Son Of God

Son Of God
Obrolan kakak dan adik


__ADS_3

Saya merasakan panas di seluruh tubuhku akan tetapi tiba-tiba rasa panas itu berubah menjadi hangat.


Saya tidak ingat apa yang sudah terjadi tapi saya pikir ini bukanlah hal yang buruk.


Saya menggunakan semua tenaga saya untuk membuka mata dan saya melihat langit-langit. Saya tahu dimana tempat ini, ini adalah tempat yang sangat saya kenal.


Ini adalah.... kamar tidurku.


Saya tidak tahu kenapa saya bisa ada di sini jadi saya mencoba untuk melihat situasinya terlebih dahulu.


Saya duduk, melihat ibu dan salah gadis yang saya selamatkan tempo hari sedang tidur di kedua sisi tempat tidur saya.


Ketika saya ingin mengambil minum yang ada di sebelah kanan saya, ibu bangun dari tidurnya.


“Hm? Ren! Akhirnya kau bangun!!”


Ibu segera memeluk saya begitu dia melihat saya dengan jelas. Saya tidak tahu apa yang terjadi tapi sepertinya dia sangat khawatir pada saya.


“Ibu? Apa yang terjadi? Mengapa ibu menangis?”


Suara ibu begitu keras sehingga membangunkan gadis berambut hitam di sebelah saya.


“Oh, akhirnya bangun juga. Bagaimana perasaanmu?”


Saya tidak tahu bagaimana saya harus menjawabnya karena saya tidak mengenalnya. Apa menjawab seperti biasa akan baik-baik saja? Sudahlah, saya tidak ingin berpikir untuk saat ini.


“Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja aku merasakan sedikit pusing tapi aku rasa itu bukan masalah besar.”


“Baguslah kalau begitu.”


“Ngomong-ngomong, anda ini siapa?”


Saat saya bertanya ibu tersenyum dan menjawab pertanyaan saya dengan ceria seperti biasanya.


“Ah, Ren tidak tahu karena kalian tidak pernah bertemu. Namanya Rei Orion, kakakmu.”


Saat diberi tahu seperti itu, saya cukup terkejut. Karena saya pikir saya adalah anak tunggal akan tetapi sekarang saya punya kakak perempuan?


Saya tidak tahu harus apa? Apakah saya harus senang?


“Senang bertemu denganmu. Aku kakakmu, Ren.”


“Hm, ah, ya. S-senang bertemu dengan kakak.”

__ADS_1


Dia tertawa saat saya berbicara gugup.


“Tidak perlu gugup seperti itu, pasti kau terkejut dengan kakakmu ini kan?”


“.....”


Saya hanya bisa menunduk lalu mengangguk kecil. Ini adalah salah satu cara agar memberikan kesan baik pada kakak saya.


Saya mungkin bisa saja bersikap seperti biasanya namun entah kenapa ada perasaan senang di hati saya jadi saya melakukan itu.


Di depan pintu, Nia mengetuk pintu sambil membawa nampan di satu tangannya.


“Permisi nyonya, saya membawakan sarapan untuk tuan muda.”


“Terima kasih, Nia.”


Ibu mengambil mangkuk di atas nampan dan meletakkannya di atas meja di sebelahku.


Mata saya dan Nia bertemu dan dia tersenyum lalu menundukkan kepalanya dan pergi.


Saya pikir Nia senang melihat saya, dia tersenyum lalu pergi untuk menutupi rasa senangnya.


“Karena ibu masih ada pekerjaan lain yang harus dikerjakan jadi Rei, tolong jaga adikmu ya.”


Ibu pergi dengan senyum cerahnya. Rei, kakakku mengambil mangkuk di atas meja lalu menyodorkan sayur dengan sendok ke mulut saya.


“Buka mulutmu.”


“Meskipun kita baru bertemu tapi rasanya ini memalukan.”


“Aku adalah kakakmu. Tugas seorang kakak adalah melindungi adiknya yang lucu.”


Saya terpaksa membuka mulut dan memakan sup buatan ibu. Rasanya sangat enak seperti biasanya.


Setelah menghabiskan makanan saya, saya berbicara empat mata dengan kakakku.


“Kenapa kau lari dari rumah?”


Pertanyaan pertama adalah pertanyaan sulit. Saya tidak mungkin mengatakan padanya kalau saya pergi mengejar mahluk jahat.


Jadi saya harus membuat alasan yang bagus untuk pertanyaan pertama ini.


“Waktu aku marah dengan ayah lalu aku mengurung diri tapi aku melihat sesuatu yang aneh di dalam hutan jadi aku pergi lalu mengejarnya.”

__ADS_1


Alasan seperti anak kecil polos ini sudah pasti berhasil.


“Kalau kau ingin pergi seharusnya kau beri tahu seseorang agar tidak membuat orang lain cemas.”


Saya diceramahi oleh kakak. Saya tahu apa yang saya lakukan itu hal buruk karena tidak memberi tahu orang di rumah tapi saya sudah menulis surat bukan?


“Maafkan aku, bukannya aku bermaksud membuat ayah dan ibu khawatir tapi...”


“Kakak tidak marah padamu. Lain kali jangan melakukan hal seperti itu lagi, oke?”


Saya mengangguk mengerti.


Tidak lama ada dua gadis lain masuk ke kamar saya. Satunya memiliki tubuh yang agak pendek dengan rambut merah twintail dan disebelahnya seorang gadis tinggi dengan rambut perak yang diikat ponytail.


“Rei, aku membawakan kue dari ibumu.”


“Dan kami juga memiliki tamu untuk adikmu.”


Tiba-tiba seorang gadis kecil berlari melewati keduanya lalu melompat dan memeluk saya.


Dengan sikap lucu seperti ini hanya satu orang yang akan melakukannya.


“Yukari?”


“Ren!”


Dia memeluk saya dengan erat lalu menangis di dasar saya.


“Kemana kau pergi? Kupikir kau meninggalkanku. Aku sangat takut saat kau tak ada. Aku... aku...”


Dia sepertinya khawatir padaku juga. Membuatnya menangis seperti ini, pasti dia begitu kesepian. Saya rasa harus meminta maaf padanya.


“Sudahlah, aku minta maaf karena pergi begitu saja. Yang lebih penting aku sekarang ada di sini, bukan?”


Dia berhenti menangis sejenak lalu menangis kembali dengan lebih keras, itu bukan reaksi yang saya harapkan.


“Sepertinya pacarmu sangat khawatir ya, Ren?”


Yukari langsung terkejut hingga melepaskan pelukannya dan menutupi wajahnya yang merah dengan kedua tangannya.


“Kurasa aku membuat banyak orang khawatir. Maafkan aku ya, Yukari.”


Saya mengusap kepala Yukari dengan lembut dan tatapan kakak dan kedua temannya terlihat menakutkan bagi saya.

__ADS_1


__ADS_2