Son Of God

Son Of God
Ren dan iblis


__ADS_3

Semua orang keluar arena kecuali Ren dan Jovan. Keduanya belum bergerak sedikitpun. Julius yang melihat Ren dari pinggir arena tampak khawatir. Ren belum pernah menggunakan sihir sebelumnya namun ia tiba-tiba bisa menggunakan sihir apalagi berelemen ganda.


Pedang muncul di tangan Jovan. Ia membuat pedang dengan sihir yang tersisa. Keduanya saling menerjang dan mengadu pedang. Jovan mengangkat pedangnya dan mengincar leher Ren. Dengan satu gerakan Ren berhasil menahan pedangnya dan mendorong Jovan dengan pedangnya. Jovan terdorong dan kehilangan keseimbangannya namun ia berhasil bertahan.


"Jangan sombong kau, manusia!"


Kali ini serangan lurus yang mengarah pada dadanya Ren. Namun, dengan satu gerakan Ren menghindar dan saat ada kesempatan, Ren menebas dari bawah ke atas sehingga satu lengan Jovan terpotong.


"Brengsek... padahal hanya ... manusia."


Jovan dengan segera melompat mundur dan menjaga jarak.


"Ini adalah akhir bagimu."


Ren berjalan mendekati Jovan untuk menutup jarak. Satu langkah. Dua langkah. Langkah ketiga Ren berhenti, semua penasaran dengannya. Seketika Ren berlutut dan mulai berbatuk-batuk.


Ren melihat darah di tangannya. Orang yang melihat itu, terkejut karena Ren sudah mencapai batas kemampuannya. Mereka hendak membantu Ren namun Ren tampak tak ingin dibantu.


"Jadi kau sudah mencapai batasmu, ya? Maka ini akhir bagimu!"


Jovan melompat dan mulai menyerang dari atas, Ren berhasil menahan serangannya namun Jovan memaksa dan terus mendorong pedangnya hingga Ren mulai kelelahan.


Nafasnya terengah-engah dan dia batuk darah. Api di bilahnya menjadi lebih besar dan Ren mengerahkan seluruh tenaganya. Sedikit demi sedikit pedang Ren beringsut ke atas.


"Raaaaaaaaa!"


Pedang Jovan terlempar jauh dan Jovan terguling. Ren segera berdiri dari posisi berlututnya dan membuat kuda-kuda yang aneh. Hanya Clovis yang terkejut dan berdiri dengan cepat setelah melihat posisi Ren.


"Posisi tu...!"


kaki kanannya mundur selangkah, pedangnya yang ada di tangan kanannya ditarik ke belakang, bahunya di rendahkan sedikit dan mata fokus ke depan.


"Berhenti Ren!"


Clovis berteriak memperingatinya. Semua yang ada di luar arena mendengar peringatan Clovis dan segera berlari ke arah Ren. Namun, mereka terlambat.


Petir yang mengelilinginya berpindah ke pedang dan membentuk sebuah pusaran di pedang. Jovan yang hendak berlari tidak bisa pergi karena terlalu takut dengan apa yang ada di depannya.


"Slash."


Petir dan api bersatu di pedang dan melepaskannya ke depan. Serangannya mengarah Jovan dan membawanya ke langit lalu meledak dengan suara yang sangat keras bersamaan dengan teriak kesakitan Jovan.


Ren yang sudah kehabisan sihir, jatuh dan kesadarannya sudah menghilang. Semua segera berlari ke arena dan menyelamatkan Ren.


...----------------...

__ADS_1


Aku membuka mataku secara perlahan.


Dimana ini? Apakah ini ruang kesehatan?


Kepalaku sakit dan aku sepertinya berada di ruang kesehatan akademi. Aku ingat ketika aku melepaskan sihir yang baru saja aku pikirkan dan menerbangkan Jovan. Setelah itu... aku tidak ingat.


Sepertinya pilihan yang tepat untuk membatasi mana di tubuhku tapi sepertinya ini terlalu berlebihan. Aku kehilangan kesadaran setelah menggunakan mana yang banyak. Jika bukan karena aku membatasi manaku yang sangat besar ini maka serangan seperti tadi bukanlah masalah besar tapi kurasa orang-orang akan curiga.


Tepat setelah aku sadar, aku mendengar suara langkah kaki. Gorden yang menutupi tempat tidurku terbuka dan sosok ayah, ibu dan Nia muncul.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Tuan muda, apakah anda baik-baik saja?"


Sepertinya aku membuat mereka khawatir namun sepertinya ayah tampak marah.


"Ren, yang tadi itu..."


Gawat, apakah dia marah karena aku menyembunyikan kekuatanku? Tidak, aku yakin bukan itu alasannya marah.


"Maaf, aku..."


"Ren, ayah senang kau bisa menggunakan sihir."


Eh?


"Kupikir ... dengan memusatkan kekuatan maka bisa mengalahkannya dengan cepat."


Tangan ayah terangkat ke atas, kurasa dia akan menamparku. Aku menutup mata karena sudah bersiap untuk di tampar namun aku terkejut dengan kepalaku yang ditarik.


"Bocah bodoh. Kau bisa saja mati jika memaksakan diri seperti itu."


Ayah memelukku dan mulai menangis. Yah, hanya sakit kepala biasa dan ini bukan masalah besar tapi kurasa aku membuat banyak orang khawatir. Jujur saja, aku tidak ingin menggunakan kekuatan tadi karena terlalu mencolok tapi aku terpaksa melakukannya karena kesal dengan kakakku. Kupikir dia akan mempercayaiku sebagai adiknya tapi saat dia sedang menjadi Sword Saint bagiku dia hanyalah orang keras kepala.


"Maaf ayah, aku terpaksa harus melakukannya..."


Aku merasa bersalah pada mereka.


"Tidak apa-apa, Ren."


"Tuan muda. selama anda baik-baik saja maka sudah cukup bagi kami."


Aku senang mereka perhatian padaku. Aku senang memiliki keluarga yang baik padaku.


"Baiklah, sepertinya kerajaan akan memberikan penghargaan kepadamu karena telah mengalahkan iblis."

__ADS_1


Ayah berdiri dan mengatakan tentang penghargaan.


"Aku tidak mau."


Ini merepotkan. Aku tidak ingin menjadi pahlawan karena jika orang-orang mengenalku maka identitasku sebagai Noir bisa terbongkar.


"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu."


Seperti yang diharapkan dari ayahku. Tapi aku yakin orang-orang akan panik jadi harus ada seseorang yang menerima penghargaan itu untuk menghilangkan ketakutan penduduk.


"Berikan saja pada Julius."


"Kau yakin?" Tanya ibu.


"Aku tidak suka sesuatu yang mencolok seperti itu lagipula Julius adalah pangeran jadi aku yakin orang-orang akan lebih tenang jika dia yang menerima penghargaan."


Ketiganya tersenyum dan aku yakin mereka pasti berpikir "seperti inilah, Ren."


Ketiganya pergi dan berbicara ke kerajaan mengenai kejadian ini. Tapi dengan begini aku bisa menebak siapa dalang yang mencoba membunuhku.


Kurasa mereka mencurigaiku sebagai Noir jadi kurasa aku harus berhati-hati dalam bertindak.


Saat aku sedang memikirkan itu, pintu terbuka dan Julius beserta yang lainnya datang beramai-ramai. Yukari segera melompat dan memelukku.


"Ren! Aku senang kau baik-baik saja."


"Aduh...! Maaf membuat kalian khawatir."


Mereka tersenyum melihatku baik-baik saja. Untungnya berkat sihir yang aku ambil dari hydra aku memiliki kemampuan regenerasi berkatnya. Tapi aku mencoba untuk tidak memperlihatkannya.


"Ren, yang tadi itu..."


Julius menjadi serius dan penasaran, aku yakin ini tentang kekuatanku yang aku tunjukkan sebelumnya.


"Ah... sepertinya aku terlalu memaksakan diri." Aku tersenyum canggung.


"Bukan itu yang aku tanyakan. Kau bisa menggunakan sihir? apalagi dua elemen..."


Ah, jadi itu yang dia tanyakan.


"Aku juga terkejut. Aku merasa seperti kekuatan mengalir jadi aku mencoba menggunakannya."


Semuanya menatapku dengan rasa tidak percaya. Aku rasa yang tadi bukan jawaban yang tepat.


"Terimakasih atas kunjungan kalian."

__ADS_1


"Ada apa? Apa kau tidak suka kami di sini?"


"Bukannya tidak suka tapi kalau kalian mau membersihkan tubuhku sih tidak masalah."


__ADS_2