
Matahari masih bersinar terang di langit yang menunjukkan betapa cerahnya hari ini. Di sebuah mansion terdengar suara canda tawa.
"Rupanya Luna kecilku dirawat dengan baik oleh kalian saat itu ya." Pria yang mengaku dirinya sebagai raja itu merasa senang.
"Tapi bagaimana caranya kau bisa kabur?" Tanya Julius dengan penasaran.
"Aku diselamatkan oleh Noir."
Semua terdiam, Luna tahu siapa Noir sebenarnya namun ia sudah berjanji untuk tidak memberi tahu identitasnya jadi dia tidak menjelaskan secara detail.
"Noir, ya?"
"Apa kau tahu sesuatu, Clovis?"
Melihat ekspresi Clovis, ia seperti tahu sesuatu tentang Noir ini.
"Tidak. Hanya saja, ini sangat aneh menurutku, Dominic."
"Aneh?"
"Di desa sebelumnya juga aku sempat mendengar tentang Noir ini. Dia membunuh semua monster di hutan dan para bandit yang sedang bersembunyi. Aku tidak tahu tujuannya apa tapi..."
Clovis berhenti sejenak lalu melanjutkan ceritanya.
"Yang aku tahu, saat aku dan beberapa warga desa pergi berburu. Baik bandit maupun monster mati dengan kepala mereka yang terpotong dengan sangat rapi."
Mendengar itu membuat Dominic penasaran. Ceritanya tidak di buat-buat namun jika mereka mati dengan cara yang sama maka bisa dikatakan Noir memiliki kemampuan yang cukup mengerikan.
"Sepertinya dia sedang bertarung dengan musuh yang tidak kita ketahui."
Luna tersenyum saat mendengar pembicaraan orang tuanya. Melihat itu, Julius berbisik di dekat telinga Luna.
"Apa kau tahu siapa, Noir?"
"Aku tidak tahu."
Dia menjawabnya dengan cepat. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan yang masuk ke dalam adalah orang yang dicarinya.
"Aku pulang."
"Kau sudah kembali, lihat siapa yang datang."
Ren melirik ke arah tamu yang sedang duduk. Menyadari ada raja dan ratu di rumahnya, Ren bersikap sopan dengan membungkuk kepada mereka.
"Perkenalkan yang mulia. Saya Ren Orion, maaf jika saya berperilaku tidak sopan."
"Tidak apa-apa, kau bersikap seperti biasanya saja tetapi kau bisa langsung mengetahui aku adalah raja meskipun aku sudah menyamar, seperti yang diharapkan dari anaknya Clovis."
__ADS_1
"Baik. Tidak mungkin aku tidak mengetahuinya. Jika kau datang sendiri ke sini tanpa anak anakmu mungkin aku tidak mengetahuinya."
"Hahahaha. Kau benar-benar anak yang lucu."
Di sebelahnya, sang ratu mulai bertanya kepada Ren setelah menyesap teh hangat miliknya.
"Bagaimana kondisimu? Kudengar kau terluka cukup parah."
"Luka? Ah, tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja dan aku sangat beruntung masih hidup sekarang."
"Syukurlah."
Ren duduk di sebrang Dominic dan mereka mulai berbincang-bincang hingga mereka lupa waktu. Langit sudah mulai gelap dan matahari sudah mulai terbenam.
Para tamu pergi dan mengucapkan "sampai jumpa." dari jendela kereta dan kereta kuda mereka mulai pergi jauh dari mansion.
Ren pergi ke kamar dan langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur. Perasaan nyaman mulai terasa dan matanya mulai mengantuk.
Saat ia mencoba menutup matanya, ia mulai mengingat apa yang terjadi di Sternenlicht. Tepat para seven stella berkumpul para monster keluar dari kandang mereka kecuali satu monster.
Minotaur, Cerberus dan Gryphon berdiri di depannya. Mereka seperti ingin menyerang kapanpun mereka mau namun mereka tidak melakukannya.
"Soul Suction."
Pusaran angin terjadi dan berkumpul di telapak tangan Ren dan sesuatu keluar dari tubuh ketiga monster itu. Mereka meraung kesakitan dan berguling-guling di lantai.
Sesuatu yang keluar itu adalah jiwa mereka yang ditarik keluar secara paksa oleh sihir kegelapan. Jiwa itu berkumpul dan membentuk seperti bola. Ren berbalik dan membagikan kekuatan bola itu ke seven stella.
Dia terlihat marah dan menyemburkan nafas racunnya. Ren berhasil menahannya dan memerintahkan Ziselaer untuk memakan hydra dan tubuh tiga monster tanpa jiwa yang berserakan.
Aku pulang setelah Ziselaer selesai dan kembali ke dalam bayanganku.
Saat sampai di rumah, dia menyapa tamu yaitu keluarga kerajaan yang sedang bermain lalu pergi ke kamarnya setelah mereka sudah pulang.
...****************...
Keesokan harinya, cuaca cerah seperti biasanya. Di dalam kelas F, terjadi keributan antara Alvin dan Elisa.
"Inilah kenapa aku benci otak otot sepertimu!"
"Apa kau bilang?! Kau itu salah dan sudah seharusnya meminta maaf!!"
"Berapa kali harus aku katakan!! Aku tidak salah!!"
Mereka terus berteriak satu sama lain sejak tadi. Masalahnya adalah karena Elisa tidak sengaja menumpahkan kotak makan siang milikku hingga berserakan di lantai.
Alvin menyuruh Elisa untuk meminta maaf namun Elisa menolaknya karena merasa itu bukan salahnya.
__ADS_1
Teman-teman yang lainnya hanya bisa melihat saja karena mereka tidak tahu bagaimana cara memisahkan mereka berdua.
Aku mengabaikan mereka dan membersihkan sandwich yang tumpah. Padahal kakak sudah membuatkannya untukku tapi sepertinya aku sedang sial hari ini.
"Ren, berhenti melakukan itu! Kau hanya akan mengotori tanganmu saja!"
"Tidak apa-apa, Alvin. Ini hanya kecelakaan kecil."
"Tapi... bukankah itu makan siang-mu?"
"Hmph! Lihat? Dia saja tidak mempermasalahkannya."
"Dasar wanita tidak berguna!"
"Apa kau bilang?!"
Mereka mulai bertengkar lagi. Aku lelah melihat mereka berdua terus seperti ini, kurasa aku harus memisahkan mereka.
"Kalian berdua."
Keduanya tiba-tiba terkejut dan terdiam.
"Bisakah kalian diam? Alvin, aku baik-baik saja dan untuk Elisa. Aku tidak tahu bagaimana keluargamu mendidik tapi jika kau salah maka kau harus minta maaf."
Keduanya menunduk dan meminta maaf dengan suara rendah.
""M-maafkan kami.""
Dan pertengkaran mereka pun di hentikan dan beginilah kelas F saat ini.
Tidak ada rasa peduli, selalu egois dan berisik serta tidak ada rasa persatuan. Rumor yang beredar di kelas lain adalah kelas F merupakan kelas terburuk dari yang terburuk.
"Ah, benar juga."
Aku tiba-tiba teringat akan sesuatu. Seisi kelas melihatku yang tiba-tiba terkejut sendiri.
"Ada apa, Ren? Kau mengejutkanku."
"Benar. Apa kau ingin aku mati karena terkejut?"
"Jangan marah seperti itu, yang lebih penting sekarang. Apa kalian ingin pindah kelas?"
Semua terdiam namun Alvin dan Elisa tidak terkejut dengan pertanyaanku. Elisa dengan sombong menjawabku.
"Tentu saja. Kelas ini sudah bobrok, mana mungkin tempat ini disebut sebagai kelas untuk belajar?"
"Itu benar. Lantainya yang sudah hancur, jendela yang pecah, meja dan kursi yang penuh dengan coretan aneh dan cat dindingnya sudah keropos serta terdapat bau aneh di kelas ini."
__ADS_1
Semua yang dijelaskan oleh Elisa dan Alvin benar. tempat yang rusak seperti ini tidak bisa disebut sebagai kelas namun bukan berarti tidak ada kelas lain.
"Hari ini hingga seterusnya kita akan berlatih dan mengikuti acara pertarungan antar kelas bulan depan, jadi bersiaplah."