Son Of God

Son Of God
Sosok misterius


__ADS_3

Satu Minggu Kemudian


Setelah aku pulih dari sakit, Raja memanggilku dan memberi penghargaan karena telah menyelamatkan kerajaan dari iblis serta menggelari aku "Pahlawan." Kerajaan memiliki hipotesis bahwa ada musuh yang bersembunyi dan tidak terlihat mata raja, sehingga penjagaan kerajaan diperketat.


Aku yang terlalu lelah kembali ke kamar tidurku dan berbaring dengan paha Nova sebagai bantal.


"Tuan, maaf atas insiden itu."


"Tidak usah dipikirkan. Iblis itu, Jovan, dia memiliki hubungan dengan makhluk jahat. Aku yakin tujuannya adalah untuk membunuhku karena mereka mencurigaiku sebagai Noir."


"Bahkan master tahu tentang itu..."


"Sekarang mereka tidak akan mencurigaiku karena orang yang mencoba membunuhku mati di tangan sang pahlawan dan bukan Noir."


"Jadi itu alasan tuan melawannya sendiri sebagai murid? Namun, bukankah mereka bisa mengira kalau pahlawan kerajaan adalah Noir yang sedang bersembunyi?"


"Itu tidak mungkin. Mereka pasti berpikir Noir adalah sosok yang akan menyembunyikan kekuatannya. Tapi pahlawan bukan pelakunya karena dia menunjukkan kekuatannya dan selain itu, Noir memiliki elemen kegelapan dan pahlawan adalah si elemen ganda. Kedua pernyataan itu tidak cocok."


Kurasa pengaturan seperti ini adalah hal yang tepat. Musuh tidak akan pernah terpikir kalau sebenarnya Noir (aku) memiliki tiga elemen. Maka, menunjukkan kekuatanku di sana bukanlah sebuah keputusan yang salah.


"Master, bolehkah aku..."


"Apa sudah tidak bisa menahannya?"


"Y-ya." Aku duduk dan Nova mendekatkan wajahnya padaku. Kami berciuman dengan mesra. Alasan aku melakukan ini karena Nova seorang succubus dan dia membutuhkan energi untuk bertahan hidup. Biasanya dia akan pergi keluar saat malam hari dan masuk ke mimpi orang lain untuk mengambil energi kehidupan mereka dengan melakukan hal mesum. Namun, karena aku menyuruhnya mencari informasi, dia tidak sempat untuk melakukan itu dan sebagai gantinya, aku yang menjadi korbannya. Kami tidak melakukannya di dalam dunia mimpi karena Nova mengatakan dia ingin melakukannya dengan aku secara langsung. Aku bisa melihat ekspresi Nova yang sangat menawan dan nafasnya yang terengah-engah. Suara ketukan pintu membuat kami terdiam. Nova menahan suaranya dengan mulutnya agar tidak ketahuan.


"Tuan muda, sudah waktunya makan malam!" Itu adalah suara Maria dari balik pintu.


"Aku akan segera ke sana, mohon tunggu sebentar aku sedang mengganti pakaian!"


"Perlu saya bantu, tuan muda?"


"Tidak perlu!" Yang tadi hampir saja terjadi. Jika Maria melihat Nova, bisa terjadi pertumpahan darah. Nova adalah succubus dan jika Maria melihat kami maka dia akan berpikir aku sedang diserang dan melaporkannya ke ayah dan ibu. Setelah itu, Nova akan dicari. Aku tidak ingin hal itu terjadi.


"Baiklah, aku akan pergi. Nova, berikan ini pada Gisella." Aku memberikan sebuah kertas kecil pada Nova.

__ADS_1


"Dimengerti. Apa ini sesuatu yang penting?"


"Ya, dia akan memberikan perintah setelah kau memberikan surat itu." Dengan sangat cepat, Nova menghilang bersamaan dengan angin kencang yang masuk lewat jendela. Aku merapikan pakaianku dan pergi ke meja makan.


"Kami sudah menunggumu lho, Ren."


"Apa kau sedang mengerjakan sesuatu?"


Aku menarik kursi dan duduk. Kakak tidak ada di meja makan, seperti biasa ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku sebenarnya tidak marah padanya tapi entah mengapa kesal saja padanya.


"Hanya membaca buku." Ya, hanya itu yang bisa ku jadikan alasan. Semua orang tahu aku menyukai buku, jadi tidak aneh aku mengatakannya.


"Ren, kau harus makan sayuranmu."


"Tidak mau." Aku menjawabnya dengan cepat. Aku tidak menyukai labu karena rasanya manis tapi ada sedikit asam. Meskipun ini menyehatkan tubuh, tapi tetap saja aku tidak menyukainya. Jika aku disuruh memilih antara lebih baik rasa atau kesehatan maka jawabanku adalah rasa.


"Kau tidak boleh seperti itu atau makanannya akan menangis lho."


Sejak kapan makanan bisa menangis? Jika ya, maka mereka akan menangis saat akan dimakan dan bukan sebaliknya.


"Itu sama saja dengan tidak memakannya!"


Beginilah obrolan keluargaku. Rasanya menjadi lebih hidup di meja makan.


"Aku selesai, aku akan kembali ke kamar."


Aku pergi meninggalkan ruang makan dan kembali ke kamarku lalu tertidur.


...****************...


Bayangan hitam bergerak dengan hati-hati di lorong istana. Sosok gelap itu mendekati ruang perpustakaan yang dijaga oleh dua ksatria di kedua sisinya.


"Apa kau melihat pertarungan sang pahlawan dengan iblis Minggu lalu?"


"Tidak. Tapi kudengar dia memiliki elemen ganda dan melawannya sendirian."

__ADS_1


"Bukan hanya itu, ayahnya adalah sang pedang suci, ibunya adalah sang maser dan kakaknya adalah Sword Saint."


"Yang benar! Sekarang aku mengerti kenapa dia bisa menjadi pahlawan."


Saat kedua penjaga sedang asik mengobrol, asap hitam mengelilingi keduanya dan membuat mereka pingsan. Sosok gelap itu masuk ke dalam perpustakaan dan dengan hati-hati berjalan tanpa membuat suara. Di ujung ruangan ada sebuah rak buku dan salah satu bukunya berbeda dengan buku lainnya. Orang mungkin berpikir bahwa ada orang yang menempatkan buku itu dengan salah dari tempatnya, namun memang itu tempatnya. Bayangan gelap itu berkumpul dan membentuk sebuah sosok manusia yang memakai tudung dan mengambil buku tersebut.


"Akhirnya, aku mendapatkannya."


Sosok itu segera menghilang bersamaan dengan buku itu. Keesokan paginya, Pangeran Julius menemukan kedua penjaga yang tergeletak di tanah. Julius mempertanyakan mengapa mereka tidur di lantai, namun tidak mempermasalahkan hal ini.


"Lain kali kalian harus berhati-hati. Sekarang, kalian kembali dan beristirahatlah."


"Baik, yang mulia." Julius bersiap untuk pergi ke sekolah, tetapi dia memerintahkan para pelayan untuk memasak karena akan ada pesta untuk kemenangan sang pahlawan yang berhasil mengalahkan iblis.


"Kalau begitu aku pergi."


"Selamat jalan, pangeran."


Para pelayan membungkuk dan mengucapkan salam. Julius dan Luna naik ke kereta kuda dan berangkat ke akademi. Sesampainya di sekolah, keduanya menjalani kegiatan sekolah seperti biasa dan saat istirahat, mereka pergi menemui Ren yang sedang tidur siang di taman dengan menggunakan paha Yukari sebagai bantalnya. Orang-orang mungkin akan iri tapi Julius tidak merasa demikian karena ia sudah memiliki tunangan.


"Apakah dia sedang tidur?" tanya Julius.


"Ya. Entah mengapa ia menjadi lebih malas dari biasanya," jawab Yukari.


"Padahal aku ingin berbicara dengannya," ujar Julius kecewa.


"Maaf ya," kata Yukari.


Saat Luna berada di sebelah Julius, ia duduk di dekat kaki Ren dan menaikkan kedua kakinya ke atas paha Luna.


"Apa yang sedang kau lakukan, Luna?" tanya Julius.


"Tidak adil jika hanya Yukari yang memanjakan Ren, aku juga mau melakukannya," jawab Luna.


"Astaga, meskipun sedang tertidur kau masih bisa membuat adikku melakukan hal ini padanya," gumam Julius.

__ADS_1


Meskipun demikian, Julius tidak marah karena selama adiknya senang, sebagai kakak, Julius harus senang. Lagipula, jika adiknya bersama laki-laki lain selain Ren, mungkin Julius akan menentangnya.


__ADS_2