STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
92


__ADS_3

Lima bulan telah berlalu sejak peristiwa mengenaskan malam itu. Akashi masih saja diselimuti perasaan bersalah sampai detik ini. Ditambah lagi hubungan persaudaraan Akashi dan Ushijima telah renggang sejak hari itu.


Dan hari ini, Akashi sedang duduk di pinggir lapangan sambil mengamati anggota tim-nya yang sedang mengadakan pertandingan persahabatan dengan Tim Basket Seirin, sebelum nantinya kedua Tim akan mengikuti pertandingan Interhigh yang akan diadakan sebulan kemudian.


Namun sepertinya penampilan Tim Rakuzan sangat buruk sekali dan membuat Akashi terlihat kesal saat mengamati mereka dari pinggir lapangan Basket. Siapapun pasti akan menyadari kerutan tajam di dahi Akashi dan ekspresi wajah menakutkan yang dipancarkannya.


Dan kemarahannya semakin membara saat Carloz dan Henry melakukan kesalahan berkali-kali yang membuat permainan Bola dikuasai oleh Seirin. Bahkan, saat ini Seirin sudah unggul 20 angka dari Rakuzan karena permainan tidak kompak dari para anggota Rakuzan yang memasukkan tiga anggota baru.


"Pelatih, aku minta waktu istirahat sekarang!" perintah Akashi yang sudah tidak lagi berpikiran jernih. Dia bahkan berbicara dengan nada dan kalimat tidak sopan kepada pelatihnya.


Dan begitu permainan dihentikan selama lima belas menit, Akashi langsung berjalan kearah Carloz dan memukul wajahnya sampai ia terjungkal ke bawah. Bukan hanya berhenti sampai disitu saja, Akashi juga memukul wajahnya terus-menerus berkali-kali.


"Dasar bodoh! Kau pikir kau itu hebat? Apa salahnya kau bermain sebagai Tim dengan kerjasama dan kompak dengan anggota lain? Kau pikir kau itu sudah hebat, kau tidak ada bedanya dari sampah yang seharusnya tidak pernah kupungut!" teriak Akashi yang terus-menerus memukul wajahnya.


Semua orang yang melihat tindakan Akashi tampak terkejut, tapi tak ada satupun yang berani mencoba merelai Akashi dari Carloz. Hingga Akashi sendirilah yang berhenti memukul Carloz.


"Kau itu cuman pecundang disini, Sampah sialan!" Bentak Akashi.


"Akashi! Tenanglah, dia itu anggota tim mu. Ada apa denganmu?" tanya Kagami yang mencoba menengahi permasalahan yang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Diam saja kau, Taiga! Kau itu hanya pencundang yang kebetulan saja beruntung mengalahkan kami di kejuaraan winter cup lalu." Akashi menatap tajam padanya. Siapapun pasti bisa melihat sorotan mata merendahkan dari seorang Akashi saat ini.


"Apa-apaan kau, Akashi! Ini hanyalah pertandingan persahabatan saja. Kenapa kau semarah ini? Apa kau sudah tidak waras lagi?" tanya Kagami yang tidak terima dengan perkataan Akashi barusan. Untungnya ada Kuroko yang langsung menahan Kagami untuk tidak terpancar oleh provokasi dari Akashi yang sedang tidak berpikir jernih saat ini.


Sementara itu, Akashi hanya tersenyum mengejek pada Kagami dan berbalik arah menghadap anggota timnya.


"Apa yang sebenarnya kalian latih selama ini? Tiga badut yang di juluki raja tanpa mahkota, seorang pemain luar negeri yang cuman jadi benalu dalam tim dan seorang pecundang yang merasa dirinya hebat."


"Sei-chan, kau tidak boleh berbicara seperti itu tentang kami." Mibuchi mencoba bersikap tenang, tapi ia tak bisa menyembunyikan perasaan bingungnya saat melihat tingkah laku Akashi yang memang berbeda akhir-akhir ini. Padahal seingat dirinya, Akashi sudah berubah setelah kekalahan di winter cup lalu dan kini perilakunya menjadi lebih mengerikan.


"Aku setuju dengan Mibuchi dan Kagami. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Akashi?" tanya Nebuya.


Akashi hanya memandang rendah rekan setimnya. Lalu, ia menunjuk kearah mereka dengan suara tegas dan dingin. Soelah ia sedang memberikan ancaman kepada mereka.


Akashi hanya terus berjalan meninggalkan area sekolah. Ia melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Dimana ia mendekati sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang sekolah.


"Apa yang kau inginkan dariku lagi, Sekretaris Kenta Han?" tanya Akashi kepada pamannya itu. Sekretaris Kenta hanya tersenyum licik saja sambil memperbaiki posisi kacamatanya.


"Ayahmu minta kau mendonorkan ginjal sebelahmu untuk Yuki. Jadi masuklah! Yuki juga ingin bertemu denganmu." Sekretaris Kenta menatapnya dengan tegas.

__ADS_1


"Tidak, aku takkan pernah bertemu dengannya lagi! Tidak sampai matipun. Dan aku juga tidak akan mau mendonorkan ginjalku untuknya!" Akashi langsung berjalan pergi meninggalkan mobil.


"Akashi Seijuro! Kau tidak bisa menolak perintah ini, ini adalah perintah Ayahmu. Kau pastinya tidak mau membuat Ayahmu marah lagi, kan?" teriak Sekretaris Kenta dari dalam mobil. Dan membuat Akashi langsung berbalik arah dengan kesal dan mendaratkan sebuah pukulan tinju ke kaca spion kiri mobil tersebut.


"Dengarkan aku, Paman! Aku tidak akan pernah mau berurusan dengannya lagi, bahkan aku juga tidak akan mau mengikuti perintah Papa lagi. kau paham itu? Aku tidak akan mau melihat pengecut itu sampai kapanpun!" bentak Akashi.


"Kau harus mendonorkan ginjalmu untuknya ,Seijuro! Lakukan ini demi Papa dan Ibumu!" bentak balik Sekretaris Kenta yang juga mulai kehilangan kesabaran untuk kali pertama. Dan teriakan itu membuat Akashi berbalik badan dengan kedua tangan yang saling mengepal.


Sekretaris Kenta langsung turun dari mobil dan menghampiri Akashi yang masih tidak bergerak dari posisinya saat ini, "Temui Yuki di rumah sakit dan donorkan ginjalmu untuknya kali ini, Seijuro."


Akashi menatap penuh kebencian kepada sekretaris Kenta, "Apa kau sedang memohon padaku, Paman? Dimana semua sikap angkuhmu selama ini?"


"Ya, aku memohon padamu. Aku mohon padamu untuk kali ini saja, Seijuro." Sekretaris Kenta mencengkeram erat kedua bahu Akashi.


"Kau dan Papa ternyata sama saja. Kalian rela melakukan apapun deminya, tapi kalian malah mencuri kebahagiaanku. Apa kau pikir ini adil, Paman?"


"Dunia ini memang tidak adil, Seijuro. Tapi percayalah padaku, semakin kau membahayakan nyawa Yuki dengan penolakanmu, maka semakin besar pula kemarahan Ayahmu padamu. Jadi, aku minta kau masuk ke mobil sekarang dan donorkan ginjalmu untuk Yuki!" tukas Sekretaris Kenta yang mencoba menyembunyikan semua emosinya dibalik wajah tenangnya kembali.


"Tidak, lebih baik bunuh saja aku daripada aku harus mendonorkan ginjalku! Aku tidak akan bisa menjadi bermain basket lagi hanya dengan sebelah ginjal. Kalian tidak bisa merampas basket dariku, itu satu-satunya kenangan dari Mama yang bisa kumiliki sampai detik ini." Akashi mulai meneteskan air matanya yang tak mampu lagi ia tahan dibalik matanya.

__ADS_1


Sekretaris Kenta memeluk keponakannya itu dengan erat, "Maafkan aku, Seijuro. Tapi kau tidak punya hak untuk menolak perintah Ayahmu ini. Kau pastinya tidak mau kejadian 5 bulan yang lalu terjadi lagi, kan? Jadi, jangan sampai membuat Masaomi marah."


Akashi hanya memilih terdiam dalam pelukannya Sekretaris Kenta. Dia seolah tidak berdaya untuk mengatakan apapun lagi saat Kenta kembali mengingatkannya pada peristiwa yang terjadi dengan keluarga Ushijima lima bulan yang lalu. Dan dia tidak mau nasib sial terjadi dengan keluarga dari anggota kiseki no sedai ataupun Rakuzan. Jadi, Akashi mulai mengangguk setuju kepada Sekretaris Kenta dengan hati yang berat dan perih.


__ADS_2