
"Hm? Itu kan?"
Dari kejauhan Rei melihat Alson sedang berjalan sambil menenteng kantung yang berisikan beberapa bahan makanan. Rei tahu bahwa pacar kesayangannya itu baru saja membeli bahan makanan untuk anak-anak panti yang sedang diajarnya.
Namun, yang membuat dia merasa kesal karena ada seorang wanita di sebelahnya. Rei tidak tahu siapa wanita itu dan entah kenapa dia merasa dadanya sakit dan ingin menangis namun ada satu suara yang membuatnya kembali pada kenyataan.
"Oh, bukannya itu Alson? Kenapa dia bersama Elisa?"
"Eh? Kau mengenalnya Ren?"
Ren melihat kakaknya, dia sadar sepertinya kakaknya sedang cemburu karena ia bisa melihat sedikit air mata yang ingin jatuh dari matanya. Ren memilih kata-kata yang baik di kepalanya agar Kakaknya tidak salah paham.
"Ya, dia teman sekelasku. Tapi aku tidak pernah tahu dimana rumahnya dan dia cukup misterius."
Kata-kata Ren tidak membuat kakaknya lebih baik jadi Ren tahu apa yang harus dilakukannya. Dia menarik lengan kakaknya dengan baik agar tidak menyakiti kakaknya itu.
"Ayo, kita lihat mereka! Aku juga sedikit penasaran."
Keduanya berlari dan mengejar Alson dan Elisa dari belakang.
Elisa dan Alson datang bersama sambil memanggil mereka sehingga anak-anak yang melihat mereka langsung berlari ke arah keduanya.
"Wah! Kak Alson dan kak Elis sudah kembali."
"Hore!"
Anak-anak begitu senang melihat mereka lalu salah satu biarawati yang menjadi pengasuh anak-anak itu mendekati dan mengambil belanjaan yang dibawa Alson lalu membawanya ke dapur untuk membuat makanan untuk anak-anak panti.
Karena sangat senang kedatangan dua kakak yang selalu bermain bersama mereka, mereka menarik lengan dan mengajak mereka berdua bermain seperti biasa.
Dari kejauhan tepat di sekitar panti asuhan, Ren dan Rei sedang mengawasi Alson yang sedang bermain dengan anak-anak panti.
Melihat Alson dan Elisa yang sedang bermain dan tidak ada yang salah dengan mereka, Ren bisa menyimpulkan bahwa keduanya tidak lebih dari guru dan murid yang sedang bersama.
"Sepertinya kekhawatiran kakakku saja yang berlebihan." Dalam hati Ren.
Ren menarik kakaknya yang masih terfokus pada pacarnya. Awalnya Rei memberikan tenaga agar adiknya tidak bisa menarik lengannya namun adiknya memberikan senyum tipis.
__ADS_1
Dia tahu maksud dari senyum itu, daripada percaya pada prasangka buruk lebih baik percaya bahwa dia hanya mencintai dirinya dan bukan orang lain.
Ren membawanya pulang dan menyuruh kakaknya untuk istirahat. Ia tahu kalau hati kakak sedang sakit karena cemburu, membiarkannya istirahat adalah pilihan terbaik untuk saat ini.
Ren kembali ke kamarnya setelah memastikan kakaknya sudah tidur. Dia langsung menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidurnya yang empuk.
Tak lama kemudian seperti biasa salah satu dari seven stella datang. Rambut cokelatnya berterbangan di tiup oleh angin. Kali ini yang bertugas berada di sisi sang master adalah Victoria.
Dia adalah seorang gadis cantik dari ras vampir. Matanya yang semerah darah menatap masternya yang sedang berbaring.
Pelan tapi pasti. Dia berjalan menuju masternya tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Saat tepat berada di dekat masternya, dia tersenyum lembut melihat masternya yang tidur di kasurnya.
Melihat masternya tertidur membuatnya berpikir. Bagaimana bisa seorang manusia sepertinya menanggung beban yang begitu besar dan dia melakukannya seolah itu bukan masalah besar.
"Maafkan aku master. Aku harus melakukannya sendirian."
Dia mencium pipi masternya lalu menatap wajahnya sekali lagi dengan air mata yang membasahi pipinya. Dia pergi meninggalkan masternya yang sedang tertidur.
...----------------...
Pintu terbuka dan seseorang datang menghampiri pria tersebut. Dia berlutut dan menundukkan kepalanya.
"Tuan, semuanya sudah siap. Kita hanya tinggal menunggu waktu saja."
"Begitu ya. Kalau begitu kau boleh kembali."
"Siap!"
Dia segera meninggalkan ruang takhta dan saat ruangan sudah benar-benar sepi, pria itu berdiri lalu berjalan melihat ke luar jendela.
Langit berwarna merah tanpa matahari dan hanya ada awan saja yang menutupi langit. Angin yang berhembus dari laut begitu sejuk sehingga menerbangkan rambut panjang pria tersebut.
"Akhirnya tiba juga saatnya."
Tatapannya benar-benar terpaku pada langit berwarna merah seperti darah.
...----------------...
__ADS_1
Di ruang rapat, tepatnya berada di salah satu ruangan di toko Sternenlicht. Gisella memanggil semua seven stella dan hanya dua orang yang tidak hadir. Yang pertama adalah Olivia dan yang kedua adalah Victoria.
Olivia memang sangat sibuk dengan tugasnya yang mencari informasi dan jika dia datang ke rapat ini maka dia sedang beristirahat dari tugasnya.
Tapi lain ceritanya jika Victoria yang tidak datang. Bagi Gisella, Victoria sudah seperti adiknya sendiri. Dia juga adalah anggota kedua setelah Gisella.
Victoria tidak pernah melewatkan tugas atau perintah yang di berikan. Dia orang yang selalu rajin dan orang paling setia di little star.
"Baiklah, kita langsung mulai saja. Pertama mengenai pemasukan yang kita dapatkan."
Gisella mulai membasah tentang keuangan yang terjadi di toko. Meskipun semua penghasilan itu dari penjualan mereka tapi tujuan utamanya adalah untuk memperbesar little star.
Saat ini organisasi Little Star memiliki 100 anggota yang semuanya berasal dari manusia. Namun tujuan rapat sebenarnya adalah hanya membahas tentang kekuatan organisasi yang sedang ditingkatkan oleh Gisella.
Nova mulai mengeluarkan pendapatnya mengenai kasus yang sedang terjadi.
"Baiklah, itu pembahasan kita hari ini."
"Tunggu. Maaf jika menyela nona Gisella."
"Tidak apa. Lanjutkan."
"Baik. Sepertinya mengenai Victoria yang tidak bisa hadir ada hubungannya dengan cuaca."
Semua seven stella yang hadir terheran-heran dengan maksud sebenarnya dari ucapan Nova.
"Maksudnya? Apa kau mau bilang kalau dia tidak datang karena cuacanya yang sedang dingin ini?" Ucap Xenovia.
"Bukan begitu. Malam ini akan terjadi bulan merah, dengan kata lain kebangkitan sang ratu Vampir."
"Jadi maksudmu, dia pergi ke kerajaan Vampir untuk menghentikan kebangkitan sang ratu?" Tanya Rose.
"Aku tidak tahu, tapi kurasa itu ada hubungannya."
"Baik. Terima kasih atas laporannya. Untuk saat ini kita jangan membahas tentang Victoria ke tuan. Kita masih membutuhkan informasi yang jelas untuk kasus ini."
Rapat segera berakhir dan para seven stella kembali ke tempat mereka untuk beristirahat. Matahari mulai terbenam dan berganti dengan bulan. Namun, bulan yang muncul bukanlah bulan berwarna biru yang sering mereka lihat namun kini bulan berwarna merah yang sedang menerangi malam.
__ADS_1