Son Of God

Son Of God
awal invasi


__ADS_3

Ren sedang berbaring di lapangan sekolah sambil menikmati angin sejuk yang berhembus. Langkah kaki seseorang membuat Ren membuka mata.


"Apa yang kau lakukan disini, Ren?"


Yang muncul adalah pangeran Julius. Dia datang sendirian lalu duduk di sebelah Ren.


"Menikmati alam."


"Kau benar, cuacanya sangat bagus untuk tidur siang bukan?"


Ren mengernyitkan dahinya. Menurut Ren, pangeran seperti Julius sangat mustahil untuk tidur siang. Seorang bangsawan harus belajar dan belajar saja, jadi tidak mungkin mereka melakukan hal seperti tidur siang tapi kata kata yang keluar dari mulut Julius membuat Ren penasaran.


"Hmm? Ooh, pasti kau berpikir kalau bangsawan tidak boleh tidur siang bukan? Kau salah jika berpikir seperti itu. Bangsawan bisa saja tidur siang selama dia menyelesaikan tugas mereka."


"Begitu ya."


"Ren." Suara Julius terdengar lembut saat memanggil nama Ren.


"Hmm."


"Apa yang akan kau lakukan jika tidak bisa menang melawan lawan yang kuat?"


"Kalau itu aku... mungkin akan terus berdiri dan terus melawannya tapi jika keadaan menyuruhku untuk mundur maka aku akan mundur. Meskipun aku tidak bisa menang setidaknya aku bisa melukai mereka walaupun hanya sedikit."


"Kenapa kau memilih seperti itu?"


"Pertanyaan bodoh. Dalam pertarungan yang terpenting bukanlah menang atau kalah tapi harga diri."


"Begitu ya. Aku mengerti sekarang."


Mereka berdua diam dan hanya menikmati angin yang berhembus. Tidak ada percakapan atau suara, mereka benar-benar diam lalu suara datang memanggil Julius.


"Ah disini anda rupanya, pangeran."


Dua gadis datang menghampiri. Satunya memiliki rambut berwarna cokelat dan temannya memiliki rambut berwarna biru.


"Ada apa?"


"Guru menyuruhku untuk memberikan ini padamu."


"Terima kasih."


Kedua gadis itu melihat laki-laki berambut hitam yang sedang berbaring di sebelah pangeran, mereka merasa seperti pernah bertemu dengannya.


Fuuka, gadis yang memiliki rambut biru itu sadar bahwa yang ada di sebelah pangeran adalah anak laki-laki yang pernah menolong mereka.


"Dia kan..."

__ADS_1


"Hmm? Ada apa?"


"Pangeran, maaf kelancanganku tapi orang yang di sebelahmu itu..."


Anri yang tidak menyadari ada seseorang di sebelah pangeran, akhirnya sadar dan terkejut.


"Eh?! Kenapa Ren bersama pangeran?!"


Teriakan terkejut Anri membangunkan Ren dari tidur siangnya. Ren kesal dengan suara itu tapi dia tidak boleh bersikap tidak sopan.


"Ah, berisik sekali. Ada apa? Apakah sudah waktunya pulang?"


Beberapa saat kemudian Ren menyadari ada dua gadis yang dikenalnya sedang menatapnya dengan terkejut.


"Hm? Julius siapa mereka?"


"Teman sekelasku tapi sepertinya mereka mengenalmu."


Ren memfokuskan matanya karena dia baru saja bangun tidur dan akhirnya dia melihat dengan jelas dan ingat dengan nama mereka.


"Ah! Lama tak jumpa Fuuka, Anri."


"Rupanya beneran, Ren!"


Mereka terkejut. Tapi yang membuat mereka lebih terkejut adalah kedekatannya dengan pangeran, di akademi tidak ada yang berani bersikap tidak sopan pada seorang pangeran kerajaan ini, kecuali Ren.


"Kalian sudah saling mengenal?" Tanya Julius dengan penasaran.


"Tapi para preman itu tidak berdaya saat melawan Ren." Ucap Anri dengan bangganya.


Julius melihat Ren untuk memastikan rasa penasarannya.


"Kenapa kau menatapku begitu?"


"Aneh sekali. Meskipun kau adalah putra dari Clovis sang pedang suci tapi itu bukanlah sebuah alasan bahwa kau adalah seorang pemalas."


"Hei, apa maksudnya itu?!"


Ren sangat kesal dengan sindiran Julius terhadapnya. Memang benar kalau aku pemalas tapi kenapa harus membawa keluargaku?! Gumam Ren dengan kesal.


Kali ini mereka berdua lebih terkejut lagi. Mereka adalah penggemar sang pedang suci dan master. Bisa bertemu dengan mereka saja adalah sesuatu yang sulit tapi di depan mereka adalah putranya. Bukan hanya bisa bertemu dengan mereka tapi dia juga mendapatkan kasih sayang mereka. Mereka berdua sering di sebut-sebut sebagai legenda hidup.


"Kau pasti Ren Orion?!" Teriak Anri yang suaranya menggema di lapangan sekolah.


"Itu benar, tapi bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Telingaku rasanya ingin hancur."


"M-maafkan aku."

__ADS_1


Sekarang mereka mengerti kenapa ia begitu dekat dengan pangeran. Karena posisinya sebagai putra dari pedang suci.


"Umm... Apa yang sedang kalian lakukan?" Fuuka sangat pemalu sehingga ia selalu ragu saat bertanya atau berbicara.


"Aku hanya menemani Ren."


"Aku hanya tidur siang dan bukan sedang berjalan-jalan yang harus di temani."


Keduanya tampak akrab dan dekat. Namun, seorang laki-laki dengan tubuh sedang dan sedikit berotot datang menghampiri.


"Di sini kau Rupanya."


"Oh, Alvin. Ada apa?"


"Ada apa katamu?! Kau meninggalkan kelas begitu saja dan sekarang guru sedang dalam mood yang buruk."


Alvin tampak menceramahi Ren akan sikapnya yang seenaknya. Masalah tentang kelas yang buruk sudah diatasi dan mereka mendapatkan kelas yang layak tapi masih ada masalah lain di kelas mereka adalah pemimpin mereka sendiri yaitu Ren.


Dia tidak pernah datang terlambat tapi selalu bolos pelajaran. Dan sudah menjadi tugas Alvin untuk mencari Ren dan oleh sebab itulah dia tidak bisa belajar dengan baik.


"Baik, baik. Padahal jam pelajaran baru saja dimulai, tapi kenapa itu guru sudah masuk kelas?"


"Tidak ada yang tahu dengan jalan pikirannya jadi kita harus kembali."


"Baiklah, tapi aku masih lelah."


Alvin menggendong Ren di punggungnya, dia merasa tidak keberatan dengan hal itu jadi tidak ada yang berani berkomentar atau mengkritiknya.


"Sampai jumpa Julius, kalian berdua juga."


Ren melambaikan tangannya dan meninggalkan mereka. Julius yang sudah bosan berdiri lalu kembali ke kelasnya bersama Anri dan Fuuka.


...****************...


Jauh di kedalaman hutan, terdapat sebuah tempat tinggal dimana para dark elf tinggal. Berbeda dengan elf yang memiliki ciri khas telinga runcing, berumur panjang, dan mahir dalam sihir. Dark elf memiliki telinga runcing, tidak berumur panjang dan tidak mahir dalam sihir namun secara fisik mereka sangat kuat.


Langit berubah menjadi malam dan di penuhi oleh bintang yang cantik tapi bulan berwarna merah seperti darah telah muncul. Para dark elf tahu bahwa bahaya sedang melanda mereka. Beberapa penduduk yang tidak bisa bertarung seperti lansia dan anak-anak segera di evakuasikan ke tempat yang aman.


"Segera evakuasikan penduduk yang ada! Untuk para petarung segera lindungi kuil!" Para dark elf bergerak dengan terburu-buru.


"Kepala desa! Mereka sudah hampir tiba!"


"Apa?!"


Salah satu dari elf memberikan laporan yang membuat kepala desa terkejut dan panik. Tidak jauh dari tempat para dark elf, di langit sekumpulan vampir terbang secara bersamaan. Mereka mendarat tepat di depan kuil yang sedang dilindungi oleh para dark elf.


"Serahkan energy stones pada kami." Minta sang pemimpin vampir.

__ADS_1


"Tidak! Tidak akan kubiarkan kalian menyentuh energi stone dengan tangan kotor kalian!"


Penolakan itu membuat pemimpin vampir marah dan memerintahkan pasukannya untuk merebut paksa energi stone dari para dark elf.


__ADS_2