STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
73


__ADS_3

Ushijima mulai terasa mengantuk dan mencoba menyandarkan dirinya di sofa, tapi matanya masih bisa sayup-sayup melihat bayangan Sekretaris Keita yang mendekat kearah ranjang untuk beberapa saat sambil bergumam pelan yang sengaja ditujukannya pada Ushijima.


"Dasar bodoh! Kau sampai tidak sadar wajahmu dicoret-coret pakai Spidol saking khawatirnya dengan Seijuro, pantas saja beberapa pelayan malah tertawa karenamu." Sekretaris Keita menggelengkan kepalanya, ia masih ingat bagaimana ketegangan dari suasana tadi bisa terbuyarkan oleh wajah Ushijima yang dipenuhi spidol tanpa disadarinya sama sekali. Untungnya, Keita bukanlah orang yang mudah tertawa sama sekali.


"Sudahlah, sepertinya aku tidak perlu lagi mengkhawatirkan keponakanku. Dia telah memiliki saudara laki-laki yang baik sepertimu, " gumamnya yang langsung berjalan pergi dari kamar itu, tapi sudah cukup untuk membuat Ushijima merasa sedang bermimpi indah.


Akan tetapi mimpi indah itu langsung tersentak saat Akashi mengigau berkali-kali, sontak saja Ushijima tersadar dari tidurnya dan mendapati hari sudah berganti malam dengan jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh.


"Akashi!" panggil Ushijima kepada Akashi yang mengigau tidak jelas, belum lagi suhu tubuhnya yang belum juga turun. Dia yang semakin khawatir tampak berniat untuk menghubungi Sekretaris Keita kembali, tetapi niat itu langsung kabur saat dirinya melihat kontan pesan dari sang Ayah.


Tiba-tiba saja ia teringat pada masa lalunya saat kecil. Dimana Ayahnya selau memberikan pelukan hangat saat ia menggigil kedinginan dan tak jarang Ayahnya juga menemaninya tidur saat Ushijima kecil mengalami mimpi buruk.


Tanpa pikir panjang, Ushijima langsung meletakkan handphonenya di Sofa dan memilih duduk dengan menyandarkan punggung dan kepalanya di Kepala Ranjang atau Headboard. Lalu, ia sandarkan Kepala Akashi dipangkuannya sambil memastikan sekujur tubuh Akashi telah terselimuti. Dia melakukan tindakan yang sering dilakukan ayahnya dahulu, ia bisa tahu kalau ini adalah cara terbaik untuk menenangkan kegelisahan seseorang.


Tak lupa pula, Ushijima melepaskan Jaket yang masih dikenakannya itu untuk menyelimuti Akashi. Dia benar-benar memberikan Act of Service yang baik untuk adiknya tersebut.


"Tidurlah," ucap Ushijima sambil mengelus-elus rambut Akashi, biasanya orang akan mudah tertidur saat kepalanya dielus-elus. Dan sepertinya trik tersebut tampak manjur, sebab tak beberapa lama kemudian, Akashi mulai kembali tenang dan berhenti mengigau. Ia juga sudah tidak lagi menggigil setelah Ushijima menambahkan Jaketnya untuk menyelimuti Akashi, meski sebenarnya dirinya yang saat ini harus merasa kelelahan dan kram pada kaki yang memangku kepala dan punggung Akashi.


"Kau itu malah seperti anak-anak saat sakit begini, padahal kau yang harusnya merawatku." Ushijima tersenyum seraya memejamkan matanya, tapi matanya mulai dibanjiri oleh air mata karena merasa kasihan pada adiknya itu. Rasanya ia sangat bersyukur atas kehidupannya sendiri, ia bahkan masih bisa merasa kasih sayang dari sosok Ayah yang begitu baik.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, perlahan-lahan ia mulai mengantuk dan tertidur dengan posisi yang masih duduk. Hingga bunyi alarm milik Akashi berbunyi keras yang menandai jam sudah menunjukkan pukul 6 Pagi. Lantas, Ushijima pun langsung terbangun dengan tubuh yang agak sedikit nyeri karena kram dan Leher yang juga ikutan tegang akibat tidur dengan posisi yang tidak nyaman.


Dan saat ia membuka matanya, ia hampir saja melompat karena melihat Akashi tengah duduk di hadapannya dengan raut wajah yang datar. Namun kali ini, Wajahnya sudah tidak lagi pucat seperti kemarin dan sepertinya ia sudah kembali bugar.


Ushijima tidak mengatakan apapun, ia matikan alarm yang berisik itu terlebih dahulu dan duduk kembali di sebelah Akashi. Ia letakkan punggung tangannya kembali di atas dahi Akashi untuk memastikan suhu tubuh adiknya itu. Ada perasaan lega didalam hatinya saat mengetahui bahwa suhu tubuh Akashi sudah tidak panas lagi, ia sampai menghela nafas panjang saat itu.


"Kau sudah sembuh rupanya," ucap Ushijima refleks.


"Ya, aku juga sudah bangun dari sejam yang lalu. Tapi aku tidak tega untuk membangunkanmu," ujar Akashi dengan santai yang sontak membuat kesal Ushijima.


"Kalau kau memang sudah bangun dari awal, harusnya kau gerak dong buat matiin alarmmu yang berisik itu. Kau sama saja namanya membangunkanku," keluh Ushijima yang hanya diacuhkan oleh Akashi.


Dia malah berdiri dan mengambil kotak tisu yang langsung dilemparkannya kepada Ushijima, sebelum kembali duduk disebelah Ushijima.


"Coretan?" tanyanya bingung, ia langsung berjalan kearah cermin dan betapa kagetnya ia saat menyadari wajahnya tampak mengerikan. Pantas saja ia merasa agak kesal saat beberapa pelayan mentertawakan dirinya, anehnya ia tidak sampai kepikiran sama sekali bahwa dirinya lah yang menjadi objek komedi seisi rumah.


"Kau pasti pelakunya?" tanya Ushijima yang langsung menyudutkan Akashi, sembari menghapus coretan spidol yang agak mengeringkan itu dengan tisu yang dicelupkan dalam gelas berisi air minum.


"Ya, aku cuman iseng aja. Tapi, aku tidak menyangka Ushijima-san sebodoh itu. Harusnya aku memotretmu saja tadi dan mengirimkannya kepada teman-temanku," tutur Akashi yang masih sempat-sempatnya menyesali perbuatannya yang telah memberitahu Ushijima.

__ADS_1


"Kau -" bentaknya yang langsung tertegun dan sulit untuk berkata-kata. Dengan kesal, ia berusaha fokus membersihkan wajahnya dan mengacuhkan Akashi untuk sementara.


Akashi tersenyum, ia lirik sejenak Jaket Ushijima yang ada disebelahnya dan memanggil nama Ushijima.


"Terimakasih ya, Ushijima-san. Kau sudah merawatku dengan baik, aku beruntung mempunyai orang yang perduli sepertimu."


Ushijima yang mendengarkan perkataan Akashi langsung terdiam, ia menoleh kebelakang dan menatap tajam pada Akashi.


"Itu memang sudah tugasku, berhenti mengucapkan terimakasih untuk kali ini. Kau itu memang adik yang menyusahkan," keluh Ushijima yang kembali menatap cermin untuk membersihkan wajahnya. Kalau saja Akashi dalam keadaan baik-baik saja, ia ingin sekali memukul Akashi dan menceburkannya ke kolam atas perilaku jahilnya ini.


"Aku masih bisa melihatmu menggerutu dari pantulan cermin, Ushijima-san." Akashi tersenyum dan masih saja mengolok-olok Ushijima, setelah mengusili Ushijima seenaknya saja. Untungnya Ushijima masih dalam mode sabar, ia juga sedang tidak mood untuk mengajak Akashi bertengkar atau memprovokasi Akashi. Hatinya hanya bisa merasa kasihan pada adiknya yang malang itu, sampai membuatnya merasa semakin kesal saat ini.


"Ushijima-san! Masalah kemarin itu, apa kau sudah mengetahuinya?" tanya Akashi yang tiba-tiba merubah suasana saja dan menambah tingkat kasihannya Ushijima.


"Ya, aku tanya langsung pada Sekretaris Keita karena penasaran."


"Lalu, apa yang kau ketahui tapi belum kuketahui?" tanya lagi Akashi.


"Aku tidak akan memberitahumu kalau nantinya kau hanya akan semakin terluka," tolak Ushijima yang enggan untuk memberikan informasi apapun pada Akashi, meski Keita sendiri sudah mengizinkan Ushijima untuk memberitahu Akashi terkait hal ini.

__ADS_1


Sepertinya Sekretaris Keita juga merasa lelah untuk menyembunyikan rahasia ini pada Akashi, ia tidak tahan melihat keponakannya itu harus mengalami kehidupan yang sama sekali tidak diinginkan oleh Kakak perempuannya.


"Apa yang harus kujanjikan padamu, supaya kau menceritakannya padaku?" tanya Akashi yang terdengar sudah sangat siap untuk mengetahui kebenarannya saat ini.


__ADS_2