STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
91


__ADS_3

"Tidak ada! Aku baik-baik saja dan jangan perdulikan aku, Wakatoshi!" ucap Akashi yang mulai kesal.


"Kau bisa ceritakan apapun padaku, aku ini kakak laki-laki mu." Ushijima menoleh kepada Akashi. Cukup lama Akashi terdiam dan menatap ragu kepada Ushijima. Sampai akhirnya, ia mulai duduk diatas ranjang dan menyandarkan kepalanya ke dinding.


"Kalau seandainya orang tua kita bercerai dan berpisah, apa hubungan persaudaraan kita juga berakhir?" tanya Akashi.


Ushijima mengangkat sebelah alisnya, "Tentu saja tidak! Aku sudah berkomitmen padamu untuk menjadi saudaramu selamanya, tak ada alasan yang membuat hubungan persaudaraan kita putus."


"Lalu, bagaimana menurutmu tentang Yuki? Apa dia juga bisa sepertimu?"


Ushijima hanya terdiam saat mendengarkan pertanyaan yang diajukan Akashi barusan. Ia tak bisa memberikan jawaban apapun terhadap pertanyaan sulit itu dan ia juga tak mau berbohong kepada Akashi, apalagi Akashi bukanlah tipe manusia yang mudah dibohongi segampang itu.


"Lupakan pertanyaanku, Wakatoshi. Jelas saja kau dan Yuki adalah dua orang yang berbeda." Akashi menghela nafas.


"Maafkan aku, terkadang memang ada beberapa pertanyaan yang tidak akan bisa kau temukan jawabannya sebelum kau buktikan sendiri. Salah satunya hubunganmu dengan Yuki."


Ushijima meraih bola Voli dari ranselnya dan melemparkan bola itu kepada Akashi. Dimana Akashi melempar kembali bola tersebut kepada Ushijima dan membuat keduanya saling lempar-tangkap.


"Jadi, haruskah kucoba untuk berbicara lagi dengannya? Haruskah aku menurunkan ego-ku?"


Ushijima mengangguk sambil melempar bola voli kepada Akashi lagi, "Tidak ada salahnya, kan? Lagipula Yuki adalah Kakak laki-lakimu. Dia pasti akan menyayangimu."


"Bagaimana kalau dia membenciku? Bagaimana kalau kondisinya semakin parah saat bertemu denganku lagi dan membuat Papa semakin membenciku?"


"Kau takut? Baru kali ini aku melihat seorang Akashi ketakutan sebesar itu," celutuk Ushijima sambil menangkap lemparan bola dari Akashi.


"Aku tidak takut, Wakatoshi! Aku hanya merasa bingung. Aku bingung caranya menjadi seorang anak yang baik untuk orang tuanya, aku juga bingung bagaimana caranya menjadi saudara yang baik untukmu dan Yuki dan  aku juga bingung bagaimana caranya menjadi diriku sendiri. Segalanya terasa abu-abu, gelap dan sesak." Akashi menunduk dan berhenti melempar bola voli kepada Ushijima. Dan keadaan Akashi saat ini benar-benar dibenci oleh Ushijima.

__ADS_1


Dia tidak pernah suka melihat adiknya terpuruk dan putus asa seperti ini. Jika disuruh memilih, Ushijima lebih suka melihat sikap arogan dan sombong Akashi yang menyebalkan dibandingkan melihatnya sedih dan bingung.


"Hei, Seijuro! Mau lari sampai pagi, gak?"


"Sekarang? Apa kau menantangku?"


"Mungkin. Aku benar-benar muak melihatmu cengeng dan manja seperti itu." Ushijima memakai sepatu sportnya.


"Apa kau bawa sepatu olahraga?" tanya Ushijima yang dibalas dengan gelengan kepala dari Akashi.


Ushijima langsung melemparkan sepatu sport miliknya yang sudah lama. "Pakai ini saja! Mungkin ukurannya pas denganmu, soalnya itu sepatuku waktu SMP."


"Hey! Apa kau sedang menyindirku pendek?" keluh Akashi.


"Pakai dan jangan mengeluh!" tukas Ushijima yang langsung keluar dari Jendela kamar menuju perkarangan rumah susun. Dan mulai berlari duluan meninggalkan Akashi yang menyusul dari belakangnya.


Ushijima sendiri terlihat sangat menikmati suasana malam saat ini, ia yang memang sering menghabiskan waktu untuk berlari mengelilingi kota terasa tak keberatan sama sekali untuk menunda jam tidurnya demi bisa menemani Akashi yang sedang banyak pikiran. Dan sepertinya setiap langkah yang dilewatinya saat ini membuat Ushijima menyadari satu hal penting dalam hidupnya. Dimana Ushijima mulai mengerti bahwa tanggung jawab sebagai seorang kakak laki-laki jauh lebih berat dan besar dibandingkan menjadi seorang atlet Voli.


"Jadi, kau sudah membaik sekarang?" tanya Ushijima sambil terus berlari disebelah Akashi.


"Ya, sebentar lagi juga sudah pukul 05:00 pagi. Kita harus kembali!" ajak Akashi yang semakin mempercepat langkahnya. Keduanya sudah benar-benar dibanjiri oleh keringat dengan nafas yang tersengal-sengal. Tapi sepertinya rasa letih tidak membuat langkah kaki kedua remaja ini berhenti begitu saja.  Keduanya masih terus berlari menuju kediaman tempat tinggal Ayah kandungnya Ushijima sambil sesekali tertawa tanpa sebab saat keduanya saling melihat satu sama lain. Tak perlu banyak kata untuk menjelaskan bahwa hubungan persaudaraan mereka sudah semakin erat dan membaik.


Hingga senyuman dari wajah Ushijima langsung runtuh tatkala ia melihat beberapa mobil polisi sudah berkerumunan didepan rumah susun. Dimana dua ambulance putih sedang mengangkut mayat dari dua orang dewasa dan dua anak kecil yang dikenali oleh Ushijima.


Belum lagi beberapa polisi langsung menenangkan Ushijima dan mencoba menjelaskan situasi yang terjadi kepada Remaja laki-laki kelas tiga SMA itu. Sementara itu, Akashi hanya bisa berdiri beberapa meter dari lokasi rumah susun dengan wajah yang bingung dan marah.


"Kau lihat apa yang terjadi pada keluarganya Ushijima, kan?" bisik pelan Sekretaris Kenta yang entah bagaimana sudah berada disebelah Akashi dengan penampilan rapi bak pekerja kantoran pada umumnya.

__ADS_1


"Kau yang melakukan semua ini kepada keluarga Wakatoshi?" tanya Akashi yang sudah dipenuhi oleh kemarahan dan kebencian.


"Aku hanya menjalankan perintah dari Ayahmu, kau harusnya paham bahwa uang bisa melakukan segala hal." Sekretaris Kenta mengacak-acak rambut Akashi.


"Aku akan membunuhmu, Kenta!" ancam Akashi yang mencoba menahan emosinya saat ini.


"Berhentilah melawan, Seijuro. Aku tidak akan pernah takut pada ancaman dan kemarahanmu. Lebih baik pulanglah atau kau harus melihat mayat lain lagi."


Akashi tidak mengatakan apapun. Dia mengacuhkan Sekretaris Kenta dan berjalan menghampiri Ushijima dengan kedua tangan yang sudah gemetaran. Ia benar-benar merasa bersalah kepada Ushijima saat ini.


Disaat yang bersamaan, Ushijima juga berlari kearah Akashi dan memukul adiknya itu berkali-kali. Untuk pertama kalinya, Akashi hanya diam saja menerima pukulan dari kemarahan Ushijima.


"Ini semua salahmu, Akashi Seijuro! Kau memang pembawa sial! Kembalikan Ayah dan ibu tiri ku! Kembalikan adikku!" teriak Ushijima yang masih terus memukuli Akashi.


Sekretaris Kenta hanya menonton mereka dari kejauhan sambil mencoba bernegosiasi dengan pihak polisi yang bertugas saat itu. Lagipula, ia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan Akashi saat ini. Sekretaris Kenta hafal betul bahwa Ushijima takkan pernah bisa membunuh adik tirinya itu dan begitu juga sebaliknya.


Sedangkan Akashi hanya bisa terdiam dan membiarkan wajahnya dipukul bertubi-tubi oleh Ushijima yang benar-benar dipenuhi oleh amarah atas kematian keluarganya. Bahkan, ia tak berhenti mengeluarkan berbagai umpatan kebencian yang biasanya sangat jauh dari karakternya.


"Bunuh aku, sialan!" teriak Akashi untuk pertama kalinya setelah memilih diam sejak tadi.


"Ya, aku akan membunuhmu! Jika saja aku tidak pernah perduli padamu, hidupku tidak akan sesulit ini dan aku gak akan pernah merasakan kehilangan siapapun. Kau memang pantas mati!" bentak Ushijima yang kembali memukul Akashi dengan cukup keras terakhir kalinya. Sebelum akhirnya ia menyerah dan berjalan pergi tanpa arah meninggalkan semua kekacauan yang terjadi saat itu.


"Kau bilang takkan meninggalkanku! Kau mau kemana, Ushijima-san?" teriak Akashi yang masih terbaring di tanah. Tapi tak ada satupun jawaban dari Ushijima yang terus berjalan menjauh.


"Oniichan!" panggil Akashi lagi dengan nada yang sangat pelan, sebelum akhirnya ia benar-benar tidak mampu lagi melihat punggung Ushijima yang sudah menjauh.


****

__ADS_1


Maaf ya agak lama updatenya.🙏


__ADS_2