
Di depan gerbang ada beberapa ksatria sedang menunggu seseorang, semua ksatria itu adalah seorang wanita dan di belakangnya ada kereta kuda yang siap menunggu.
Seorang laki-laki datang ke gerbang dan para ksatria wanita itu seperti menunggu kedatangannya.
"Kakak? Kenapa kau memanggilku? Lalu kenapa ada banyak sekali teman temanmu?"
"Aku punya beberapa pertanyaan untukmu, Ren."
Ren dibawa dan ikut dengan ksatria wanita itu ke dalam kereta. Tatapan tajam mengarah kepada Ren sehingga membuatnya tidak nyaman.
"Sebenarnya ada apa ini?"
"Kau memiliki kemampuan berpedang yang luar biasa tapi kenapa kau masuk kelas F?"
Ren kebingungan. Untuk beberapa alasan kakaknya itu selalu perhatian pada Ren dan tidak memaafkan sesuatu yang menurutnya tidak sesuai.
"Mungkin ada kesalahan..."
"Jangan berbohong!!"
Rei berteriak. Sehingga membuat Ren dan beberapa ksatria lainnya terkejut. Menyadari itu dia duduk kembali dan mulai bersikap tenang.
"Ehem. Maafkan aku. Aku dengar dari Yue kalo kau yang memintanya agar kau masuk kelas F. Bisakah kakak mendengar alasannya?"
Bagi Ren sepertinya sangat sulit menghadapi kakaknya jika dia mulai serius apalagi dia tidak menyukai kebohongan.
"Aku hanya ingin bersantai jadi aku masuk ke kelas F. Awalnya aku berpikir kalau kelas Atau S adalah kelas yang sibuk dan terlalu mencolok jadi aku memilih kelas F."
"Baiklah, lalu kenapa kau membuat kelas F menjadi begitu mencolok apalagi di pertandingan sebelumnya caramu membuat strategi sulit ditebak."
"Saat aku melihat kelas F, mereka semua sangat kuat namun mereka tidak tahu cara menggunakan kekuatan mereka sehingga mereka diasingkan jadi aku membuat mereka bisa diakui banyak orang dan tidak dianggap sebagai sampah."
Rei menghela nafas dan pasrah dengan Jawaban adiknya itu. Wajahnya yang serius berubah menjadi seperti biasanya.
"Aku paham tujuanmu tapi untuk bisa mewujudkan impianmu itu. Kecerdasan saja tidak cukup."
"Memang kita akan pergi kemana?"
__ADS_1
Rei sengaja membuat adiknya menjadi penasaran. Dia sudah mengetahui sifat adiknya itu, dia selalu membaca buku dan tidak menyukai sesuatu yang membuatnya penasaran.
Ekspresi Ren menjadi kesal. Kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gereja. Keduanya turun dan disambut oleh biarawati.
Seorang pendeta datang dengan ekspresi wajah yang cerah. Dia menyambut kedua kakak beradik itu dengan ramah.
"Oh, nona Rei. Suatu kehormatan bisa menyambut anda dan orang disebelah anda ini pasti tuan Ren, adik dari nona Rei."
Namun, Ren merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dan melihat sekeliling untuk mencari tahu tapi dia tidak menemukan apapun.
"Kakak, sebenarnya kenapa kita ada disini?"
"Seperti yang kakak bilang sebelumnya. Kecerdasan saja tidak cukup, kau juga membutuhkan kekuatan."
Ren semakin bertanya-tanya dan dia akhirnya mengetahui tujuan Kakaknya. Alasan kenapa dia dibawa kemari adalah untuk menarik pedang suci twilight.
Pedang yang mampu menelan sihir negatif seperti kutukan dan yang lainnya. Pedang yang digunakan oleh pahlawan dulu saat perang manusia-iblis. Bersamaan dengan pedang suci Aurora. Pedang ini sangat bertolak belakang dengan pedang suci Aurora.
"Pak pendeta bisa bawa kami ke tempat pedang suci berada?"
Pendeta itu membawa mereka ke ruang rahasia. Meskipun pedang suci disimpan di tempat yang sulit untuk dicuri tapi pedang suci juga memilih tuannya sendiri.
Di depan mereka terdapat pedang berwarna merah gelap dengan Bilahnya yang berwarna hitam sedang menancap di atas batu. Terdapat ukiran tulisan kuno di batu tersebut.
"Tulisan apakah ini?"
"Aku tidak tahu. Kami sudah meminta bantuan dari berbagai penerjemah tapi tidak ada satupun yang bisa menerjemahkan tulisan tersebut."
"Begitu rupanya. Sepertinya ini adalah mantra yang dapat melepaskan pedang suci dari batu ini."
Ren berjalan mendekati batu tersebut dan melihat tulisan itu.
"Aku selalu ada, namun saat masih bercahaya tidak ada yang menemukanku. Saat cahaya menghilang aku terlihat sangat jelas namun sangat jauh."
Pendeta dan Rei terkejut karena Ren bisa membaca tulisan kuno itu dengan mudahnya. Pendeta tidak percaya dengan itu, dia sudah memanggil para penerjemah terbaik dari seluruh penjuru dunia tapi tidak ada satupun yang bisa membacanya, namun seorang laki-laki membaca tulisan itu tanpa ada masalah.
"Kau? bisa membacanya Ren?"
__ADS_1
"Hm? Oh, ya. Ini adalah bahasa naga yang ditulis secara terbalik."
Pendeta itu akhirnya mengerti sesuatu. Karena tulisan itu ditulis secara terbalik jadi tidak ada yang bisa membacanya dan menerjemahkannya. Tapi untuk bisa menyadari hal seperti itu bukanlah hal yang mudah.
"Bagaimana anda bisa mengetahui itu terbalik, tuan Ren?"
"Instingku yang mengatakannya."
Pendeta itu benar-benar sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata lagi. Namun, Rei lebih memikirkan jawaban dari tulisan yang ada di batu tersebut.
"Hm... Cahaya masih ada tidak ada yang menemukanku tapi saat cahaya menghilang aku terlihat sangat jelas..."
Ren melihat kakaknya sedang berpikir keras untuk jawaban itu namun hal itu tidak menggangu Ren.
"Jawabannya adalah bintang."
Sesaat setelah Ren mengatakan itu. pedang itu bercahaya dan batunya pecah dengan sendirinya sehingga pedangnya terlepas. Pedang itu terbang menghampiri Ren. Ren segera menangkap pedang tersebut dan pedang suci itu seperti memilih Ren sebagai tuannya.
"Pedang ini terasa seperti Void tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda." Pikir Ren.
Setelah semua itu keduanya kembali ke kereta dan mengucapkan selamat tinggal pada pendeta.
...****************...
Malam hari
Jauh di sebuah gang kecil di kota, seseorang berlari dengan kencangnya sambil membawa sebuah bungkusan. Dia terengah-engah dan sesuatu mengejarnya dengan cepat.
Seorang pria paruh baya terjatuh dan terus memeluk bungkusan tersebut. Sesuatu mendekatinya dengan cepat.
Yang mengejarnya merupakan seekor ular besar, ia mengabaikan pria itu namun mencoba merebut bungkusan itu.
Pria itu terus menahannya agar bungkusan tersebut bisa di berikan kepada istrinya. Namun, bungkusan tersebut terlempar dan botol-botol berisikan obat pil berceceran di tanah.
Pria itu ketakutan dan merasa sudah tidak bisa apa-apa lagi selain meninggalkan obat tersebut.
Ular itu memakan pil tersebut satu persatu dan tubuhnya mulai membesar sedikit demi sedikit.
__ADS_1