Son Of God

Son Of God
Kencan


__ADS_3

“Fufu.”


Kakak tertawa, ayah dan semua yang ada di meja makan tersenyum dan melihat ke saya.


Saya penasaran. Apakah pernyataan saya sangat aneh? Saya mengingat apa yang baru saya katakan namun saya rasa tidak ada yang salah dengan cara pengucapan saya.


“Ren, meskipun kau kadang bersikap seperti orang dewasa pada akhirnya kau tetaplah anak-anak.”


Memangnya ada yang salah dengan hal itu?


“Cinta itu adalah banyak. Seperti suka akan seseorang, kasih sayang ayah dan ibu, khawatir pada seseorang. Kakak tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu tapi cinta adalah perasaan yang membuatmu merasa aman, itu menurut kakak.”


“Membuat rasa aman...”


Cinta ini sepertinya adalah sesuatu yang sederhana namun sebenarnya rumit. Apakah ayah dan ibu mencintaiku? Itu sudah pasti karena mereka adalah orang tua. Lalu apakah Yukari yang selalu ingin bersama saya adalah rasa cinta? Sepertinya 'cinta' ini hanya membuat saya stres karena banyak hal yang bisa disebut dengan cinta.


Setelah selesai makan saya bersama Ririka dan Maria menemani kakak ke pasar untuk persiapan kencan pertamanya.


Saya menggunakan tabungan saya untuk membelikan barang yang dibutuhkan kakak. Pertama kami memasuki toko pakaian yang direkomendasikan oleh Steve. Dia mengatakan kalau penjahitnya sangat terampil dan profesional.


Saat memasuki toko, lonceng berbunyi saat pintu dibuka untuk memberi tanda pada pemilik toko.


Seorang wanita yang seumuran dengan ibu bergegas datang, dengan rambut hitam yang berantakan dan pakaiannya kusut serta kantung matanya terlihat. Sepertinya dia habis tertidur saat mengerjakan sesuatu.


“Iya, ada yang bisa saya bantu?”


Wanita itu tersenyum ramah pada kami. Kakak terlihat gugup sehingga dia sulit berbicara jadi saya yang menggantikannya.


“Bisakah carikan pakaian yang cocok untuk kakakku. Pakaian yang cocok untuk kencan pertamanya.”


“Ara. Baiklah, kalau begitu silahkan lewat sini.”


Wanita itu membawa kakak dan saya menyuruh Maria untuk membantu kakak. Mereka masuk ke balik tirai sementara saya menunggu bersama Ririka.


Setelah beberapa menit akhirnya kakak keluar dengan pakaian yang sangat anggun. Dia memakai gaun biru dengan beberapa renda hitam, bawahnya menutupi kaki dan sepertinya itu akan sulit saat berjalan.


Dengan wajah yang memerah, kakak memalingkan wajahnya karena rasa malu.

__ADS_1


“B-Bagaimana? Apakah ini cocok untuk kakak?”


“Bisakah berganti dengan yang lain?”


“Tentu saja, tuan.”


“Apakah ini tidak cocok?”


Itu sangat cocok dengan kakak namun ini adalah kencan pertamanya. Dari buku yang pernah saya baca, seorang wanita cukup memakai pakaian yang sederhana namun memberikan kesan yang menawan.


“Tidak cocok.”


Kakak terus berganti pakaian dari satu pakaian ke pakaian lain, saya menolak semua pakaian yang direkomendasikan. Saya berniat membuat kakak sangat menawan tapi tidak ada satu pun pakaian yang pas.


Saya berbisik dengan wanita penjual pakaian tersebut. Setelah itu dia pergi ke dalam mengambil pakaian dan beberapa saat kemudian ia kembali membawa pakaian.


Kakak mencoba pakaian tersebut, saya sangat terkejut saat melihat kakak memakainya.


...----------------...


Keesokan harinya.


Di tengah keramaian itu terdapat air mancur dan di dekatnya seorang pria dengan rambut coklat memakai kemeja putih dan dasi biru sedang berdiri menunggu seseorang. Dia memiliki tubuh agak kurus namun ada beberapa otot yang dilatih serta kacamatanya membuatnya terlihat seperti orang pintar.


Dari kejauhan seorang gadis cantik memanggil pria tersebut. Gadis itu memakai baju putih dengan rok biru serta rambut ponitail. Terdapat jepit rambut berbentuk bunga mawar putih di rambutnya.


Pria itu membeku sejenak setelah melihat kecantikan gadis tersebut.


"Apa aku terlambat?"


"T-Tidak kok. Aku juga baru saja sampai."


Setelah bertemu mereka berdua berjalan berdua bersama, pertama mereka memasuki toko Sepatu, toko pakaian, lalu beristirahat di toko bernama Sternenlicht.


Itu adalah toko yang menjual banyak sekali makanan dan minuman yang tidak biasa. Namun, toko tersebut baru saja dibuka satu bulan yang lalu. Meskipun baru saja buka, mereka sudah mendapatkan banyak pembeli sehingga toko mereka menjadi sangat besar dalam waktu satu bulan.


Mereka berdua berhasil mendapatkan tempat dan menikmati makanan mereka.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kalau yang namanya nasi ini sangat enak."


"Kau benar, biasanya nasi adalah makanan pokok orang timur namun rasanya sungguh mengejutkan."


Mereka berdua menghabiskan makanan mereka dan salah satu pelayan wanita datang.


"Terima kasih atas kunjungan kalian."


Ucap pelayan wanita itu sambil mengambil piring kotor yang ada di atas meja.


"Ah, berapa totalnya?" Ucap sang pria.


"Tidak perlu membayarnya tuan, karena semua pesanan anda sudah dibayarkan?"


"Oleh siapa?"


"Mohon maaf, aku tidak bisa menyebutkannya. Kalau begitu permisi."


Pelayan wanita itu pergi meninggalkan mereka berdua. Akhirnya mereka berdua melanjutkan kencan mereka hingga sore hari.


Mereka berdua duduk di bangku taman sambil menatap langit yang berwarna oranye.


"Hari ini sangat menyenangkan."


"Ya, tapi aku masih penasaran siapa yang membayar makanan kita tadi?"


Sang gadis hanya tersenyum karena ia tahu siapa yang membayar pesanannya itu. Orang itu ada orang yang membantunya dalam kencan hari ini, yang tidak lain orang itu adalah adiknya sendiri.


"Lihat, mataharinya akan tenggelam."


Sang pria tersadar dari lamunannya dan melihat ke langit. Matahari berwarna oranye mulai tenggelam secara perlahan. Itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan.


Dan ini adalah momen yang sangat langka untuk bisa melihat matahari tenggelam bersama seseorang yang di sukai.


"Aku mencintaimu, Rei."


Saat Rei masih fokus pada langit, ia terkejut akan kata katanya itu. Namun, dia hanya beberapa detik saja dia terkejut dan tersenyum sambil membalas ucapannya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu, Alson."


Setelah itu mereka berpisah dan kembali ke rumah mereka masing-masing.


__ADS_2