Son Of God

Son Of God
Pertunangan Ren


__ADS_3

Sekarang aku benar-benar dalam masalah. Keluarga bangsawan datang ke rumah untuk membicarakan pertunanganku dan putri mereka, Dorothy.


"Ehem. Masuklah, tidak baik berbicara di depan pintu."


Terima kasih."


Ayah kembali ke kesadarannya dan mempersilahkan mereka masuk. Ibu menyiapkan teh dan kue untuk di suguhkan kepada tamu. Sementara kakak duduk di sebelahku dan menahanku agar aku tidak kabur.


Sepertinya hari ini Dewi keberuntungan sedang tidur nyenyak.


"Putri kami, Dorothy. Dia mengatakan bahwa dia menyukai putra anda. Keluarga kami melarang untuk berpacaran karena itu kami memutuskan untuk melakukan pertunangan."


Yang benar saja! Putri dewasa ini menyukaiku?! Sepertinya keberuntungan sangat membenciku.


"Kami senang bahwa putri anda menyukai putra kami tapi saya tidak bisa memberikan jawabannya."


"Boleh saya tahu alasannya?"


"Itu karena tergantung pada Ren. Jika dia setuju maka saya sebagai orang tua akan setuju juga. Bagaimanapun juga itu bergantung pada anak kita masing-masing."


Setelah mendengar kata-kata ayah yang keren. Mata ayah Dorothy terpukau dengan itu. Dia merasa bahwa ayahku adalah ayah yang sangat baik dan merupakan contoh dari orang tua yang baik.


"Begitu ya. Kalau begitu..."


Dia melihat ke padaku dan aku tersenyum untuk menghormatinya.


"Bagaimana denganmu, nak Ren. Seperti yang dikatakan ayahmu, keputusan ada padamu. Apakah kamu mau menerima putri kami, Dorothy."


Sejujurnya aku bukan membenci atau tidak menyukai Dorothy. Sebagai laki-laki tidak mungkin aku tidak menyukai gadis yang sangat cantik ini tapi masalahnya...


"Saya bukannya tidak mau menerima putri anda tapi kami baru saja bertemu dan belum mengenal satu sama lain. Oleh karena itu..."


"Bagaimana dengan tinggal satu kamar denganmu selama sebulan?"


Ap-?! Apa yang baru saja dikatakan ibunya Dorothy?


Justru karena kami belum mengenal satu sama lain jadi tidak mungkin dia tidur satu ruangan denganku. Aku ingin mengatakan itu tapi ibu Dorothy langsung melanjutkan.


"Dengan tinggal bersama bukan hanya saling mengenal kalian juga bisa mengetahui perilaku masing-masing, bagaimana? Satu bulan kemudian aku ingin kau memutuskan apakah kau setuju atau tidak dengan pertunangan ini."


Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Apa aku harus menolaknya sejak awal? Tapi jika aku melakukan itu, maka sama saja seperti menghina keluarga Dorothy.


Kepalaku sakit hanya dengan memikirkan kemungkinan itu.


"Baiklah, mulai sekarang mohon bantuannya selama sebulan."


Setelah melakukan pembicaraan yang melelahkan itu, aku di perintahkan untuk mengajak Dorothy berkeliling mansion sementara kedua orang tua kami mengobrol di ruang tengah.


Seperti biasa, Maria dan Ririka mengikuti kami dari belakang karena bagaimana pun mereka pelayanku. Aku membawa Dorothy mulai dari dapur, gudang, halaman belakang dan lantai atas yang memiliki banyak ruangan.


Waktu lama berlalu dan aku tak sadar bahwa semua tempat sudah kutunjukkan padanya. Aku berbalik untuk kembali ke ruang tengah namun aku di hentikan.

__ADS_1


"Kau belum menunjukkan kamarmu. Jadi bagaimana kalau kita ke sana?"


Seperti yang kuduga bahwa hari ini adalah hari sial. Aku sengaja tidak menunjukkan kamarku alasannya adalah itu privasiku. Tapi jika aku mengatakan tidak padanya itu akan menjadi tidak sopan.


"Ada apa? Kau akan menunjukkannya bukan?"


Setelah pertengkaran hebat dengan pikiranku akhirnya aku mendapatkan jawaban.


"Baiklah, tapi berjanjilah padaku. Apapun yang kuminta kau harus menurutiku."


Ya, alasan kenapa aku memberinya sebuah syarat adalah karena Olivia memberikan pesan telepati kepadaku dan dia sedang menunggu di sana untuk melaporkan sesuatu.


"Baiklah, tidak masalah."


Aku membawanya ke kamarku namun saat hendak masuk aku berbalik ke belakang.


"Maria, Ririka kalian tunggu di sini dan apapun yang terjadi jangan membuka pintunya, mengerti?"


Meskipun ada jeda sebentar, mereka menyeringai padaku dan mengatakan "Siap!" dengan lantang. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan tentang ini tapi lupakan saja, tidak ada gunanya aku meluruskan kesalahpahaman ini.


Aku dan Dorothy memasuki kamar dan seorang gadis cantik dengan rambut ungu panjang hingga pinggang sedang menungguku dengan sopan di dalam kamarku yang agak gelap.


"Siapa dia?" Tanya Dorothy yang bingung dengan sosok cantik di depannya.


"Maaf Olivia. Laporkan saja secara garis besarnya saja, untuk rinciannya aku akan menemuimu nanti."


"Siap master."


Dorothy masih dalam kebingungan dan terus melihatku dan Olivia secara bergantian.


"Begitu ya, seperti yang kuduga. Kerja bagus, kembali bekerja."


"Ya."


Dengan cepat Olivia menghilang bersamaan dengan angin yang masuk ke dalam ruangan.


"Bisa jelaskan apa yang sedang terjadi? Dan siapa gadis tadi?"


"Ini bukan urusanmu."


"Tapi..."


"Bukankah kau berjanji akan menurutiku?"


Dorothy tidak bisa mengatakan apapun. Aku tidak ingin orang tahu akan keberadaan kami yaitu "Little Star" yang merupakan organisasi yang aku buat.


"Lupakan semua yang kau lihat dan yang kau dengar barusan, mengerti?"


Dorothy hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Dan jangan beritahu siapapun tentang gadis tadi."

__ADS_1


"...Baik."


Aku membuatkan teh dan mengeluarkan kue yang aku simpan dan menyuguhkannya pada Dorothy. Dia tetap diam menunduk dan tak mengatakan satu kata-pun. Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kami keluar dan melihat seringan dari Ririka dan Maria.


"Bagaimana pertama kali kalian?"


Aku tahu maksudnya, sepertinya dia salah paham tapi lupakan saja. Aku lelah karena ada banyak masalah yang terus saja berdatangan.


"Bukankah tidak sopan bertanya seperti itu kepada tuan muda?"


Seseorang datang saat aku hendak mengeluarkan suara. Dia adalah Nia, satu-satunya pelayan yang mengurusku sejak kecil.


"Maafkan kami, nona Nia."


"Bukan kepadaku tapi pada tuan muda."


Setelah mendapatkan ceramah dari Nia, keduanya membungkuk minta maaf padaku. Aku memaafkan mereka bagaimanapun aku tidak marah dengan sikap mereka yang seperti itu.


"Nia, apa ayah dan ibu masih berbicara?"


"Ya, tuan muda. Apakah anda butuh sesuatu?"


"Begitulah."


Aku kembali ke ruang tengah dan mereka masih mengobrol dengan asik.


"Oh, kalian sudah kembali. Bagaimana Dorothy?"


Ibu Dorothy bertanya dengan bahagia. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya sangat menyenangkan.


"... Sangat menyenangkan."


"Maaf memotong pembicaraannya."


Aku maju dan memotong pembicaraan mereka. Karena ada hal penting yang harus kukatakan.


"Aku berubah pikiran, aku menyetujui pertunangan ini."


Semua terlihat senang bahkan Dorothy yang sejak tadi diam dan menunduk mengangkat kepalanya dengan mata terkejut.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Ayah bertanya dengan ekspresi serius.


Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku menerima pertunanganku dengan putri dewasa ini agar menutup mulut Dorothy tentang Olivia.


"Setelah bersama putri hari ini, aku merasa dia orang yang baik, berani dan setia. Karena itu aku berubah pikiran."


Setelah mendengar pemikiranku, seringai kedua orang tua Dorothy muncul di wajah mereka yang membuatku merasa takut.


"Begitu ya, kalau begitu tolong jaga putriku dengan baik."


Ibu Dorothy membungkuk dan menyerahkan putrinya kepadaku. Yah, dengan begini hanya sedikit orang yang mengetahui tentang Seven Stella. Bagaimanapun kami adalah sosok yang tidak boleh diketahui publik.

__ADS_1


"Tentu, walaupun saya yang akan dijaga oleh putri anda yang cantik."


Setelah pembicaraan itu, kedua orang tuanya berdiri dan pamit untuk kembali ke rumah mereka.


__ADS_2