
Dengan cepat saat para serigala perak mengejar kami. Kami berdua lari dan saat bersamaan, Julius membuat dinding es untuk menghalangi pandangan serigala perak dan membuat pedang dari es untukku.
Julius terus berlari hingga dia berada jauh di belakangku. Menunggu dinding es yang akan hancur, aku bersiap dengan pedangku.
"Ayo mulai." Semangatku mulai membara saat dindingnya semakin retak.
Dinding es hancur dan serigala perak datang berkelompok. Aku menebas dan membunuh serigala perak yang mendekat.
"Apa?!"
Serigala perak terus berdatangan dan aku menebas mereka satu persatu. Darah terciprat saat aku membunuh serigala perak, berkat bantuan Julius yang mendukungku dari belakang dengan sihir es miliknya, aku tak mengkhawatirkan serigala perak yang akan menyerangku dari arah yang tidak bisa aku jangkau.
Pria itu semakin marah dan mulai menggertakan giginya. Kepalanya dipenuhi oleh emosi hingga asap mungkin keluar dari sana.
"Aku akan mengurus mereka untukmu jadi kau maju saja!"
Aku langsung berlari ke depan untuk memperpendek jarak dengan pria itu. Serigala perak yang akan menerjang langsung membeku dan jatuh oleh sihir Julius.
Aku mengayunkan pedangku dari atas ke bawah namun pria itu menghindarinya dengan baik. Aku terus mengayunkan pedangku lebih cepat dari sebelumnya, meskipun ia terus menghindarinya namun aku masih memberikan luka padanya.
"Jangan sombong hanya karena kau bisa menyerangku!!"
Dari tangannya muncul tentakel yang terbuat dari air dan menyerangku hingga jatuh keluar jendela dan menghancurkan tembok lorong. Aku terjatuh dari lantai 2.
Dibawah para ksatria suci sudah datang, itu adalah kakak dan pasukannya. Lalu para murid lainnya beserta guru yang sedang mengevakuasi terdiam dan melihat diriku yang sedang terjatuh.
"Gah!!" Kepalaku membentur tanah dengan keras.
"Ren!!"
Kakak sangat terkejut dan langsung berlari ke arahku dengan cepat. Yukari dan Luna ada sana melihatku yang sudah dipenuhi darah.
"Ren! Kau dengar kakak?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Nona Rei! Lihat diatas!"
Kakak sangat panik dan segera melihat ke atas gedung. Sosok laki-laki muncul, berdiri, dan melihat kami dengan senyum jahatnya.
"Hahaha. Dasar orang bodoh! Inilah yang terjadi kalau kamu berani menentangku!"
Kakak berdiri dan melihat pria itu dengan kesal. Ekspresinya sangat serius dan matanya sangat tajam.
Saat kakak ingin menarik pedangnya, aku memanggilnya dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
"K-Kakak."
"Kakak disini. Tenanglah."
"Ju-Julius. Ada di dalam. Selamat... kan dia."
Kakak sangat terkejut lalu menyuruh beberapa pasukannya untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan Julius.
beberapa ksatria wanita masuk ke dalam dan pergi meyelamatkan Julius. Saat hendak menarik pedangnya kini kakak teralihkan oleh seseorang.
"Aku akan membantumu. Tidak akan kubiarkan dia lolos setelah membahayakan muridku."
Yang muncul di depan Kakak adalah kepala akademi, Yue. Meskipun wajahnya tetap tanpa ekspresi, ia masih tetap cantik.
"Yue."
"Ayo, kita kalahkan dia."
"Ya!"
...****************...
Tentakel air datang menghampiri keduanya dengan cepat namun Rei berhasil menebas semua tentakel yang berdatangan.
"Apa hanya itu?"
Rei terus mengisi mana ke pedangnya dan mengayunkannya. Cahaya datang membelah udara dan mengarah ke pria tersebut namun tidak ada satupun yang mengenainya.
"Cih, sungguh lincah juga orang ini."
Tentakel air datang dari bawah tanah dan hampir menangkap Rei, untungnya Rei dengan cepat menebas tentakel yang akan menangkapnya.
Tentakel air itu terus berdatangan dari bawah tanah. Setengah pasukan yang masih di sini, sibuk dengan tentakel yang menghampiri mereka.
"Hahaha. Kalian seharusnya tidak perlu menganggu rencanaku. Kalau begitu…"
Seketika bumi bergetar dan membuat semuanya terjatuh karena guncangan itu. Tanah di depan pria itu hancur dan muncul sesuatu yang besar dan licin. Warnanya biru, se-biru air lautan.
"Lihat dan kagum! Sosok yang menguasai lautan, inilah..."
Gurita raksasa muncul dengan raungan yang keras membuat telinga menjadi sakit.
"Kraktopus!"
__ADS_1
Keduanya terheran-heran. Mereka menunjukkan wajah kebingungan. Memang benar kalau yang di depan mereka itu makhluk besar dengan tentakel sebagai kaki dan tangannya namun...
"Itu? Bukankah itu cumi-cumi?"
"Kau benar. Dilihat dari tentakelnya, dia hanya memiliki 6 tentakel dan bukan 8."
"Siapa yang peduli?! akan aku hancurkan kalian! Kraktopus serang mereka!"
Tentakelnya datang dan keduanya menghindar dengan melompat ke belakang.
"Yue! Kita kan lakukan itu!"
"Sekarang? Baiklah, bersiaplah."
Keduanya berhenti dan mulai fokus membaca mantra mereka. Tentakel datang dari atas kepala mereka, namun.
Wuss
Keduanya terlindungi oleh penghalang tak terlihat yang dibuat oleh ksatria yang berhasil mengalahkan tentakel yang menyerang mereka tadi.
"Akulah cahaya yang membimbing pada kebenaran."
"Bangkit dan tunjukan pada mereka panas yang membara."
Mereka berdua di selimuti cahaya yang terang. Cahaya putih yang bersinar menyelimuti tubuh Rei dan cahaya merah yang menyelimuti Yue terhisap ke dalam pedang suci yang di pegang oleh Rei.
"Terimalah! Holy Flame!"
Api putih keluar dari ujung pedang dan menembakkannya ke cumi-cumi raksasa yang ada dihadapannya.
Tentakelnya yang mencoba menahan tubuhnya langsung hangus terbakar karena tidak bisa menahan api putih yang di tembakan.
Api itu meluncur hingga menembus tubuhnya lalu api putih itu melahap cumi-cumi raksasa hingga berteriak kesakitan.
Ledakan besar pun terjadi dan cumi-cumi raksasa tadi habis tak tersisa.
"M-Mustahil!"
Pria itu marah karena dia tak bisa memprediksi bahwa hal seperti ini akan terjadi. Para ksatria menodongkan pedangnya sehingga pria itu ketakutan.
"Kau akan kami tahan. Karena sudah membunuh para siswa dan merusak properti sekolah."
Dan pria itu ditangkap oleh ksatria suci. Julius selamat dan hanya mendapatkan luka ringan saja sementara Ren dibawa ke ruang perawatan karena luka benturan di kepala yang keras.
__ADS_1
Para monster menghilang tanpa sisa di dalam gedung kosong itu tanpa ada yang mengetahui apa penyebabnya.