Son Of God

Son Of God
Penangkapan pencuri misterius


__ADS_3

Pusat kota sangat sepi karena para warga segera bersembunyi di rumah mereka saat mendengar kabar tentang pencurian obat.


Tidak ada apapun kecuali suara ketenangan dan hanya ada tiang lampu sebagai penerang kota. Seorang pria berjubah hitam berjalan di tempat yang kosong itu namun dia berhenti.


Dia merasakan ada yang mengincarnya, dia merasakan takut sehingga berkeringat dingin namun dia tetap mencoba tenang. Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.


"Nona! Saya menemukannya!"


Seorang wanita berteriak. Pria itu terkejut dan segera berlari dengan cepat namun tanpa ia sadari dia sudah terkepung oleh para ksatria wanita.


"Menyerah saja. Kau tidak akan bisa lari lagi."


"Cih."


Dia mengambil sesuatu dari sakunya dan melemparkannya ke tanah sehingga membuat asap yang tebal untuk menutupi pandangan.


"Kya!"


Tak lama kemudian salah satu seorang ksatria wanita terluka dan terjatuh ke tanah. Asap mulai menghilang, Rei segera melihat ke sekeliling untuk mencari pria tersebut.


Dia sadar bahwa pencuri itu sangat cepat dan juga kuat. Kemampuannya cukup merepotkan untuk seorang ksatria yang memakai zirah.


"Waspadai sekitar kalian!"


Satu persatu ksatria wanita dijatuhkan. Merasa di permainkan, Rei segera melafalkan mantra yang membuat pedang sucinya bersinar.


"Cahaya adalah harapan. Menghapus semua kejahatan dengan menegakkan keadilan. Shine Judgment!"


Pedang suci di hentakan ke tanah sehingga menciptakan gelombang cahaya dan menyebar ke sekitarnya.


Pencuri itu terhempas dan menabrak tembok dengan keras. Darah keluar dari mulutnya namun sesuatu muncul di depan mereka.


"Serang mereka, Snipe!"


Ular raksasa berdiri di depan para ksatria wanita. Dia segera mengayunkan ekornya yang panjang dari atas ke bawah namun para ksatria wanita segera menghindari serangan tersebut.


Para ksatria wanita segera menarik pedangnya mereka dan bersiap bertarung. Mereka maju bersama dan menyerang ular tersebut.


Meskipun kulit ular tersebut sangat keras sehingga sulit untuk melukainya, tapi mereka terus memberikan serangan sambil menghindari serangan yang datang.


Pedang suci bercahaya dengan terang seolah itu adalah matahari yang bersinar di malam hari. Rei berlari dan menebas ular itu namun meskipun berhasil melukainya tapi tidak lebih dari sedikit goresan saja.


"Sungguh ular yang menyebalkan."

__ADS_1


"Hahaha. Kalian pikir bisa melawan Snipe dengan serangan lemah seperti itu?"


Rei akhirnya mengetahui sesuatu bahwa setiap luka yang diterima ular adalah berkat obat yang selalu dimakannya. Karena itulah dia memiliki kemampuan pengurangan rasa sakit.


Pria bertudung itu berdiri sambil menyeringai. Dia melepaskan tudung yang menutupi wajahnya. Sosok yang muncul dihadapan adalah seseorang yang sangat familiar.


"Pak Pendeta?!"


Rambut cokelat yang disisir rapi ke kanan, matanya berwarna biru yang ditutupi oleh kacamata. Wajahnya memiliki sedikit keriput dan umurnya sudah tidak lagi muda.


Rei sangat terkejut. Orang yang di depannya adalah orang yang ia temui bersama adiknya saat mengambil pedang suci twilight.


"Kenapa kau melakukan ini?"


"Kenapa? Karena dengan ini aku akan diakui oleh organisasi itu."


"Organisasi?"


"Benar! Mereka menyebut diri mereka organisasi Stardust. Mereka memiliki tujuan yaitu mengubah sistem dunia yang menyebalkan ini!"


Rei sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkannya tapi ia tahu satu hal bahwa apapun yang dilakukannya bukanlah hal yang baik.


Dengan kesal, Rei menyerang pendeta itu dengan pedang sucinya. Kekuatan dan kecepatannya sangat bagus namun pendeta itu juga sangat ahli sehingga ia bisa menghindari semua serangan Rei dengan baik.


Di sisi lain para ksatria wanita terus menerus memberikan serangan kepada sang ular.


Bella menggunakan sihir apinya namun itu tidak memberikan luka sedikitpun pada ular raksasa itu.


"Apa apaan itu?!"


Sesuatu dengan kecepatan tinggi datang dari langit dan mendarat dengan benturan keras. Semua perhatian tertuju pada sesuatu yang datang itu. Debu mengepul sehingga sulit melihat dengan baik.


Saat debu sudah bersih muncul 8 sosok dengan pakaian serba hitam. Dapat dilihat sosok yang memakai zirah hitam di depan adalah pemimpinnya.


"Siapa kalian?"


"Kami adalah Little Star. Sang ksatria kegelapan."


"Ksatria kegelapan?"


Gadis elf di belakangnya memberikan laporannya sambil berlutut dengan satu kaki.


"Pria itu adalah pemilik ular tersebut, tuan."

__ADS_1


"Jadi begitu."


Pria berzirah hitam itu mendekati sang pendeta. Zirahnya bersuara saat ia berjalan dan dia memiliki kharisma yang membuatnya terlihat sangat kuat.


"Kalian urus ular itu selagi aku mengurus orang lemah ini."


"Baik!" Jawab mereka dengan serempak.


Mereka bertujuh segera berlari mendekati ular raksasa sementara pria berzirah hitam itu hanya diam menatap pendeta itu.


"Jadi begitu. Kau pasti Noir yang sedang diperbincangkan itu."


Rei membelalak karena sosok yang sering di bicarakan muncul bukan hanya itu ia juga tahu bahwa dia pernah diselamatkan olehnya saat hampir di serang oleh orc.


Noir tetap diam dan menunggu. Ia tahu sang pendeta itu memiliki gerakan tangan yang cepat sehingga tidak bisa dilihat oleh mata. Sesaat kemudian seperti angin melewati leher Noir namun tidak terjadi apapun. Baik luka ataupun darah tidak ada yang keluar, seolah tak terjadi apa-apa.


"Apa hanya itu kemampuanmu?" Pertanyaan Noir membuat pendeta itu kesal. Gerakan kini jadi mudah terlihat namun setiap ayunan pisaunya sama sekali tidak melukai Noir dan pisaunya selalu tembus seolah hanya memukul udara.


Pendeta sama sekali tidak mengerti kenapa serangannya yang sudah membunuh puluhan orang tidak berefek pada orang yang ada di hadapannya. Sihir berkumpul di kepalan tangan Noir dan pukulan datang ke arah wajah pendeta itu. Pendeta itu terbang jauh karena terkena pukulan yang keras.


Pendeta merasakan sakit yang luar biasa di wajahnya. Saat ia sadar ternyata ada sihir di pukulan Noir yang membuat wajahnya terasa sakit. Sangat kesal dengan Noir, ia segera berlari dan menerjang Noir yang tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri.


Lagi-lagi serangannya menembus tubuh Noir. Dia sekarang yakin bahwa serangan fisik tidak akan bisa melukainya ataupun menyerangnya. Pendeta itu segera melapisi pisaunya dengan sihir lalu melemparkannya dari titik buta Noir. Hasilnya tetap sama dan serangannya tidak mengenainya.


"Apa sudah selesai? Kalau begitu aku yang akan menyerangmu sekarang."


Noir berbalik lalu mendekati pendeta itu, saat sudah cukup dekat hanya dengan satu tangan Noir menyentuh wajah pendeta. Sesaat kemudian pendeta itu merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Wajahnya tidak terbakar ataupun ada sesuatu di wajahnya namun dia seperti di bakar oleh api yang sangat panas.


"Ah, panas. Sakit sekali! Hentikan!"


Dia terus meraung kesakitan. Yang telah dilakukan Noir pada pendeta adalah perusak otak. Itu adalah sihir kegelapan yang membuat saraf di wajahnya terbakar.


Sementara seven stella sedang bertarung dengan ular raksasa. Setiap serangan mereka melukai Snipe si ular. Sisiknya yang sangat keras dapat ditembus oleh mereka seperti memecahkan kaca dengan batu yang keras.


Akhirnya dengan sihir milik Victoria, Snipe tidak bisa bergerak karena rantai darah yang mengikatnya di bagian leher dan ekor.


Sekuat apapun Snipe mencoba untuk melepaskan diri tetap tidak bisa kabur dan akhirnya ia hanya bisa pasrah.


Seven stella menggabungkan sihir mereka dan menciptakan lingkaran sihir yang sangat besar di bawah Snipe.


"Segel bintang."

__ADS_1


Snipe tertarik ke bawah lingkaran sihir seolah terhisap oleh pasir hisap. Dan lingkaran sihir segera lenyap bersama Snipe.


Noir dan tujuh gadis beserta Pendeta menghilang begitu saja. Para ksatria wanita hanya diam kebingungan dengan semua yang baru saja dialaminya.


__ADS_2