
"Aku sama sekali belum melatih kekuatan ini, tapi tak ada salahnya aku mencoba lagi untuk kemenangan Tim." Akashi bergumam dalam batinnya, seraya jemarinya masih terus mendribble bola mendekati Ring lawan.
Untungnya saat ini ia tak membutuhkan penggunaan kekuatan itu ataupun Emperor Eyes sama sekali untuk memasukkan bola kedalam ring kali ini. Dan poin yang diperolehnya barusan, tampak berhasil membuat kesal Akio.
Dengan secepat kilat, ia memberikan instruksi kepada rekannya untuk meriah bola itu dan mengoperkan kepadanya. Dan tak lupa pula, ia juga memberikan instruksi supaya kedua rekannya berusaha menahan Akashi agar sulit mengejar langkah Akio.
Namun sayangnya usaha itu sia-sia saja, Akashi berhasil kabur dari pertahanan Shiratorizawa dengan kemampuan Emperor Eyes-nya. Bahkan, ia juga berhasil mencapai posisi keberadaan Akio seorang diri dan kembali menggunakan Emperor Eyes-nya untuk merampas bola dengan mudah.
Lalu, Akashi berlari kembali menuju ring Shiratorizawa tanpa menyadari sama sekali bahwa Akio sedang mengisyaratkan Suho untuk melakukan sesuatu yang tak pernah di duga oleh siapapun.
"Kau... Kau benar-benar lawan yang menyebalkan!" teriak Suho yang langsung mencegat bola tersebut memasuki ring sembari menggunakan siku tangannya untuk menyerang Pelipis mata Akashi yang hampir saja mengenai matanya dari titik buta Wasit sampai Membuat Akashi terduduk sesaat menahan rasa sakit di pelipisnya.
Untungnya mata Akashi tidak terjadi apa-apa, selain memar sedikit pada bagian pelipis karena benturan keras. Namun siapa sangka, tindakan Suho barusan mulai membangkitkan sisi kejam Akashi.
Dengan tenang ia kembali berdiri setengah membungkuk, sekilas Suho bisa menyadari sebuah senyuman kejam yang terpancar diwajahnya dan tawa kecil yang hanya bisa terdengar ditelinga Suho.
"Harusnya kau tidak bermain-main dengan orang yang menyebalkan sepertiku, aku takkan pernah memaafkan siapapun yang telah mencari masalah denganku." Akashi berbisik pelan dan memberikan sorot mata tajam kepada Suho yang langsung bergidik ketakutan.
Kakinya terasa sulit untuk digerakkan saat ini, ia hanya bisa tertegun dihadapan Akashi yang kini sudah berdiri tegak sepenuhnya.
Tangannya seolah-olah tengah bersiap mencekik keras leher Suho, ia mulai gelap mata untuk sesaat dengan membiarkan aura kebencian membelenggu dirinya.
Ushijima yang tadinya berada di pojok kursi penonton langsung berlari kedalam lapangan saat menyadari sesuatu tak beres kepada adiknya itu, ia langsung buru-buru meminta time out sebagai perwakilan Tim Shiratorizawa.
Dan bunyi peluit yang di tiup oleh wasit sontak membuyarkan kegelapan yang hampir menguasai Akashi sepenuhnya, ia langsung berbalik badan untuk menghampiri anggota seolah-olah tanpa mengatakan Apapun lagi terhadap Suho.
Sementara itu, Ushijima langsung meneriaki Suho untuk mendatanginya saat itu juga. Ia bisa menyadari kedua kaki Suho yang masih bergetar hebat.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini, Ushijima-senpai?" tanya Akio yang sedikit kesal karena pertandingannya diganggu oleh Ushijima.
"Diamlah! Lebih baik sekarang kau dengarkan aku," ucap Ushijima yang sesekali melirik kepada Akashi. Saat itu Akashi hanya duduk saja sambil menutup kepalanya dengan handuk basah, tak ada sama sekali interaksi didalam tim Teiko itu.
"Gantikan saja Suho untuk sisa permainan kali ini atau aku takkan menjamin kalau ia bisa bermain kembali untuk selamanya," beritahu Ushijima yang langsung blak-blakan tanpa memberikan penjelasan apapun.
"Ah? Emangnya kau siapa, seenaknya memerintahkanku. Maaf ya Ushijima-senpai, tapi ini bukan olahragamu dan tolong jangan terlibat sama sekali dengan permainan kami!" tolak Akio mentah-mentah, ia merasa tak sepantasnya Ushijima memerintahkan mereka. Apalagi Suho merupakan satu-satunya orang yang sangat diandalkan Akio dibandingkan rekannya yang lain.
"Terserahmu saja. Aku juga tak berniat menolong kalian sama sekali, semua ini kulakukan untuk menolongnya." Ushijima langsung pergi, ia tak ingin juga beradu argumen dengan Akio yang memang dikenal keras kepala meskipun statusnya masih siswa SMP.
"Aku pikir Ushijima-senpai itu benar, aku ingin digantikan untuk sisa pertandingan hari ini saja." Suho membuka percakapan usai Ushijima pergi, ia mulai menyadari kalau saran yang diberikan Ushijima tadi tidaklah buruk bila mengingat apa yang dirasakannya tadi selama berada didalam Lapangan.
"Kenapa? Apa kau sudah bersikap seperti seorang penakut sekarang?" tanya Akio yang tidak terima atas keputusan Suho.
"Kau tidak berada disana tadi, kau takkan tahu rasanya hampir di makan hidup-hidup oleh sosok buas seperti Akashi-San. Dia bukanlah orang yang tepat untuk dipermainkan oleh bocah seperti kita," ucap Suho yang langsung berdiri dan berjalan pergi meninggalkan lapangan, ia seperti merasa muak untuk berdebat dengan Akio saat ini dan rasanya ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu diluar lapangan.
Bersamaan pula dengan bunyi time out yang telah habis, jelas saja membuat Akio terpaksa memainkan tim cadangannya untuk menggantikan Suho dan menyebabkan pengurangan kekuatan didalam pertahanan Shiratorizawa.
Hingga beberapa menit diakhir kuarter keempat, alur permainan yang tadinya masih dikuasai oleh Teiko mulai berpihak pada Shiratorizawa. Dan menyebabkan kedudukan mereka mulai terkejar selangkah demi selangkah sampai berakhir seri. Jelas saja, hal ini sangat tidak bisa diterima oleh Akashi. Dan semua ini terjadi saat Akio mengganti beberapa rekannya dengan anggota yang memiliki permainan lebih kasar selama pertandingan sampai membuat anggota Teiko mengalami memar disekitar lengan dan bahu. Walaupun sisi baiknya, suasana hati Akashi mulai membaik seiring berjalannya waktu pertandingan.
"Kalau kita tidak mengambil alih alur permainan ini lagi, kita bisa terlampaui dan kalah saat kuarter empat ini berakhir. Apa yang harus kita lakukan sekarang, Akashi-Senpai?" tanya Akira yang baru saja dimainkan dalam lapangan setelah jeda dua Kuarter atas perintah Akashi.
Berapa sisa waktunya?" tanya Akashi yang masih sibuk menatap fokus kearah bola yang berada ditangan Akio.
"15 detik lagi, Senpai."
"Kalau begitu biar aku yang tangani," ucap Akashi yang langsung berlari menghampiri Akira kembali dengan menyisakan waktu 10 detik sebelum berakhirnya pertandingan.
__ADS_1
"Mari akhiri permainan kekanak-kanakan ini, Akio." Akashi tersenyum licik.
"Kekanak-kanakan? Kau sungguh lucu," ledek Akio yang malah mendribble bolanya dihadapan Akashi untuk melewati Kapten Kiseki no sedai itu dengan harapan mempermalukan rasa hormat dan meruntuhkan keangkuhan Akashi.
"Aku bukanlah orang yang lucu, aku hanyalah seseorang yang bersifat mutlak dan akan selalu berada diatas. Dan sekarang, aku akan membuatmu tertidur dengan kepingan kekecewaan karena telah memandangku rendah selama pertandingan ini!" " ancam Akashi sekali lagi. Lalu, ia membisikkan sesuatu dihadapan Akio dengan memejamkan sebelah matanya.
"Tundukkan kepalamu sekarang!" perintah Akashi yang langsung merampas bola dari genggaman Akio, bersamaan pula sekujur tubuh Akio langsung lemas seperti kehilangan tenaga sampai membuatnya kehilangan kesadaran saat itu juga.
Sementara itu, Akashi langsung mengoper bolanya kepada Akira yang segera mencetak poin dengan memasukkan bola kedalam ring dari jarak jauh.
Dan begitu Wasit mengakhiri permainan, barulah Bola itu terjatuh ke bawah dengan disusul oleh beberapa anggota kesehatan yang membopong Akio menggunakan tandu untuk di evakuasi.
"Kita menang, Senpai!" teriak anggota Teiko, terkecuali Akira yang merasa khawatir terhadap saudara kembarnya itu.
Ia tak ikut menghampiri kerumunan anggotanya untuk berterimakasih kepada Akashi, ia malah berlari mengikuti tandu yang membawa Akio menuju UKS.
Akashi sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut dan tak juga terlalu perduli, ia hanya ikut memperlihatkan wajah senangnya kepada para juniornya itu. Hingga ia merasa kepalanya sedikit pusing dan sesuatu mulai mengalir di hidungnya, ia langsung berpamitan untuk ke toilet terlebih dahulu dan meminta mereka untuk mengajak Akira pulang.
Akashi tampak terburu-buru menuju toilet yang tak jauh dari gedung Lapangan Basket, kebetulan sebelum memasuki gedung dirinya sudah melihat sekilas papan petunjuk toilet yang ada di setiap lorong. Tanpa sekalipun ia menyadari kalau beberapa siswa SMA Shiratorizawa sedang mengikutinya kedalam toilet dimana salah seorang diantara mereka tengah membawa pisau lipat kecil di tangannya.
"Pertandingan yang berantakan," gumam Ushijima yang hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dan berniat pergi dari bangku penonton, saat itu para remaja Shiratorizawa merasa kecewa terhadap hasil pertandingan tersebut dan beberapa diantaranya merasa malu dengan apa yang sedang terjadi pada Akio. Mereka sama sekali tak menyadari kemampuan Akashi yang telah membuat Akio pingsan, sepengetahuan mereka bahwa Akio tampak lemah bila dilihat dari kursi penonton.
"Sudah kuduga, kau bakal menonton pertandingan ini Wakatoshi-kun!" tutur Tendou yang merasa puas melihat ekspresi wajah malu Ushijima. Kalau saja tadi ia tak turun kelapangan, pasti Tendou takkan menyadari keberadaannya dan kini ia benar-benar sangat menyesal untuk menghentikan Akashi yang berniat mencelakai Suho.
"Aishhh, tindakan bodohku malah membuatku sial. Seharusnya aku gak perlu menyelamatkan Akashi dari niat buruknya," celetuk pelan Ushijima.
"Jadi, siapa yang kau dukung disini?" tanya Tendou penuh riang, disusul oleh tatapan sami dan beberapa rekan lainnya yang menunggu Jawaban Ushijima.
__ADS_1
****
Wah, sepertinya akan ada sesuatu yang hebat terjadi didalam toilet? Dan bagaimana Ushijima menutup rasa malunya dihadapan Tendou yang kepo maksimal dan teman-temannya yang lain? Bagaimana keadaan Akio ya setelah pertandingan ini? Dan bagaimana menurut kalian tentang keputusan Akashi yang memilih bermain sendirian selama kuarter 3?