
Dua bulan telah berlalu sejak Ushijima Wakatoshi tiba di California, USA. Di pagi yang cerah ini, dia berdiri di lapangan voli Orange County Stunners, mempersiapkan diri untuk latihan pemanasan rutinnya. Matahari pagi yang hangat menyinari kulitnya yang pucat, kontras dengan sinar matahari di Jepang yang selalu terasa dingin. Tempat ini telah menjadi rumah baru bagi Ushijima sejak dia direkrut oleh pihak NVA untuk bergabung dengan klub Orange County Stunners.Dengan punggung tegap dan wajah serius, Ushijima Wakatoshi berlari di pinggiran lapangan voli. Langkahnya mantap dan tegas, sebagai pemanasan untuk latihan rutin hari itu. Keputusannya untuk meninggalkan Jepang dan melupakan segala kenangan pahit telah mengubahnya. Kini, satu-satunya yang tersisa dalam pikirannya adalah mencapai tujuannya dalam voli, menjadi yang terbaik, dan melupakan segala kenangan pahit yang terkait dengan Jepang.
Bahkan, Ushijima yang dahulu dikenal sebagai pemain voli yang tenang dan pendiam, kini berubah menjadi lebih dingin, acuh, dan ambisius. Kematian ayahnya beberapa bulan yang lalu telah meninggalkan luka yang mendalam dalam dirinya. Ayahnya adalah sosok yang selalu memberikan dukungan padanya, dan kepergiannya meninggalkan Ushijima dengan rasa kehilangan yang tak terbayangkan. Namun, yang lebih berat baginya adalah keterlibatan Akashi Seijuro, adik laki-laki tirinya yang menjadi penyebab kematian ayahnya.
Hingga tiba-tiba, Pelation Stanner yang merupakn pemain senior dan kapten tim, mendekatinya dari sudut lapangan. Pelation adalah pemain berpengalaman yang telah mengarungi dunia voli tingkat nasional selama bertahun-tahun.
"Ushijima, kamu semakin luar biasa setiap hari. Kau benar-benar memberikan yang terbaik di lapangan." Pelation berlari dibelakang Ushijima dengan senyuman ramah dan tegas seperti biasanya yang ia lakukan kepada semua orang.
Ushijima hanya mengangguk sebagai jawaban. Kata-kata pujian tidak lagi mampu mengguncangnya seperti dulu. Hidupnya kini didedikasikan sepenuhnya untuk voli, menjadi yang terbaik di dunia.
"Wakatoshi, bisakah kita berbicara sejenak?"tanya Pelation yang berusaha memahami isi pikiran salah satu anggotanya ini.
Ushijima hanya terus berlari didepan Pelation tanpa berniat mendongak kebelakang untuk menghormati senior sekaligus kapten timnya itu. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"
Pelation masih berlari untuk menyamai posisinya yang saat ini sudah berada disebelah Ushijima, "Saya tahu kamu telah mengalami banyak perubahan dalam hidupmu belakangan ini. Kehilangan ayahmu adalah sesuatu yang sangat sulit. Dan saya juga tahu tentang masalah dengan adik tirimu, Akashi."
Ushijima langsung menghentikan lariannya dan menoleh ke arah Pelation, "Apa yang kamu tahu tentang itu?"
"Ketika seseorang bermain bersama tim ini cukup lama, kita bisa tahu banyak hal tentang satu sama lain. Saya tahu bahwa kamu ingin melupakan semuanya, tapi ingatlah, membawa dendam hanya akan membebanimu lebih banyak." Pelation masih tersenyum ramah seraya menepuk-nepuk pelan bahu Ushijima.
Ushijima hanya menatapnya dengan sorot mata yang masih dingin sejak kedatangannya dua bulan lalu ke klub ini. Namun, ia bukanlah orang yang akan mengacuhkan saran orang lain yang begitu sangat ia hormati status dan kemampuannya. "Apa saranmu, Pelation?"
"Saran saya adalah, jangan biarkan dendam dan kebencian mengendalikan hidupmu. Jangan biarkan itu merusak potensimu di lapangan. Kita semua di sini untuk memenangkan pertandingan dan mencapai prestasi tertinggi. Bersama-sama, kita bisa melakukannya."
__ADS_1
Ushijima yang mendengarkan saran dari Pelation mulai merenung sejenak. Sebelum akhirnya ia menghela nafas panjang, "Aku akan berusaha."
Pelation tersenyum puas, "Itu yang aku ingin dengar, Wakatoshi. Kita tim, dan kami selalu ada untuk satu sama lain."
Ushijima mengangguk sebagai tanda persetujuannya. Meskipun dendamnya masih membakar dalam dirinya, kata-kata Pelation telah menciptakan semacam celah di hatinya. Di bawah matahari California yang cerah, Ushijima Wakatoshi mulai merenungkan apa yang sebenarnya ingin dia capai di dunia voli, sambil mempertimbangkan apakah dia harus membiarkan dendam itu merusaknya atau memilih jalannya sendiri yang lebih baik.
****
Di sisi lain, hari ini adalah pertandingan perempat final Interhigh bola basket antara Tim Basket sekolah Rakuzan dan Tim Basket sekolah Yosen. Pertandingan berlangsung di stadion yang penuh sorak sorai, diikuti oleh penonton yang penuh semangat. Tim Yosen, yang telah memberikan perlawanan sengit sepanjang pertandingan, berusaha keras untuk mempertahankan keunggulan mereka. Dimana, saat ini Atsushi Murasakibara tengah berdiri dibawah Ring sambil menguap berkali-kali sejak Babak kedua berlangsung sampai sekarang., "Mengapa pertandingan ini begitu panjang? Aku bosan."
"Tetap fokus, Murasakibara. Ini adalah pertandingan yang penting." Tatsuya Himuro hanya tersenyum saja menatap rekan timnya itu, Bersamaan dengan Wei Liu yang mengangguk setuju dengan perkataan Tatsuya. "Benar, kita harus memenangkan ini."
Sementara itu, di pihak Rakuzan, tim juga tidak ingin kalah. Reo Mibuchi yang sedang mendribble bola menuju area Tim Yosen mulai berteriak menggebu-gebu dengan tetesan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuhnya. "Kami harus terus menekan mereka, jangan biarkan mereka mendekati skor kami."
"Aku akan mencoba membuka celah di pertahanan mereka." Hayama ikut berteriak kesal saat mengejar langkah Nebuya sambil memastikan bahwa Tim Yonsen tiba merampas bola dari tangan Nebuya sambil terus membuka celah dipertahanan Lawan. Namun sayangnya, Rakuzan masih saja gagal berulangkali menerobos Raksasa pertahanan Yosen yang tak lain ialah Murasakibara sendiri. Hingga waktu perlahan-lahan semakin bergulir cepat tanpa satupun poin yang bisa diperoleh oleh Rakuzan lagi sampai detik ini. Dan tampaknya, Pertandingan terus berlangsung dengan ketegangan yang lebih memuncak dari sebelumnya. Tim Yosen masih terus mempertahankan keunggulan mereka dengan permainan bertahan yang kuat, sementara tim Rakuzan mencoba mengejar mereka dengan serangan yang cepat dan akurat. Setiap poin menjadi sangat berharga dalam pertandingan ini.
Wasit berteriak keras sambil meniupkan peluit khasnya dari pinggir lapangan Basket, "Detik terakhir!"
Semua pemain di lapangan mengetahui bahwa ini adalah momen krusial. Tim Yosen memiliki keunggulan poin yang tipis, tetapi tim Rakuzan memiliki satu kesempatan terakhir untuk mencetak gol dan meraih kemenangan.
Reo Mibuchi, pahlawan tim Rakuzan dalam momen kritis ini, memegang bola dengan tangan yang gemetar. Waktunya sangat terbatas, dan tekanan yang luar biasa dirasakannya. Dia tahu bahwa bola yang dia lempar akan menjadi penentu hasil pertandingan ini.
Reo memutuskan untuk meluncurkan bola dengan kekuatan penuh. Ia mengatur pandangan mata dan merasakan setiap detik berlalu dengan sangat lambat saat bola itu melesat menuju ring dengan kecepatan kilat. Detik berikutnya, ring yang berdering mengakhiri babak ketiga.
__ADS_1
Dimana kali ini, Skor akhir babak ketiga adalah 101-110, dengan Tim Yosen tetap memimpin. Pertandingan ini adalah pertarungan sengit di mana setiap poin sangat berharga. Semua mata tertuju pada babak keempat yang akan menentukan nasib kedua tim.
Dalam keheningan singkat setelah akhir babak ketiga, kedua tim bersiap untuk mengambil Jeda istirahat selama 10 menit sebelum nantinya memasuki babak terakhir yang penuh ketegangan. Ini adalah pertandingan yang akan diingat dalam sejarah bola basket Interhigh, dan tak seorang pun yang berada di stadion ingin melewatkan momen bersejarah ini.
NB:
Anggota Tim Yosen yang bertanding dalam pertandingan perempat final Interhigh adalah:
Atsushi Murasakibara: Pemain center yang sangat tinggi dan kuat. Murasakibara dikenal dengan sikapnya yang santai dan kemampuannya yang luar biasa dalam pertahanan dan serangan di bawah ring. Dia adalah pemain kunci dalam tim Yosen.
Tatsuya Himuro: Pemain shooting guard yang memiliki kemampuan tembakan jarak jauh yang mengagumkan. Himuro adalah pemain andalan dalam mencetak poin dari luar dan menjadi salah satu penyerang terbaik di tim.
Wei Liu: Pemain asing yang sangat berbakat. Liu adalah pemain forward yang memiliki kombinasi kecepatan, kekuatan, dan kelincahan. Dia adalah salah satu pemain yang paling bersemangat dalam tim dan selalu berjuang keras di lapangan.
Kenta dan Viky: Dua pemain junior kelas 10 yang membawa semangat muda dalam tim. Kenta adalah point guard yang pintar dalam mengatur serangan tim, sementara Viky adalah pemain small forward yang memiliki kemampuan bertahan yang solid. Mereka adalah pemain yang berperan penting dalam strategi tim.
Di pihak Tim Rakuzan, anggota yang bertanding termasuk:
Reo Mibuchi: Shooting guard yang ahli dalam menembak tiga poin. Mibuchi adalah salah satu pemain terkemuka dalam tim Rakuzan dan sering menjadi penyelamat dalam situasi kritis.
Hayama: Pemain point guard yang memiliki kecepatan luar biasa. Dia adalah pengatur serangan utama tim dan mampu melewati pertahanan lawan dengan kecepatan kilat.
Nebuya: Pemain forward yang kuat dan tangguh. Nebuya adalah pemain yang berperan penting dalam pertahanan dan serangan tim. Kekuatan fisiknya membuatnya sulit dihentikan oleh lawan.
__ADS_1
Carloz dan Henry: Dua pemain baru kelas senior yang membawa keahlian unik ke dalam tim. Carloz adalah center dengan keterampilan bertahan yang kuat, sementara Henry adalah power forward yang lincah dan mampu mencetak poin dengan beragam cara.
Meskipun Akashi Seijuro, kapten tim Rakuzan yang sangat berpengaruh, memutuskan untuk duduk di bangku cadangan, kehadirannya tetap menjadi ancaman yang mencekam bagi tim lawan.