
"Siapa rupanya orang yang sedang kamu remehkan itu?" tanya Gadis tersebut yang langsung mengalihkan pandangannya untuk menatap keluar jendela.
"Sekolah mana itu? Apa kamu mengenal nya?" tanya gadis itu lagi yang jelas saja membuat Ushijima merasa terganggu.
"Kau benar-benar menggangguku,Hana!" keluh Ushijima yang berjalan pergi, tetapi disusul oleh Hana yang juga ikut berjalan disebelah Ushijima.
"Kamu masih saja menganggapku pengganggu, memangnya kamu gak sadar ya kalau kamu adalah cowok paling beruntung yang berhasil mencuri perhatian gadis populer sepertiku!" tukas Hana seraya tersenyum lebar.
Ia berusaha mempercepat langkahnya untuk mengimbangi Ushijima, sementara itu Ushijima sama sekali tak berniat mengalah dan memperlambat langkahnya.
"Hei, Ushijima! Apa kamu tahu kalau aku adalah gadis spesial yang tampak menyedihkan setiap kali berada didekatmu, habisnya kau selalu saja mengacuhkan kehadiranku dan bersikap menyebalkan. Memangnya kamu tak memiliki hati apa buat bersikap baik padaku?" tanya Hanna dengan raut wajah keluhannya.
"Kau sama sekali tidak spesial dimataku, tak ada juga alasan untukku bersikap baik kepada orang yang selalu membuatku risih." Ushijima yang menyeletuk asal tanpa memikirkan kembali perkataannya.
"Tuh kan, kau berkata kasar lagi. Aku ini wanita loh, Ushijima. Kau harusnya belajar dong bagaimana bersikap lembut ketika berbicara denganku, apalagi aku adalah satu-satunya orang yang tulus padamu." Hanna mengedipkan sebelah matanya seraya tersenyum, "Dan perlu kau tahu, kau itu tetap makhluk paling manis." Tatapan mata Hanna seperti tengah berbinar-binar yang membuat Ushijima merasa semakin risih dan langsung mempercepat langkahnya menuruni tangga.
Dan saat menuruni anak tangga paling bawah, ia langsung berpapasan dengan Akashi yang kebetulan saja ingin lewat menuju lapangan Basket. Ushijima menatap kesal kepada Akashi, sepertinya ia masih belum bisa melupakan percakapan sensitif diantara mereka kemarin yang membahas tentang masalah keluarga. Sama halnya dengan Akashi yang jauh lebih membenci Ushijima melebihi apapun didunia ini, tetapi bedanya ia sengaja menyembunyikan rasa bencinya dibalik wajah ramah dan sikap tenangnya itu yang bisa berubah menjadi kejam kapanpun dirinya mau.
"Tindakanmu sangat kekanak-kanakan, beradu tanding dengan siswa SMP sambil mengenakan seragam SMP juga."
"Ah, sepertinya kau sudah tahu. Cepat sekali kabar angin itu sampai ke telingamu? Apa kau khawatir kalau juniormu akan kalah?"
__ADS_1
"Aku tak perduli dengan mereka! Mereka bukanlah juniorku, karena mereka berada di cabang olahraga yang berbeda dariku," bantah Ushijima terhadap pernyataan Akashi. Hanna sendiri yang merasa teracuhkan oleh kedua saudara itu langsung berdiri dihadapan keduanya dengan senyuman ramah.
"Kalian berdua tampak cukup akrab dan saling mengenal, apa dia adalah adik sepupumu, Ushijima?" tanya Hanna.
"Ushijima-san adalah Saudara tiriku, senpai."
"Saudara tiri? Berarti adikmu ya, Ushijima?" tanya Hanna terkejut, sepertinya ia adalah orang terakhir yang mengetahui berita ini. Maklum saja, karena ia hampir melewatkan beberapa bulan untuk mengikuti program pertukaran pelajar ke negara Korea beberapa waktu yang lalu.
"Aku tidak pernah menganggapnya begitu, Hanna." Ushijima membantah, walau sebenarnya hatinya sangat berlawanan dengan bibirnya. Disaat yang bersamaan, Nama akashi dipanggil berulangkali oleh anggotanya seolah menandakan pertandingan akan segera dimulai.
"Baguslah kalau memang kau berpikir begitu, aku tidak perlu repot-repot mengganti kehidupanku sebagai anak tunggal. Dan sepertinya namaku sudah dipanggil oleh timku, jadi kalau begitu kita akhiri saja pembicaraan hangat kita saat ini." Akashi berniat pergi, tetapi ia menahan langkahnya sejenak seolah masih ingin mengatakan sesuatu kepada Ushijima sekali lagi.
"Ah iya, aku hampir lupa. Kau tidak perlu malu untuk berterus-terang atas kekhawatiranmu dengan Tim junior Basketmu itu, aku juga terkadang selalu bersimpati dengan anggota tim olahraga lain yang baru saja mengalami kekalahan, layaknya sebagai seorang ketua OSIS sekaligus siswa SMA Rakuzan." Akashi tersenyum puas dan berjalan pergi meninggalkan Ushijima yang hanya bisa menahan perasaan geramnya itu.
"Dasar bodoh! Justru aku sedang mengkhawatirkanmu saat ini, bagaimana kalau nantinya mereka mengejekmu?" gumam Ushijima dalam hati yang membuatnya sempat melamun sesaat, sebelum akhirnya dibuyarkan oleh Hanna.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Ushijima?" tanya Hanna, tetapi kali ini Ushijima enggan menggubris dan berjalan pergi menuju lapangan Basket.
Dia berdiri diantara kerumunan teman-teman sekolahnya yang kebetulan saja sedang tidak ada guru karena ada rapat antar guru sejak tadi pagi, sekaligus ia juga berusaha memastikan keberadaannya tidak dikenali oleh Tendou ataupun sami.
Dia bisa melihat jelas Akashi yang sedang berada dipinggir lapangan dan tengah saling adu pandang dengan tatapan membunuh kepada Tim Basket SMP Shiratorizawa.
__ADS_1
"Hei, Akira. Kenapa kau tidak memakai seragam basket nomor 4 di panggungmu lagi? Apa kau rela melepaskan pangkat kaptenmu untuk Alumni teiko sepertinya dalam pertandingan kali ini?" tanya Akio yang malah lebih terlihat seperti orang yang sedang memprovokasi Akira.
Tetapi sepertinya Akira tidak keberatan sama sekali, ia juga tak terprovokasi sedikitpun dan malah semakin mendekat disebelah Akashi.
"Malahan aku merasa terhormat bisa bermain dengan Akashi-Senpai, jadi berhentilah bersikap tidak sopan kepada Akashi senpai."
"Tidak perlu kau menghabiskan waktu untuk prajurit bau kencur sepertinya, Akira." Akashi langsung menyerang Akio dengan tajam, lalu ia berjalan pergi mendekati anggota Teiko yang lain.
Sesekali ia bisa mendengarkan suara kerumunan para siswa yang melihatnya, tetapi keributan itu sama sekali tidak mengganggu titik fokusnya.
"Dasar bermulut kasar, pantas saja saudaraku memiliki mulut kasar sepertinya." Akio mengerutkan dahi.
Sejenak ketegangan itu mulai mereda, seluruh anggota juga sedang sibuk melakukan pemanasan hingga tiba saatnya wasit yang merupakan salah seorang senior Shiratorizawa Mulai memberikan instruksi agar kedua tim berbaris untuk memulai permainan.
Peluit dibunyikan dan bola dilemparkan ke atas, tetapi sialnya bola berhasil ditangkap duluan oleh Akio yang memiliki kemampuan melompat lebih tinggi. Mereka tampak tenang, tak ada satupun rasa takut didalam diri mereka selain ambisi ingin menghancurkan Teiko seretak-retaknya.
Akashi sendiri masih belum banyak bertindak, ia berusaha mengamati setiap gerak-gerik pola permainan yang ada di lapangan. Bahkan, ia juga ikut memperhatikan kemampuan rekan setimnya. Pikirannya terus mengajaknya berputar untuk membuat strategi yang tepat dalam permainan ini, baginya Shiratorizawa bukanlah tim yang harus ditakutkan.
Dan kalaupun ia memang ingin membuat kemenangan telak, ia sudah melakukannya sejak tadi. Namun sepertinya, bukan hal tersebut yang diinginkan Akashi. Ia ingin bermain sebagai sebuah Tim dan menunjukkan kepada para juniornya itu bahwa permainan kerjasama jauh lebih memuaskan dibandingkan bermain sendiri. Selain itu, ia juga tak mau terlibat lebih banyak dalam permainan ini. Seusai dengan obrolannya dengan para anggota Kiseki no sedai dan Kagami, bahwa ia harus membiarkan para anggota Teiko inilah yang menguasai lapangan dan membalas rasa sakit hati mereka terhadap seluruh hinaan dan perbuatan buruk Tim Shiratorizawa. Selagi semuanya masih ada di dalam kendali dan strategi Akashi, maka ia tak perlu terlibat cukup jauh dalam permainan Basket ini.
Dan benar saja, Akashi sudah menghabiskan waktu 2 kuarter hanya untuk mengoper bola kepada juniornya tanpa mengeluarkan tenaga ekstra dan bersikap jauh lebih tenang. Hingga akhirnya, ia bisa melihat jelas perbandingan kekuatan antara Tim Teiko yang sangat bertalenta dan Shiratorizawa yang tak mempunyai kelebihan apapun selain permainan Basket Dasar. Apalagi kemampuan Akio dan Akira yang memiliki perbedaan yang sangat besar.
__ADS_1
Namun sayangnya kelemahan Tim Shiratorizawa benar-benar mampu tertutupi oleh kekompakan mereka, berbanding terbalik dengan Teiko yang sama sekali tidak kompak dan kehilangan arah saat lepas dari cengkraman dan aturan Akira dahulu.
Hingga akhirnya Teiko gagal mempertahankan Ringnya sampai membuat Shiratorizawa unggul satu poin pada akhir kuarter ketiga. Dan membuat Akashi harus berpikir ulang untuk turun tangan.