
"Apa kau bernama Akira?" tanya Akashi yang kini sudah berada dihadapan Akira, kala itu Akira sedang mempresentasikan Strategi dengan anggotanya.
"Benar sekali," jawab Akira.
"Aku perlu berbicara denganmu sekarang!" tegas Akashi yang untungnya disambut hangat oleh Akira. Bahkan, saat Akashi berjalan sedikit menjauh ke pinggir lapangan justru Akira langsung menyusul tanpa banyak mengeluh.
"Aku sama sekali tak menyangka, alumni sehebat anda mempunyai waktu untuk mampir ke sini." Kedua mata Akira berbinar-binar dengan senyuman yang masih melekat di sudut bibirnya.
"Kau sepertinya sangat mengagumiku?" tanya balik Akashi.
"Aku sangat mengagumi anda, bahkan saat anda masih duduk di bangku SMP pun. Intinya, Akashi-San lah yang memotivasiku untuk masuk kedalam Dunia Basket ini."
Akashi menaikkan sebelah alisnya, "Tapi aku tak pernah melihatmu di Teiko selama ini, apa kau murid pindahan?"
"Benar sekali, Akashi-San."
"Wah, bagus sekali bila murid pindahan sepertimu bisa menjadi seorang kapten basket." Akira tersenyum bangga atas prestasinya saat ini.
"Dan anda juga perlu tahu, kalau aku berhasil mengupgrade semua peraturan yang anda buat dulu menjadi lebih baik. Aku yakin kalau kami bakal bisa mempertahankan gelar juara beruntun nantinya, aku berniat untuk mengalahkan anda menjadi seorang kapten SMP Teiko yang hebat." Sombongnya yang malah jauh lebih angkuh dibandingkan Akashi dulu.
"Kau tampak percaya diri sekali, kau tak seharusnya mengambil nyali untuk bertarung dengan duri sepertiku. Entah itu karena rasa kompetitif mu yang besar atau kau hanyalah seorang peniru yang ingin diakui dengan cara mengalahkan versi originalnya, namun yang jelas cara kerja kepemimpinanmu sekarang benar-benar buruk!" tegas Akashi yang tak pandang bulu untuk menjatuhkan mental orang lain.
Jelas saja Akira mulai merasa kesal, tak ada lagi senyuman diwajahnya saat ini selain raut wajah datar yang terpancar dihadapan Akashi.
"Kau ternyata memiliki sikap yang buruk, Akashi-San."
"Aku tidak bisa membantah, kau benar. Terkadang aku mempunyai sikap yang buruk, apalagi mendengarkan ocehanmu yang seolah-olah mengagumiku diatas perasaan irimu itu," ucap Akashi.
__ADS_1
"Lalu, apa tujuanmu kesini?" tanya Akira.
"Awalnya aku ingin memberitahumu tentang pertandingan besok dengan SMP Shiratorizawa. Akan tetapi, aku mulai merasa perlu menasehatimu terkait dengan aturan baru yang menjijikkan di dalam Tim Basket Teiko ini."
"Memangnya apa yang salah dengan aturan baru yang kubuat? Bukannya kita memang tidak memerlukan para cadangan itu, mereka malah lebih terkesan sebagai benalu di tim ini. Syukurnya mereka masih bisa diizinkan untuk memamerkan nama Tim basket ini didepan para saudara, teman, dan keluarga mereka, tanpa perlu capek-capek berjuang di dalam lapangan." Akira tertawa lepas dan membuat Akashi menjadi teramat marah.
"Mau bertanding basket denganku? Biar kuajarkan sesuatu yang penting kepadamu, tentang benalu yang menggambarkan tim Basket Teiko ini," ucap Akashi yang langsung disetujui oleh Akira, lalu tanpa banyak aba-aba Akashi langsung berteriak kepada salah seorang anggota Teiko yang memegang Bola.
"Berikan bolanya kepadaku!" tegas Akashi yang langsung menerima bola ditangannya dan melemparkannya kepada Aomine secara mendadak.
"Kau bilang ingin bermain basket kan, Daiki? Kau bisa bertanding menggantikanku untuk melawan Akira," perintah Akashi yang langsung disambut hangat oleh Aomine.
"Kau...Maksudku, bukannya tadi anda bilang untuk bertanding dengan anda?" tanya Akira bingung, sebab sependengarannya tadi kalau Akashi yang mengajaknya bertanding.
"Aku tak perlu buang-buang waktu untuk menghadapimu, Akira. Kau harusnya senang bisa melawan orang sehebat Daiki, seorang Ace dari Kiseki no sedai yang akan menguras semua kesombongan dalam dirimu itu." Akashi langsung pergi menghampiri Teman-temannya yang berada dipinggir lapangan, sementara itu Aomine mulai mengambil start duluan untuk beradu tanding basket dengan Akira.
"Bagaimana? Apa kau masih pantas menyebut mereka benalu dan menyombongkan dirimu dihadapan kami?" tanya Akashi yang langsung menghampiri Akira kembali, seusai dikalahkan oleh Aomine.
"Apa memang mental mereka selemah ini, Hufftt...," keluh Aomine yang merasa tak puas karena belum mengeluarkan semua tenaga dan keringatnya.
"Aku hanya ingin menjadi sehebatmu, Akashi-San." Akira meneteskan air matanya, ia merasa gagal saat ini selayaknya anak SMP pada umumnya. Tak ada lagi ego dan kesombongan yang terpancar diwajahnya, selain merasa malu karena gagal mewujudkan semua impiannya selama ini.
"Berdirilah, kau tak pantas mempermalukan diri sendiri dihadapan anggotamu!" perintah Akashi yang langsung mengulurkan tangannya kepada Akira dan membantunya berdiri.
"Apa aku juga adalah benalu? Aku pikir kemampuanku sudah bisa menyamai kehebatan kalian," ucap Akira.
"Kalian semua bukanlah benalu di sinj, kalian itu adalah tunas yang akan terus berkembang menjadi sebatang pohon yang mampu menjulang tinggi sampai ke langit. Kalian adalah emas yang akan mewujudkan semua harapan dan impian para alumni seperti kami, tapi kalau kau masih bertahan dengan aturan bodoh itu malahan kau hanya akan membuat kesalahan yang jauh lebih besar dibandingkan kesalahan yang kuperbuat dulu." Akashi menasehati panjang lebar, tak biasanya ia memberikan nasihat kepada orang lain. Tapi khusus hari ini, ia merasa perlu menasehati Akira yang selama ini sangat mengagumi sosoknya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Senpai! Aku janji akan belajar menjadi kapten yang baik," ucapnya kepada Akashi dan para anggota Vorpal Sword yang lain seraya sedikit membungkuk. Sepertinya, suasana hati Akira mulai sedikit terobati oleh perkataan Akashi barusan.
"Kalau begitu, kita harus mempersiapkan diri untuk pertandingan besok. Dan kau juga bisa memanggil kami senpai saja," ucap Midorima.
"Pertandingan besok dengan Shiratorizawa, berarti dengan saudara kembarku?" tanya Akira lagi yang sempat ragu.
"Benar, Akira-senpai." Kaido mulai membuka suaranya.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Akira yang seolah tak menyadari apapun tentang hal tersebut.
"Kau beneran tak tahu? Astaga, kau memang sebegitu tidak pedulinya dengan anggotamu ya, kau harusnya sadar dong kalau beberapa dari anggotamu itu di bully oleh Akio." Kagami tampak kesal, ia tak habis pikir kalau sikap tidak perduli Akira jauh lebih mengesalkan dibandingkan Sikap kurang ajar Akio.
"Maafkan aku, Senpai." Akira kembali meminta maaf.
"Sudahlah, lagian apa sebenarnya yang terjadi dengan sekolah ini dan Shiratorizawa? Kenapa Akio terlihat sangat membenci kalian?" tanya Kise.
"Akio berbuat seperti itu karena dia marah kepada Papa, soalnya belakangan ini Papa selalu pilih kasih dan membandingkan kami setiap harinya. Papa juga berbuat seperti itu bukan tanpa alasan, Papa merupakan Atlet Basket Amerika yang sangat berharap kami bisa menjadi tim inti di Teiko. Tapi sayangnya, Akio gagal menjadi tim inti disini dan terpaksa masuk ke sekolah Shiratorizawa untuk bisa menjadi Kapten. Sayangnya, usaha Akio tidak sekalipun dilirik dimata Papa yang membuat Akio kesal kepadaku dengan melampiaskannya kepada para anggota cadangan Teiko."
"Jadi, maksudmu Akio sempat bersekolah disini?" tanya Takao yang ikut nimbrung.
"Benar, Senpai. Dan akulah yang juga mengusulkan Akio untuk melupakan mimpinya dan coba menjadi kapten di tim basket Shiratorizawa saja. Aku mengusulkan itu semata-mata bukan kasihan padanya, melainkan takut tersaingi olehnya. Dan kurasa, perbuatanku malah membuat anggota lainnya selalu di bully oleh mereka." Akira merasa teramat menyesal.
"Aku tak perduli dengan masa lalumu itu, tapi yang jelas lebih baik kalian latihan saja sekarang dan biarkan Akashi memilih formasi untuk pertandingan besok!" tegas Midorima yang benar-benar merusak suasana.
Akashi hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Midorima, ia bisa mengetahui kalau Midorima hanya bersikap Tsundere dan tak mau terlihat lemah kalau sampai menangis saat mendengarkan kisah hidup orang lain.
Dengan sedikit lirikan mata tajam, Takao mentertawakan Midorima yang masih saja bersikap Tsundere seperti ini. Sementara itu, Akashi langsung menyetujui saran Midorima barusan.
__ADS_1
Entah bagaimana hasil pertandingan besok, tapi yang jelas sore ini mereka sibuk merombak ulang susunan anggota dan strategi untuk pertandingan basket besok di sekolah Shiratorizawa tanpa sepengetahuan Ushijima yang juga bersekolah disana.