
"Apa yang terjadi pada adikmu, Wakatoshi?" tanya Nyonya Ushijima yang langsung menghujani anaknya dengan pertanyaan tersebut.
Ushijima yang kini sudah berpindah posisi diatas kursi hanya membalas tatapan ibunya, ia baru saja lega karena nyeri dilukanya sedikit mereda usai meminum obat beberapa saat yang lalu.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentangnya, sudahlah Ma." Ushijima berusaha tetap tenang, ia juga terlalu malas untuk berdebat dengan ibunya.
"Lalu apa salah ibu? Kenapa anak itu terlihat seperti membenci Mama? Apa jangan-jangan kau yang mempengaruhinya, kau tak ingin Mama bahagia ya?" tuduh Nyonya Ushijima seraya memperlihatkan wajahnya yang tampak kecewa terhadap Ushijima.
Jelas saja Ushijima tak bisa begitu saja menerima tuduhan itu. Ia memang masih berusaha untuk bersikap tenang, walau hatinya mulai merasa tidak nyaman.
"Aku justru ingin melihat kau bahagia, jadi berhenti menuduhku seperti kau menuduh Papa yang telah mencuri kebahagiaanmu."
"Cukup ya, Wakatoshi! Apa maksud perkataanmu barusan? Kau berbicara seolah-olah aku yang bersalah kepada Ayahmu itu, apa kau tidak paham juga betapa tersiksanya aku menikahi Ayahmu?" bentak Nyonya Ushijima seolah tengah mengeluarkan gejolak kemarahannya.
Ushijima yang bertambah kesal langsung memukul keras meja belajarnya, ia berdiri saat itu juga sambil berusaha menahan emosinya.
"Aku lelah, tolong tinggalkan aku sendiri dikamar! Kau tenang saja, aku akan mencoba menasehati Akashi nanti agar tidak membencimu lagi." Ushijima menunduk saja, ia bukannya takut kepada ibunya melainkan berusaha untuk tidak lepas kendali atas kemarahannya yang semakin membara acapkali usai melihat wajah ibunya.
"Kau serius akan memperbaikinya untukku?" tanya Nyonya Ushijima.
Ushijima mengangguk, "Ya, aku akan memastikan kalau kau akan mendapatkan kebahagiaan yang selama ini kau butuhkan. Lagipula Papa menitipkan amanah padaku untuk membiarkanmu hidup bahagia dan memiliki keluarga yang kau impikan, ia juga memintaku untuk membantumu mewujudkan itu."
__ADS_1
Nyonya Ushijima tersenyum dan berlari untuk memeluk Ushijima, ia terlihat bahagia sampai tak bisa menyembunyikan senyuman dibalik sudut bibirnya itu. Ushijima dapat merasakan kehangatan semu dalam dekapan sang ibu, kehangatan yang membuatnya sedikit merasa berarti dimata sang ibu.
"Terimakasih, Wakatoshi. Kau benar-benar anakku yang terbaik," puji Nyonya Ushijima.
"Ya, tidak masalah. Kau akan menjadi istri yang sempurna dan ibu tiri yang baik, begitu halnya denganku yang akan berusaha menjadi anakmu yang terbaik dan penurut. Aku juga akan mengabulkan permintaan Akashi, aku hampir lupa kalau aku punya janji padanya untuk berbuat baik padamu." Ushijima tertawa seraya bergumam pelan, ia tengah mentertawakan dirinya sendiri dan merasakan kehangatan semu untuk sekejap.
Hingga selang tak beberapa lama, pelukan hangat itu mulai menghilang saat ibunya berhenti memeluknya. Ushijima masih bisa melihat senyuman kebahagiaan sang ibu, tapi entah kenapa ada yang salah dengan senyuman itu. Senyuman indah secerah mentari pagi bukanlah diberikan untuknya, seakan ada seseorang yang berhasil merebut senyuman itu darinya. Ia pikir keberadaannya disini telah membuktikan kalau ibunya mulai kehilangan dirinya dan berusaha memperbaiki hubungan mereka yang sempat renggang beberapa tahun silam, tapi kenyataannya ia hanyalah pajangan yang digunakan sang ibu untuk melengkapi kebahagiaan keluarga baru tersebut.
"Nah, Wakatoshi. Kau bisa istirahat kembali, Mama tadi sudah menyuruh Masaomi untuk menghubungi Akashi. Mungkin sebentar lagi dirinya akan kembali, Ibu harus meminta maaf pada anak itu dan membuatkan sup hangat atau puding sebagai permintaan maaf ibu. Tapi kau juga jangan lupa ya menasehatinya agar tidak marah lagi," beritahu Nyonya Ushijima, sebelum akhirnya pergi dari kamar tersebut.
Ushijima hanya bisa membiarkan ibunya pergi meninggalkan dirinya. Dengan setengah berbisik ia menatap punggung sang ibu, "Kenapa... Kenapa kau tidak bisa meminta maaf padaku juga?"
Cukup lama ia berdiri disana tanpa melakukan apapun, tangannya yang sudah mengepal seolah masih berusaha menahan emosinya. Hingga kemarahan itu semakin memuncak di tiga puluh menit berikutnya, ia spontan membanting lampu belajar dimeja, seperti tengah melampiaskan kemarahannya.
****
Disebuah jalan raya yang terlihat ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan beroda empat dan dua, tampak jelas Akashi yang tengah berjalan setengah berlari melewati trotoar jalan dengan keringat yang telah mengucur deras dibajunya. Entah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu, tapi mobil yang sebelumnya dikendarai oleh Akashi tak terlihat sama sekali.
Dan dalam hitungan detik, penglihatan Akashi mulai mengabur dan tubuhnya seolah tersedot kedalam ruangan gelap yang tak diterangi oleh cahaya sedikitpun. Ia seperti orang yang baru saja kehilangan arah dan cahayanya, berkali-kali ia meraba sekitar tetapi tak bisa menemukan cahaya sedikitpun.
"Dimana aku? Aku tak punya waktu untuk hal bodoh seperti ini, aku harus segera membalasnya!" bentak Akashi yang masih diselimuti oleh api biru dalam dasar hatinya.
__ADS_1
"Aku akan membalasnya!" bentak Akashi berulangkali seraya berusaha mencari jalan keluar.
"Bagaimana kau bisa membalasnya, kalau kau masih berada disini ?" tanya seseorang yang terkesan tengah mentertawakan Akashi. Wujudnya tampak menyerupai Akashi, ia berjalan mendekati Akashi. Dan begitu keberadaannya telah berhasil berdiri dihadapan Akashi, barulah secara perlahan-lahan cahaya itu menyinari semua yang ada didalam kegelapan itu.
"Kau benar, aku tak seharusnya ada disini. Aku tidak takut lagi dengan apapun, aku akan membalas perbuatannya."
Lelaki berwujud Akashi tertawa bahagia, ia kembali melangkah maju sampai Akashi yang asli bisa melihatnya dengan jelas. Dan Akashi Yang asli tak bisa menyembunyikan perasaan kaget saat melihat kedua mata dari Akashi memiliki kedua mata yang sehat dan tidak rusak.
Akan tetapi rasa kagetnya tak berlangsung lama, ia kembali fokus terhadap kemarahannya.
"Kau ingin membalasnya? Apa kau berani untuk melakukan kekerasan seperti yang dirimu lain lakukan dahulu? Kau hanyalah anak yang lemah, Akashi. Kau terlalu lembut dan baik, berbeda dengan dirimu yang dahulu ataupun aku."
"Aku tidak seperti itu, aku masih memegang teguh rasa hormat orang lain terhadapku. Kau tidak usah menghasutku, aku takkan membiarkan diriku diambil alih lagi seperti dulu!" ketus Akashi asli.
Tapi sepertinya apa yang disampaikannya malah terdengar menggelitik perut Akashi, ia terpingkal-pingkal untuk sesaat sebelum akhirnya ia memberikan raut wajah yang serius.
"Kau yakin tak ingin membiarkanku menghabisi anak itu saja? Saat ini bukan hanya harga dirimu saja yang terluka, kau juga merasa sangat marah karena perbuatan kasar mereka kepadamu. Apa aku Benar, Akashi?" tanya Akashi.
Akashi yang asli mulai merasa terhasut, walau bagaimanapun ia takkan bisa menyakiti orang lain saat ini. Aura nya juga masih kalah mencekam seperti dirinya yang dahulu, jadi ia tak punya alasan untuk bisa membalas dendam atas perbuatan anak itu kepada kakaknya.
"Berikan aku tubuhmu, aku akan menggantikanmu untuk sekarang. Bagaimana?" tanya Akashi yang berusaha membujuk Akashi yang asli, cukup lama ia mulai menimbang kembali tawaran dirinya yang lain dengan kedua mata berwarna hitam dan senyuman penuh kekejian.
__ADS_1
****
Wah, apa kira-kira Akashi tak sengaja membangun tembok pertahanannya dengan menciptakan kepribadian lainnya seperti dahulu?