Son Of God

Son Of God
Musuh yang tak diketahui


__ADS_3

Ren menahan cakar sang serigala dengan pedangnya. Taring serigala tersebut sangat keras dan menggigit lengan kiri Ren.


Darah keluar dan membuat taring serigala itu berubah dari putih menjadi merah. Ren menahan rasa sakit agar bisa menahan serigala itu. Dari sisi kanan, panah meluncur dan menusuk tepat di kepala si serigala hingga akhirnya gigitannya yang sangat kencang kini melembut dan ambruk ke tanah.


"Seharusnya kau menembaknya lebih cepat." Keluh Ren.


"Aku sudah berusaha tahu! Tapi... apa tanganmu baik-baik saja?"


"Hanya luka kecil, santai saja."


Ren mengangkat pedangnya dengan tangan kanannya lalu menebas leher serigala hingga putus dan mengambil kalungnya.


Cahaya matahari semakin panas yang menandakan hari semakin siang dan suara lonceng berdentang dengan keras ke seluruh hutan sehingga sangat tidak mungkin jika tidak mendengarnya.


Para siswa segera berkumpul di aula sekolah agar bisa melihat hasil yang telah mereka dapatkan selama di hutan. Di atas panggung kepala sekolah memberikan sambutan pembuka pada seluruh siswa yang hadir dan di belakang berjejer para perwakilan kelas dari A hingga F.


Setelah seluruh siswa bertepuk tangan ketika kepala sekolah selesai memberikan pembukaan. Yue, sang kepala sekolah mendekati Julius yang sudah memegang sebuah vas bunga yang terbuat dari emas dengan perak sebagai hiasannya.


Yue mengambil kertas dan menulis diatas dengan pulpen, menempelkan kertas itu di depan vas yang bertuliskan "98" dengan angka yang hampir memenuhi kertas.


Di berjalan ke samping dan melihat Sayaka yang tampak seperti merasa bersalah dan dia memegang sebuah kalung emas dengan berbagai permata warna warni yang menghiasi kalung itu. Yue menulis lagi diatas kertas kosong dan menulis dengan angka besar sehingga tidak ada ruang untuk menulis lainnya. Angka 100 terpasang dengan jelas.


Begitu terus hingga sampai di kelas terakhir yang diwakili oleh Ren. Tidak ada benda apapun yang dibawanya. Hanya tangan kosong yang bersih.


"Mana poinmu?"


Semua orang yang melihat saling berbisik dengan teman didekatnya dan beberapa orang tersenyum puas karena kelas F tidak lebih dari kelas sampah sementara seluruh kelas F tampak cemas dan gelisah.


"Tidak ada. Aku sudah yakin sekali memberikannya kepada Sayaka."


"Kenapa kau memberikannya?"


"Ini hanya permainan. Dan juga setelah mendapatkan luka yang seperti ini." Ren menggulung lengan bajunya yang panjang hingga ke atas mendekati bahu. Ada perban yang melilit tangannya dan sedikit bercak darah. "Itu adalah bayaran yang setimpal."


Semua terkejut begitu melihat luka itu. Sayaka hanya diam menunduk. Meskipun ia tahu ini adalah keinginan Ren dan tidak mempermasalahkan hal ini namun ia tetap merasa bersalah.


"Kenapa kau bisa seperti ini?"


"Hanya gigitan anjing liar."


Jelas mereka tahu. Seharusnya tidak ada monster di dalam hutan namun Ren terluka akibat gigitan serigala hutan.


Pihak sekolah sangat yakin kalau mereka sudah mempersiapkan acara sekolah ini dengan melakukan observasi ke hutan tersebut dan tidak ada monster saat mereka melakukan itu.


Mata Yue seketika menjadi tajam dan menakutkan. Dia melirik ke para guru dan staf yang sedang berjejer di dekat panggung.

__ADS_1


"Segera periksa hutan, segera! Aku tidak akan memaafkan satu kesalahan pun."


"Siap!" Para guru menjawab secara serempak dan segera pergi dengan cepat.


Yue memerintahkan semua murid untuk kembali ke kelas masing-masing. Sementara Ren diperintahkan untuk pergi ke ruang kesehatan agar mendapatkan pengobatan ditakutkan ada racun yang masuk.


Ren menutup gorden di dekatnya agar cahaya matahari tidak masuk dan dia membaringkan tubuhnya di tempat tidur.


Jendela tidak tertutup dan angin bertiup sehingga gorden terbang dan hampir lepas dari tempatnya.


"Katakan?"


Di seberang tempat tidur Ren, sosok gadis berdiri dan rambut ungunya terbang karena tertiup angin.


"Seperti yang anda duga. Ada seseorang yang menyamar di sekolah anda dan memanggil monster ke hutan.


"Tujuannya?"


"Masih belum bisa dipastikan tapi ini hanya dugaan saya."


"Sepertinya mereka mencurigai anda sebagai Noir dan mencoba membunuh anda."


"Jadi begitu."


Ren sudah menduga kalau hal seperti ini akan terjadi dan dia juga menebak kalau kemampuan musuh adalah dia dapat mengubah wujud aslinya menjadi orang lain dan membuat orang disekitarnya seolah mengenal dia.


"Kau sudah boleh kembali. Besok aku yang akan mengungkap musuh."


"Baik."


Gadis itu pergi menghilang begitu saja. Tak lama kemudian pintu terbuka dan seseorang masuk kedalam.


"Apa kau sedang bicara dengan seseorang Ren?"


Luna masuk ke dalam sambil membawa keranjang yang berisi buah. Dia meletakkannya di meja dekat tempat tidur dan mengambil kursi kecil di dekatnya.


"Tidak, aku hanya sedang menikmati ketenangan."


"Bagaimana lukamu?"


Ren melirik Luna. Lukanya memang bukan masalah karena sebesar apapun luka yang ia dapat, itu akan sembuh dalam sekejap karena kemampuan regenerasi instan yang ia dapat dari hydra.


Tapi sangat tidak mungkin ia mengatakan tentang kemampuannya itu.


"Sudah tidak separah sebelumnya."

__ADS_1


"Syukurlah."


Luna mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidur dekat Ren. Ren melihat wajah Luna yang tertunduk, dia yakin kalau Luna sedang mengkhawatirkannya mengingat ia tahu identitas Ren yang sebenarnya.


"Apa kau perlu sesuatu?"


"Eh... Itu..." Suara Luna terbata dan mencoba mengeluarkan suaranya. "Apakah ada masalah serius yang sedang kau hadapi?"


Luna merasa kalau Ren sedang bertarung dengan musuh yang berbahaya namun tidak ia katakan agar melindungi orang yang menurut Ren berharga.


"Tidak. Tenang saja, aku hanya merasa kurang enak badan saja."


"Begitu."


Luna tidak tahu apa yang harus ia bicarakan lagi dengan Ren. Ia berdiri dan mengembalikan posisi kursi ke tempat semula.


"Aku... akan kembali ke kelas. Jadi..."


"Ya, sampai nanti."


Luna berbalik dan meninggalkan Ren sendirian. Pintu ruang kesehatan ditutup setelah ia keluar.


Di malam hari.


Gisella dan semua Seven Stella berkumpul dan duduk dengan membentuk segi empat. Gisella duduk sendiri dan sebagai pusat perhatian.


"Orang yang sudah melukai master, kemungkinan besar adalah Orvis." Ucap Olivia dengan mengenakan pakaian ungu yang cantik.


"Orvis, iblis yang bisa menyamar dan dapat memanipulasi monster." Jelas Nova.


"Kalau memang dia yang melakukannya maka dia harus habisi. Tidak ada ampun


untuk orang yang melukai Tuanku!" Teriak Xenovia dengan penuh semangat.


"Kalau begitu, rencananya-"


Sebelum Gisella sempat menyelesaikan ucapannya Olivia sudah memotongnya.


"Tidak perlu. Master mengatakan kalau dia yang akan mengurusnya."


Semua Seven Stella terkejut dan mata mereka terbelalak begitu mendengar itu. Mereka yang menggerakkan banyak sekali orang untuk mengumpulkan informasi tapi sama sekali belum ada perkembangan.


Namun master mereka sudah mengatakan hal seperti itu dengan kata lain. Master mereka sudah mengetahui identitas musuh dan sedang dipojokkan oleh master.


"Seperti yang diharapkan dari tuan!" Puji Rose dengan bangga.

__ADS_1


"Ya, dia selalu saja selangkah lebih cepat dari kita." Ucap Victoria.


"Pada akhirnya, semua musuh akan dihancurkan oleh kegelapan." Ucap Gisella.


__ADS_2