STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
88


__ADS_3

Ushijima mengajak Akashi ke rumah Ayahnya. Rumahnya sangat sederhana dan berbanding terbalik dengan rumah yang dimiliki oleh Akashi selama ini. Tapi Akashi bisa merasakan kenyamanan dari rumah tersebut saat menginjakkan kaki kedalam rumah itu, apalagi keberadaan Akashi disambut baik oleh Ayah dan Ibu tirinya Ushijima.


"Kalau begitu, kalian masuk saja dulu untuk istirahat. Biar ibu siapkan makan siang buat kalian," ucap Mama tirinya Ushijima yang bernama Nyonya Mira.


"Baik, terimakasih." Ushijima tampak sedikit canggung untuk merespon ibu tirinya itu, ia langsung menarik Akashi menuju kamar Tamu yang dipinjamkan oleh Ayah dan Ibu tirinya kepada mereka.


Dan untuk kali pertama, Akashi merasa kurang nyaman berada dikamar itu. Bukan bermaksud sombong, tapi ia merasa kamar itu terasa panas dan terlalu kecil dibandingkan kamar miliknya.


Dia cukup lama berdiri di ambang pintu, tak mengatakan apapun selain menatap pada setiap sudut ruangan kamar Tamu tersebut. Ushijima yang menyadari bahwa adiknya tampak tidak terbiasa dengan keadaan mereka sekarang, ia langsung menepuk pelan bahu Akashi dengan helaan nafas panjang.


"Aku tahu sama yang kau pikirkan, tapi hanya kamar ini satu-satunya tempat kita bisa tidur sekarang."


"Aku tahu," keluh Akashi yang langsung berjalan masuk dan berhenti menggerutu dalam batinnya sendiri. Dia mengamati setiap sudut kamar, bahkan ia juga membuka lemari berkali-kali.


"Baju sekolahku untuk Senin kayak mana?" tanya Akashi.


"Tenang saja, aku sudah minta tolong Papa untuk mengambil bajumu dari ibuku." Ushijima sedang sibuk menatap kalender yang tergantung di dinding.


"Baguslah, aku juga tidak mau bolos sekolah tanpa sebab." Akashi menatap keluar Jendela.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal apapun lagi, Akashi. Dan aku rasa kau bisa berhenti memikirkan masalah dirumah tadi, aku -"


Akashi melihat kearah Ushijima, "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi yang jelas aku sedang butuh salep untuk luka dipunggungku sekarang."


"Astaga! Aku pikir kau khawatir... Lupakan, aku akan ambilkan salep untukmu." Ushijima tersenyum dan berjalan keluar Rumah. Ia sudah cukup malu untuk mengkhawatirkan Akashi.


"Ada apa, Wakatoshi? Jarang sekali Papa lihat kamu tersenyum seperti ini," ucap Ayahnya yang tak sengaja berpapasan dengan Ushijima.


"Tidak apa-apa kok, Pa. Oh iya, kotak P3K punya Papa ada salep lukanya?" tanya Ushijima.


"Papa sih kurang tahu, tapi coba kita lihat ya." Ayahnya Ushijima langsung berjalan kearah Dapur atau tepatnya ia mengambil sebuah kotak di atas kulkas yang tampaknya berisi P3K rumahan.

__ADS_1


Cukup lama dia merogoh isi kotak tersebut dan mengeluarkan sebuah salep luka yang masih baru kepada Ushijima.


"Untungnya baru aja Papa beli beberapa hari yang lalu maklum saja soalnya adikmu masih kecil dan suka berlarian." Ayahnya Ushijima langsung memberikan salep luka itu kepada Ushijima.


"Terimakasih," ucap Ushijima seraya tersenyum.


"Memangnya buat siapa?" tanya Ayahnya yang pasti bakal penasaran, sebab ia tak menemukan satupun luka ditubuh anaknya itu.


"Buat Akashi," jawab Ushijima yang memang jarang sekali merahasiakan sesuatu dari Ayahnya. Dan sepertinya sang Ayah yang memang sebenarnya tidak tahu apapun, memilih tidak ingin menanyakan lebih dalam lagi bila sang anak memang tidak ingin menceritakan apapun padanya.


"Tidak masalah, kalau memang terlalu sulit dikatakan. Papa tahu kok, kalau itu sangat privasi buat kalian." Ayahnya Ushijima menepuk bahu Ushijima.


Ushijima mengangguk dan tersenyum, "Aku balik ke kamar dulu ya, Pa. Sampai jumpa di makan malam keluarga."


Ushijima langsung pergi, ia tidak bisa membohongi hatinya bahwa ia sangat beruntung memiliki sosok Ayah hebat seperti yang dimilikinya sekarang. Jelas saja ada perbedaan yang jauh diantara sang Ayah dan Tuan Masaomi, baik itu perbedaan yang berbentuk positif maupun negatif.


Dengan buru-buru, ia berjalan menuju kamarnya untuk segera memberikan salep luka pada Akashi. Dan langkah itu terhenti tepat beberapa langkah dari ambang pintu, tatkala saat ia mendengarkan suara Akashi yang sedang menelepon seseorang.


"Tolong hentikan! Aku akan pikirkan lagi keinginanmu, kali ini mengertilah." Suara Akashi yang terdengar berbeda dari biasanya, seolah ia mencoba memaksa diri untuk memohon pada seseorang.


"Aku tahu! Tapi kau harusnya paham, gak semua hal tentang keinginanmu dan keinginannya harus kuturuti. Wakatoshi tak pantas menanggung semua kesalahanku, berhenti bermain licik atau kau akan menerima akibatnya dariku." Nada bicara Akashi semakin kuat, ia sampai tak segan-segan membentak lawan bicaranya tersebut.


"Aku akan membunuhmu, kalau kau masih tetap bersikeras mengancamku lagi." Akashi melotot tajam, ia benar-benar terlihat marah dan tengah melindungi seseorang.


Dan begitu ia mengakhiri panggilan itu, barulah Ushijima memperlihatkan dirinya dengan perasaan curiga saat namanya disebut-sebut dalam pembicaraan tersebut.


"Memangnya kau diancam apa?" tanya Ushijima.


"Kau rupanya menguping pembicaraanku."


"Ya, aku tidak biasanya melihat kau semarah ini untuk melindungi seseorang." Ushijima memberikan salep itu kepada Akashi.

__ADS_1


"Kalau aku sudah muak melihatmu marah untuk melindungiku," ucap balik Akashi yang membuat Ushijima tersenyum. Dia sama sekali tidak masalah, bila Ushijima mengetahui apa yang saat ini dirahasiakannya. Walaupun ia sedang berusaha merahasiakan ini dari Ushijima.


"Jadi, apa yang diancamnya padamu? Siapa orang yang menelponmu itu?" tanya Ushijima sekali lagi.


Akashi menutup gorden Jendela, ia tahu bahwa hari sudah mulai gelap dan waktu mulai berputar cepat pada porosnya. Dia tak mungkin membiarkan Gorden tetap terbuka ditengah lingkungan padat penduduk seperti ini. Tidak seperti rumahnya yang memiliki lapangan yang luas, justru rumah Ayahnya Ushijima berdekatan dengan rumah penduduk lainnya.


"Sekretaris Kenta ingin menyogok para staff kementerian yang membiayai Beasiswa olahragamu," beritahu Akashi yang membuat Ushijima sedikit terkejut.


"Tenang saja, aku akan pastikan kalau beasiswamu untuk hidup dan berlatih di salah satu klub internasional takkan dicabut. Kau juga masih akan tetap jadi pemain Timnas kok, aku tidak mungkin sekeji itu membiarkanmu jatuh saat kau telah menyelamatkanku tadi." Akashi tersenyum, ia tak mau Ushijima kepikiran dengan hal tersebut.


"Kalau memang pamanmu berniat membatalkan penerimaan beasiswa olahragaku di klub internasional, aku tidak masalah sama sekali."


Akashi mengerutkan dahinya, ia benar-benar bingung mengenai arah pembicaraan Ushijima sekarang.


"Kau gila? Cuman orang bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan baik seperti itu, apalagi kau bukanlah orang beruntung yang punya kekayaan sepertiku."


Akashi benar-benar tidak suka dengan pernyataan Ushijima barusan, sebab tak seharusnya Ushijima menyia-nyiakan kesempatan besar itu.


"Kau tidak bercanda, Akashi Seijuro. Aku sangat serius kali ini dan aku sedang tidak berniat diprovokasi ataupun direndahkan siapapun."


"Oke, kalau memang kau yakin dengan pernyataanmu itu. Lalu, alasannya apa?" tanya Akashi.


"Tidak ada alasan spesifik apapun, aku rasa berkorban demi saudara itu tidak masalah. Lagian, aku sangat percaya diri tentang kemampuanku dan kupastikan akan ada banyak klub hebat yang bersedia merekrutku."


"Berkorban, kau yakin mau jatuh ke dalam lumpur demi saudaramu? Memangnya kau yakin gak bakal menyesal, Ushijima-San?" tanya Akashi.


"Ya, tidak masalah. Lagipula aku sangat yakin bahwa lumpur tersebut bukanlah lumpur yang kotor. Palingan juga lumpur yang terbuat dari serbuk emas," jawab Ushijima.


"Sejak kapan kau sepercaya diri ini?" tanya Akashi yang tidak bisa berhenti tersenyum pada perubahan Ushijima. Biasanya, dia hanyalah orang datar yang enggan berekspresi apapun dan kerap menyembunyikan keangkuhannya didalam hati saja.


"Sejak mengenalmu, kayaknya aku ketularan virus kepercayaan dirimu." Ushijima langsung mengambil kembali salep ditangan Akashi.

__ADS_1


"Biar aku bantu pakaikan salepnya," kata Ushijima yang hanya dibalas anggukan oleh Akashi.


__ADS_2