Son Of God

Son Of God
Musuh terungkap


__ADS_3

Setelah pertarungan yang melelahkan, semuanya beristirahat dan acara akan dimulai kembali setelah satu jam.


Ren pergi menuju ke kursi penonton untuk menyapa keluarganya namun ia terhenti oleh seorang 3 orang.


"Tunggu sebentar, Ren."


Seorang gadis yang merupakan perwakilan dari akademi Umakaze. Dia seorang gadis cantik dengan pembawaan yang tenang.


Disebelahnya pria tampan yang memiliki rambut perak, dia merupakan perwakilan akademi Saitochi. Dan satu lagi adalah pria kekar dengan rambut pendek, siswa perwakilan akademi Sekiko.


"Siapa kalian?"


Ketiganya terkejut dan kesal. Meskipun mereka sudah bertemu tapi dia tidak mengenal ketiganya.


"Kau benar-benar sombong, ya?" Ucap pria kekar.


"Kamu memang tipeku tapi kau agak sombong." Ucap gadis tenang.


"Padahal aku berharap kita bisa akrab." Ucap pria tampan.


"Maaf ya, aku bukannya sombong tapi aku bahkan tidak mengenal nama kalian."


Ketiga terdiam dan saling menatap. Mereka menghela nafas dan memperkenalkan diri mereka.


"Aku James, perwakilan akademi Sekiko."


"Namaku Leonardo, kau bisa memanggilku Leo."


"Aku Ayaka"


Ren mencoba mengingat nama mereka. Ren segera berbalik dan pergi namun Ayaka menarik lengan Ren.


"Tunggu. Kenapa kau terburu-buru?"


"Aku punya urusan yang lebih penting daripada mengurus kalian."


Ren merasa tidak nyaman, tangannya terus di tekan ke dadanya yang empuk bahkan dia tidak bisa menarik lengannya karena Ayaka menahannya dengan kuat.


"Dengarkan. Bukannya kau merasa aneh dengan siswa akademi Toriho?" Tanya Leo.


"Kekuatannya sangat tidak normal." Lanjut James.


"Hah ... Bahkan sebelum pertandingan dimulai pun aku sudah mengetahuinya."


"""Eh?!""" Ketiganya terkejut bersamaan.


"Tenang saja, aku berencana membongkar rahasianya."


Ren dengan kuat menarik keluar tangannya yang terjepit dan segera pergi agar tidak membuang waktunya. Ren pergi ke sebuah tempat dimana kios-kios makanan berkumpul.


Di salah satu meja terdapat keluarganya bersama dengan ketua divisi ksatria suci lainnya.


"Ayah, ibu."


"Ren!"

__ADS_1


Ibu dengan cepat memeluk anaknya itu seperti tidak bertemu bertahun-tahun.


"Kenapa kau ada di sini?" Tanya kakaknya.


"Apakah salah aku datang menyapa kalian? Kalau memang begitu, aku akan pergi."


Ibu mengembungkan pipinya karena kesal.


"Rei! Kau tidak boleh seperti itu pada adikmu sendiri."


"Baiklah, karena kebetulan ada kakak dan ketua lainnya dari ksatria suci, aku ingin minta tolong."


Ren menjelaskan pada semuanya dan mereka hampir benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Ren.


"Bukannya itu berbahaya?" Ibu khawatir.


"Jika memang seperti itu, maka keamanan negara sepertinya mulai longgar." Ayah tampak bingung dan cemas.


"Lagi-lagi hal buruk. Tapi ini hanyalah hipotesismu saja bukan? Bagaimana, jika dia memang manusia?"


"Jadi kau tidak percaya padaku? Baiklah, ini adalah kedua kalinya aku tidak dipercaya oleh kakak kandungku sendiri."


Ren pergi begitu saja dan kembali untuk bersiap di pertandingan selanjutnya.


"Rei, adikmu mungkin saja benar. Terakhir kali dia memperingatkan kita, itu benar-benar terjadi." Ucap Kyoka.


"Rei. Aku selalu percaya pada Ren, meskipun dia seperti itu tapi instingnya selalu tepat." Ucap ayah.


"Tapi ..."


"Dengarkan ayah. Sejak kecil Ren selalu menjadi anak yang baik dan pendiam. Saat pertama kali mengajarkannya berpedang, Ren bisa melakukannya hanya dengan sekali coba setelah aku mempraktikannya."


Setelah mendapatkan ceramah dari ayah dan Nia. Dia merasa bersalah pada Ren, tapi apa yang dikatakannya itu tidak masuk akal karena dari mana dia bisa membuat tebakan seperti itu hanya dengan mengamati saja.


Akhirnya mereka kembali ke kursi penonton mereka untuk melihat pertandingan selanjutnya.


Di dalam arena sudah saya dua peserta yang akan bertanding. Ini adalah pertarungan Ren melawan Jovan.


Suasananya menjadi serius dan menjadi hening. Keduanya belum bergerak setelah pertandingan dimulai.


Ren sudah siap dengan posisi bertarung menggunakan pedang suci, Twilight. Akhirnya keduanya bergerak namun mereka menghilang dalam sekejap.


Suara dentingan terdengar di udara. Para penonton mulai bertanya-tanya apa yang terjadi. Para ketua divisi kecuali Rei terkejut. Mereka bisa melihat pertarungan Ren dan Jovan.


Keduanya terus melancarkan serangan. Clovis tidak terkejut justru dia malah tampak gembira karena bisa melihat anaknya bertarung dengan hebat. Mio dan Nia sangat serius, mereka mencoba untuk melihat pertarungan keduanya.


Setelah beberapa menit berlangsung, akhirnya keduanya berada di arena di posisi semula dengan nafas tersengal-sengal.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"


Para penonton kebingungan dan memikirkan alasan yang masuk akal untuk kejadian barusan.


"Dia benar-benar hebat." Puji Leo dari ruangannya.


"Rupanya dia kuat. Pantas saja, dia tidak keluar di pertandingan sebelumnya." James tampak senang setelah melihat pertarungan Ren.

__ADS_1


"Kau benar-benar membuatku tertarik, Ren." Ayaka sangat kagum dengan wajah tenangnya.


Ren mengangkat pedangnya tinggi ke atas. Energi yang cukup besar terkumpul di pedangnya.


"Holy ripple."


Ren menancapkan pedangnya ke tanah dan menciptakan Riak sihir di arena. Semua keheningan berubah menjadi keterkejutan dan teriakan.


"Aaahhh!"


"I-i-itu..."


"Iblis!!"


Semua penonton mulai berlarian menyelamatkan diri mereka. Rei sangat terkejut sehingga dia lagi-lagi menyalahkan dirinya. Apa yang diucapkan Ren benar, ada iblis yang mencoba membunuhnya.


"A-Apa?!"


"Menyerah saja. Kau sudah tidak memiliki sihir yang tersisa bukan?"


"Jangan sombong kau!"


Iblis itu menerjang ke arah Ren, cakar-cakarnya siap menusuk namun Ren menangkisnya dengan pedang dan terdorong ke belakang.


"Ugh...!"


Ren sudah kelelahan karena sudah menggunakan banyak tenaga sebelumnya.


Seketika Arena menjadi penuh. Para peserta keluar dari ruang tunggu dan mengepung Jovan.


"Kau tidak apa-apa, Ren?"


Julius segera membantu Ren. Para teman-temannya siap bertarung namun Ren mengehentikan mereka.


"Jangan menyerang!"


Semuanya terdiam. Para ketua divisi kembali duduk menonton karena mereka ikut menuruti ucapan Ren.


"Apa yang kau katakan?! Jika terus dilanjutkan kau akan mati!"


"Siapa yang mati? Aku? Jangan bercanda."


Ren berusaha berdiri tegak dan mengatur kembali posisi bertarungnya.


"Kalian semua mundur."


Ren membuang nafas, tatapannya menjadi tajam dan energi sihir meluap dari tubuhnya.


Api membakar bilah pedang suci dan tubuhnya dipenuhi oleh petir.


"Tadinya aku ingin menyerahkan tugas ini pada kakakku tapi dia tidak mempercayaiku jadi aku terpaksa harus menggunakan ini."


Semuanya terkejut. Ren dikenal tidak bisa menggunakan sihir namun kini dia menggunakan sihir apalagi dia memiliki elemen ganda.


"Storm Force."

__ADS_1


Semuanya terkejut dengan sosok Ren yang benar-benar serius dan juga kuat. Jovan menelan ludahnya setelah melihat Ren yang menggunakan kekuatannya.


Dalam hatinya juga ia merasa kesal karena Ren sejak tadi masih menahan diri. Dia juga yakin masih ada kekuatan lain yang ia sembunyikan.


__ADS_2