
"Apa yang ingin kau tanyakan, Akashi?" tanya Ushijima seraya melipat kedua tangannya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Ayahmu, Ushijima-San?" tanya Akashi yang membuat Ushijima tercengang dan suasana hatinya langsung berubah drastis.
"Bukan urusanmu untuk menanyakan hal seperti itu, sudahlah aku ingin kembali ke kamar." Ushijima berbalik arah dan berjalan pergi, ia tampak tak senang dengan pertanyaan yang diajukan Akashi padanya. Suasana hatinya berubah menjadi buruk usai mendengarkan pertanyaan Akashi saat ini.
"Dasar sial! Kenapa juga dia menanyakan hal yang bodoh seperti itu," geram Ushijima yang langsung duduk di kursi belajar dan melirik kearah foto yang terbingkai diatas meja belajarnya.
Sejenak ia amati dan raih foto itu, foto yang memperlihatkan gambar seorang anak laki-laki dengan memegang piala kejuaraan Voli dengan seorang lelaki dewasa disebelahnya dimana latar belakang Foto tersebut ialah Lapangan Voli Nasional yang ada di Tokyo.
"Memangnya bagaimana hubungan kita sekarang, Pa?" gumamnya pada diri sendiri, sebelum akhirnya ia memasukkan foto itu kedalam laci meja belajar.
Disaat yang bersamaan, suara ketukan pintu dari seseorang membuat Ushijima mau tak mau harus bangkit kembali dan membukakan pintu. Dan disana, ia bisa melihat Akashi yang datang membawa bantal dan selimutnya.
"Aku sedang tidak ingin berurusan denganmu sekarang," ucap Ushijima yang memang sedang tidak mood.
"Aku tidak perduli dengan suasana hatimu sekarang, aku hanya sedang merasa tidak baik-baik saja saat ini." Akashi menerobos masuk kedalam kamar Ushijima, ia membuang bantal dan selimut Ushijima ke lantai dan mengambil alih tempat tidur Ushijima seenaknya saja.
Ushijima yang sedikit kesal, sampai melupakan perasaannya sedihnya sontak menatap tajam kepada Akashi.
"Kau sedang apa? Kau memintaku tidur dilantai?" tanya Ushijima seraya berkacak pinggang.
Akashi yang sudah memejamkan mata terpaksa bergumam, "Aku hanya ingin tahu rasanya tidur sekamar dengan saudara sendiri, lagipula aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Jadi, tolong jangan ganggu aku!"
__ADS_1
Ushijima hanya bisa menahan amarahnya saja, ia sendiri tak tahu ingin marah atau menendang paksa Akashi untuk keluar dari kamarnya. Dengan raut wajah yang cemberut, ia langsung menggunakan selimutnya yang sangat tebal itu sebagai alas dan berbaring di lantai saat itu juga.
"Ini adalah kali pertama dan terakhir kalinya kuizinkan kau tidur dikamarku," ketus Ushijima yang sudah mulai melupakan kesedihannya.
"Baik, Oniichan." Akashi langsung berbalik arah posisi tidur dengan membelakangi Ushijima. Dan sejenak, suasana kamar menjadi hening tanpa sedikitpun suara yang terdengar. Hingga keheningan itu terpecahkan oleh suara Akashi yang memanggil nama Ushijima.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Akashi yang masih membelakangi Ushijima.
"Ada apa?" tanya Ushijima yang membuka matanya dan melihat punggung Akashi yang ada diatas ranjang.
"Apa suasana hatimu sudah membaik?" tanya Akashi.
"Malahan semakin buruk karena kedatanganmu," jawab Ushijima seraya tersenyum sekilas, ia tak habis pikir bagaimana mungkin suasana hatinya membaik dengan membuatnya terpaksa tidur dilantai.
"Maafkan aku, aku tak seharusnya menanyakan hal bodoh seperti itu." Akashi mengatakannya dengan ragu, tapi bagi Ushijima ini adalah momen paling ikonik untuk didengar dimana jarang sekali atau hampir tak pernah untuk seorang Akashi meminta maaf pada Ushijima.
"Aku hanya bingung tentang hubunganku dengan Papa, apa memang semua cinta seorang Ayah seperti yang dilakukan Papa terhadapku? Aku juga bingung bagaimana ia menganggapku selama ini,tapi masalahnya bukan hal itu yang ingin kutanyakan padanya melainkan sesuatu yang lain," ucap Akashi yang langsung duduk diatas ranjang dan membuat Ushijima ikutan duduk juga.
"Selama ini aku bertanya-tanya, bahkan semenjak ibuku meninggal pun sikap Papa semakin parah. Dan setiapkali aku ingin bertanya, aku merasa ragu dan kembali mengurungkan niat untuk bertanya dan membiarkanku hidup dalam keraguan."
"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Ushijima.
"Apakah aku ini dianggap anak olehnya atau hanya sebuah alat untuk mengukir banyak prestasi dan piala saja buat menaikkan martabat dan harga dirinya dimata orang lain? Mengapa ia selalu memaksaku untuk menjadi sempurna, tapi ia sendiri tumbuh menjadi seseorang yang tidak sempurna sama sekali. Ia bahkan tidak pandai memainkan piano ataupun cabang olahraga apapun, bahkan ia tidak pandai memahami pelajaran matematika dengan baik." Mata Akashi terlihat penuh dengan kemarahan dan keraguan yang saling berdampingan, seolah-olah ada iblis yang tengah berdiri dibalik pelupuk matanya.
__ADS_1
Namun, Ushijima sudah mulai terbiasa dengan aura mencekam yang ada di dalam diri Akashi dan malahan ia merasa kalau Akashi sedang dalam keadaan salah paham terkait hubungannya dengan sang Ayah.
"Kalau kau belum menanyakan secara langsung, kau tidak berhak menghakiminya secara sepihak. Memangnya kau pikir pemikiranmu itu selalu mutlak," ucap Ushijima yang mulai merendahkan kemarahan Akashi, walau bagaimanapun ia hanyalah anak polos yang masih dalam tahap pubertas.
"Lagipula, seorang Ayah itu adalah makhluk paling ahli dalam berbohong. Mereka bersikap seperti tidak pernah mencintai kita, tapi kenyataannya mereka adalah orang yang rela berkorban demi masa depan kita." Ushijima terdiam sejenak, ia mulai teringat masa lalunya dengan sang Ayah dan bagaimana Ayahnya berusaha keras mempertahankan tangan kirinya selama ini agar ia bisa tumbuh menjadi seorang pemain Voli profesional dengan tangan kidal.
"Lelaki tua yang kita sebut Ayah itu juga sampai bela-belain untuk mempertahankan mimpi kita, meskipun terkadang mereka egois tapi mereka akan melakukan apapun untuk mempertahankan masa depan anaknya. Mereka tak perlu menanyakan apa yang kita inginkan, mereka memang terkadang tidak peka tapi bergerak dibelakang kita untuk membantu kita merancang masa depan yang lebih baik." Ushijima teringat betapa egoisnya sang Ayah yang bercerai dengan ibunya, tapi ia juga teringat bagaimana Ayahnya rajin membantunya latihan Voli sejak kecil selama ini.
"Aku yakin pasti Masaomi-San sangat menyayangimu, kau bisa merasakannya sendiri tanpa harus mendengarkannya dari kata-kata. Memangnya siapa yang perduli dengan kata cinta yang malah terasa lebih mudah diucapkan oleh kebanyakan orang akhir-akhir ini," ucap Ushijima yang membuat Akashi mulai berpikir sejenak, ia juga bisa mengingat bagaimana Ayahnya menyangka setiap pertumbuhan Akashi sendiri dalam bingkai foto yang terpajang di seluruh dinding ruang kerja sang Ayah. Dan untuk saat ini, Akhirnya Akashi mulai tersenyum lega dan seluruh keraguannya mulai memudar.
"Aku rasa yang kau katakan itu ada benarnya, Ushijima-San." Akashi tersenyum lebar.
"Baguslah kalau kau mengerti, lain kali kalau ada masalah kau bisa bertanya padaku."
"Tentu saja, bukannya hal itu masuk kedalam peraturan kita besok. Sudahlah, aku ingin tidur." Akashi kembali berbaring dan memejamkan matanya dengan tetap membelakangi Ushijima, tetapi ia tak lupa mengucapkan kata terimakasih kepada Ushijima dengan gerak mulut yang sedikit lambat tanpa suara sedikitpun.
Sepertinya ia terlalu malu untuk mengucapkan terimakasih secara terang-terangan kepada Ushijima.
"Oh iya, Ushijima-San. Jangan lupa besok buatkan aku sarapan pagi!" tukas Akashi yang membuat Ushijima memasang raut wajah agak kesal bila mengingat semua aturan bodoh yang diberikan Akashi padanya.
"Jangan Salahkan aku kalau masakan buatanku tidak enak," keluh Ushijima yang langsung menutup telinganya dengan bantal.
***
__ADS_1
Bagaimana sosok cinta seorang Ayah dimata kalian? Apakah makanan buatan Ushijima bakal enak ya besok?
Oh iya, tunggu kelanjutannya kisahnya di part selanjutnya ya. 😊