STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)

STEPBROTHER (KAMP MUSIM PANAS HAIKYUU X KUROKO NO BASKET)
89


__ADS_3

"Makan yang banyak ya, nak." Ibu tiri Ushijima menuangkan teko berisi air kedalam gelasnya Akashi. Dia benar-benar sangat santun dan ramah. Belum lagi, suasana makan malam didalam keluarga ini benar-benar membuat Akashi tercengang.


Dia merasa iri melihat kehidupan keluarga kecil yang ada dihadapannya ini, suasana yang sangat didambakannya waktu kecil.


"Kamu juga makan yang banyak ya, Wakatoshi. Mama dengar dari Papamu, kalau kau akan menjadi atlet yang hebat dimasa depan. Jadi, Mama mau kau makan yang banyak."


Ushijima hanya mengangguk saja, ia masih sangat canggung berada didekat Ibu tirinya. Walaupun ia tidak bisa menolak kenyataan bahwa ia sedikit merasa senang mendapatkan perhatian kecil dari seorang Ibu.


"Jadi, bagaimana sekolahmu? Lancarkah?" tanya Ayahnya Ushijima pada Ushijima.


"Baik, aku rasa cukup baik. Sebentar lagi juga aku bakal lulus sekolah," jawab Ushijima.


"Wah itu bagus sekali. Mama dan Papa berharap agar ujian kelulusan kamu bisa lancar." Ibu tirinya Ushijima menggenggam jemari suaminya itu.


"Iya, bahkan Mama kamu ini udah menyiapkan hadiah spesial untuk kelulusan kamu."


"Papa kok ngasih tahu Wakatoshi duluan sih, kan ini harusnya jadi kejutan." Ibu tirinya Ushijima menepuk pelan suaminya dengan lembut.


"Tidak perlu repot-repot, aku sudah cukup dewasa untuk tidak menerima hadiah itu. " Ushijima merasa malu melihat tingkah kedua orangtuanya yang malah bermesraan dihadapannya.


"Tidak apa-apa kok, Wakatoshi. Hadiah ini sebagai bentuk rasa kasih sayang dan dukungan Mama buat kamu. Dan adik-adik kamu juga bantu buatin kok, kamu pokoknya wajib banget nanti buat menerimanya ya."


Ushijima cuman bisa mengangguk saja, ia menoleh kepada Akashi yang tampak senang menikmati suasana keluarga Ushijima yang sangat hangat.


"Oniisan! Boleh minta tolong perbaiki mainanku?" pinta seorang anak lelaki yang berusia 6 tahun kepada Ushijima. Selang tak beberapa lama, seorang gadis kecil yang sepertinya kembaran anak lelaki itu juga berlari menghampiri Ushijima.


"Haruto menjambak rambutku tadi, boleh minta tolong ikatkan kembali rambutku?" pintanya pada Ushijima yang malah jadi canggung dan membuat dirinya mau tak mau menuruti keinginan kedua adik tirinya itu.


"Mama bilang kalau Oniisan adalah kakak yang hebat, kami sangat senang sekali bisa bertemu Oniisan." Gadis kecil itu memuji Ushijima.

__ADS_1


"Benar sekali, Haruto juga mau diajarin main Voli sama Oniisan."


"Kayaknya kamu harus belajar buat lebih dekat sama kedua adikmu, Wakatoshi." Ayahnya Ushijima mencoba membujuk anaknya itu dan membuat Ushijima hanya bisa tersenyum saja. Dia tahu betul cara menempatkan Ushijima untuk bisa merasa diterima dalam keluarga itu dan tampaknya Ushijima menerima baik kebaikan sang Ayah dan Ibu tirinya, serta kedua adik tirinya itu.


Akashi hanya bisa ikut tersenyum melihat kebahagiaan Ushijima, Sebelum akhirnya ia berpamitan untuk meninggalkan meja makan duluan, ia tak mau berlama-lama disana dan membuatnya merasa iri saja.


Namun bukannya ke kamar, Akashi memilih untuk bersantai sebentar di teras rumah sambil menatap layar ponselnya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu saat ini, tatkala saat mengingat kehangatan keluarga tadi. Entah mengapa bayangan momen itu tidak pernah bisa hilang dari bayangannya.


Cukup lama ia memandangi ponselnya dan bolak-balik melirik nomor ponsel pamannya itu. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk menghubungi nomor tersebut. Untungnya panggilan itu diangkat tanpa perlu menghabiskan banyak waktu, seolah-olah Pamannya a.k.a sekretaris Kenta sudah bisa memprediksi bahwa Akashi akan meneleponnya.


"Ada apa? Kau berubah pikiran?" tanya Sekretaris Kenta.


"Tidak, aku tetap pada pendirianku sebelumnya."


"Kau yakin?Kalau memang itu keputusanmu, buat apa kau meneleponku? Atau kau ingin mengancamku lagi?" tanya Sekretaris Kenta.


"Aku juga tidak berniat mengancammu lagi, aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu."


"Kau sedang berada dimana sekarang, Paman?" tanya Akashi yang bisa mendengarkan kebisingan dari lokasi keberadaan Kenta.


"Rumah Sakit, aku harus mengurus saudaramu. Dia sedang dalam kondisi buruk, karena kedatanganmu yang tidak bisa ditoleransi."


"Jadi, apa dia sudah mati?" tanya Akashi.


"Kau ini memang keterlaluan sekali, walau bagaimanapun dia adalah saudara kandungmu. Dan syukurnya dia baik-baik saja saat ini, kau tidak berhak senang sekarang."


"Kalau begitu aku benar-benar kecewa mendengarnya," ungkap Akashi yang seolah-olah tak memperdulikan keadaan Yuki sama sekali. Dan sebenarnya alasan dia menghubungi Sekretaris Kenta bukanlah untuk itu.


"Ya, terserah kau saja. Kalau memang tak ada lagi yang mau di bicarakan, aku tutup teleponnya. Aku harus menghadiri pertemuan makan malam penting dengan klien Ayahmu," beritahu Sekretaris Kenta yang bekerja sebagai kaki tangannya Masaomi. Namun dengan segera Akashi menghentikannya mengakhiri panggilan itu.

__ADS_1


"Ada yang mau kutanyakan lagi!"


"Apa lagi, Seijuro?"


"Apa Nenek benar-benar membenciku? Maksudku, apa seluruh keluarganya Ibu benar-benar membenciku?" tanya Akashi.


"Ya, semua anggota keluarga dari pihak Kakakku sangat membencimu. Kau bernafas saja, rasanya sudah membuat mereka sesak tujuh keliling."


Akashi menggenggam erat ponselnya, ia tak bisa lagi membohongi dirinya bahwa ia hanyalah anak yang pantas dibenci. Hingga jawaban tak terduga dari Sekretaris Kenta membuat perasaanya sedikit membaik.


"Terkecuali aku," sambung Sekretaris Kenta lagi.


"Kenapa kau tidak membenciku? Bukannya selama ini aku selalu mengancam ingin membunuhmu, bahkan akulah penyebab kematian kakak perempuanmu." Akashi mencoba tidak berharap lebih dari pertanyaannya itu.


"Kata siapa aku tidak pernah membencimu? Malahan dulunya aku adalah orang yang sangat membencimu melebihi apapun di Dunia ini, kau bukan hanya janin yang hampir membahayakan nyawa kakakku saja. Tapi, kau juga bayi yang telah dibela-bela mati-matian oleh kakakku dan mencuri semua perhatian kakak dariku dan Yuki."


"Lalu?" tanya Akashi yang mencoba bersikap tenang. Tak pernah sekalipun terpikir olehnya, bahwa Paman yang selalu dipercayainya selama ini pernah membencinya sebesar itu.


"Aku tidak munafik, Seijuro. Aku memang pernah membencinya sebesar itu. Tapi semuanya langsung berubah, saat aku menemuimu menangis di dalam kamar yang gelap dengan tumpukan buku yang tebal dan punggung yang dipenuhi memar malam itu."


Akashi memilih tetap diam saja, selagi Sekretaris Kenta menyelesaikan perkataannya.


"Malam itu kau harusnya merayakan ulang tahunmu, tapi kau malah membuat Ayahmu marah karena tidak menggunakan sendok dengan benar. Kau tahukan apa yang sedang kubicarakan? Saat itu kau masih duduk dibangku Sekolah Dasar," beritahu Sekretaris Kenta.


"Aku tahu."


"Intinya begitulah asal mula aku belajar memaafkanmu, aku rasa kau hanyalah anak-anak yang tidak pantas dibenci. Orang dewasa seperti kami memang buruk sekali," ketus Sekretaris Kenta seraya tertawa geli. Tapi tidak dengan Akashi, ia hanya memperlihatkan wajah tenangnya yang mulai menghapus segala bentuk perasaan marahnya.


"Kalau kau Ayahku, pasti aku akan dibesarkan dengan penuh cinta. Benarkan, Paman?" tanya Akashi yang langsung menghentikan tawanya Kenta.

__ADS_1


***


Udah cukup sedih belum? Pasti belum dong. Wkwkwk.... Jangan lupa Votenya ya guys😊


__ADS_2