Son Of God

Son Of God
Hari pertama


__ADS_3

Pagi hari yang cerah menyinarinya kamar.


Ren bangun dan merasakan seseorang dari ujung ruangan yang sangat gelap dan tidak terkena cahaya matahari.


"Ada sesuatu, Olivia?"


Dari balik bayangan seorang gadis cantik muncul dan menunduk dengan hormat.


"Ya, master. Suatu energi terdeteksi di sekitar sekolah anda. Kemungkinan besar, ada penyerangan atau yang lebih buruknya... Penyergapan."


Informasi yang diberikan oleh Olivia kali ini cukup mengejutkannya. "Jadi bisa dikatakan jejak energi yang di sebarkan oleh pria aneh waktu itu masih ada?" Pikir Ren.


"Kerja bagus. Kembali ke tempatmu."


"Baik."


Sesaat akan pergi, Ren menahannya dan karena lupa memberitahu sesuatu.


"Tunggu. Beri tahu Seven Stella lainnya untuk bersiaga di dekat sekolah. Jika terjadi sesuatu aku akan dengan mudah memerintahkan kalian."


Olivia terkejut dengan masternya. Menurutnya, Master sudah mengetahui bahwa akan terjadi penyerangan. Tidak hanya itu, ia juga sudah membuat antisipasi dengan mengirimkan seven stella lainnya.


Bagi Olivia, mustahil bagi seorang manusia biasa bisa bertindak seperti itu namun karena itu master dia hanya bisa kagum akan kecerdasannya.


"Sesuai keinginanmu."


Olivia segera masuk kembali ke dalam bayangan dan menghilang.


...****************...


Dalam akademi, aku berjalan di lorong menuju ruang kelas.


Aku mendapatkan kelas F, yang merupakan kelas terburuk dari setiap kelas.


Kelas di bagi menjadi 7 kelas. Dimulai dari kelas A, B, C, D, E dan F serta kelas yang di bedakan dari kelas lainnya yaitu kelas S.


Aku mendapatkan kelas F atas keinginanku sendiri, alasannya untuk tidak menonjol di sekolah.


Sebelumnya aku mendapatkan kelas A, namun aku merasa itu kelas yang sangat ketat dan aku tidak bisa bersantai dengan bebas.


Jadi, dengan pengaruh kepala akademi, aku membuat diriku masuk ke kelas terendah. Tanpa aku sadari aku sudah berada di depan pintu kelas.


Aku membuka pintu dan menemukan murid lainnya yang sedang mengobrol dengan teman mereka seketika pandangan mereka tertuju padaku.


Aku mengabaikan tatapan mereka dan berjalan menuju kursi di belakang paling ujung, untungnya itu masih kosong jadi aku mengambil tempat duduk itu.


Mata mereka masih tertuju padaku jadi aku bertanya dengan penasaran.


"Apakah ada yang salah dengan wajahku?"


"Tidak, hanya saja..."

__ADS_1


Seorang laki-laki tampak bingung untuk mengatakannya sehingga ada jeda saat berbicara.


"Kursi itu milik seseorang." Ucapnya.


"Ini kosong jadi aku mengambilnya, lagipula siapa cepat dia dapat."


Saat saya mengucapkan itu, pintu terbuka dengan keras hingga mengeluarkan suara benturan.


Seorang siswa dengan tubuh sedang dan berotot, rambutnya yang berwarna cokelat dicat hijau. Ekspresinya tampak kesal dan cukup menakutkan. Dia berjalan menuju ke arahku.


Dia berhenti dan berdiri di depanku dengan kesal. Dia menatapku dengan tajam dan serius.


"Hei, kau. Menyingkirlah dari situ. Itu tempatku."


"Aku tidak mau, ini sudah milikku."


Seisi kelas menjadi berisik karena suara bisikan mereka yang sedang membicarakanku.


"Kau menjengkelkan."


Tinjunya datang ke arahku, dengan cepat aku menangkap pukulan itu lalu aku melemparnya hingga ia menabrak tembok dan ada retakan besar di tembok.


Seisi kelas melihatku dengan heran, aku rasa aku terlalu berlebihan. Haruskah aku minta maaf atau tidak?


Aku berdiri dan menghampiri laki-laki seram itu. Dia tergeletak di lantai tapi sepertinya hanya pingsan.


Aku berjalan keluar kelas dan kembali dengan membawa gelas berisi air, menumpahkan ke atas kepala laki-laki itu. Seketika dia terkejut dan berteriak.


"Syukurlah kau masih hidup."


"Apa?! Apa yang terjadi?"


Sepertinya dia tidak ingat apa-apa. Dia memegangi kepalanya yang sakit lalu terdiam sejenak.


Dia melihatku dari atas hingga bawah. Sepertinya dia mencoba mengingat, dan ekspresi serius sebelumnya menghilang dan kini menjadi takut dan cemas.


"K-Kau? Maafkan aku! Tolong ampuni aku!"


Dia berlutut dan memohon mohon padaku. Kesanku terhadapnya berubah, kupikir dia ingin terlihat keren dan sekarang terlihat seperti pengecut.


Dan apa yang dia katakan? kenapa meminta maaf?


"Kau baik-baik saja bukan? Kalau begitu, bagus untukmu."


"Kau tidak akan menyiksaku?"


Menyiksa? Apakah menumpahkan air dingin di kepalanya merupakan siksaan? Kupikir tidak, aku melakukannya untuk membangunkannya.


"Sejak awal aku tidak menyiksamu."


Dia kebingungan, dia menatapku dengan heran.

__ADS_1


"Tapi kau melemparku?"


"Hanya pertahanan diri, kau ingin memukul wajahku jadi aku tanpa sadar melemparmu."


"Lalu air dingin ini?"


"Untuk membangunkanmu. Menumpahkan air dingin ke orang yang sedang tidur itu adalah cara paling efektif untuk membangunkan orang."


Seketika kelas menjadi hening dan menatapku dengan terkejut. Aku kembali ke tempat dudukku dan laki-laki tadi memanggilku.


"Siapa namamu?" Tanya dia.


"Panggil aku Ren."


"Baiklah, namaku Alvin."


Dia terlihat sangat senang saat menyebutkan namanya. Lalu terdengar suara pintu terbuka, itu adalah guru yang memasuki kelas. Semuanya bergerak ke kursi masing-masing, sementara Alvin masih berdiri.


Aku memanggilnya dan menyuruhnya duduk di sebelahku karena itu masih kosong. Dia begitu antusias datang duduk di sebelahku.


"Perkenalkan namaku Kisara, mulai hari ini hingga 3 tahun ke depan aku adalah wali kelas kalian."


Seorang wanita berumur 30 tahunan masuk ke dalam kelas dan memperkenalkan dirinya. Terlepas dari umurnya, ia masih terlihat cantik dengan rambut ungu kehitaman yang terurai dan panjangnya mencapai punggung.


Matanya yang berwarna biru sangat indah seperti permata.


"Aku akan menyampaikan beberapa peraturan untuk kelas ini, aku tidak akan mengulanginya lagi jadi mohon untuk mendengarkannya baik-baik."


Guru mulai menjelaskan peraturan kelas, pertama ia menjelaskan tentang pemilihan ketua kelas dan lainnya lalu dilanjutkan dengan beberapa acara sekolah yang akan diadakan mulai bulan depan.


Lalu siswa harus datang tepat waktu yaitu pukul 8 pagi, jika terlambat satu menit saja maka dia akan diberi hukuman. Dan menjelaskan peraturan lainnya.


"Jika ada yang ingin ditanyakan, angkat tangannya."


Guru selesai dan merapikan kertas di atas mejanya. Seorang gadis mengangkat tangannya dan bertanya pada guru.


"Guru, apa hukuman untuk mereka yang terlambat?"


"Sudah kubilang aku tidak akan mengulanginya lagi. Baiklah, itu tergantung ketua kelas kalian. Ketua kelas yang akan memberi hukuman pada mereka yang terlambat."


Siswa lain mengangkat tangannya, kali ini seorang laki-laki yang bertanya.


"Jika ketua kelas yang terlambat?"


"Itu adalah tugas wakilnya."


Guru menjawabnya dengan singkat karena ia sudah lelah untuk menjelaskan.


"Baik, karena tidak pertanyaan silahkan untuk memilih ketua kelas kalian dan aku berharap kalian bisa menjadi lebih baik dari kelas tahun lalu."


Dia pergi meninggalkan kelas dan kelas mulai ramai dan berisik. Seorang laki-laki yang bertanya sebelumnya maju ke depan dan menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


__ADS_2