STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
40


__ADS_3

Akashi berjalan meninggalkan kamarnya menuju Meja makan, ia tampak jauh lebih rapi dibandingkan saat baru bangun tidur sebelumnya. Bahkan, ia tak lupa memakai Eyes Patch dan topi putih. Sepertinya penggunaan Topi jauh lebih efisien untuk mencegah rambutnya menutupi mata, ia juga jadi terlihat jauh lebih rapi dan tampan.


"Selamat pagi, tuan muda." Chef Tsubasa langsung menyambut kedatangan Akashi, padahal saat itu ia sedang membantu Ushijima membersihkan dapur yang tadinya berantakan.


"Pagi, Chef." Akashi tersenyum, sepertinya suasana hatinya sudah membaik sejak tadi malam. Ia langsung meneguk susu peninggi badan yang sudah disediakan Chef Tsubasa dan mulai menyantap Nasi goreng sebagai sarapan pagi.


Dan begitu Chef Tsubasa kembali lagi ke dapur, giliran Ushijima yang mulai menghampiri Akashi dengan membawa sebuah bekal ditangannya. Cukup lama ia melirik kearah dapur, berharap tak ada yang melihatnya saat itu.


"Ini bekalmu," ucap Ushijima yang langsung memberikan bekal tersebut kepada Akashi.


"Kau benar-benar membuatkannya?" tanya Akashi seraya tertawa geli, Ushijima hanya berdehem saja.


"Aku sudah mengikuti aturan permainanmu, kau juga harus mengikutinya. Kalau begitu aku mandi dulu," tukas Ushijima yang belum juga pergi, seperti tengah menunggu Akashi untuk mengucapkan terimakasih.


Akashi meletakkan kembali sendok dan garpunya, "Terimakasih."


"Kau tidak tulus," keluh Ushijima yang sebenarnya berniat membalas Akashi kembali usai membuatnya repot memasak pagi ini, lagipula ia merasa kalau dirinya sangat pantas mendapatkan ucapan terimakasih dari Akashi.


"Oke." Akashi menghela nafas, ia berusaha mengumpulkan nyali untuk mengatakannya dengan tulus kepada Ushijima. "Terimakasih, Ushijima-San."


"Bukan seperti itu, biasanya kau menyebutku Oniichan. Kenapa hari ini kau tidak menyebutku Oniichan?" tanya Ushijima yang malah semakin menggoda Akashi.


"Kemarin itu aku sedang menggodamu, moodku sedang jahil. Lagian kau pikir gampang mengatakannya secara tulus," keluh Akashi yang mulai berhenti tersenyum.


"Kalau begitu belajar, sudahlah... Aku mau mandi dulu. Kau masih punya hutang denganku, aku akan menagihnya nanti." Ushijima langsung pergi, ia sebenarnya tidak kecewa tapi hanya terasa sedikit tidak senang saja melihat usahanya tidak diapresiasi oleh Adiknya sendiri. Ia sendiri juga tidak tahu alasan kenapa ia seingin itu untuk dihargai oleh Akaashi, padahal hal tersebut bukanlah sesuatu yang dibutuhkannya saat ini.


Sementara itu, Akashi masih mengeluh dalam batinnya. Ia langsung memasukkan bekalnya kedalam ransel dan meneguk susu kembali. Tak beberapa lama usai kepergian Ushijima, kedua orangtuanya pun menghampiri meja makan untuk sarapan pagi.


Dan terlihat jelas wajah ramah yang penuh kasih sayang dari Nyonya Ushijima, ia langsung mencoba mengakrabkan diri kembali dengan Akashi. Akashi sendiri tak keberatan menerima keramahan Ibu tirinya itu, tapi ia juga tidak terlalu ingin dekat dengan sang ibu tiri disaat yang bersamaan. Baginya terasa risih bila mendapatkan kasih sayang yang berlebihan dari orang lain bila mengingat dirinya telah terbiasa hidup dibawah asuhan sang Ayah.


"Hari ini apa saja schedule kamu, nak?" tanya Nyonya Ushijima seraya memberikan selai cokelat di roti suaminya.


"Biasanya latihan setelah pulang sekolah, tapi kali ini aku harus belajar ekstra untuk kejuaraan kompetisi nanti."

__ADS_1


"Oh, kompetisi nasional itu ya. Kebetulan Papa kamu udah memberitahu Mama soal itu. Mama yakin kamu bakal menang kok," ungkap Nyonya Ushijima yang hanya dibalas anggukan oleh Akashi.


"Ya udah, kalau gitu lanjut saja makannya." Nyonya Ushijima meletakkan roti tersebut dipiring Masaomi, lalu ia melirik kearah koridor yang menuju kamar Ushijima.


"Ngomong-ngomong, Ushijima kok belum kelihatan? Tidak biasanya anak itu telat seperti ini, apa dia sakit?" tanya Nyonya Ushijima yang sedikit khawatir.


"Mungkin Ushijima-San sedang berpakaian, tidak perlu khawatir." Akashi mencoba menenangkan kekhawatiran Ibu tirinya, lalu kembali menyantap sarapan paginya yang hampir mau habis. Dan dilanjutkan dengan obrolan ringan dari keluarga kecil itu, dimana Nyonya Ushijima lah yang paling banyak membuat topik pembicaraan dan peran Akashi hanyalah sebagai pemberi respon singkat sementara Ayahnya hanya menjadi pendengar saja.


Selang lima belas menit kemudian, akhirnya Ushijima datang dengan mengenakan pakaian seragam sekolah dan ransel yang berisi penuh. Awalnya ia hanya memasang wajah tenang tanpa senyuman, tapi saat ia beradu pandang dengan Akashi yang tengah memberikan lirikan tajam kearah Nyonya Ushijima, sontak membuat Ushijima langsung menyadari perannya saat ini.


Ia langsung memberikan senyuman terpaksanya kepada sang Ibu, bahkan ia juga berbicara lembut dengan nada lebih ramah kepada sang ibu.


"Selamat Pagi juga, Ma."


Nyonya Ushijima tampak kaget sekaligus senang melihat anaknya memberikan respon baik kepadanya, ia langsung menggenggam erat suaminya itu karena saking senangnya meski ada sedikit kecurigaan didalam batinnya melihat Ushijima mendadak berubah.


Ushijima langsung meneguk habis tehnya, "Kalau begitu aku izin berangkat ya, soalnya udah telat banget."


"Kamu gak sarapan dulu?" tanya Nyonya Ushijima.


Tapi sepertinya Akashi enggan menaiki mobil pribadinya hari ini, ia malah ikutan naik kedalam mobil yang tengah dinaiki oleh Akashi.


Jelas saja Ushijima tampak kaget dan menatap tajam kepada Akashi, "Apa yang kau lakukan disini? Aku sudah benar-benar telat, jadi pergilah kembali ke mobilmu."


"Ini adalah mobilku juga, jadi gak usah ngeluh. Lagian gak ada salahnya antarkan aku kesekolah dulu," tukas Akashi yang ikutan menyolot.


"Jadi kita akan antarkan Tuan muda Akashi terlebih dahulu, Tuan Ushijima?" tanya Supir pribadi Ushijima yang mulai merasa Bingung.


Ushijima belum ingin menjawab, ia masih menatap tajam kepada Akashi dengan mata yang melotot, karena baginya mengantarkan Akashi kesekolah benar-benar hal yang kurang kerjaan.


Akashi sama sekali tidak perduli dan malah menurunkan jok kursi mobil untuk membuatnya lebih nyaman duduk bersandar, ia Bahkan melirik kearah jam tangannya.


"Berangkat saja, Pak. Nanti semakin telat," perintah Akashi.

__ADS_1


"Iya, berangkat saja Pak. Antarkan anak ini ke Rakuzan terlebih dahulu," sambung Ushijima yang sepertinya mulai mengalah dan membuang wajahnya dari Akashi.


Dan saat mobil dijalani menjauhi rumah, tak ada sama sekali perbincangan diantara mereka. Keduanya sibuk menatap kearah pepohonan yang dilewati dan beberapa rumah mewah lainnya.


Hingga dipertengahan jalan, Akashi mulai membuka topik duluan sebab ia ingat kalau saat ini ia belum menjalankan satupun misi sejak tadi pagi.


"Kau benar-benar lucu tadi lagi, tapi ekspresi Ibumu jauh lebih lucu." Akashi tersenyum saat mengingatnya kembali.


"Kau benar, ekspresinya benar-benar mmenggelitik perut. Apa aku memang sejarang itu bersikap ramah sampai membuatnya kaget?" tanya Ushijima sambil tersenyum.


"Iya, biasanya pertemuan kalian berdua hanya akan berakhir dengan adu argumen saja. Seperti lomba lari yang tak pernah sampai ke garis finish, ataupun Permainan Basket yang tak pernah masuk kedalam ring." Akashi mendongak kearah Ushijima, begitu juga Ushijima yang menengok kepada Akashi yang ada disebelah kirinya.


"Atau seperti Permainan Voli yang selalu gagal melewati Blok lawan, dan seperti kita yang gak pernah satu haripun berhenti menatap dengan tatapan kesal." Keduanya saling tertawa saat mendengarkan perkataan Ushijima, seolah-olah memang begitu nyatanya. Mereka sama sekali tidak pernah akur , kalaupun akur pasti bakal berakhir dengan adu tatapan kesal dengan mata yang hampir keluar .


Tanpa mereka sadari kalau sang supir hanya tersenyum bahagia saja melihat keakraban dua saudara itu, ia yang selama ini menyaksikan tumbuh kembang Akashi dan ia juga yang berada sebagai pengamat dari tindakan Ushijima yang selalu memastikan Akashi dalam keadaan baik-baik saja selama beberapa Minggu sebelumnya. Dan kini melihat keduanya saling berbincang satu sama lain secara langsung adalah hal yang paling melegakan.


****


Sementara itu Ryo tengah berkumpul dengan beberapa preman yang sebelumnya ia temui di sebuah bangunan tua yang lokasinya tak jauh dari belakang gedung SMP Teiko, mereka tampak senang menerima uang pemberian Ryo dan sibuk menghitung jumlah tiap lembarnya.


Hingga sang ketua preman yang berpakaian seragam SMA hampir koyak itu menghampiri Ryo yang kala itu sibuk membaluti lututnya dengan Knee support yang biasanya dipakai para atlet untuk mengatasi cedera pada sendi lutut, sebelum ia menuruni celana panjangnya guna menutupi lutut tersebut.


"Hei, Ryo. Sudahlah! Berhenti saja dari dunia olahraga, lagian kakimu juga tidak membaik sama sekali."


"Diamlah, Mizuki-Senpai." Ryo tak senang mendengarkan semua perkataan orang lain yang selalu saja memaksanya untuk berhenti dan menyerah, ia kadang bertanya-tanya memangnya salah bila kita masih terus memegang mimpi kita.


"Kau ini keras kepala, jangan Salahkan siapapun kalau kau nanti bakal terpuruk pada mimpi gilamu itu. Sudah jelas-jelas impianmu itu telah lama hancur, kau masih saja terus bermimpi dan lihat saja akibatnya sekarang! Kau malah membiarkan semua kekecewaanmu menjadi dendam kepada anak itu," celoteh Mizuki.


"Tapi karena hal ini anda dapat banyak bayaran dariku, kan? Jadi, tutup saja mulutmu dan ikuti perintahku!" perintah Ryo.


"Terserah kau sajalah, aku hanya mengingatkan kau saja untuk berhenti memaksa sesuatu yang bukan takdir kita. Kalau masalah balas dendam dengannya, itu beda cerita. Jujur saja aku ikut simpatik dengan kisahmu, tak seharusnya anak yang bernama Akashi itu membuatmu sampai cedera fatal seperti ini. Dan aku janji akan membayar lunas semua dendammu padanya hari ini, tenang saja!" ucap Mizuki seraya menepuk pelan bahu Ryo.


"Harusnya aku tidak mengikuti pertandingan persahabatan bodoh itu," gumam pelan Ryo.

__ADS_1


***


Wah apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu antara Akashi yang saat itu masih berstatus anggota Tim Teiko dan Ryo? Apakah kebiasaan Kiseki no sedai yang memang dulu suka bermain-main dan memandang rendah tim lain membuat sesuatu kejadian yang mengejutkan dimasa lalu? Lalu, mengapa Ryo hanya membenci Akashi saja? Dan apakah Ushijima mengetahui hal ini? Btw , kalian bisa vote dan memberikan masukan dan saran juga ya guys terkait apapun. Mana tahu Author bisa menambahkan di chapter-chapter selanjutnya 😊


__ADS_2