
Keesokan paginya, ayah, ibu dan kakak sangat sibuk di pagi hari. Mereka bersiap-siap di pagi hari dengan pakaian yang rapi.
Saya yang baru saja bangun dan masih mengenakan pakaian tidur turun dari tangga dan memperhatikan mereka. Mereka sangat panik dan beberapa pelayan membantu mereka bersiap.
“Ada apa ini?”
Saat saya bertanya-tanya, Ririka berdiri di belakang saya dan menjawab dengan tenang.
“Mereka bersiap untuk pergi menemui raja.”
Jadi begitu. Mereka ingin pergi menemui raja, rupanya. Tunggu, apa?
“Raja?!”
Saya berteriak sehingga suara saya bergema di dalam rumah. Saya belum bertanya siapa mereka sebenarnya dan sekarang mereka ingin pergi menemui raja.
“Ren sayang, tolong jaga rumah untuk ibu ya.”
“Ayah ada urusan penting jadilah anak yang baik.”
“Kakak akan segera pulang dan kalau kau ingin sesuatu katakan pada pelayanmu.”
Mereka bertiga pergi dengan terburu-buru dan saya hanya tinggal bersama Yukari dan staf yang mengurus rumah.
“Ren?”
Yukari datang dan melihat saya. Melihatnya saya seperti memiliki seorang adik kecil yang manis.
“Oh, Yukari. Kau sudah bangun?”
“Apa terjadi sesuatu?”
“Tidak perlu khawatir. Apa kau butuh sesuatu?”
...****************...
Pasar adalah tempat dimana sebuah terjadinya jual beli. Tempatnya selalu ramai akan pembeli.
Sangat ramai hingga orang-orang harus berdesak-desakan. Dua anak kecil sedang berjalan bersama dan dibelakang mereka ada tiga pelayan yang mengikuti mereka.
__ADS_1
Itu adalah Nia, Ririka dan Maria. Mereka sedang menjaga Ren dan Yukari yang sedang berjalan berdua sambil berpegangan tangan.
“Ren, lihat itu!”
Yukari begitu antusias dan menunjuk toko yang menurutnya menarik. Dari toko buah, hingga toko perlengkapan.
Ren hanya tersenyum melihat tingkah laku Yukari. Dalam hati Ren, dia sama sekali tidak semangat seperti Yukari karena menurutnya itu tidak menarik sama sekali.
Kadang mereka juga berhenti saat ketiga pelayan itu sedang berbelanja. Setelah selesai berbelanja di satu toko mereka pergi ke toko lainnya.
Pada akhirnya Ren berhenti di depan toko yang menjual perhiasan. Disana ada berbagai macam jenis perhiasan dari jepit rambut hingga cincin.
Dia menatap jepit rambut berbentuk bunga mawar dan sebelahnya adalah jepit rambut berbentuk bintang. Ada beberapa bentuk yang sama dengan warna yang berbeda.
“Anda tertarik dengan itu, tuan muda?”
“Ya, aku penasaran apakah jepit bunga mawar ini sangat cocok untuk Yukari?”
Yukari yang berdiri di sebelahnya terkejut dan mengatakan “Eh?” sambil melihat Ren.
“Saya pikir itu sangat cocok.”
Ren bertanya kepada Yukari yang masih merasa malu. Dia mengangguk kecil dengan wajah yang memerah seperti tomat.
“Kau punya selera yang bagus, nak. Nah, karena kau membeli itu, aku akan memberikanmu diskon.”
Penjual itu memberikan diskon, namun diskon yang diberikan oleh penjual adalah dia hanya harus membayar setengah dari harga beli.
Ren membeli satu cincin dan tujuh kalung berbentuk bintang dengan tujuh warna yang berbeda.
Total harga semua barang adalah 3 koin perak dan karena ada diskon yang diberikan oleh penjual maka total semua menjadi 1 koin perak dan 50 koin perunggu.
Maria yang penasaran dengan Ren yang membeli begitu banyak perhiasan. Dia bertanya padanya dengan penuh penasaran, karena tidak mungkin seorang laki-laki memakai perhiasan perempuan yang sangat banyak itu.
“Aku tidak mungkin memberitahunya karena ini adalah rahasia.”
Saat Ren menjawab seperti itu, ketiga pelayan itu tidak bisa bertanya lebih jauh lagi tentang itu namun saat pandangan mereka teralihkan sebentar karena melamun, Ren dan Yukari tidak ada di manapun.
Kemanapun mereka melihat tidak dapat menemukan mereka berdua. Saat mereka bertiga panik mereka berlari dan mendengar teriakan Yukari dari dalam gang kecil.
__ADS_1
“Kyaa..”
“Hehe, sepertinya kita dapat barang bagus.”
“Hihi.”
Ada dua pria berbadan besar dan berbadan kurus yang sedang mendekati mereka dengan ekspresi menjijikkan.
Ren melindungi Yukari yang bersembunyi dibelakangnya. Pria berbadan besar terpental jauh saat pipinya terkena sesuatu.
Itu adalah tendangan yang diarahkan padanya dari Nia. Meskipun dia memakai baju pelayan yang membuatnya sulit bergerak namun karena tendangan tadi ada bagian yang robek di pakaiannya.
Pria berbadan kurus itu jatuh ke belakang karena ketakutan setelah melihat temannya terpental dan pingsan.
Pria itu berlari dan membawa temannya yang pingsan dengan terburu-buru.
“Tuan muda, Nona Yukari, kalian baik-baik saja?”
Ketiga pelayan itu khawatir dengan dua anak itu. Meskipun Yukari masih terlihat ketakutan tapi Ren masih bersikap biasa saja.
“Kami baik-baik saja. Yang lebih penting, pakaianmu sobek.”
“Tidak apa-apa, saya akan memperbaikinya nanti.”
Ren tidak bisa membiarkan Nia berpakaian seperti itu dan itu akan membuat orang jahat mencoba mendekati Nia. Ren mendekat dan tangannya menyentuh pakaian Nia di bagian yang robek.
“Tuan muda?”
Sinar abu-abu bersinar di telapak tangan Ren dan pakaian Nia sedikit demi sedikit kembali normal dan sobekannya menghilang.
“Ini? Tuan muda, anda bisa menggunakan sihir?”
Maria dan Ririka pun terkejut dengan apa yang mereka lihat.
“Aku hanya mengulang waktu dan jangan beritahu siapapun tentang kekuatan aku ini, mengerti?”
“Sesuai perintah anda.” Ketiganya menjawab secara bersamaan.
Mereka berlima akhirnya kembali ke rumah dengan banyak sekali barang belanjaan.
__ADS_1