Son Of God

Son Of God
Malam penuh persiapan


__ADS_3

Siang hari


Pertarungan antar kelas masih berlanjut. Kelas F terus meraih kemenangan tanpa masalah. Berkat semua rencana yang telah disusun dengan rapi oleh Ren, kelas F bisa pergi ke babak final tanpa masalah.


Di tempat lain, sebuah gedung yang merupakan  divisi 2 ksatria suci. Rei Orion merupakan ketua divisi dan ditemani oleh Shiori yang merupakan wakil ketua divisi.


"Kenapa banyak sekali dokumen yang harus kuselesaikan!"


Rei sangat kesal karena banyak sekali tumpukan kertas yang harus ia selesaikan, Shiori sudah sangat mengenalnya sehingga ia tahu alasan kekesalannya.


"Aku mengerti perasaanmu yang ingin melihat pertandingan kelasnya adikmu."


"Aku harap ia baik-baik saja."


"Aku yakin dia akan baik baik saja. Yang lebih penting, akhir-akhir ini sepertinya ada pencuri misterius yang mencuri obat dari warga."


"Obat?"


"Ya, setiap malam selalu saja warga yang diambil obatnya oleh pencuri misterius ini."


Rei sangat penasaran dengan pencuri obat ini. Yang membuatnya heran mengapa hanya obat yang dicurinya? Apa alasannya?


"Apakah para korban terluka?"


"Kudengar hanya ada satu korban yang berhasil lolos, saat ini ia sedang bersembunyi di rumahnya."


Ini sangat aneh. Kenapa mereka membiarkan satu orang lolos? Jika mereka tidak ingin diketahui oleh publik maka mereka seharusnya membunuhnya dan tidak dibiarkan lolos begitu saja.


"Kalau begitu, malam ini kita akan bersiaga. Aku yakin sang pelaku masih berkeliaran dan mencari mangsa."


Setelah berhasil mengalahkan kelas B akhirnya mereka maju ke babak final dan melawan kelas A. Pertandingan akan dilanjutkan besok hari, setelah merapikan barang-barang mereka dan berkumpul akhirnya mereka kembali ke rumah mereka masing-masing.


Sesampainya di kamar, sudah ada seseorang yang menunggu kedatangan Ren. Ren mengunci pintu kamarnya dan segera berbaring di kasurnya yang empuk.


"Kau sudah kembali ya, Gisella."


Gadis itu mendekati Ren, wajah mereka sangat berdekatan seperti seorang pasangan. Tangannya di dadanya dan melepaskan dasi tuannya lalu melipatnya dan menyimpannya di lemari pakaian.


"Ya, Sepertinya anda sangat lelah."

__ADS_1


Kali ini ia berjongkok dan melepaskan sepatunya satu persatu.


"Begitulah. Tapi apakah kedatanganmu ini pasti mengenai tentang pencuri obat misterius yang sedang dibicarakan itu?"


Gisella melepaskan kaus kakinya dengan baik dan rapi lalu meletakkannya di rak sepatu yang berada di sudut ruangan. Meskipun ia belum mengatakan apapun tapi seperti yang dikatakan Ren, kedatangannya adalah tentang mengenai kasus itu. Rasa takjub terhadap tuannya yang selalu mengetahui sesuatu dengan cepat benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ya, tuanku. Sepertinya ini seperti yang anda katakan sebelumnya tentang Stardust. Setelah menyelidikinya, mereka adalah sekelompok orang yang ada hubungannya dengan makhluk jahat. Kurasa kali ini si pencuri misterius ini sedang melaksanakan tugas yang membuatnya dapat bergabung dengan kelompok tersebut."


Ren segera duduk dan menyeringai, dia merasa sesuatu membuatnya senang dan bersemangat.


"Sepertinya musuh ksatria kegelapan telah tiba." Pikirnya dengan seringainya yang menakutkan.


"Kumpulkan seluruh seven stella, malam ini kita akan menangkap mereka. Tidak akan kubiarkan siapapun mencoba membuat dunia menangis."


Jauh di dalam kota. Di dalam sebuah gang kecil seorang pria paruh baya berlari sambil memeluk sebuah bungkusan.


Nafasnya terengah-engah karena terus berlari tanpa henti namun ia terhenti karena sesosok ular besar menghadangnya. Saat ia berbalik ia terlambat karena sudah ada seorang pria bertudung menutupi jalan keluar terakhirnya.


"Serahkan kotak itu atau kau akan mati." Ancam pria bertudung tersebut.


Tanpa banyak bicara, pria bertudung tersebut menendang perut pria paruh baya sehingga terjatuh dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Kalau kau menurut maka hal seperti ini tidak akan terjadi."


Pria bertudung itu mengambil bungkusan tersebut dan membukanya. Mengeluarkan obat dan memberikan kepada sang ular. Ular tersebut tiba-tiba semakin besar dan energi sihirnya meningkatkan dengan cepat.


"Baiklah. Inilah hadiahmu, pak tua."


Pisau melayang dan membunuh pria paruh baya itu dengan cepat. Serangannya sangat cepat sehingga tidak menimbulkan suara dan tidak memberikan rasa sakit yang berlebih.


"Baiklah, tugas kita sudah selesai disini. Kita pergi ke tempat selanjutnya."


Ular tersebut menghilang dan pria bertudung tersebut pergi dan meninggalkan mayatnya begitu saja.


Di tempat lain, Rei dan beberapa ksatria wanita lainnya sedang berpatroli malam. Namun salah satu ksatria wanita berlari dengan terburu-buru.


"Nona Rei!"


"Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu?"

__ADS_1


"Aku... Aku menemukan mayat di gang sana."


"Apa?! Cepat bawa aku kesana."


Rei dan beberapa ksatria wanita lainnya segera pergi ketempat yang yang dimaksudkan. Di dalam gang yang sempit mereka menemukan mayat seorang pria paruh baya dengan luka tebasan di bagian leher.


"Luka ini sepertinya berasal dari pedang atau pisau tapi sepertinya pelaku cukup hebat bisa membunuhnya dengan cara seperti ini."


"Saya rasa pelakunya belum pergi terlalu jauh karena mayatnya terlihat masih baru."


"Kau benar. Kalau begitu, segera buat kelompok dan pergi berpencar. Bagaimanapun caranya mereka harus ditangkap!"


"Siap!" Para ksatria wanita menjawabnya dengan serempak.


Ditengah kota berdiri sebuah menara jam yang besar. Terdapat 8 sosok berdiri di atas menara jam, hanya satu orang yang mengenakan armor hitam yang berat dengan helm tengkorak sebagai kepalanya. Mata merahnya bersinar seakan dirinya adalah predator berbahaya.


"Kegagalan tidak dapat dimaafkan!"


"Tenang saja. Kita sudah mengamankan rute sehingga musuh tidak bisa lari lagi." (Gisella)


"Semua sesuai dengan perkiraan tuan." (Nova)


"Hanya pujian yang bisa terucap atas pemikiran tersebut." (Victoria)


"Akhirnya ada lawan yang kuat setelah sekian lama. Aku jadi tak sabar!" (Xenovia)


"Aku takkan menahan diri." (Rose)


"Benar sekali." (Bianca)


"Semuanya siap menunggu perintah anda, tuanku." (Olivia)


Pria berzirah hitam itu menyeringai dari balik topeng tengkoraknya. Mata tertuju pada bulan yang bersinar sangat terang.


"Tujuan kita hanyalah satu! Ayo pergi."


Pria itu melompat dari menara dan diikuti oleh ketujuh gadis lainnya. Dari kejauhan mereka terlihat seperti bintang yang bersinar di bawah langit malam.


Cahaya itu pergi menuju pusat kota dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sehingga orang bisa menebaknya bahwa itu adalah bintang jatuh. Bintang dengan cahaya hitam diikuti oleh tujuh bintang dengan warna cerah.

__ADS_1


Meskipun terlihat seperti itu namun terdapat aura mengerikan yang keluar dari para bintang itu.


__ADS_2