
Sekembalinya ke rumah, Akashi sudah disambut hangat oleh Ayahnya yang langsung mengajak Akashi untuk berbicara empat mata secara pribadi. Tapi tidak lagi didalam ruangan, melainkan didalam gedung khusu yang terpisah sedikit jauh dari rumah utama.
Disanalah biasanya Masaomi memberikan hukuman kepada Akashi bila melakukan sesuatu yang buruk, biasanya mereka akan melewatkan makan malam dan bermalam disana. Sebenarnya hukuman ini tidaklah sering dilakukan oleh Masaomi, bahkan hal ini berlaku usai sepeninggalnya Sang ibunda tercinta.
Memang benar seperti yang di duga-duga semua media selama ini bahwa Masaomi sangat ketat dalam mendidik Akashi, tapi tak ada yang sampai menduga bahwa batas dari tindakan ketatnya itu melebihi didikan seorang Ayah pada umumnya.
Didalam ruangan yang sedikit redup dengan bertembokan dinding yang membuat siapapun diluar sana takkan bisa mendengarkan apapun dari dalam, berdiri tegak Akashi dan Ayahnya yang hanya saling berbalas tatapan.
"Selain masalah dengan ibumu, ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Masaomi sambil melipat kedua tangannya. Sepertinya sejak tadi keduanya telah selesai membahas masalah tentang perbuatan Akashi beberapa waktu lalu kepada ibu tirinya, ia juga sepertinya telah memutuskan hukuman apa yang akan diberikan kepada anak sulungnya itu.
"Ya, aku ingin bertanya pada Papa."
"Apa itu, Seijuro?" tanya Masaomi.
"Apa kau menyayangiku? Entah mengapa aku merasa kalau aku hanyalah Piala berhargamu saja, lalu bagaimana kalau seandainya aku menjadi produk yang gagal?" tanya Akashi dengan berusaha mengumpulkan keberaniannya.
"Jika aku menjadi produk gagal suatu hari nanti, Apa kau akan tetap mempertahankan ku?" tanya Akashi yang sudah merasa gelisah, ia sebenarnya masih belum sanggup untuk mendengarkan jawaban dari Masoami disamping rasa penasarannya selama ini. Belum lagi ia masih kepikiran dengan ocehan yang disebutkan Eijun sebelumnya.
Masoami sendiri tidak terkejut sedikitpun dengan pertanyaan Akashi, ia malah tak ragu untuk menghampiri Akashi dan memeluknya tanpa mengatakan sepatah katapun.
Akashi bisa merasakan pelukan hangat dari Ayahnya itu, ia juga bisa menyadari betapa mengurutnya kulit tangan sang Ayah yang mulai menua dan wangi parfum kemeja Masoami yang dahulu sangat disenanginya saat kecil.
Akashi perlahan-lahan memejamkan matanya, ia mulai teringat kenangannya saat bersama Ayah dan Ibunya sewaktu kecil. Kenangan masa lalu yang masih membekas diingatannya, walaupun sang Ayah jarang mempunyai waktu dengannya tapi tak sedikitpun Masoami melewatkan pertumbuhan Akashi selama ini.
__ADS_1
"Kau adalah warisan berharga yang ditinggalkan ibumu kepadaku, bahkan piala ataupun emas murni takkan bisa menyamai nilaimu." Masaomi melepaskan pelukannya dan sedikit berjalan mundur untuk memberikan jarak diantara mereka.
"Itu artinya kau benar-benar menyayangiku, Pa?" tanya Akashi mencoba menyederhanakan jawaban Masaomi.
"Ya, aku akan selalu menyayangimu. Tapi aku akan memastikan bahwa kau takkan pernah menjadi produk rusak sedikitpun, jadi hentikan pertanyaan perandai-andaianmu itu."
Masaomi membelai pipi putranya, "Kau akan menjadi pantulan dari diriku, makanya aku selalu bersikeras membuatmu menjadi sempurna. Kau harus bisa menjadi Piala yang berharga di seluruh penghujung hidupmu, karena hanya itulah satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup dan diakui semua orang." Masoami tersenyum, lalu ia berbalik arah menuju sebuah lemari kaca.
"Aku bisa mengerti maksudmu, Pa. Aku juga sudah mendengarnya langsung dari seorang Senior yang menjadi buangan dimata Dunia, ia benar-benar putus asa sampai memilih meredupkan seluruh impiannya dari Basket." Akashi teringat pada sosok Henry yang menjadi olok-olokan media berdasarkan cerita yang diutarakan Henry tadi siang.
"Memang seperti itulah kejamnya dunia ini, Seijuro." Masaomi mengeluarkan sebuah kayu panjang dari dalam lemari kaca tersebut.
"Kalau kau sudah mengerti, berarti aku tidak perlu lagi menasehatimu dan kita tidak usah terlalu lama menghabiskan malam."
Dan tak beberapa lama, sebuah pukulan mendarat di punggungnya yang menimbulkan bunyi nyaring. Pukulan itu sebanyak lima kali di daratkan pada punggung Akashi, tetapi sudah menimbulkan luka memerah di punggungnya.
Namun tak ada satupun teriakan kesakitan yang dilontarkannya, ia hanya terdiam mencoba menahan rasa sakit dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Hingga akhirnya pukulan itu telah berhenti dan Akashi diperbolehkan berbalik badan.
"Papa rasa pukulan untukmu sudah cukup, kau bisa duduk berdiam disini sampai tengah malam untuk merenungkan perbuatanmu dan nanti Chet Tsubasa akan membawakan makanan padamu. Kalau saja Mamamu tidak meminta keringanan, pasti kau akan mendapatkan hukuman lebih dari ini. Tapi ya sudahlah, Papa harap kau bisa menjaga sikapmu lagi." Masaomi meletakkan kembali Pemukulnya dan berjalan keluar, sedangkan Akashi hanya bisa menurut saja dan mulai duduk tenang ditengah kesunyian ruangan itu.
Awalnya ia bisa melewati setengah jam lamanya, tetapi ia tidak bisa membohongi rasa sakit dipunggungnya yang semakin terasa oleh keringat dari suhu ruangan yang tidak dilengkapi AC atau Kipas sama sekali. Belum lagi bajunya yang lengket karena belum mandi telah mengenai luka lebam di punggungnya membuat Akashi hanya memejamkan mata sambil meringis kesakitan.
Dan ditengah kesunyian, rasa sakit dan ketidakpercayaan itulah Eijun kembali muncul dengan mudahnya. Begitu juga Akashi yang seolah tertarik masuk kedalam alam bawah sadarnya. Ia bisa melihat jelas Eijun yang tengah mentertawakan dirinya, senyuman yang benar-benar menyebalkan.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak melawan saat dihukum? Memangnya itu salahmu, jelas-jelas ibu tirimu yang mengadu dan bersikap sok akrab." Provokasi yang dilontarkan Eijun menjadi Akashi sedikit kesal.
"Jangan terlalu naif, Akashi. Aku tahu kau sangat marah saat ini, kau merasa muak dengan semua aturan yang ada didalam rumahmu dan hal yang paling terpenting ialah kau mulai merindukan ibumu. Oh iya satu lagi, kau juga merasa kesepian didalam ruangan yang menyedihkan ini. Apa aku benar?" tanyanya sambil tertawa kegirangan.
"Kau yang sebenarnya dipenuhi oleh amarah, Eijun!" ucap balik Akashi yang langsung membungkam tawa Eijun. Ia berjalan cepat menghampiri Akashi dan mencekik leher Akashi dengan kuat.
"Ya, aku benar-benar marah. Aku sangat kesal, kau benar Akashi. Kau selalu menyembunyikan seluruh perasaan kecewa, sakit hati dan kemarahanmu yang semakin lama menumpuk dan melahirkan sosokku. Harusnya kau sadar kalau seluruh kebencian yang kau pendam saat ini telah mengenyangkan perutku, kau terus memaksaku untuk memakan kebencian itu padahal sudah jelas-jelas aku mulai kenyang dan muak."
"Lalu, apa maumu?" tanya Akashi yang langsung terbatuk-batuk saat Eijun melepaskan cengkeramannya dari leher Akashi.
"Sudah kubilang kau adalah produk rusak, jadi biarkan aku merasakan kehidupan yang sebenarnya. Aku ingin kau menepati ucapanmu, membiarkanku bergantian merasakan kehidupan dan mempunyai teman sepertimu. Aku ingin merasa lapar akan kebencian, kau tidak berhak memberiku makanan terus-menerus dengan menu yang sama." Eijun tampak bersemangat mengatakannya.
"Aku tidak akan mengijinkanmu, Eijun. Kau seharusnya sadar posisimu, kau hanyalah cadangan dimataku." Akashi bersikeras kepada keputusannya.
"Kalau begitu, biarkan aku memaksamu dan menunjukkan betapa lebih baiknya aku dibandingkan Kau." Eijun tersenyum licik, ia menutup Mata Akashi dengan kedua tangannya dan menghujani Akashi dengan segudang kenangan memori menyedihkan tentang kematian sang ibu dan kejahatan Akashi dimasa lalu sampai Membuat Akashi terjatuh kedalam kegelapan yang mengikatnya dalam kurungan putus asa.
Selagi Akashi masih terlena pada rasa sakit yang dirasakannya, Eijun langsung mengambil alih tubuh Akashi dan tersenyum senang. Akan tetapi, ia tidak bisa membohongi dirinya bahwa ia bisa merasakan nyer i pada punggungnya sendiri.
"Akhirnya aku benar-benar hidup," tawanya senang.
***
Maafkan author yang membuat ceritanya jadi berubah Dark 🤭
__ADS_1