
Keesokkan harinya, setelah insiden penyerangan yang di tujukan padaku, aku mengikuti kelas di akademi.
"Ren! Beri aku izin untuk membunuh orang itu!"
Aku memberitahu semua orang di kelas F yang sangat penasaran karena aku tidak mengikuti kelas kemarin dan Alvin yang mendengar aku di hampir terbunuh, dia berteriak dan emosinya meluap.
"Sudah kubilang kalau orang itu sudah mati dan juga jangan berteriak di dekatku, telingaku sakit."
Semua orang sepertinya khawatir padaku namun kami segera kembali ke kursi masing-masing setelah wali kelas memasuki kelas. Entah hanya perasaanku saja atau guru tampak dalam perasaan bahagia.
"Baik semuanya, seperti yang kita janjikan kemarin bahwa hari ini kita ujian."
"Tidak!!"
Kelas berteriak kecewa. Pantas saja guru terlihat senang dan rupanya dia membuat kesepakatan kemarin saat aku tidak ada.
"Oh, Ren. Kau sudah kembali. Tapi sayang sekali meskipun kau baru kembali tapi aku tidak akan mengundur ujian."
"Tenang saja, guru. Aku tidak tahu apa yang terjadi kemarin tapi bisakah kita melakukan taruhan?"
Dia tersenyum setelah aku mengatakan itu dan menatapku dengan penuh ambisi.
"Tentu, jadi apa itu? Selama itu bukan pengunduran waktu ujian maka akan ku terima apapun."
"Kalau begitu," Aku berdiri dan menunjuk guru dengan jari telunjukku. "Jika dalam ujian ini aku mendapatkan nilai tinggi maka tidak ada lagi ujian seperti ini selama setahun."
Wajahnya pucat dalam sekejap lalu ia kembali tersenyum dengan penuh percaya diri. Dia menyilangkan kedua tangannya dan menjawabku dengan nada sombong.
"Baiklah, tapi itu jika kau tidak mendapatkan nilai tinggi dalam ujian hari ini maka aku akan memberikan pekerjaan rumah yang banyak pada kelas ini."
"Sepakat."
Teman-teman di kelas memasang wajah pucat. Aku yakin mereka tidak yakin bahwa aku dapat memenangkan pertaruhan ini. Yah, memang benar bahwa kami kelas F memilki nilai di bawah rata-rata namun, mereka melupakan sesuatu.
Aku adalah orang yang memiliki nilai di atas rata-rata dan menggunakan kekuasaan kepala sekolah untuk masuk kelas F. Dengan kata lain, ujian ini hal yang mudah untukku.
Aku mengisi semua jawaban di kertas soal dengan tenang dan saat waktunya hampir habis aku menggunakannya untuk mengecek jawabanku sekali lagi.
Waktu habis dan kertas ujian di kumpulkan di depan. Beberapa merasa yakin dan ada yang merasa diri mereka sudah tamat, atau begitulah yang terlihat dari ekspresi mereka.
Guru mengecek jawaban kertas ujian dan saat melihat kertas ujian milikku, matanya terkejut. Seolah tak percaya dengan penglihatannya dia menggosok kedua matanya dan membaca kertas ujian sekali lagi.
"Ini...!"
Aku yang sudah yakin akan menang dengan pertaruhan ini, berdiri dan berjalan ke arah guru. Aku memberikan seringai kemenangan untuk memberi tahu bahwa ini adalah kekalahannya.
__ADS_1
"Bagaimana guru? Aku yakin dengan jawabanku."
Guru seolah tidak menerima dengan hasilnya, ia mendecakan lidah dan menggerutu kesal. Meskipun aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Dia menghela nafas lelah dan menunjukkan ekspresi kesal di wajahnya.
"Baiklah, kau menang."
Seisi kelas berteriak dengan penuh kemenangan dan tiba-tiba melemparku ke atas. Aku merasa seperti telah melakukan sesuatu yang hebat, padahal aku melakukan pertaruhan ini agar aku tidak melakukan ujian menyebalkan ini.
...----------------...
Hari sudah sore dan akhirnya waktunya pulang sekolah. Aku sangat lelah setelah melakukan latihan bertarung.
Saat siang tadi setelah berhasil melakukan pertaruhan dengan guru, kami kelas F pergi ke lapangan sekolah dan melakukan latihan gabungan dengan kelas A.
"Yo, Pahlawan. Rupanya kau datang, kupikir kau akan pergi tidur siang."
"Julius. Aku memang berniat untuk melakukan itu tapi sepertinya aku sedang diincar oleh seseorang jadi aku harus berlatih agar tidak mati konyol."
Julius menghela nafas lelah mendengar kata-kataku. Dia mendekat dan menepuk pundakku.
"Kalau begitu kau harus berusaha untuk tidak mati, kawanku."
Sambil mengatakan itu, pundakku mulai membeku akibat sihir yang dilepaskan dari tangan Julius.
"Flame Kick."
"Seperti yang diharapkan dari sang pahlawan."
"Julius brengsek! Kau mau membunuhku ya?!"
"Tapi sekarang kau masih hidup kan?"
Kesal dengan sifat jahilnya, aku melompat ke depan dan memukul wajah Julius. Dia tersungkur setelah menerima pukulan dariku. Julius yang kesal dengan serangan tiba-tiba dariku berteriak kesal dengan wajah yang memar.
"Hei! Itu curang, melakukan secara tiba-tiba!"
"Curang? Bukankah itu yang kau lakukan padaku, pangeran?"
Julius berdiri lalu mengarahkan telapak tangannya padaku. Dia menyeringai lalu dalam sekejap dari bawah kakiku muncul sebuah es dan membekukan setengah tubuhku.
"Kau membuatku kesal."
Aku memfokuskan seluruh sihir api di tubuhku dan suhu tubuhku naik dengan cepat dan melelehkan es yang menahanku.
Setelah lepas aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya lewat mulut.
__ADS_1
"Fire Breath!"
Nafas api keluar dari mulutku dan membakar apapun di depanku. Julius berhasil menghindari serangan itu dengan melompat ke samping.
"Akhirnya kau serius juga. Ice Spear!"
Lima tombak es terbentuk di udara dan terbang ke arahku dari sisi kiri.
"Fire Mimicry."
Aku membuat seluruh tubuhku menjadi api sehingga kelima tombak es itu meleleh saat mecapai diriku.
"Hei, apa-apaan itu!"
"Heh, meskipun ini pertama kalinya tapi sepertinya berhasil dengan baik."
Julius tidak menyerah begitu saja, dia merentangkan kedua tangannya dan membekukan area di sekitarnya.
"Freezing."
Sihir esnya sungguh kuat dan hampir membekukan seluruh tubuhku namun aku berhasil mempertahankan wujudku yang menjadi api sehingga es itu tidak membekukanku.
"Jangan pikir hanya kau saja yang bisa berkembang. Terima ini, Ice Beam!"
Udara dingin berkumpul menjadi satu di telapak tangannya lalu sinar berwarna biru mengarah padaku, dengan reflek aku bertahan dengan tanganku. Ledakan besar terjadi saat serangan itu mengenaiku dan memadamkan skill [Fire Mimicry]-ku.
"Ugh!"
Aku berlutut karena hampir tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhku.
"Bisa bertahan di kondisi seperti itu, boleh juga pahlawan."
"Heh. Kau terlalu meremehkanku..."
Aku berdiri dengan kaki yang gemetaran dan menendang tanah. Dengan elemen petir, gerakanku jadi lebih cepat dan menampar wajah Julius dengan seluruh tenagaku.
"Apa?!"
Julius terpental dan terkapar di tanah. Area yang dia bekukan mulai mencair. Dengan wajah yang babak belur, Julius tersenyum lalu berdiri dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Aku tidak akan kalah, Snow Ball."
Bola salju raksasa terbentuk di tangannya. Aku terkejut dengan bola salju yang dibuat oleh Julius. Aku yang merasa bahwa itu sangat berbahaya juga mengangkat kedua tanganku ke atas dan menciptakan bola api yang besarnya hampir sama dengan bola salju Julius.
"Fire Ball."
__ADS_1
Kami hendak melemparkannya secara bersamaan namun entah dari mana ada sesuatu yang keras memukul kepalaku hingga aku kehilangan kesadaranku.