
Darah dan mayat dark elf berserakan dimana-mana. Para vampir membunuh dark elf tanpa ampun, mereka tidak peduli dengan para dark elf itu. Selama para dark elf itu tidak melawan maka tidak ada alasan bagi para vampir membunuh mereka. Tujuan mereka adalah batu energi dan bukan nyawa dark elf.
Pemimpin vampir, seorang pria paruh baya itu memasuki kuil dan berdiri di depan sebuah altar yang diatasnya sebuah bola berwarna biru melayang. Bola itu tidak besar juga tidak kecil dan ada beberapa ukiran tulisan kuno sebagai coraknya.
Bola itu bercahaya sangat terang. Pria itu mendekati bola itu dan mencoba meraihnya, bola itu seperti memiliki elemen gravitasi sehingga bola itu tidak bisa disentuh oleh tangan tapi melayang di atas telapak tangan. Itu selalu mengikuti tangan kemanapun seperti digenggam oleh tangan.
Pria itu keluar dari kuil dan bertemu dengan para pasukannya. Dia mengangkat bola itu ke atas setinggi mungkin.
"Awal kehancuran telah dimulai!"
Para prajurit menjadi bersemangat dan berteriak sekeras mungkin. Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan mereka mengeluarkan sayap mereka dan pergi meninggalkan hutan.
...****************...
Aku memakai Zirah hitam legam dan helm tengkorak. Aku saat ini menuju ke suatu tempat yang di sebut tempat tinggal para dark elf.
Menurut informasi yang diberikan oleh Olivia bahwa ada peramal hebat yang bisa menemukan keberadaan Victoria. Aku pergi bersama empat gadis lainnya.
"Tuan Noir. Sepertinya mereka sedang dalam masalah." Ucap Rose.
Aku melihat. Ada banyak sekali kerusakan dimana-mana dan beberapa dark elf terluka hingga ada yang sudah tak bernyawa. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi disini tapi mereka sepertinya baru saja diserang.
"Bianca, cari informasi." Perintah Gisella. Rose menuruti perintah Gisella dengan senang hati. Sementara aku menunggu tak lama Rose kembali, sepertinya ia berhasil mendapatkan beberapa informasi.
"Bagaimana?"
"Beberapa jam yang lalu mereka di serang oleh bangsa Vampir dan untuk tujuannya mereka tidak mau memberitahukannya." Lapor Rose.
"Apa kita serang mereka untuk bicara?" Tanya Xenovia dengan memukul udara ke depan.
"Jangan." Ucapku. Aku melihat sekeliling untuk bisa memahami situasi dan hanya satu kesimpulan yang bisa kudapatkan tapi aku harus memastikan sesuatu.
__ADS_1
"Rose, apa kau menanyakan ada apa dengan kuil itu?"
"Mereka hanya mengatakan bahwa disana ada benda pusaka."
Benda pusaka? Itu dia! Sepertinya bangsa Vampir menyerang para dark elf untuk merebut benda pusaka ini. Tapi ini masalah mereka, aku tidak punya kepentingan untuk mengurus masalah mereka.
"Baiklah, ini masalah mereka kita tidak punya waktu untuk membantu. Apa kau mendapatkan informasi tentang si peramal?"
"Ya, tuan."
"Ayo pergi."
Kami berlima pergi ke tempat dimana sang peramal berada, dia berada di sebuah rumah kecil. Kami memasuki rumah tersebut dan seorang nenek sedang duduk santai di kursi goyangnya.
"S-Siapa kalian?" Nenek itu terkejut dengan kedatangan kami. Dia seperti ketakutan saat melihat kami.
"Namaku Noir. Aku datang untuk meminta bantuanmu."
"Aku ingin kau mencari seseorang."
Sang nenek terkejut. Tapi dia seperti tidak bisa melawan perintah, ia segera berdiri dari duduknya dan mengambil sebuah bola kristal yang ada di rak berdebu. Dia membersihkan bola kristal itu dengan kain bersih dan mulai membacakan mantra.
"Siapa yang ingin kau cari? Aku sudah lama tidak melakukan ini jadi jangan berharap lebih."
"Seorang gadis vampir."
Sang nenek terkejut. Dia seperti mejadi emosi dan mulai merapal mantra sihir. Bola api terbentuk dan melesat ke arahku tapi Rose sudah ada di depan untuk melindungiku.
"Nenek tua, lancang sekali kau menyerang tuan kami. Sepertinya anda ingin sekali mati ya."
Nenek itu semakin ketakutan dengan intimidasi dari Rose. Yah, aku tidak marah karena sebelumnya mereka diserang oleh bangsa Vampir jadi Sifatnya tadi bisa dimaklumi.
__ADS_1
"Hentikan Rose. Nenek, aku akan melupakan tindakanmu tadi jadi lakukan apa yang kukatakan."
Sang nenek tidak lagi melawan dan dia menuruti perintahku. Dia mencoba mencari dengan bola kristalnya.
"Siapa nama orang itu?"
"Victoria."
Sang nenek mencari lagi dan dia sepertinya menemukannya. Wajahnya di penuhi oleh keringat sehingga aku yakin kalau dia menggunakan banyak sihir untuk mencari informasi tentang Victoria.
"Dia memiliki rambut cokelat dan mata merah, benar?"
"Ya." Jawabku dengan singkat.
"Dia sepertinya sedang bersama seseorang. Orang itu sangat mirip dengan gadis yang kau cari, sepertinya dia itu ibunya. Dia ada di istana vampir."
Ibu? Istana vampir? Untuk apa Victoria pergi ke sana? Kupikir dia sudah dibuang oleh keluarganya? Tidak, tunggu. Jika dia di buang maka sangat tidak mungkin untuk menemui orang tuanya. Maka itu artinya bukan ibunya yang mengusir Victoria tapi orang lain.
"Terima kasih atas informasinya."
Aku segera meninggalkan tempat itu dan menuju ke istana vampir.
...****************...
Di dalam istana kerajaan Vampir. Di salah satu kamar terbaring seorang wanita cantik dengan wajah yang pucat. Di sampingnya ada seorang gadis dengan rambut cokelat kekuningan serta mata merah seperti darah sedang memegang erat tangan sang wanita dengan kedua tangannya.
Dalam hati kecilnya ia berharap bisa melihat ibunya lagi, juga dia merasa menyesal karena meninggalkan tuan dan teman-temannya yang selalu bersamanya yang memiliki tujuan yang sama.
Dia menatap langit merah dari jendelanya dan ia yakin sekali bahwa tuannya sedang mencari dia. Tapi dia tidak bisa kembali karena saat ini, pamannya sedang mencari bola energi untuk menghidupkan ibunya dan memenuhi ambisinya untuk memusnahkan umat manusia.
Sejujurnya, dia juga sangat membenci manusia karena mereka sangat lemah dan merupakan ras paling rendah. Tapi pengecualian untuk tuannya. Dia adalah manusia yang benar-benar berbeda, dia memiliki kekuatan yang tidak masuk akal dan bertarung melawan mahluk jahat sendirian hingga ia menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
Dia sudah bersumpah setia kepada tuan yang dicintainya itu. Namun, jika ia tidak mengehentikan pamannya maka tuannya pasti akan marah padanya.