
Pasukan Vampir berhasil mendapatkan 2 bola energi lainnya. Sekarang mereka memiliki 3 bola energi. Bola energi biru: memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan pemakai, bola energi ini juga memiliki kemampuan untuk menyuburkan tanaman. Bola energi hijau: memiliki kemampuan penghancur yang kuat juga membuat area sekitar menjadi dipenuhi badai. Bola energi cokelat: memiliki kemampuan penyembuh yang luar biasa dan juga dapat menciptakan racun mematikan.
Saat mereka menuju area pegunungan. Itu adalah gunung berapi dimana bangsa naga tinggal. Di dekat kaki gunung ada desa dimana para lizardman tinggal sebagai penjaga. Mereka adalah subspesies dari naga, mereka juga yang bertugas menjaga bola energi merah. Bola energi yang mampu membakar segala hal dengan mudah dan dapat menciptakan udara menjadi panas sehingga hanya bangsa naga yang dapat bertahan dari efeknya itu.
Pasukan Vampir tahu akan kemampuan yang dimiliki oleh Lizardman. Mereka adalah lawan yang sangat merepotkan dan mereka berharap untuk tidak membuat masalah dengan mereka. Rencana mereka adalah diam-diam mencuri bola energi tanpa diketahui dengan begitu mereka bisa terhindar dari pertarungan.
Mereka diam-diam berkeliling desa itu dan menemukan sebuah kuil yang sama di desa dark elf. Dengan membiarkan pasukannya untuk menunggu dan mengawasi para Lizardman. Pemimpin vampir masuk ke dalam kuil dan mengambil bola energi merah. Dengan begitu mereka berhasil mengumpulkan semua bola energi yang ada.
Mereka segera kembali ke kerajaan mereka untuk memulai rencana mereka. Sesampainya di kerajaan. Pria paruh baya memasuki sebuah ruangan dan disana seorang wanita cantik sedang berbaring tenang.
Pria itu terkejut melihat seorang gadis yang seharusnya telah tiada sedang duduk di samping tempat tidur. Gadis itu memiliki aura dewasa, mata merah dan rambut cokelat panjang hingga ke punggung.
"Kau... bagaimana bisa?"
"Lama tak jumpa, paman."
Pria itu mencoba menenangkan diri dan tetap dengan ekspresi seriusnya. Meskipun ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya tapi dia harus tetap tenang.
"Tidak kusangka kau masih hidup, Sarah."
"Aku sudah lama membuang nama itu, namaku sekarang adalah Victoria."
Pernyataan itu membuatnya semakin tidak percaya. Gadis ini dulunya memiliki penyakit dan memiliki tubuh yang sangat lemah, dan agar tidak mengotori nama baik keluarga, dengan cepat ia membuang gadis itu. Dan sekarang gadis itu berada di hadapannya dengan kondisi yang normal dan dia bisa tahu bahwa kekuatan sihirnya tidak seperti dulu kini kekuatan sihirnya sangat besar.
"Begitu ya. Kau datang untuk menemui ibumu ya?"
"Benar, bukan hanya itu saja. Aku juga datang untuk membunuhmu!"
Mata merahnya mengeluarkan intimidasi yang kuat sehingga membuat pria paruh baya itu sangat ketakutan tapi dia terus mencoba menahannya. Saat intimidasinya berhenti, dia terengah-engah. Intimidasi yang diberikannya membuat dirinya kesulitan bernafas dengan normal.
"Kau..."
Victoria berdiri dan tombak darah meluncur ke arah pria paruh baya itu. Meskipun dia berhasil menghindari beberapa serangan tombak darahnya dia tetap terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Jangan meremehkanku!"
Dia mengeluarkan bola energi merah dan api yang sangat merah dan panas itu mengenai Victoria sehingga dia terlempar ke luar jendela.
"Selamat tinggal. Baiklah, sudah waktunya memulai rencana."
__ADS_1
Pria itu mengeluarkan semua bola energi dan membacakan beberapa mantra. Tulisan kuno terbang di udara dan mulai mengikat wanita yang terbaring di kasur. Wanita itu membuka matanya sambil berteriak kesakitan.
Keempat bola energi berubah menjadi tulisan kuno dan masuk ke dalam tubuh wanita tersebut.
Tak lama kemudian, mata wanita itu berdiri dan energi sihir yang sangat besar meluap. Dia berteriak dan sangat marah. Beberapa luka di tubuhnya seketika menghilang namun, dia kehilangan akal sehatnya akibat kekuatan besar yang ada di dalam tubuhnya.
"Ya! Ini dia! Dengan begini tidak ada satupun yang dapat menghentikanku!"
Pria paruh baya itu tertawa tapi kesenangannya hanya sampai disitu saja. Wanita itu menyerang pria paruh baya itu dan seluruh tubuhnya terbakar hingga menjadi abu.
Victoria sadar dan membuka matanya. Ia tak percaya bahwa dirinya akan pingsan setelah mendapatkan serangan mendadak seperti itu. Dia melihat ke atas dan ada kobaran api di dalam kamar ibunya. Dia melompat dan menemukan bahwa ibunya sudah bangun namun dia terlihat sangat berbeda. Dia seperti orang yang tidak memiliki akal sehat, dia melihat pamannya dibakar hidup-hidup.
"Ibu!"
Saat Victoria memanggilnya, wanita itu menoleh lalu terbang ke atas sehingga menghancurkan langit-langit. Dia pergi meninggalkan Victoria.
"Tunggu ibu!"
Victoria terbang dan mencoba untuk menghentikan ibunya namun dia terkejut karena ibunya sedang menuju ke arah selatan.
"Itukan..."
...****************...
Dalam perjalanan ke kerajaan Vampir aku berubah pikiran dan segera kembali ke ibukota. Ini bukan karena aku tidak mau mencari Victoria tapi naluriku mengatakan bahwa ibukota dalam bahaya. Gisella tidak mempermasalahkan keputusanku untuk kembali begitu juga dengan 3 gadis lainnya.
Saat ini aku sedang menatap langit malam di atas menara jam. Bulan sabit bersinar begitu terang seolah langit malam tersenyum padaku. Saat aku sedang menikmati ketenanganku, Olivia muncul dibelakangku. Dia menundukkan kepalanya dan berlutut dengan satu kaki.
"Saya membawa laporan penting, master."
"Katakan saja."
"Dugaan anda benar. Saat ini ada vampir dengan energi yang besar sedang menuju kemari. Lalu..."
Jadi ras Vampir ingin menginvasi ibukota. Aku tidak tahu apa tujuannya tapi sepertinya malam ini akan ada pertempuran besar.
"Lalu? Ada apa?"
"Ada pasukan vampir terbang ke sini juga Victoria sedang mencoba menghentikan pasukannya itu."
__ADS_1
Jadi dia ingin menghentikan invasi ini sendirian, ya. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu namun dia bertindak berlebihan. Seharusnya dia mengatakannya padaku, kalau begini rasanya aku seperti tidak dipercaya olehnya.
"Beritahu Gisella dan yang lainnya untuk menahan vampir itu. Aku akan pergi mengevakuasikan penduduk."
"Siap!"
Olivia menghilang dengan cepat. Aku melepas topeng sihirku dan kembali menjadi Ren. Aku melompat dari atas dan berhasil mendarat dengan baik. Aku berlari secepat mungkin dan pergi ke bangunan yang disebut divisi 2.
Itu adalah tempat dimana kakak bekerja sebagai ksatria suci. Aku berjalan cepat mendekati pintu masuk namun di tahan oleh dua wanita penjaga.
"Saat ini ada rapat penting. Jadi..."
"Aku Ren Orion. Ada hal penting yang harus di sampaikan pada kakakku!"
Kedua penjaga itu saling menatap dan akhirnya membiarkanku masuk ke dalam. Rapat dimana semua divisi berkumpul dan divisi 2 sebagai tuan rumah. Sekarang rapat sedang berlangsung, semua perhatian tertuju pada salah satu wanita yang sedang menjelaskan.
"Hanya sekian yang bisa saya sampaikan." Wanita itu selesai menjelaskan lalu segera duduk di kursinya setelah membungkuk.
"Nona Rei. Aku sangat percaya padamu tapi hasil yang ku terima ini kurang memuaskan."
"Akhir-akhir ini ada banyak masalah dan juga kemunculan sosok yang di panggil Noir membuat kami sulit bergerak. Karena aku masih belum yakin bahwa dia dan bawahannya adalah teman atau musuh."
Seorang Gadis berambut cokelat adalah komandan dari seluruh divisi di ksatria suci. Dia adalah gadis yang sangat cantik dan memiliki rambut hitam panjang serta memakai aksesoris berbentuk bunga di kepalanya. Namanya adalah Kyoka Kawashiro.
Rei tidak tahu bagaimana dia bisa mengatasi masalah ini. Sekarang sosok bernama 'Noir' juga merupakan ancaman baginya dan juga kerajaan.
"Baiklah, aku akan..."
Dar
Pintu segera dibuka dengan keras, seorang anak laki-laki muncul secara tiba-tiba. Kyoka memotong suaranya dan melihat ke arah suara yang mengganggunya. Semua mata tertuju pada anak laki-laki itu.
"Ren?!"
Rei sangat mengenal anak laki-laki itu, dia adalah satu-satunya adik laki-laki yang sangat ia sayangi. Namun, adiknya datang dengan ekspresi serius yang tidak pernah ia tunjukkan.
"Siapa kau? Kami sedang rapat."
Salah seorang berteriak namun anak laki-laki itu berteriak lebih keras dari suara yang yang meneriakinya tadi.
__ADS_1
"Tidak penting! Aku mohon segera evakuasikan penduduk!"