
langit begitu cerah namun dipenuhi oleh kembang api. Saat ini akademi Ryuugen akan mengadakan kompetisi yang menghadirkan 4 akademi lainnya.
5 Akademi sedang mengadakan festival yang tujuannya adalah untuk membentuk unit petarung. Mereka mencari siswa-siswa berbakat dengan sihir dan kemampuan bertarung yang terbaik.
Raja kerajaan Arvonia, Dion. Dia menonton dari kursi penonton VIP. Di sebelahnya ada pengawalnya. Di bagian lain di kursi umum, Clovis, Mio dan Rei duduk.
Sang MC sudah memulai acaranya dan memanggil perwakilan setiap akademi. Pagi tadi akademi Ryuugen memilih Ren sebagai perwakilan.
Walaupun Ren tidak setuju namun setiap perwakilan kelas memberikan suara mereka dan akhirnya Ren yang terpilih.
Setiap perwakilan sudah berkumpul namun kurang satu orang. Hanya Ren, perwakilan akademi Ryuugen yang belum datang dan tidak ada.
"Anu... Apakah perwakilan akademi Ryuugen ada?!" Sang MC berteriak agar perwakilan akademi Ryuugen hadir namun tidak ada yang merespon. Para penonton mulai berbisik-bisik dan Julius dan yang lainnya terlihat gelisah karena Ren tak kunjung datang.
"Tunggu!!"
Suara yang tak asing terdengar dari pintu masuk. Semua pandangan tertuju pada suara tersebut dan menemukan Ren yang terengah-engah.
Julius dan teman-temannya sangat senang dan ekspresi gelisah mereka menghilang. Rei yang sejak tadi bingung akhirnya lega namun dia juga kesal karena terkadang dia selalu menghilang begitu saja.
"Aku disini!"
Ren melompat ke lapangan hingga menciptakan suara ledakan. Debu mengepul yang membuat para penonton didekatnya terbatuk-batuk.
"Kupikir kau akan lari." Ucap seorang siswa dengan seragam berwarna biru dan memiliki lambang burung di dadanya. Bisa ditebak kalau dia dari akademi Toriho.
"Tak kusangka kau akan datang terlambat." Seorang wanita mengenakan seragam hijau dan memiliki lambang kuda yang mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Perwakilan akademi Umakaze.
"Sepertinya akademi Ryuugen hanya berisikan orang-orang yang tidak disiplin." Ucap pria tampan dengan rambut abu-abu. Dia mengenakan seragam abu-abu yang sangat selaras dengan penampilannya. Perwakilan akademi Saitochi.
"Kuharap kau bukan seorang pecundang." Ucap pria sedikit kekar, rambut yang dipotong pendek dan mengenakan seragam berwarna merah dan beberapa corak hitam. Perwakilan dari akademi Sekiko.
Ren berjalan dan menghiraukan semua perkataan mereka.
"Baiklah, semua perwakilan bisa mengambil undian yang sudah dipersiapkan."
Satu persatu para perwakilan mengambil sebuah bola di dalam kotak dan terdapat nomor di balik bola.
Para perwakilan kembali ke tempat dimana sebuah tempat istimewa yang dikhususkan untuk para perwakilan.
Ren menunggu di sebuah ruangan dan sudah ada beberapa siswa yang akan menjadi peserta. Mereka terpilih berdasarkan hasil 'Search Game' dan 'Chest Magical Festival' oleh kepala sekolah dan para guru.
__ADS_1
"Baiklah, pemimpin. Apa rencanamu?" Tanya Julius.
"Baiklah, aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian."
Ren duduk di sofa dan menjelaskan tentang rencana yang akan dibuatnya.
"Apa kau serius? Kalau begitu, ini sudah bukan lagi pertandingan."
"Tidak peduli mau dari mana ras dia, jika itu adalah musuh maka kita harus mengalahkannya."
Semuanya terdiam. Meskipun mereka penasaran dari mana Ren mendapatkan informasi itu namun jika itu benar maka bukan hanya para peserta tapi para penonton mungkin akan jadi korban juga.
"Alvin, untuk pertandingan pertama aku ingin kau yang maju."
"Dimengerti. Akan kumenangkan dengan cepat."
"Tidak perlu menang pun tidak apa. Yang kita butuhkan hanyalah sebuah informasi tentang kekuatannya."
Alvin menuju ke arena dan lawan pertamanya adalah dari akademi Toriho. Pertarungannya berlangsung cukup lama.
Alvin pengguna elemen tanah dan lawannya adalah pengguna elemen api. Alvin segera membuat tembok saat api datang. Sebuah tombak terbentuk dari tanah.
Alvin berlari ke samping dan melempar tombak itu namun lawannya mencoba menghentikannya dengan melempar bola api.
Alvin memukul tanah dengan kedua telapak tangannya.
"Penjara!"
Sebuah duri muncul dari bawah dan mengurungnya. Ada sedikit celah dari sana dan Alvin menyerangnya dengan sebuah kerikil yang terbang ke arah sana.
Saat penjaranya hilang, tidak ada siapapun di sana. Alvin terkejut dan melihat sekeliling untuk mencarinya.
"Aku di sini."
Alvin dipukul dari belakang dengan tangan yang dibalut oleh api. Alvin terpental dan menabrak tembok di luar arena.
"Pemenangnya akademi Toriho!"
Alvin kembali dengan ekspresi sedih. Wajahnya tertunduk dan merasa malu.
"Alvin, jangan berkecil hati. Kau menyadarinya bukan?"
__ADS_1
Ren tampak serius dan wajah Alvin terangkat karena mencoba mengingat kejadian tadi. Dia mencoba memahami perkataan Ren.
"Tidak salah lagi kalau dia pelakunya." Ucap Julius.
"Eh? Bagaimana?"
"Tadi. Saat kau mengurungnya dia tidak ada bukan? Itu karena dia menggunakan teleport ke belakangmu." Jelas Ren.
"Dengan kata lain, dia bukan manusia. Tidak ada manusia yang bisa melakukan itu." Lanjut Julius.
"Pokoknya, kita sekarang tahu bahwa dia memiliki kemampuan penyamaran, teleport dan sihir api. Aku punya dugaan, kemungkinan besar dia adalah iblis."
Semuanya bergidik begitu mendengar iblis. Hanya Ren dan Julius yang tampak baik-baik saja.
Pertarungan terus berlanjut dan sengaja tidak membiarkan Ren bertanding. Alasannya adalah karena tidak ada yang mengetahui kemampuan Ren dan sengaja disembunyikan agar digunakan di saat final.
Meskipun hanya tiga orang yang kalah dari enam peserta. Ren dan yang lainnya berhasil lolos ke final.
Toriho unggul dibanding akademi lainnya dan Ryuugen berada di posisi terakhir. Peserta yang mengalahkan Alvin di awal menyebut dirinya Jovan.
Ini adalah pertarungan melawan James perwakilan akademi Sekiko dengan Jovan. Pertarungan tidak berlangsung lama. James dijatuhkan oleh Jovan. Caranya bergerak sangat cepat hingga tidak ada waktu untuk James merapalkan sihir.
Pertarungan demi pertarungan terus berlanjut dan tidak ada yang bisa mengalahkan Jovan.
Ren terus mengamati setiap pertarungan yang ada dan menganalisis setiap kemampuan peserta yang bertarung.
Rei yang duduk di kursi penonton bersama keluarga dan para ketua lainnya tampak bingung karena Ren tidak ada di setiap pertarungan yang ada.
"Apa yang sedang dilakukannya?"
"Mengingat sifat tuan muda. Kurasa dia sedang mengamati kemampuan setiap peserta dari ruang tunggu." Ucap Nia yang duduk di belakang Rei.
"Ah, seperti itulah Ren."
"Aku yakin, dia sedang membuat rencana yang tidak pernah terpikirkan oleh kita."
Mendengar itu dari ibu dan ayah, dia merasa gagal sebagai kakak karena tidak cukup mengenal Ren dengan baik.
"Adikmu sepertinya bisa menjadi ksatria yang hebat." Puji Kyoka yang berada di samping Rei.
"Kurasa ... begitu."
__ADS_1
"Tapi, mereka mendapatkan posisi terakhir. Apa mereka baik-baik saja?" Ucap Yumi.