Son Of God

Son Of God
Search Game


__ADS_3

Setelah berhasil mengalahkan ratu vampir aku menghapus ingatan Kyoka tentang pertemuanku dengannya. Mungkin dia bisa mengingat serangan bangsa vampir tapi dia tidak dengan pertarunganku dengan ratu vampir.


Aku membawa ratu vampir yang pingsan beserta bola energi. Kekuatannya meluap keluar jadi aku memasukkannya ke dalam bayanganku dan meminta Bianca untuk membuat alat agar bisa memanfaatkan bola energi ini. Aku membaringkan ratu vampir di kamar kosong yang ada di markas. Awalnya itu dibuat untukku tapi karena tidak terpakai jadi itu hanyalah kamar kosong.


Sudah seminggu sejak invasi vampir dan sekarang aku berjalan ke kelas bersama Yukari dengan keadaan masih mengantuk. Aku memasuki kelas namun aku merasa ada yang aneh.


"Kenapa kau mengikuti ke kelas?"


"Apa yang kau katakan? Saat ini seluruh kelas akan mengadakan pembelajaran bersama di kelas F. "


Aku seketika membuka mataku dengan lebar dan rasa kantuk milikku seketika hilang begitu saja. Saat aku memasuki kelas ada 4 anak berdiri menunggu di depan pintu. Kurasa mereka adalah pemimpin kelas.


"Ahli strategi, sepertinya kau baru bangun tidur."


"Putra pedang suci. Kau baik-baik saja?"


"Yo, Ren. Apakah tidurmu nyenyak?"


"Kalau kau lelah jangan memaksakan diri untuk masuk sekolah."


Aku kenal mereka. Dari kanan, Vino perwakilan kelas C, Sayaka perwakilan kelas B, Julius dari kelas A dan yang terakhir Rascal dari kelas E. Mereka mencoba menjadi dekat dengan kami Kelas F, kelas yang terbilang kelas buangan namun kini semua pandangan buruk mereka tentang Kelas F berubah total.


"Kenapa kalian disini? Kalau mau menggangguku lebih baik jangan bicara denganku."


Mereka hanya tersenyum pada Ren. Sifatnya yang seperti ini adalah hal tidak biasa namun mereka tidak berani bertanya mengapa ia begitu lelah. Dia terlihat agak kurus dari terakhir kali mereka lihat.

__ADS_1


Julius melirik Yukari yang ada disebelahnya namun Yukari hanya menggelengkan kepalanya untuk memberikan jawaban pada Julius. Ia tahu kalau Yukari sekalipun tidak tahu apa yang terjadi pada Ren dan berharap bahwa dia benar-benar baik-baik saja.


Guru masuk ke kelas dan seluruh siswa segera ke tempat duduk mereka dan mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan.


Guru menjelaskan bahwa alasan mereka melakukan pembelajaran bersama seperti ini adalah salah satu program yang selalu dilakukan setiap tahunnya. Dia mengatakan bahwa ini adalah sebuah permainan, dimana setiap perwakilan kelas masing-masing akan mencari barang yang diperintahkan. Setiap barang memiliki poin tersendiri dan mereka yang memiliki poin terbesar adalah pemenangnya.


Sudah setengah jam setelah permainan ini dimulai. Siswa yang lain hanya menonton dari sebuah alat perekam yang digunakan sekolah untuk memantau berlangsungnya pertandingan. Tempat yang mereka gunakan adalah hutan yang berada di luar gerbang ibukota.


Di hutan bagian Utara. Seorang anak laki-laki berjalan melewati pepohonan dan ekspresinya sangat serius seperti orang yang tidak tahu arti bersantai. Dia sesekali melirik ke sekelilingnya untuk memastikan bahwa tidak ada monster yang berkeliaran di sekitarnya. Dia berhenti di depan pohon yang ukurannya dua kali lebih besar dari pohon yang ada disekitarnya.


Tingginya hampir sama namun warna batang pohon itu lebih gelap dari yang lain. Daun-daun hijau sangat lebar hingga cahaya matahari sekalipun tidak bisa melewatinya. Di belakang batang tersebut ada lubang kecil dan memantulkan sebuah cahaya yang ukurannya sekecil titik.


Laki-laki itu merasa beruntung bisa menemukan barang secepat itu. Dia memasukkan lengannya ke dalam lubang dan meraih cahaya itu. Tapi tangannya tidak sampai untuk meraih benda itu. Dia menarik tangannya kembali dan berdiam untuk memikirkan cara mengeluarkannya.


Dia mencari ranting pohon yang jatuh di sekitar dan meraihnya dengan ranting tersebut. Ujung ranting berhasil meraih cahaya kecil itu dan menariknya secara perlahan agar tidak menjauh.


Di tempat lain, Ren berjalan dengan wajah mengantuk. Di sebelahnya ada Sayaka yang sedang menggandeng tangan Ren dengan senang.


Keduanya tampak seperti pasangan jika dilihat dari kejauhan. Ren melirik ke Sayaka yang sedang bersenandung senang, ia bertanya-tanya dalam pikirannya apa yang membuat gadis ini senang?


"Putra pedang, lihat! Sepertinya ada sesuatu di sana."


Sayaka menarik Ren ke tempat yang ia tujukan. Ren hanya mengikutinya dan tak bicara apapun. Dia melihat sekeliling dan merasakan ada hawa keberadaan yang mengikuti mereka berdua.


Ren berhenti sehingga Sayaka juga ikut berhenti, dia menoleh ke belakang dan melihat Ren yang tampak waspada.

__ADS_1


"Ada apa? Kau baik-baik saja?"


"Kita dikepung."


Sayaka tampak bingung namun dia melihat sekeliling. Ada banyak sekali cahaya merah yang menatap mereka di semak-semak.


Bayangan hitam segera menerjang mereka dengan cepat namun Ren segera menarik pedang suci dari sarungnya yang tergantung di pinggangnya lalu menebas bayangan itu sesegera mungkin. Kedua memperhatikan apa yang menyerang mereka, itu adalah serigala dengan bulu hitam dengan perut yang terpotong oleh pedang Ren.


"Kurasa para serigala ini melihat kita sebagai makanan mereka."


"Ya." Para serigala keluar dari semak-semak dan mengelilingi mereka untuk mencari celah agar bisa menerkam dengan mudah. "Aku penasaran, kalau mereka akan membiarkan kita pergi begitu saja setelah melihat kawannya mati."


Angin tiba-tiba berpusat di telapak tangan Sayaka dan membentuk sebuah busur. Dia menarik tali busur lalu muncul panah yang terbuat dari angin.


Tiga anak panah dilesatkan dan mengenai kepala tiga serigala sekaligus. Dua serigala lain menerjang secara bersamaan dan hanya dengan satu tebasan Ren membunuh keduanya.


"Tembakan yang indah." Puji Ren. "Kuharap kau bisa menembak 10 panah sekaligus."


Sayaka tersipu saat Ren memujinya namun dia merasa tertantang saat Ren mengatakan dia harus menembak 10 panah. Sayaka biasanya hanya dapat menembak paling banyak 5 anak panah saja dan belum pernah menembak lebih dari itu.


Tali busur ditarik kebelakang, 10 anak panah terbentuk dan siap ditembakkan. Saat tali di lepas, hanya 4 anak panah saja yang mengenai serigala sementara sisanya melesat entah kemana.


"Kau yakin tidak sedang bercanda kan?" Ren tampak takut saat salah satu anak panahnya berbelok dan hampir mengenai dirinya yang ada di sebelahnya.


Untungnya, anak panah itu menghilang begitu Ren menebasnya dengan pedang. Sayaka menunduk dan wajahnya memerah karena malu. Dia berpikir mungkin bisa melepaskan 10 anak panah jika dia berkonsentrasi penuh namun kenyataannya dia masih harus banyak belajar.

__ADS_1


Dari semak-semak muncul satu lagi serigala. Dia memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dari yang lain bulunya berwarna hitam dan ada goresan luka di salah satu matanya. Cakar-cakarnya bersimbah darah seperti baru saja membunuh dan gigi taringnya mengeluarkan air liur karena dia terlihat kelaparan. Di lehernya tergantung kalung emas


__ADS_2