang membuatku penasaran. Energi sihir yang dimilikinya sangat besar dan dia juga sepertinya sedang kesakitan.
Aku hanya bisa menebak kalau dia sedang dihipnotis atau semacamnya. Dia seperti boneka sihir yang kehilangan kendali akan kontrolnya.
__ADS_1
"Victoria. Apakah dia ibumu?" Tanyaku.
"Ya. Dia kehilangan kendali kekuatannya karena bola energi yang ada ditubuhnya."
Jadi begitu. Aku paham sekarang, dengan kata lain cara menghentikannya adalah dengan membuat bola energi yang ditubuhnya keluar. Ngomong-ngomong apa itu bola energi? Ini adalah pertama kalinya aku mendengar itu.
Berbagai macam serangan dikeluarkan terus menerus sehingga kerusakan semakin banyak. Aku rasa mempercayai kakak dan para ksatria suci lainnya adalah hal yang buruk.
"Selagi dia sibuk dan juga kakakku ada di sana. Sekarang aku akan mengobatimu dulu."
Aku membawa Victoria dengan menggendongnya seperti tuan putri dan pergi ke markas little Star bersama Gisella.
Tempatnya berada di bawah tanah, di bawah toko Sternenlicht. Meskipun dari terlihat seperti toko yang menjual berbagai macam produk namun di belakangnya sebenarnya adalah markas little Star.
Uang yang berhasil didapat dari penjualan digunakan untuk memperkuat organisasi ini. Setelah membaringkan Victoria di atas kasur, aku membuka pakaian Victoria hingga bisa melihat tubuhnya yang indah. Banyak sekali luka di bagian perut, meskipun tidak terlalu parah namun banyak sekali darah yang keluar dari luka-luka itu.
Kupikir dia bisa menyembuhkannya sendiri dengan kemampuan regenerasi milik ras Vampir tapi sepertinya ada syarat tertentu untuk melakukan hal itu.
Aku menyembuhkan lukanya dengan sihir api. Yah, ini adalah salah satu kemampuan yang aku kembangkan sendiri. Api kecil merah lalu aku memodifikasinya sehingga warnanya berubah menjadi hijau.
Api itu dijatuhkan di atas perutnya dan membakarnya. Itu tidak panas dan juga tidak menyakitinya justru api itu sangat dingin dan hanya membakar luka sehingga luka-lukanya menghilang bersamaan dengan apinya.
Aku bisa melihat wajah terkejut Gisella. Yah, lagipula siapa yang akan mengira bahwa api bisa menyembuhkan luka.
"Untuk sementara kau beristirahatlah dulu."
"Tapi..."
"Apa kau menentangku?!"
Aku melotot ketika ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Lukanya memang sudah sembuh tapi dia masih belum bisa dibilang sehat.
"Tidak... Maafkan aku..."
"Tenang saja. Aku akan menyelamatkan ibumu."
Dengan begitu aku pergi meninggalkan ruangan bersama Gisella. Kuharap dia kembali seperti sediakala dan tidak melakukan hal konyol lainnya.
__ADS_1