Son Of God

Son Of God
Gedung kosong


__ADS_3

Akademi memiliki tiga gedung, yang pertama adalah gedung yang digunakan para siswa belajar, gedung kedua berada di sebelah gedung pertama adalah dimana para guru beserta staf akademi berada. Itu juga termasuk kantin dan ruang kepala sekolah yang berada di lantai paling atas.


Gedung ketiga adalah gedung kosong. Dulu itu adalah gedung yang sama seperti gedung pertama namun karena ada sebuah insiden dimana monster tiba-tiba menyerang dan mengakibatkan siswa menjadi korbannya.


Itu terjadi 3 tahun yang lalu, saat kakak masih di tahun ketiga. Insiden itu berakhir oleh pasukan khusus yang dikirim oleh raja, pelakunya masih belum diketahui sampai sekarang dan sekarang itu di kosongkan.


Aku berjalan di lorong bersama Yukari dan Luna yang sedang memelukku di kedua sisi. Mereka terus menutupi wajah mereka ke pundakku.


"Julius, bisakah kau membawa adikmu ini. Dan kenapa kau terlihat tidak peduli seperti itu?"


Sejak pertama memasuki gedung, tanpa aku sadari Yukari dan Luna sudah memelukku namun anehnya Julius terlihat tidak mempermasalahkan adiknya yang memelukku.


"Bukannya aku tidak peduli. Hanya saja, aku suka melihat ekspresi wajahmu yang agak memerah saat dipeluk oleh dua gadis."


"Berhenti mengejekku! Entah kenapa kau sangat menyebalkan."


"Baguslah kalau begitu."


"Apa yang bagus!"


Aku kesal dengan sikapnya yang sejak tadi terus mengejekku. Namun, kami berhenti. Melihat ke depan kami melihat bayangan hitam baru saja melintas.


"Kau melihatnya bukan, Ren?"


"Ya, aku melihatnya. Apa yang akan kita lakukan?"


Aku dan Julius saling melirik, sosok misterius baru saja menampakkan dirinya. Itu membuat rasa penasaranku meningkat.


"Berhenti bercanda! Yang tadi itu bukan hantu kan?"


"Kakak! Berhenti menakutiku!"


Yukari dan Luna sudah ketakutan dan tubuh mereka gemetaran. Yukari terlihat ingin menangis jadi aku memutuskan untuk memeluknya agar tidak merasa sendirian.


"Tenang saja. Aku tidak yakin apakah itu hantu atau bukan? Yang jelas itu sangat mencurigakan."


"Ya, gedung yang sudah kosong adalah tempat yang cukup bagus untuk persembunyian. Bagaimana menurutmu, Ren?"


Aku terus berpikir namun aku tiba-tiba teringat akan ada serangan monster. Dari cerita sebelumnya, gedung ini diserang oleh monster dan pelakunya belum di temukan. Aku bisa menyimpulkan bahwa si pelaku masih bersembunyi di gedung ini.


Kurasa aku harus memeriksanya. Jika tebakanku benar maka ini masalah yang serius.


"Aku akan pergi untuk melihatnya, kalian tunggu di sini bersama Julius."

__ADS_1


"Baiklah, berhati-hatilah."


Aku pergi untuk memastikan tebakanku. Bayangan itu memasuki ruangan yang dulunya adalah ruang seni.


Aku mengintip dari kaca pintu namun aku tak melihat apapun. Aku menyuruh Ziselaer untuk memasuki ruangan tersebut dengan ukuran mungilnya.


Aku dan Ziselaer terhubung sehingga aku bisa melihat apa yang dilihat Ziselaer. Seorang pria memakai jubah hitam membuat lingkaran sihir ditembok dengan darahnya.


Setelah lingkaran sihir itu selesai dibuat, lingkaran sihir itu bercahaya dan dindingnya terasa seperti berlubang. Itu seperti lubang hitam yang menempel di dinding.


"Akhirnya selesai, sekali lagi aku akan menjadi salah satu anggota Stardust."


Aku meninggalkan tempat itu dan pergi melihat ke tempat lain. Sebelum ia memasuki ruangan itu, ia datang dari tempat lain.


Aku berjalan menyusuri lorong dan menemukan pintu yang berbeda dengan yang lainnya. Pintu di depanku terbuat dari besi, dibuat dengan sangat rapi. Dengan sihir kegelapan aku membuat diriku terlihat seperti bayangan.


Tubuh yang diselimuti oleh kegelapan sehingga orang tidak bisa mengetahui diriku, mereka hanya melihat diriku seperti bayangan yang menyerupai manusia.


Menembus pintu besi aku menemukan beberapa kandang raksasa. Ukurannya memiliki tinggi 60 meter.


Aku bisa melihat ada sekitar 4 kandang raksasa. Di dalamnya berisi monster, aku pernah melihat mereka di buku.


Yang pertama adalah Minotaur. Dia seperti manusia berkepala banteng dengan tanduk yang besar dan kuat menjulang ke atas. tubuhnya kekar dan tingginya sekitar 30 meter.


Yang ketiga adalah Gryphon. Mahluk dengan bertubuh singa tetapi bersayap dan berkepala elang. Dikatakan dia sama ganasnya dengan Cerberus namun semua terlihat sangat tenang dan diam di dalam kandang.


Aku berjalan menuju kandang terakhir. Kandang ini berbeda dengan sebelumnya dan bahkan 2 kali lebih besar dari tiga lainnya. Tidak seperti sebelumnya yang hanya jeruji besi namun yang satu ini sangat tertutup bahkan aku tidak bisa melihatnya karena besinya terlalu tebal untuk ditembus mata sihirku.


Dengan menyentuh kandang tersebut, aku mencoba merasakan energi sihir di dalamnya. Aku mendapatkan sebuah gambaran.


Dia terlihat seperti ular namun memiliki delapan kepala, warnanya hitam pekat seperti Ziselaer. Matanya mengeluarkan sinar ungu.


Menurut ciri-ciri yang aku dapat, ini adalah salah monster yang mengerikan dan berbahaya. Jika dugaanku benar maka di dalam kandang ini adalah...


"Hydra." Ucapku tanpa sadar.


Aku pergi meninggalkan ruangan tersebut dan segera memperingatkan yang lainnya. Aku tidak yakin keempat monster itu akan dikeluarkan saat siang hari seperti ini.


Mereka adalah monster yang berbeda dengan spesies normal, mereka adalah monster yang mendapatkan kekuatan dari cahaya bulan, seperti Werewolf.


Aku menemui mereka bertiga dengan nafas terengah-engah karena sudah berlari dengan cepat.


"Kenapa kau terlihat panik seperti itu?" Tanya Julius.

__ADS_1


Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan keluar. Kurasa aku bisa bicara dengan normal.


"Julius, apa kau bisa menggunakan sihir?"


"Ya, aku bisa menggunakan sihir es. Kenapa memangnya?"


"Dengar, gedung ini penuh dengan monster. Aku ingin Yukari memanggil kakakku untuk segera datang bersama pasukannya. Lalu, Luna, segera beritahu kepala akademi dan memulangkan para murid."


""Baik!""


Keduanya bergegas pergi dan meninggalkan aku dan Julius.


"Julius, bisakah kau membantuku mengulur waktu sampai bantuan datang?"


"Aku mengerti maksudmu. Sepertinya kita dalam bahaya, baiklah. Tapi, aku kagum dengan keputusanmu yang sangat cepat."


"Justru aku yang lebih kagum padamu yang masih bersikap tenang disaat seperti ini."


Kami berdua saling menyeringai. Lalu seseorang datang menghampiri kami sambil bertepuk tangan.


"Wah, wah. Tidak kusangka ada tamu. Haruskah aku menjamu kalian?"


Pria itu memiliki aura keberadaan yang tidak menyenangkan. Ada banyak serigala perak dibelakangnya dan menatap kami dengan ganas.


Serigala perak adalah makhluk yang paling lincah dan bulu perak mereka bisa mengeras seperti duri landak.


"Tidak perlu. Kami hanya sedang jalan-jalan, yang lebih penting, siapa kau? dan sedang apa di gedung kosong ini?"


Saat Julius bertanya, dia hanya menatap kami dan diam lalu dia mulai bicara.


"Kalian tidak perlu mengetahui apapun tentangku, yang pasti hari ini kalian akan mati."


Para serigala perak bersiap untuk menyerang kami. Aku berbisik dengan Julius, menyusun rencana.


"Julius bisakah kau membuat pedang untukku?"


"Tentu. Tapi apa yang kau rencanakan?"


"Kita meyerangnya. Aku di depan dan kau bantu aku dengan sihirmu dari belakang."


"Baiklah."


Kami bersiap untuk bergerak dan melawan.

__ADS_1


__ADS_2