Son Of God

Son Of God
Identitas keluarga


__ADS_3

Keesokan harinya, saya bangun dari tidur nyenyak saya. Di dalam tenda hanya ada Yukari yang masih tidur disebelah saya.


Saya keluar dari tenda dan menemukan kakak bersama dua temannya, tapi saya melihat ada sedikit lingkaran hitam di mata mereka.


“Ada apa dengan kalian?”


“Aku tidak percaya kau tidur seperti orang mati. Apa kau tidak mendengar suara ledakan dan teriakan semalam?”


Tadi malam adalah waktu saya dan Victoria mengurus goblin yang berkeliaran. Suara ledakan itu berasal dari sihir Victoria yang meledakkan markas goblin.


“Aku tidak mendengar apapun.”


Saya hanya berpura-pura tidak tahu agar mereka tidak perlu mencemaskan tentang tempat kemah kemarin dikelilingi goblin.


Semalam saat saya membasmi goblin, saya menciptakan tiruan saya sendiri dan memanggil Ziselaer untuk membantu saya mengurus goblin itu sehingga saya bisa kembali ke tenda lebih cepat.


Karena tiruan saya hanya bertahan beberapa jam saja tapi dia cukup berguna, mungkin saya akan berlatih sihir agar dia bisa bertahan lebih lama.


Ziselaer sedang bersembunyi di dalam bayangan saya, sehingga tidak ada yang mengetahuinya.


[Tuan, tolong berhati-hati. Sepertinya ada jebakan yang dibuat oleh bandit di depan.]


Saya menerima laporan dari Victoria lewat telepati. Saya segera memperingatkan ayah yang membawa kereta.


Ada jendela yang menghubungkan antara gerbong milik kami dan ayah yang sedang berkusir. Saya agak berteriak agar terdengar oleh ayah.


“Ayah, tolong berhenti!”


Karena terkejut, kereta berhenti dengan mendadak sehingga orang-orang yang ada di gerbong belakang mengalami benturan.


“Ada apa?”


Saat semua memegang kepala mereka karena kesakitan, saya keluar dan menatap jalan yang ada di depan saya.


“Kenapa kau menyuruh untuk berhenti? Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan?”


“Ya.”


Saya mengambil batu kecil lalu melemparnya ke tengah jalan. Semua yang ada di dalam kereta melihat saya dan heran. Beberapa detik kemudian jalan itu tiba-tiba ambruk dan membuat lubang besar dan cukup dalam.


“Apa?!” “Jebakan?!” Semua terkejut dengan yang mereka lihat.


“B-Bagaimana kau tahu ada jebakan?”


Ayah sepertinya sangat terkejut hingga tidak bisa berkata-kata namun dia tetap berusaha bertanya walaupun sulit.

__ADS_1


“Hanya firasatku saja.”


Ayah memegang pelipisnya dan merasa kepalanya akan pecah kapan saja.


“Baiklah, ayah berterima kasih jadi naiklah. Kita akan melanjutkan perjalanan.”


Saya kembali dan perjalanan dilanjutkan.


...----------------...


Setelah perjalanan yang cukup jauh akhirnya saya sampai di ibukota.


Ibukota kerajaan Arvonia. Kerajaan yang sangat besar. Ibukota ini memiliki 4 sisi dengan masing-masing gerbang masuk dan ditengah ibukota dan menjadi pusat perhatian adalah istana kerajaan.


Kami memasuki lewat gerbang selatan. Ada dua ksatria yang menjaga pintu masuk. Mereka memakai armor dan membawa pedang di pinggang mereka.


Dua penjaga mendekati kereta kami dan meminta tanda pengenal. Satu berbicara dengan ayah dan satu penjaga berbicara dengan kami yang ada di belakang gerbong.


Saat penjaga melihat tanda pengenal kakak dan dua temannya, dia menjadi lebih sopan.


“Ah, nona sword saint dan kelompoknya sudah kembali.”


Saat dia melihat tanda pengenal ibu, matanya menjadi melotot karena terkejut dan dia berteriak selanjutnya. Teriakannya bersamaan dengan penjaga yang berbicara dengan ayah.


“I-Ini sang holy sword, Clovis!!”


Teriakan kedua penjaga itu membuat gerbang menjadi ramai dan banyak orang yang berdatangan karena penasaran.


Tapi apa maksudnya?


“H-Holy sword?! Master?! Sword saint?!”


Saya benar-benar bingung dan menatap mereka dengan panik. Karena ini pertama kalinya saya mendengarnya.


Saat penjaga melihat tanda pengenal Nia, dia berteriak sekali lagi.


“K-Kau... Sang Killer Arrow!!”


Ini benar-benar membuat saya bingung dengan identitas asli mereka.


“Maaf, tapi aku tidak suka membuat keributan seperti ini? Jadi bisakah kalian membiarkan kami lewat sekarang?”


“Y-Ya, tentu saja!! Tapi bisakah saya bertanya siapa pemuda ini?”


Penjaga itu menunjuk pada saya.

__ADS_1


“Dia Ren Orion, putraku.”


Ibu memperkenalkan saya dan memeluk saya.


Setelah menyebabkan keributan di depan gerbang membuat saya lelah secara mental. Ini pertama kalinya saya mengetahui nama keluarga saya terkenal.


Kereta berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar dan bagaimanapun melihatnya itu seperti istana walaupun sedikit berbeda dengan istana kerajaan.


Kami membawa barang bawaan kami dan masuk ke dalam rumah. Saat pintu dibuka, ada beberapa orang menyambut kami dengan membungkuk pada kami.


“Selamat datang!!”


Eh?! Apa ini...?! Kenapa ada banyak pelayan di sini?


“Perkenalkan Aku kepala pelayan pria, Steve.”


“Aku kepala pelayan wanita, Marina.”


“Aku kepala koki, Robert.”


Ketiganya adalah seorang yang memiliki umur 40 tahunan. Dibandingkan dengan pelayan lainnya mereka bertiga adalah yang paling tua.


Saya diantar oleh dua pelayan wanita ke kamar yang sudah disiapkan untuk saya.


Kamar saya berada di lantai dua dan berada di sudut ruangan. Saya cukup menyukainya karena kamarnya cukup besar dan sangat luas. Luasnya 3 kali lebih besar dari kamar saya sebelumnya yang berada di desa.


Tentu saja si sebelah kamar saya adalah kamar milik Yukari, karena dia ingin kamar yang dekat dengan saya.


Kedua pelayan itu merapikan isi tas saya. Memasukan baju ke dalam lemari, menyapu lantai dan lainnya.


Mereka selesai Melakukan tugas mereka dan berdiri dan berbicara sopan pada saya.


“Tuan Ren, kami selesai merapikan barang-barang Anda. Mohon maaf karena belum memperkenalkan diri kami. Aku Maria.”


“Aku Ririka.”


Mereka sekitar berusia 20 tahunan. Mereka masih muda dan juga cantik. Maria memiliki rambut merah sedangkan Ririka memiliki rambut biru terang. Keduanya sangat imut dan manis.


“Mulai hari kami adalah pelayan pribadi anda jadi jika anda membutuhkan sesuatu bisa panggil kami kapan saja.”


“Ya, terima kasih atas bantuan kalian. Untuk sekarang tidak ada yang aku butuhkan.”


“Baiklah, kalau begitu kami permisi.”


Mereka keluar dari kamar dan saya segera menjatuhkan diri ke atas kasur yang empuk.

__ADS_1


Saya menatap langit-langit dan memikirkan tentang keluarga saya. mereka terkenal dan penjaga saja sampai terkejut saat melihat kartu identitas mereka. Apakah keluarga saya baik-baik saja?


__ADS_2