
Aku mendengar suara yang sangat berisik jadi aku membuka mataku. Aku sangat lelah karena setelah makan malam aku menerima informasi penting dari Olivia.
Isinya cukup bagus dan aku jadi sibuk untuk mendapatkan informasi lebih lanjut di perpustakaan sekolah. Dan karena itu aku jadi kurang tidur.
"Hmm? Yukari?"
Ada wajah Yukari yang sangat cantik saat aku membuka mata. Aku ingat kalau sebelumnya aku mengatakan akan tidur siang jadi di memberi bantal paha.
"Apa ini? Luna ya, apa yang sedang kau lakukan?"
Luna ada di kakiku, sejak tadi aku merasakan sesuatu yang lembut di kakiku ternyata itu adalah paha milik Luna. Tapi sejak kapan dia ada di situ?
"Yo, tuan pahlawan. Apa kau suka dengan pelayanannya?"
"Ah pangeran. Ya, aku suka dengan pelayanannya. Apakah ada layanan spesial untukku?"
Yukari dan Luna tertawa saat mendengar percakapanku dengan Julius.
"Kau ini. Akan ada pesta perayaan untuk keberhasilanmu dalam melawan iblis jadi aku ingin kau datang saat akhir pekan nanti."
"Kenapa juga harus melakukan itu? Lagi pula pemberian penghargaannya kan sudah."
"Itu hanya sekedar formalitas saja. Ini adalah pesta yang secara khusus aku siapkan dan aku juga akan mengundang banyak orang."
"Seenaknya saja dalam bertindak. Pasti kau sedang menyiapkannya bukan lalu kau memberitahuku agar aku tidak bisa menolaknya, benar bukan?"
"Tepat sekali."
Aku sudah mengenal pangeran yang satu ini. Dia pasti melakukan sesuatu agar negosiasinya tidak bisa di tolak. Jika dia menjadi raja, aku yakin dia akan menjadi raja yang hebat di masa depan nanti.
"Baiklah, aku akan hadir."
Aku tidak membenci sifatnya tapi aku berharap dia tidak terlalu sering melakukan ini padaku.
...----------------...
Di dataran yang luas namun gersang, seseorang berjubah hitam mendekati reruntuhan. Terdapat altar yang dikelilingi oleh pilar, di setiap pilar terdapat obor.
Pria berjubah hitam mendekat pada salah satu pilar dan menatap altar yang terdapat tiga batu kecil yang tertempel di sana.
"Sekarang akan aku bebaskan kalian."
Pria itu membuang gulungan kertas setelah membacanya.
"The natural light that is the center of the world!"
Pria itu menyalurkan sihirnya ke kakinya bersamaan dengan mantra yang diucapkannya. Tulisan kuno bersinar dari kakinya hingga ke altar. Ketiga batu yang tertempel di altar melayang di udara dan hancur. Ketiganya berubah menjadi permata cantik yang berwarna biru, merah, dan kuning.
"Sekarang, bangkitlah!"
Kali sihirnya diarahkan lurus ke depan tepat ke ketiga permata itu melayang. Ledakan terjadi dan asap mengelilingi altar tersebut. Ada tiga sosok raksasa di balik asap tersebut.
Namun, yang keluar dari sana bukanlah monster raksasa melainkan monster mungil yang lucu. Dari kanan adalah monster yang memiliki tubuh seperti manusia, kepala naga dan tidak memiliki kaki yang seluruh tubuhnya terbuat dari air, lalu disebelahnya monster dengan tubuh seperti manusia dan berkepala tikus, seluruh tubuhnya terbuat dari batu dan yang terakhir adalah monster dengan tubuh seperti landak dan memiliki duri di punggungnya, berkepala tiga yang menyerupai ular. Tubuhnya terbuat dari api yang menyala.
"Kenapa kalian jadi seperti ini? Pasti ada salah."
Pria itu tampak kesal setelah melihat ketiga monster itu dan melempar monster air yang diangkatnya. Bukan monster yang memiliki kekuatan yang besar melainkan hanya monster imut saja.
__ADS_1
"Hua!!"
Monster itu menangis dan kedua monster lainnya melihatnya dengan bingung.
"Jangan nangis!!"
Setelah membentaknya, monster air itu terdiam dan kembali menangis bersama dengan monster lainnya. Pria itu mendekati puing-puing tulisan kuno untuk melihat letak kesalahannya.
"Sudah! jangan nangis. Diam!!"
Ketiganya berhenti menangis setelah mendengar bentakan pria tersebut. batu dan kerikil ditarik. Air mata yang menjadi genangan di tanah juga tersedot dan api di obor terbang ke suatu tempat.
"Kubilang diam!!"
Saat berbalik dan melihatnya. Tiga raksasa berdiri di depan matanya. Ketiga monster itu sangat marah dan monster batu menunduk dan mengaum di depan wajah pria itu.
"Waktunya balas dendam."
"Hancurkan kerajaan."
Ketiga monster itu berbalik dan pergi. Pria itu sangat marah karena ketiga monster itu tidak menuruti perintahnya.
"Mau kemana kalian?! Cepat patuhi aku!"
"Kau tidak punya kunci."
"Kunci? Kunci apa?! Woi, kembali!"
...----------------...
*Akhir pekan
Tanah di sekitar membeku bersamaan dengan kaki-ku hingga tidak bisa bergerak.
"Flame burn!"
Aku mengeluarkan serangan api dan mengarahkannya ke Julius tapi dia dengan cepat membuat dinding es untuk menahan seranganku.
"Ice Shield."
Sekarang!
"Apa? Kemana dia pergi?"
"Sepertinya kau butuh kehangatan, terima ini. Fire ball!"
Aku yang melompat ke udara dan menyerang dengan beberapa bola api dari atas.
"Ice lance!"
Bola api itu berhasil di kalahkan dengan tombak es yang dia ciptakan. Aku yang mendarat segera menyentuh tanah dan mengerahkan seluruh tenaga dan melelehkan es yang menyelimuti lapangan.
"Flame burst!"
Tentu saja itu bisa membakar Julius dari bawah tapi dia berhasil bertahan dengan sihir es miliknya.
"Huft... Kau benar-benar kuat, apa kau sengaja menyembunyikan kekuatanmu ini?"
__ADS_1
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin sombong."
"Ya, ya."
"Julius! Apa kau baik-baik saja?"
Yang datang ke Julius dengan khawatir adalah tunangan Julius, Eleonore. Memiliki rambut pirang dan memiliki kecantikan yang luar biasa. Ini mengingatkanku tentang beberapa saat yang lalu.
"Kau benar-benar melakukannya ya, Julius."
Aku data ke istana tempat Julius tinggal. Aku terpaksa datang dan melihat dekorasi di aula sudah selesai.
"Bagaimana?"
"Begitu rupanya. Haruskah aku memukul wajahmu?"
"Jangan marah begitu."
Aku benar-benar kesal dengan pangeran satu ini. Aku tidak mempermasalahkan tentang pestanya tapi sesuatu tentang dekorasinya. Dia memasang lukisanku tapi itu seperti orang lain itulah penyebab kekesalanku.
"Pangeran Julius!"
Seseorang datang menghampiri kami. Itu seorang gadis cantik dengan rambut pirang.
"Siapa dia?" Aku berbisik pada Julius.
"Tunanganku, Eleonore."
"Oh."
Tidak kusangka bahwa tunangan Julius sangat cantik apalagi dia sepertinya sangat peduli terhadap Julius.
"Kenapa kalian berbisik-bisik. Perkenalkan... Saya Eleonore Florance. Senang bertemu denganmu, pahlawan Orion."
Dia bersikap sopan saat memperkenalkan dirinya.
"Senang bertemu denganmu juga."
"Ele, ada apa kau kemari?"
"Aku datang untuk melihatmu. Apakah ada masalah dengan itu?"
"Tidak ada."
Kenapa Julius agak dingin? Apakah mereka sedang bertengkar? Yang manapun, dia seharusnya tidak bersikap seperti itu.
"Ada apa, Ren? Kau tampak ingin mengatakan sesuatu."
"Ah, acaranya akan di mulai saat semua hadir bukan?"
"Ya, kurasa begitu."
"Selagi menunggu bagaimana kalau kita berduel?"
"Oh, duel ya. Sihir atau pedang?"
"Kalau pedang sudah pasti aku yang menang jadi sihir saja."
__ADS_1
"Kau sombong juga."
Dan begitulah kami pergi ke arena istana dan bertarung. Julius juga sudah meminta izin kepada ksatria yang sedang menggunakan arena untuk berlatih.