
"Permisi, Pak. Boleh aku tanyakan sesuatu padamu?" tanya Akashi. Pria tua itu tersenyum ramah, meski wajahnya masih menampakkan lesu dan letih.
"Apa itu, nak?" tanya Pria itu.
"Temanku melihatmu tampak letih dan lesu, ia merasa kasihan padamu. Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya balik Akashi seraya menunjuk kepada Ushijima, ia benar-benar mengkambing-hitamkan Ushijima.
"Kalian memang anak yang baik ya, jarang sekali ada yang memperhatikan orang tua sepertiku." Pria tua itu berdecak kagum, ia merasa sangat senang bisa diperhatikan seperti ini oleh anak muda seperti Ushijima dan Akashi. Tapi, Akashi buru-buru membantahnya.
"Berterimakasihlah padanya, karena dia yang pertamakali khawatir padamu. Tapi kalau boleh tahu, mengapa dirimu seperti ini? Apa kau habis minum-minum?" tanya Akashi tanpa ragu.
Pria itu menggelengkan kepalanya, "Tidak, malahan aku sudah tidak minum beberapa bulan belakangan ini. Aku harus bekerja keras buat pengobatan anakku, walaupun kelihatan banget ya wajahku yang lesu tidak bisa berbohong." Pria itu tertawa seolah mentertawakan dirinya sendiri.
"Ya, wajahmu terlihat lesu. Memangnya pekerjaan apa yang membuatmu terlihat lelah seperti ini? Bukannya kau bekerja sebagai karyawan kantoran, lalu mengapa kau tampak suram dan tidak terurus."
"Kau ini terang-terangan sekali mengkritikku ya, kau benar-benar mirip istriku." Pria itu tertawa semakin menjadi-jadi, ia mengelus-elus rambut Akashi seperti anaknya sendiri yang membuat Akashi tertegun selama beberapa saat.
"Sebenarnya aku bukan pekerja kantoran, aku hanya berpura-pura saja supaya istriku tidak khawatir. Biaya pengobatan anakku semakin besar, tabungan kami menipis dan satu-satunya cara untuk membuat istriku bisa tenang adalah membohonginya soal pekerjaanku. Aku tidak bisa berterus-terang padanya, kalau aku sudah lama dipecat dari kantor." Pria itu lagi-lagi masih saja tertawa, ia sama sekali tidak menunjukkan beban apapun saat menceritakan penderitaannya itu.
"Kau sangat aneh, Pak. Kau bisa-bisanya tertawa ditengah kehidupanmu yang susah," keluh Akashi yang tidak bisa menafsirkan semua perkataan Pria itu.
"Memangnya apa lagi yang harus kulakukan, nak? Aku tidak punya banyak waktu untuk menangis dan berputus asa. Anakku sedang butuh biaya pengobatan saat ini, aku harus kerja untuknya. Bahkan, aku tidak lagi pilih-pilih pekerjaan untuk menjadi kuli bangunan ataupun kerja freelance mengecor jalan dan memperbaiki listrik beserta hal lainnya di Rumah orang lain."
"Memangnya anakmu sakit apa? Kau berbicara seolah-olah anakmu sakit parah,"
Pria tua itu merogoh kantung celananya, ia keluarkan foto berukuran kecil dari dompet kulitnya yang sudah tersobek kepada Akashi.
"Namanya Asahi, ia adalah putraku satu-satunya. Aku dan istriku sudah menantikan kelahirannya selama 20 tahun lebih, beruntungnya Takdir masih berbaik hati memberikan kami keturunan. Tapi sepertinya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Asahi menderita penyakit Leukimia yang membuatnya berada diambang kehidupan saat ini. Dan satu-satunya jalan untuk membantunya sembuh adalah operasi sumsum tulang belakang," terang Pria tua itu.
Akashi bisa melihat wajah pria itu yang masih tetap tersenyum ditengah kesedihannya saat ini. Lalu, ia kembalikan lagi foto tersebut kepada sang Pria tua.
__ADS_1
"Sepertinya dia adalah orang yang paling berharga bagimu," ucap Akashi.
Pria tua itu mengangguk, "Ya, dia adalah anakku yang paling berharga. Dan aku berjanji tidak akan menjadi Ayah yang buruk baginya, aku tidak akan membuatnya harus merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Kakakku dulu."
"Kakakmu dulu?" tanya Akashi bingung sekaligus penasaran.
"Tidak mungkin aku menceritakannya padamu, lupakan saja." Pria itu merasa enggan untuk bercerita pada Akashi. Bukan karena ia tidak nyaman, tapi masalahnya tidak mungkin juga ia menceritakan masa lalunya yang kelam kepada remaja muda seperti Akashi. Tapi sepertinya, Akashi tetap memaksa agar pria itu bercerita yang membuat Ia mengalah dan mulai bercerita kembali kepada Akashi.
"Kakakku juga mengalami Leukimia seperti anakku, tapi sayangnya orang tuaku menyerah untuk pengobatannya. Mereka juga menyumpahi Kakakku agar segera mati, katanya supaya mereka terbebas dari tanggung jawab sebagai orang tua. Dan karena tidak tahan oleh umpatan orang tuaku yang memohon Kakak untuk segera mati, Kakakku memilih mengakhiri hidupnya. Aku benar-benar hancur saat itu, belum lagi mereka juga menaruhku ke Panti Asuhan terdekat. Dengan alasan agar mereka sudah tidak tahan lagi mengemban tanggung jawab sebagai orang tua."
Akashi sampai tak bisa berkata apa-apa lagi, ia merasa terkejut saat mendengarkan cerita hidup Pria itu. Dan untuk menenangkan dirinya, ia menoleh sejenak kesembarang arah untuk beberapa saat.
"Maaf ya, tidak seharusnya orang dewasa sepertiku mengeluh tentang kehidupan padamu. Pokoknya kau tidak boleh hidup memalukan sepertiku, nak." Nasihat Pak tua itu, Akashi cuman tersenyum tipis.
Sesaat ia mulai mengerti apa yang tengah dibicarakan Ushijima sebelumnya, ia menyadari bahwa orang dewasa yang ada disebelahnya itu juga merupakan seorang anak kecil dulunya. Dan ia mulai paham bahwa tidak semua orang dewasa itu berakhir buruk seperti dugaannya.
"Ya, aku juga. Sikapmu yang seperti rekan sebayaku malah membuatku nyaman untuk bercerita seperti ini, Rasanya cukup lega untuk mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini kupendam."
"Ya, kau memang tidak boleh memendamnya terlalu lama. Nanti Inner Childmu semakin terluka," ucap Akashi seraya mengeluarkan Handphonenya.
"Boleh aku minta nama lengkapmu dan nomor kontakmu, Pak?" pinta Akashi.
"Buat apa?" tanya balik Pria itu dengan tatapan bingung.
"Aku sudah mendengarkanmu bercerita. Jadi, kurasa kau sudah berhutang cerita padaku." Pria tua yang mendengarkan perkataan Akashi langsung tersenyum.
"Baiklah, kau bisa bercerita padaku suatu hari nanti agar aku bisa membayar hutangku. Ternyata benar ya, rasanya menyenangkan sekali saat dipinjamkan telinga oleh orang lain untuk mendengarkan keluh-kesah kita." Pria itu geleng-geleng kepala sambil tertawa saja.
Akashi mengambil kembali handphonenya, ia lirik nama Pria itu yang ternyata bernama Pak Udai.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Semoga anakmu lekas sembuh," ucap Akashi yang langsung berjalan kembali menemui Ushijima, ia juga tak lupa menelepon Sekretaris Kenta disaat yang sama.
Pembicaraannya to terlalu panjang, Akashi hanya memberikan perintah kepada Kenta agar besoknya Kenta segera menyumbangkan uang kepada Udai untuk pengobatan Operasi anaknya. Tak lupa juga, Akashi memberitahu kontak Udai kepada Sekretaris Kenta. Setelah menyampaikan niatnya, ia langsung mematikan panggilan tersebut tanpa berniat berlama-lama berbincang pada Kenta. Ia tak mau sekretaris Ayahnya itu curiga dengan keberadaannya saat ini.
"Kau menelepon siapa, Akashi?" tanya Ushijima.
"Kenta-san," jawab Akashi.
"Buat apa? Kau memberitahu keberadaanmu padanya?" tanya Ushijima.
"Tidak, aku cuman memintanya agar menyumbangkan uang buat operasi anak Pria itu. Kau sepertinya benar, Ushijima-San. Kau boleh memukulku sekarang," ungkap Akashi dengan pasrah.
Dia sampai menyerahkan dahinya agar bisa dipukul sesegera mungkin oleh Ushijima, tampak jelas raut penuh kemenangan diwajah Ushijima. Tangannya juga sudah bersiap-siap untuk mendaratkan pukulan keras di dahi Akashi dan membuat Akashi memejamkan mata untuk menikmati rasa sakit itu.
Tidak menunggu waktu lama, sebuah pukulan keras mendarat di dahi Akashi yang membuat matanya terbuka lebar dan berusaha menahan rasa sakit. Apalagi Ushijima dikenal memiliki pukulan yang kuat dalam Voli, pastilah efeknya juga terasa oleh Akashi saat ini.
"Kau -" Akashi sampai tidak bisa berkata apapun, ia mengelus dahinya yang mulai memerah sambil menahan rasa sakit yang tidak karuan. Tawa Ushijima semakin menjengkelkan Dimata Akashi, tapi ia masih bisa menahannya saat memikirkan kelelahannya.
"Lakukan sekali lagi, Ushijima-San." Akashi memejamkan mata kali ini. Dia bisa mendengarkan tawa Ushijima yang masih saja terdengar jahil, tapi sayangnya Ushijima tidak memukulnya kali ini.
Ia malah bersandar kembali dikursi sambil tersenyum melihat Akashi, "Mana mungkin aku sanggup memukuli jidatmu lagi untuk kedua kalinya."
"Kau meremehkanku? Aku sudah kalah taruhan, tidak mungkin aku membiarkanmu mengasihaniku." Akashi malah melotot kepada Ushijima.
"Mana mungkin aku meremehkanmu, justru aku malah ingin memukulmu habis-habisan kalau saja kau bukan adikku. Lagipula kau sudah berbuat baik hari ini, anggap saja kebaikanmu pada Pria tua itu adalah bayaran pukulan dariku."
"Kau benar-benar aneh, Sudahlah aku mau tidur. Bangunkan aku saat tiba di Osaka, Ushijima-san." Akashi merasa menghadapi omong kosong Ushijima buang-buang waktunya saja. Disisi lain, ia juga agak risih melihat Ushijima yang bersikap seperti saudara baginya.
Dalam pikirannya, ia juga masih teringat pada ucapan Pria tua itu. Entah bagaimana sang takdir membuatnya kembali menyadari bahwa Pria itu sangat mencintai anaknya yang sedang sakit, seperti halnya Masaomi yang sangat menyayangi Yuki. Dan kini, ia semakin ragu bercampur amarah yang berkali-kali lipat lebih membara dari sebelumnya.
__ADS_1