Son Of God

Son Of God
Menolong Ren


__ADS_3

Di dalam kota, sekelompok orang berpakaian serba hitam mengadakan pertemuan di sebuah ruangan tersembunyi yang berada di dalam sebuah gang kecil. Tempat tersebut sulit diakses oleh orang lain. Salah seorang di antara mereka adalah seorang gadis elf yang cantik.


"Seharusnya aman di sini, tetapi kita membutuhkan master untuk menyegel mereka kembali," ujar salah satu anggota.


"Maaf, Nona Gisella. Tetapi jika kita hanya menyegel mereka, kejadian ini akan terulang kembali di masa depan," kata anggota lainnya.


"Benar, oleh karena itu kita membutuhkan seorang master. Para monster elemen tersebut merupakan ancaman yang sangat berbahaya, seperti para makhluk jahat lainnya."


Saat mereka sedang melakukan rapat, seorang gadis datang dengan rambut panjang warna ungu yang indah, yang membuatnya terlihat seperti seorang gadis dari kalangan atas.


"Livia, bagaimana keadaannya?" tanya Gisella.


"Sangat buruk. Beberapa kota yang mereka lewati hancur dan mereka telah sampai di sini. Master sedang mencoba menahan serangan sementara warga berusaha untuk dievakuasi," jawab Livia.


Gisella tahu sang tuan akan melakukan hal itu. Meskipun sang tuan sangat kuat, ia tetap khawatir dan merasa sedih membayangkan sang tuan bisa mati saat sedang melindungi sekelompok manusia yang lemah.


Bagi elf seperti dirinya, manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak berguna, tetapi dia meletakkan pengecualian pada sang tuan. Orang yang telah menyelamatkan hidupnya, memberinya kekuatan, pendidikan, dan semua hal yang dia miliki, adalah sosok yang sangat dia kagumi.


Gisella juga tahu bahwa tidak ada manusia yang bisa membuat Olivia, yang merupakan seorang malaikat, tunduk dan menurutinya. Namun, sang tuan bisa melakukan hal itu. Bahkan, ia juga bisa membuat Nova, putri raja iblis menjadi salah satu pelayannya.


Dengan hatinya yang sangat cemas mengenai keadaan sang tuan, ia harus mengirim bola energi ini padanya dan menunggu perintah dari sang tuan. Setelah dia menyelinap masuk ke kota dengan menyembunyikan tubuh dan keberadaannya, Gisella dan yang lainnya pergi ke tempat di mana sang tuan berada. Dengan bantuan dari Livia, mereka menemukan sang master sedang bertarung dengan monster elemen.


Ia melompat ke sana kemari untuk menghindari serangan para monster, bahkan ia juga menangkisnya dengan pedang suci. Beberapa rumah terbakar, hanyut, dan hancur akibat pertarungan mereka.


"Livia, katakan pada master bahwa kita menunggu perintahnya," ujar Gisella.


Setelah Gisella mengatakan itu, Olivia segera terbang dan mendekati Ren yang sedang berjuang melindungi warga.


"Master."


"Olivia, ini tentang para monster itu kan?" tanya Ren.


"Ya, kami menunggu perintah Anda."


"Baik, aku akan menjelaskannya," ujar Ren.


Ren mengangkat pedang suci setinggi mungkin dan cahaya terang menyilaukan keluar bagaikan matahari. Sementara para monster kehilangan pandangan mereka karena cahaya yang terlalu terang, Ren segera menggendong Olivia dan pergi menjauh.

__ADS_1


Mereka bertemu dengan Gisella dan yang lainnya. Gisella bernafas lega melihat tuannya baik-baik saja. Meskipun ia kuat, tapi ia tetap seorang manusia.


"Kerja bagus. Kalian sangat tanggap walaupun aku belum mengeluarkan perintah," ujar Ren.


"Keamanan Anda lebih utama dibandingkan apapun," jawab mereka.


Setelah mereka berlutut, Gisella menyerahkan keempat bola energi pada Ren.


"Baiklah, sudah saatnya..." ujar Ren.


Energi sihir Ren meningkat dan gelombang gelap menyelimuti seluruh tubuhnya. Dalam sekejap Ren berubah dan sosok Noir muncul. Mata mereka bersinar begitu melihat sosok agung tuan mereka.


"Kita jadikan mereka sebagai senjata kita," kata Ren.


"Seperti yang diharapkan dari master."


...----------------...


"Pangeran Julius, aku ingin bertanya sesuatu padamu," ujar Dorothy.


Dorothy dan yang lainnya berada di tempat aman di dalam istana, bersama pelayan dan beberapa bangsawan.


"Apakah tuan Ren memiliki tunangan?"


Yukari dan beberapa gadis yang mendengar pertanyaan itu terkejut dan menatap Dorothy yang menunggu jawaban dari Julius.


"Tuan? Uhuk, kurasa tidak. Selain adikku Luna dan Yukari, teman masa kecil Ren, tidak ada gadis yang dekat dengannya."


"Begitu ya, syukurlah."


"Jangan bilang..." ujar Dorothy.


"Ya, Pangeran. Saya ingin menikah dengan Tuan Ren," kata Dorothy.


"Kenapa?" tanya Julius.


"Kurasa dia tipe ku. Memiliki wajah tampan, sifat peduli terhadap orang lain, dan pandangannya lebih sopan daripada saya," jawab Dorothy.

__ADS_1


Julius mengerti maksudnya. Ren memang baik hati, tetapi ia juga pemalas. Jika harus memilih antara sebuah pesta atau tidur, Ren akan memilih tidur tanpa ragu. Meski begitu, Ren tetaplah seorang yang peduli.


"Kau sebaiknya bicara dulu dengan orang tuamu. Aku akan berbicara dengan Ren untuk perjodohanmu," kata Julius.


"Terima kasih, Pangeran. Tapi... mengapa adikmu dan temannya terlihat sangat marah padaku?" tanya Dorothy.


"Entahlah," Julius mengelak. Ia tahu alasan sebenarnya, tetapi tidak mau mengatakannya.


"Lantas, ada apa?" tanya Luna, Eleonore, dan teman-teman lainnya saat melihat Julius khawatir.


"Apakah mungkin kita harus mencari Ren?" tanya Alvin.


"Meskipun berbahaya, kita harus mencoba," jawab Julius.


Banyak siswa ingin membantu, tetapi hanya tiga orang yang dipilih dengan cara 'batu gunting kertas'. Sisanya menunggu di tempat yang lebih aman.


"Baiklah, aku, Alvin, dan Putri Dorothy akan pergi. Kalian tinggal di sini dan jangan khawatir," kata Julius.


Setelah menentukan siapa yang akan pergi menyelamatkan Ren, mereka berangkat. Luna mungkin tidak ikut, tetapi ia yakin Ren akan kembali dengan selamat bersama kakaknya.


"Ayo pergi," ucap Julius.


Mereka bertiga menyelinap dan berhati-hati melewati para ksatria kerajaan yang sedang berjaga. Jika mereka ketahuan, mereka tak bisa melewatinya. Para monster masih menyerang, jadi Julius yakin ayahnya sedang berupaya bertahan.


"Lewat sini," bisik Julius.


Julius dan kawan-kawannya berhasil masuk ke aula tempat, tempat yang tadi malam mereka berpesta, namun tak ada Ren di sana. Jendela yang pecah dalam serangan sebelumnya masih tampak hancur.


"Batu-batu ini terpotong dengan rapi; pasti ulah Ren," kata Alvin.


"Pangeran, lihatlah itu."


Dorothy menunjuk jendela yang hancur. Di luar, tiga monster menghancurkan kota sementara pasukan sihir kerajaan menyerang mereka, tapi tidak ada efek sedikit pun. Yang membuat mereka terkejut adalah serangan kerajaan tiba-tiba berhenti, dan para monster berdiam diri, tertuju pada satu tempat. Tanah naik ke atas, setinggi para monster. Di atas permukaan tanah itu, terlihat sosok yang memakai zirah hitam, di atas kepalanya bercahaya empat sinar.


"Siapa dia? dan apa yang sedang dilakukannya?" Alvin penasaran, merasakan aura kematian dari sosok itu.


"Itu..." kata Julius. "Orang itu membawa bola energi bersamanya; mungkin dia mencoba menyegel para monster."

__ADS_1


Sesaat kemudian, mereka terdengar suara mantra, yang diucapkan sosok tersebut, sambil berputar keempat cahaya di kepalanya. Energi sihir yang sangat besar mulai berkumpul di satu titik.


Para monster yang menyadari itu segera mengumpulkan energi magis. Melihat itu mereka menyerang sosok hitam itu.


__ADS_2