
"Jadi kau ingin izin tidak masuk sekolah untuk hari ini, Akashi?" tanya wali kelas Akashi.
"Benar, Pak. Tidak masalah, kan?" tanya Akashi balik untuk meminta persetujuan wali kelasnya tersebut.
"Tidak masalah sih, malahan bagus Kalau kamu akhirnya bisa kembali lagi ke dalam tim Basket Rakuzan." Wali kelas tersenyum, "Jadi, kalian mau tanding sama SMA mana?"
"Sepertinya anda salah sangka, Pak. Maksudnya itu saya izin mau tanding bareng junior Teiko buat lawan Akademi Shiratorizawa hari ini. Jadi, saya gak akan bawa anak Rakuzan buat melawan hal sepele kayak gini." Akashi tersenyum yang hanya dibalas anggukan bingung oleh Wali kelas.
"Ya sudah, walaupun rasanya cukup aneh. Tapi, kamu saya izinkan saja deh. Mungkin saja setelah itu kamu bisa kembali fit buat memimpin Tim basket Rakuzan lagi, sekaligus Menghandle Anggota OSIS sekolah ini sebagai ketua."
Akashi mengangguk dan langsung berpamitan, ia juga tak punya banyak hal yang perlu diobrolkan kembali dengan Wali kelasnya.
"Sei-chan, kau mau kemana?" tanya Mibuchi yang kebetulan berpapasan dengan Akashi di lantai dasar.
Dengan tangan yang dipenuhi tumpukan buku, Mibuchi berjalan mendekati Akashi dengan wajah bingung.
"Aku ada urusan hari ini, Senpai. Oh iya, aku sampai lupa bilang kalau aku izin untuk melewatkan latihan hari ini. Tolong bantuannya untuk menghandle anggota yang lain ya," tutur Akashi yang sangat mempercayai Mibuchi.
"Memangnya urusan apa itu?" tanya Mibuchi.
"Aku sedang tidak tertarik untuk menjelaskannya kembali, Senpai. Dan kalau boleh izin, aku harus pergi sekarang karena sebentar lagi permainan akan dimulai." Akashi langsung berlalu dengan menyisakan tanda tanya. Ia memang tengah bersemangat hari ini, jadi tak ada waktu untuk singgah berlama-lama buat mengobrol dengan orang lain. Lagipula, tujuannya saat ini ingin segera sampai ke akademi Shiratorizawa dan mengalahkan semua anggota Tim Basket SMP Shiratorizawa.
__ADS_1
Dan tak menunggu waktu lama, akhirnya mobil pribadi yang mengantarkan Akashi tiba juga di depan lobi utama Shiratorizawa. Akashi bisa merasakan aura ketegangan dari pundak belakang anggota Teiko yang telah lama menunggunya di dalam lobi.
Sekilas kalau dipikir-pikir, Akashi malah lebih terlihat seperti Senior mereka dibandingkan alumni. Apalagi saat ia berjalan mendekati anggota Teiko dengan senyuman ramahnya, tak lupa juga aura mematikan yang dimilikinya.
"Kalian sudah datang dari tadi rupanya," ucap Akashi.
"Benar, Akashi Senpai." Tatapan mata Akira yang penuh binar, masih jelas kita bisa merasakan kekaguman terhadap Akashi dari sosok dirinya.
"Lalu, kenapa kalian masih disini? Dimana tuan rumahnya?" tanya Akashi.
"Ah, salah satu anggota Akio tadi sudah datang dan menyuruh kita untuk segera ke lapangan Indoor Basket mereka yang ada beberapa meter dari sini, cuman kami memutuskan buat nunggu Senpai saja disini." Akia menunjukkan jarinya kearah jalan yang membelok kesebelah kiri, sepertinya itu adalah arah jalan menuju Lapangan Basket Shiratorizawa.
"Ya sudah, Ayo kita kesana!" ajak Akashi, ia sudah semakin tak sabar untuk memberikan pelajaran atas kesombongan junior Shiratorizawa itu.
Namun nahasnya, harapan itu harus pupus karena Ushijima bukanlah orang yang suka menunjukkan ekspresi apapun selain wajah datarnya. Bahkan, saat kalah dari Tim Hinata saja, Ushijima tak pernah sekalipun memperlihatkan wajah sedihnya seperti yang diharapkan oleh Oikawa sebelumnya.
"Wakatoshi-kun, kau beneran tak penasaran dengan hasil pertandingan mereka?" tanya Tendou yang sedang menghasut Ushijima untuk bolos demi menonton pertandingan Akashi yang mewakili Tim Teiko dan Kiseki No Sedai melawan Akio dari Tim Shiratorizawa.
"Kau saja yang lihat, aku tak mau membuang waktu belajarku untuk menonton sesuatu yang tak kumengerti sama sekali. Lagian, itu bukan Voli dan aku tak tahu apapun terkait dari segi aturan dan permainannya." Ushijima masih fokus membaca lembar halaman Buku Fisika miliknya.
"Wakatoshi-kun, kau memang tidak asyik seperti biasanya. Cobalah sesekali move on dari Voli dan mencoba mempelajari olahraga lain, lagian tak ada salahnya kau menonton pertandingan Seijuro-chan."
__ADS_1
Ushijima menutup bukunya, "Dengar ya Tendou! Lebih baik menguasai satu bidang olahraga dengan profesional dan penuh cinta, dibandingkan mampu dalam segala bidang tapi tidak bisa menunjukkan keprofesionalitasan yang baik. Dan lebih baik juga menjadi dewa di satu bidang Olahraga tersebut, dibandingkan menjadi prajurit disemua bidang olahraga."
Tendou tersenyum, ia sudah kehabisan kata-kata untuk menangkis serangan telak dari perkataan Ushijima barusan.
"Sudahlah, kalau gitu biar aku saja sama Sami yg nonton. Semangat belajarnya, Wakatoshi-kun. Semoga kau bisa menjadi Dewa dipelajaran Fisika itu," ledek Tendou yang tak pernah ketinggalan memberikan guyonan dan pergi begitu saja membiarkan Ushijima kembali menikmati waktu belajarnya.
Namun sepertinya, tak beberapa lama kemudian Ushijima mulai gelisah. Ia seolah-olah terganggu oleh informasi yang didengarnya dari Tendou tadi. Dan benar saja, rasa penasarannya tersebut menyeruak lebih besar. Bukan tanpa alasan ia menjadi tertarik seperti ini, tetapi saat mendengarkan seorang kapten Kiseki no Sedai sedang berada disekolahnya dan akan berhadapan dengan juniornya menjadi sesuatu yang tampak menarik.
"Aishhhh, Sudahlah." Ushijima langsung berdiri dan menutup kembali bukunya. Ia terlalu penasaran untuk melihat performa Akashi, belum lagi rasa bersalahnya yang masih memberikan rasa sesak di dadanya. Bagaimana kalau nantinya kesalahan kecil itu memperburuk kemampuan seorang Akashi, walaupun dilain sisi ia takkan sanggup melihat kekalahan Tim Basket SMP Shiratorizawa.
Dengan langkah yang terburu-buru, ia pergi meninggalkan kelas. Beruntungnya saat itu guru belum datang, jadi dia bisa bolos dan meninggalkan kelas secepat mungkin.
Dan tepat melewati koridor lantai dua, matanya tak sengaja melihat kearah jendela yang langsung menghadap keluar dan memperlihatkan sosok Akashi dengan Tim SMP Teiko sedang berjalan menuju lapangan Basket.
"Bagaimana mungkin dia bisa bermain dengan mengandalkan sebelah mata?" tanya Ushijima yang tak berhenti tersenyum geli, jujur saja kalau dia masih meremehkan Akashi yang saat ini tidak tampak sempurna seperti dulu.
"Kau tersenyum, Ushijima?" tanya seorang gadis yang entah dari mana tiba-tiba sudah berada di sebelahnya Ushijima. Gadis itu memiliki rambut panjang sebahu dengan poni yang menutupi dahi dan senyuman indah yang bisa membius musim semi.
"Memangnya apa yang sedang kau lihat, Ushijima? Tak biasanya kau tersenyum bebas seperti ini, bahkan seorang gadis lembut kayak aku saja masih kesulitan membuatmu tersenyum."
"Aku bukan tersenyum, tapi sedang meremehkan seseorang." Ushijima menatap gadis itu, kini kedua mata mereka saling berpapasan. Entah apa yang dirasakan Ushijima saat ini, tetapi yang jelas gadis itu sedang merasakan kupu-kupu tengah berterbangan di hatinya setiapkali beradu pandang dengan Ushijima.
__ADS_1
****
Wah, kira-kira Ushijima merasakan perasaan yang sama gak ya? Siapa ya gadis itu kira-kira? Btw, Author boleh gak sih buat Kisah percintaan Ushijima disini guys? Gimana menurut kalian?