
Aku [Ren Orion] yang dikenal sebagai pahlawan Orion terkejut dengan apa yang terjadi di rumah setelah aku melarikan diri dari pemandian air panas yang berisikan iblis.
Saat ini ayahku, Clovis Orion sedang bertengkar dengan pria paruh baya yang dikenal sebagai yang mulia raja atau bisa dibilang dia adalah ayahnya Julius dan Luna.
"Jadi maksudnya putriku tidak cantik, begitu?!"
"Aku tidak mengatakan itu!"
Keduanya terlihat sangat keras kepala dan saling menatap dengan menempelkan wajah mereka. Sementara, ibu, ratu, Julius dan Luna menghela nafas lelah melihat keduanya. Aku berjalan dan dengan cepat melompat lalu menendang wajah kedua orang tua berisik itu.
Semuanya terkejut dengan apa yang telah kulakukan.
"Bisakah kalian tidak membuat keributan saat aku pulang?"
Ayah memegangi hidungnya yang kesakitan dan berbicara padaku.
"Padahal aku ayahmu tapi kau malah menendangku."
"Kalau begitu jangan bertengkar."
Sementara raja berteriak kesal padaku yang tiba-tiba menendang wajahnya.
"Aku ini seorang raja, tahu!"
"Begitu ya. Kalau begitu berhenti bertengkar."
Dibandingkan yang lainnya, Julius menutupi wajahnya karena ulah Ren yang bersikap tidak sopan. Meskipun ia sahabatnya dia berterima kasih karena sudah melerai ayahnya tapi dia tidak menyukai caraku yang melerai mereka.
"Ren, bukankah ada cara lain untuk memisahkan mereka.
"Memang, tapi hanya ini yang kupikirkan."
"Ren, duduk."
Ibu tersenyum tapi tidak dengan matanya, aku bisa merasakan kemarahan darinya. Aku segera menuruti ibuku dan mendapatkan ceramah darinya.
"Kau tidak seharusnya menendang ayahmu, mengerti."
"Maafkan aku, bu."
Aku menyesalinya tapi entah kenapa aku hanya merasa kesal jadi tanpa sadar aku menendang mereka. Dan ini adalah pertama kalinya aku melihat ibu marah, kupikir dia orang yang tidak bisa marah.
"Fufu, bagus kalau kamu menyesal. Jangan di ulangi, oke."
Aku menghela nafas lega saat kemarahan ibu sudah menghilang. Namun, aku merasakan kemarahan lain dari sebrang, itu berasal dari Luna. Sepertinya dia dalam mood yang buruk.
__ADS_1
"Hei, Ren."
"Ya?"
"Kenapa kau tidak pergi ke akademi?"
Julius yang tampaknya penasaran menanyakan hal yang sama padaku.
"Aku tidak menemukanmu di akademi tadi, apa kau habis dari suatu tempat?"
"Ya, aku diculik oleh kakakku dan hampir terbunuh oleh orang gila yang entah dari mana asalnya."
Saat aku mengatakan hampir terbunuh, ayah berdiri dengan suara kesal.
"Apa?! Orang bodoh mana yang ingin membunuh putraku?!"
"Tenanglah ayah, orang itu sudah mati dan juga berkat kakak dan ksatria suci lainnya lukaku tidak menjadi parah."
"Perlihatkan padaku."
Aku membuka kancing pakaianku dan memperlihatkan dadaku yang diperban, namun ada sedikit darah yang di perbannya yang membuktikan lukaku terbuka.
"Luka tebasan... aku yakin orang itu menyerang dari jarak jauh."
Hanya dengan melihatnya, ayah dapat mengetahui bagaimana lukaku di dapat. Seperti yang diharapkan dari pedang suci, kemampuannya sangat hebat.
Raja berdiri dan duduk di antara istri dan putrinya. Dia merapatkan jari-jarinya dan menjadikannya penyangga wajahnya. Tatapannya menjadi serius dan itu membuatku takut.
"Ren."
Saat dia memanggil namaku entah kenapa aku langsung bergidik. Ada perasaan aneh saat ia menatapku.
"Apakah orang yang menyerangmu menyebut dirinya Eldo?"
Aku terkejut bahwa raja mengenal orang gila itu. Firasatku mengatakan kalau orang gila ini memiliki hubungan dengan raja di masa lalu.
"Ya, benar yang mulia."
Aku menjawabnya dengan cepat agar pembicaraan ini segera berakhir. Raja menghela nafas lelah dan ekspresi seriusnya menghilang entah kemana.
"Orang yang kau lawan dulunya adalah ksatria yang hebat. Kemampuannya juga bahkan diakui oleh ayahmu namun karena prestasinya itu dia menjadi sombong dan aku mengusirnya dari kerajaan."
Raja ini ternyata lebih bijak daripada kelihatannya. Penampilannya sekilas sangat bermartabat, dia memiliki rambut pirang pendek dan kumis pirang panjang.
Selagi dia masih bicara, aku duduk di dekat ibu dan aku berpura-pura mendengarkannya. Aku segera menyambungkan telepati pada seluruh Seven Stella.
__ADS_1
[Kalian mendengarku?]
[Ya master. Kami mendengar anda, apakah ada sesuatu?]
[Belum lama ini aku diserang oleh salah satu anggota Phantom Moon, dan besar kemungkinan dia bersama temannya. Temukan dia di sekitar kota.]
[Ya, master!]
[Aku akan mempersembahkan kepalanya untuk anda.]
Meskipun suaranya agak dingin tapi kata-katanya terasa menakutkan. Terkadang Olivia menjadi menakutkan.
[Olivia, itu bukan kata yang pantas untuk seorang gadis. Aku tidak mengizinkan kalian untuk membunuhnya, apapun yang terjadi tangkap dia dalam keadaan hidup!]
[Siap!]
Dengan begitu telepati terputus. Kesadaranku kini kembali ke sang raja dan dia masih menjelaskan tentang orang gila itu, tapi aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang dia ucapkan. Aku menatap Julius yang duduk di sebelah Luna dan memberikan isyarat kepadaku dengan matanya. Dengan isyaratnya dia mengatakan "Kau lelah bukan? Bagaimana kalau kita pergi berjalan-jalan."
Aku mengangguk sebagai jawaban dan kami berdua berdiri untuk meninggalkan tempat ini. Begitu dia selesai akhirnya dia menyadari bahwa aku tidak mendengarkannya dan memanggilku saat aku dan Julius mencapai pintu masuk.
"Oi, berani sekali kau mengabaikanku. Aku ini rajamu, lho!"
"Maaf, aku tidak peduli mau kau raja atau apapun itu, tapi sejak tadi kau hanya mengatakan sesuatu yang tidak berguna, Benarkan Julius?"
"Ayah, meskipun kau raja tapi setidaknya kau harus mengatakan hal penting dan bukan omong kosong."
Raja langsung syok, beberapa detik kemudian dia menggebrak meja dengan keras karena sudah emosi.
"Ren! Julius! Aku memperingatkan betapa berbahayanya orang itu!"
Yah, apa yang coba dia sampaikan sejak tadi adalah bahwa Eldo bukan sembarangan orang yang bisa dikalahkan dan kekuatannya bisa mengancam kerajaan. Aku memahami itu, tapi dia kan sudah mati dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Ren, apa yang terjadi pada si Eldo atau apalah namanya."
"Sudah mati."
Saat Julius bertanya kepadaku, aku segera memberikan jawaban singkat dengan cepat. Julius yang sudah mendengar jawabanku menoleh pada raja dan mengatakan "Lihat?" dengan wajah sombong.
"Tidak ada yang perlu kau pikirkan ayah, dia sudah mati lagipula bagiku selama Ren baik-baik saja itu sudah cukup."
Raja yang sudah sangat marah dalam sekejap menjadi tenang setelah menyadari bahwa dia merasa sesuatu yang menakutkan di belakangnya. Ratu dan Luna menepuk pundak raja dan tersenyum namun tidak dengan mata mereka.
"Sayang, apa yang dikatakan Julius benar. Aku mengerti bahwa kau khawatir tapi bukankah kau berlebihan."
"Ayah, jika kau memarahi Ren lebih dari ini, aku takkan memaafkanmu, lho."
__ADS_1
Raja seketika menjadi jinak seperti anjing penurut. Ayah mengacungkan jempol padaku, dari ekspresinya aku bisa tahu bahwa dia mengatakan "Kerja bagus!" padaku.
Mungkin karena aku membuatnya seperti ini atau tidak menghormatinya sebagai raja, aku tidak tahu tapi sepertinya ayah justru bangga dengan sikapku pada raja.