
Hasil pertarungan dengan Julius adalah seri. Sungguh menyebalkan aku tidak bisa mengalahkannya.
"Kerja bagus, Ren."
"Ini minumannya, kau pasti lelah."
Yukari dan Luna datang dan memberiku minum dan handuk setelah pertarungan yang melelahkan itu.
"Terima kasih, kalian berdua."
"Kau menghilang pagi ini dan ternyata kau pergi ke istana."
"Mau bagaimana lagi. Pangeran kita ini membuatku melakukan apa yang dia mau."
Aku bisa melihat Julius terkikik dengan kekesalanku. Dia pasti sangat senang membuatku melakukan apa yang tidak kusukai.
"Kakak, semua tamu sudah hadir jadi bersiap dan ganti pakaianmu."
"Tentu. Ren, bagaimana kalau kita mandi bersama?"
"Tidak masalah."
Aku dan Julius pergi mandi bersama. Kamar mandi ini lebih besar dari yang aku pikirkan tapi setidaknya aku bisa membersihkan diri dan bersantai.
"Ahh, aku merasa hidup kembali."
"Kau benar. Julius, apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Kenapa kau berpikir begitu."
"Meskipun kau bersikap biasa saja tapi aku bisa tahu ada masalah besar yang mengganggumu."
"Haha, terlihat jelas ya. Sejujurnya..."
"Begitu ya, gawat juga."
"Kenapa kau bisa tenang seperti itu?"
Yah, sejujurnya aku sudah mengetahuinya. Tiga monster elemen terlepas dari segelnya dan sedang menuju kemari untuk balas dendam. Aku juga sudah tahu kalau kita membutuhkan semua bola energi untuk menyegelnya kembali. Karena kejadian vampir, semua bola energi itu sekarang sedang di jaga oleh para bawahanku. Aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku bisa menyegel mereka kapan saja.
"Meskipun aku panik sekarang hasilnya tidak akan berubah. Kita akan tetap di serang."
"Guh, sungguh kenyataan. Tapi yah, seharusnya bola energi di jaga di beberapa tempat oleh ras lain."
"Kau ingin menyegel mereka bukan? Butuh waktu untuk pergi dan mengumpulkannya. Kurasa lebih baik bersiap dan melawan mereka."
"Melawan mereka? Kau tahu, kita hanya manusia sementara para monster memiliki kekuatan alam dengan kata lain itu sama saja seperti melawan alam itu sendiri."
"Terus mau bagaimana? Diam menunggu dan mati begitu saja?"
"Sudahlah, kita bisa membahas ini nanti. Aku sudah merasa pusing, ayo keluar."
"Baiklah, padahal ini enak sekali."
Kami keluar dan mengganti pakaian. Pakaian yang disiapkan untukku sepertinya sangat mahal dan apa mereka yakin memberikan pakaian seperti ini.
__ADS_1
"Wah, kau sangat cocok dengan pakaian seperti itu, Ren. Kau terlihat lebih keren dariku."
"Terima kasih atas pujiannya tapi ini sangat panas."
"Bertahanlah. Ini akan berlangsung lama."
Dia pasti sengaja melakukan ini. Tunggu saja, mungkin hari ini dia bisa menjahili-ku sesuka hatinya tapi aku akan membalasnya nanti.
Kami pergi ke aula dan sudah banyak tamu yang datang. Para tamu langsung berfokus pada Julius yang baru saja datang.
"Semuanya, terima kasih atas kedatangan kalian semua untuk merayakan kemenangan sang pahlawan kita yang mengalahkan iblis. Saya harap semuanya pasti mengenalnya, Pahlawan Orion, Ren!"
Pidato yang membosankan. Tapi aku yakin kalau pangeran harus melakukan hal semacam ini, aku bersyukur tidak terlahir sebagai bangsawan.
"Bersulang!"
Semuanya mengangkat gelas mereka dan mengatakan "Bersulang!" dengan keras. Pesta semacam ini sebenarnya tidak penting tapi alasan pesta ini dilakukan bukan hanya untuk merayakan kemenanganku tapi juga membuatku bersosialisasi dengan orang-orang.
"Kau sangat tampan dengan pakaian itu, Ren."
"Sepertinya ini sangat mahal."
Luna dan Yukari datang dan menyapa. Mereka berdua juga sangat cantik dengan gaun mereka, tapi aku tidak ingat kalau Yukari punya gaun seperti itu sebelumnya.
"Bagaimana penampilan kami? Cantik bukan?" Ucap Luna dengan nada menggoda.
"Ya, kalian sangat cantik. Aku hampir tak mengenali kalian."
"Fufu. Kami berusaha yang terbaik untuk memilih pakaian."
Kami? Jadi begitu. Itu gaun milik Luna, pantas saja aku tidak akan pernah melihat gaun itu sebelumnya.
Siapa nih cewek? Melihat tampilannya dia sepertinya seorang putri bangsawan dan ... gadis dewasa.
"Nona Dorothy, rupanya anda datang."
"Ara, apa kau tidak senang aku di sini, nona Luna?"
Aku bisa melihat kalau mereka tidak dalam hubungan yang baik.
"Saya Ren Orion, senang bertemu denganmu putri Dorothy."
Aku segera memperkenalkan diri dengan membungkuk 90 derajat untuk membuat sopan apalagi nih cewek seorang putri sama seperti Luna dan juga untuk menjaga pandanganku dari gaunnya yang sedikit terbuka.
"Sopannya. Tapi tidak perlu membungkuk seperti itu, kau adalah pahlawan jadi tidak perlu bersikap formal."
"Baik."
Aku memang menurutinya tapi aku membuat mataku tetap tertutup agar tidak melihat belahan dadanya yang indah.
"Kenapa kau menutup matamu?"
"Maafkan saya karena sepertinya debu masuk kedalam mata saya."
"Perlukah aku meniupnya?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ini bukan masalah besar."
Aku segera berbalik untuk pergi dan tidak berhadapan dengannya. Tapi...
"Sepertinya kau mau kabur ya, Ren."
Suara menyebalkan itu, aku mengetahuinya! Dia Julius.
"Bisakah kau tidak berbicara denganku. Aku sibuk."
"Sibuk? Seharusnya kau menyapa nona-nona ini dulu sebelum pergi, pahlawan."
Sialan! Mana bisa aku menyapa para gadis dengan pakaian yang seperti itu! Aku di sini mencoba untuk menjadi pria yang menjaga pandangannya.
"Pangeran, sudah cukup menjahilinya. Dia hanya tidak terbiasa dengan gaun seksi."
Ah, malaikat! Terima kasih.
"Jadi kau berbohong kalau matamu terkena debu?"
*Gulp* Habis sudah. Kehidupanku yang tenang telah hancur.
Boom
"Apa yang terjadi?!"
"Kya!!"
"Tanahnya bergetar?!"
Getaran ini... Jangan jangan!
Aku berlari ke jendela dan melihat keluar. Seperti dugaanku, mereka sudah sampai di sini! Para Monster elemen!
"Julius! Bawa semua orang pergi dari sini!"
"Tunggu... apa yang sedang kau rencanakan?"
"Monster batu itu akan menyerang ke sini, aku akan menahan serangannya dari sini!"
"Jangan bertindak konyol di saat seperti ini!"
"Lalu apa?! Membiarkan kita semua terkubur hidup-hidup?!"
Julius kesal karena tidak bisa melakukan apapun di saat seperti ini, jadi dia hanya bisa menyetujui keputusanku."
"Baiklah! Jangan mati."
"Ya, aku juga masih ingin hidup kau tahu."
Setelah semua pergi, akhirnya aku sendirian tapi aku masih mendengar suara teriakan Yukari.
"Tidak, Ren masih ada di dalam!"
Tapi dengan begini akhirnya aku tidak perlu menahan diri lagi. Batu besar terbang mengarah tepat di depanku. Ku akui kalau monster cukup hebat dalam membidik tapi sayangnya dia salah memilih lawan.
__ADS_1
aku menarik pedang suci dari pinggang dan membelah batu menjadi beberapa potongan kecil dengan cepat. Tapi batu selanjutnya kini dilapisi oleh api. Untuk ukuran monster elemen, mereka cukup pintar tapi sayangnya aku memotongnya dengan cepat lalu ledakan terjadi. Meskipun ledakannya tidak terlalu besar karena aku menguranginya dengan melapisinya dengan sihir kegelapan tapi masih merasakan hawa yang panas.
"Seperti yang diharapkan dari monster elemen, kekuatannya benar-benar berbeda dibandingkan dengan monster lainnya."